Cek Ratusan Juta

1196 Words
Tiba di kantor polisi, Safira dan ayahnya mengisi buku tamu. Tak lama kemudian keduanya menunggu di ruang besuk. Didampingi seorang sipir, Sagara muncul dengan wajah tertunduk. Sama sekali dia tak berani menatap Safira dan ayahnya. Sementara itu, Safira dan ayahnya tak berkedip sedikit pun memandangi Sagara. Amarah ayah Safira bergolak. Terlebih lagi Safira. Ingin sekali dia memukul-mukul lelaki yang telah menodainya sampai habis tak tersisa. Ayah Sagara yang duduk, dia segera bangkit. Dan langkah cepat, dia memburu Sagara. “Anak kurang ajar!” pekik ayah Safira. Dia menampar dan memukul Sagara berkali-kali. Apa yang dilakukan oleh ayah Safira dihalangi oleh sifir. Sayangnya sifir pun hampir kewalahan menahan kekuatan ayah Sagara yang didorong karena amarahnya yang meledak-ledak. Sagara sekuat mungkin dia menahan rasa sakit, tanpa mengelak sedikit pun. Dia sadar inilah yang harus ia tanggung akibat perbuatannya. Pukul saja, aku. Tampar dan terus tampar. Aku memang pantas menerimanya, kata hati Sagara. Seandainya tamparan dan pukulan itu dapat membalikkan keadaan, dia rela menerimanya. Sayangnya, itu hanya harapan yang sangat mustahil. Semuanya sudah terjadi. Safira menyaksikannya dengan bercucuran air mata. Hatinya remuk redam. “Sudahlah, Pa. Tidak ada gunanya menampar dan memukul dia. Semuanya takkan bisa mengembalikan kesucianku. Semuanya sudah terenggut dan tak bisa kembali,” ujar Safira sambil menangis sesenggukan. Ayah Safira tak menghiraukan ucapan putrinya. Dia tetap menghajar Sagara dan sifir masih berusaha menghentikannya. Hingga semuanya itu baru berhenti ketika tubuh ayah Safira lunglai ke lantai. Dia pun menangis. Apa yang bisa aku lakukan agar kehormatan anakku kembali pulih? Aku ingin nama baiknya kembali. Dan yang penting dia bisa menjalani hidupnya dengan normal. Aku ingin masa depan dia bahagia, kata hati ayah Safira. “Dengarkan baik-baik, Ara. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada masa depan anakku. Sungguh aku takkan pernah bisa memaafkanmu.” “Jika Safira hamil, aku akan bertanggung jawab. Aku akan mendampinginya?” “Apa katamu? Aku tak sudi jadi istri seorang penjahat,” timpal Safira. “Kamu akan menghabiskan sisa-sisa umurmu, bahkan mungkin mati membusuk di penjara, bagaimana kamu bisa dengan entengnya bilang ingin mendampingiku. Aku tak pernah sudi.” Seandainya diberi kesempatan, aku ingin memperbaiki semua ini. Aku menyesal kenapa aku malah m*****i orang yang selama ini kucintai, pikir Sagara. Selama di dalam sel, dia banyak merenung. Dia benar-benar menyesali kesalahan fatal yang sudah dilakukannya. Apakah pintu taubat masih terbuka untukku? Aku ingin bertanggung jawab, menanggung dan memperbaiki segala kesalahanku. Ya Allah, dosa besar ini apakah bisa terhapus dan Engkau mengampuninya, pikir Sagara. Sagara menangis sejadi-jadinya. Kenapa dia menjadi begitu buta, terbutakan oleh rasa cinta. Kenapa dia bisa kehilangan akal sehatnya. Padahal sejatinya mencintai itu adalah menjaga, bukan m*****i seperti yang telah dia lakukan pada gadis tak bersalah itu. “Pak, ampuni saya, ampuni kekhilafan saya. Aku benar-benar minta maaf,” kata Sagara. “Ucapanmu sudah tidak ada gunanya. Nasi sudah jadi bubur. Kesucian putriku sudah kamu renggut. Masa depan dan kebahagiaannya sudah terkorbankan,” kata ayah Safira. “Padahal aku sangat menghormati ayahmu. Kenapa begitu teganya kamu berbuat nista seperti ini, Ara. Tidakkah kamu merasa malu, kamu ini anak seorang ulama. Kamu telah mencoreng nama besar ayahmu.” Sagara menunduk. Dia tidak bisa membela dirinya. Memang apa yang diucapkan oleh ayah Safira adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi karena ulahnya sendiri. “Pa, tak ada gunanya berlama-lama di sini. Lebih baik kita pulang saja,” pinta Safira. Ayah Safira menuruti ucapan putrinya. Ayah Safira mengikuti langkah Safira. *** Safira membuka pintu rumah yang diketuk. Ketika pintu sudah terbuka, Safira sangat tercengang. Ada apa ini, mau apa Ustaz Reza kemari? tanya hati Safira. Ustaz Reza dan istrinya tersenyum ramah ke arah Safira. “Nak, mohon maaf atas kehadiran kami. Ibu dan Bapak ada di rumah?” tanya Ustaz Reza. “Ada, silakan masuk,” ucap Safira datar. Ustaz Reza dan istrinya duduk di ruang tamu. Sementara Safira menemui ibu dan ayahnya yang sedang berada di halaman belakang. “Ma, Pa… itu ada Ustaz Reza tuh,” ucap Safira begitu ia sampai di hadapan ayah dan ibunya. “Mau apa dia kemari?” tanya ayah Safira. “Enggak tahu, temui aja lah… cepetan,” kata Safira. “Pasti ini ada hubungannya sama, kamu. Kamu juga harus ikut duduk bareng ya, Nak,” ucap Ibu. “Enggak ah, Ma. Males...” kata Safira. “Eh, nggak boleh gitu. Pokoknya kamu harus ikut,” ayah Safira menegaskan. Kalau ayahnya sudah angkat bicara, Safira hanya bisa menurut. Dia tak berani menolak atau tawar menawar lagi. “Ya, udah, Pa, Ma… kalian duluan. Kasihan mereka nunggu kelamaan. Aku menyusul, mau ganti pakaian dulu.” “Oke, jangan lama-lama ya, Nak,” kata Ibu Safira. Ayah dan Ibu Safira sejenak merapikan diri terlebih dahulu ke kamar. Mereka mengenakan pakaian yang rapi. Ibu Safira mengenakan kerudung dan gamis. “Pa, nanti kita mau ngomong apa ke Ustaz Reza?” “Nggak tahu Papa juga bingung. Gimana nanti aja ah, Ma. Yang jelas aku ingin menyampaikan sikap, aku nggak terima anakku dilecehkan sama anaknya.” “Iya, sepakat. Aku juga ingin menekankan hal itu.” “Sudah siap, Ma? Ayo...” ajak ayah Safira. “Oke.. yuk jalan,” kata Ibu Safira. Mereka berdua pun menemui tamunya. Tidak lupa, sebelum Ibu Safira mendampingi suaminya, dia meminta ART untuk menyajikan jamuan minuman dan makanan untuk tamunya. Sementara itu, di dalam kamarnya Safira dengan enggan mematut diri diri depan cermin mengenakan kerudung. Kali ini lebih rapi dan lebih tertutup dari sebelumnya. Ternyata nyaman juga ya, mengenakan kerudung, pikir Safira. Coba aku merasakan ini dari dulu. Kenapa baru menyadarinya hari ini di saat aku sudah tak suci lagi? Mungkin benar apa yang sering dulu kudengar, hijab itu bisa melindungi kehormatan wanita. Sayangnya aku terlambat menyadari hal ini. Safira menitikkan air mata. Ya Allah, jangan pernah tinggalkan aku. Aku memang bukan hamba yang baik di hadapan-Mu. Bimbinglah aku agar mampu bertahan dan mengubah situasi yang menyakitkan ini, doa Safira dalam hatinya. Seandainya aku memilih berkerudung seterusnya, tapi aku sudah tak suci lagi, apakah aku masih mendapatkan pahala? Apakah itu jadi nilai ibadah? Mungkin nanti aku coba tanyakan ke Berliana. Kayaknya dia tahu soal beginian, pikir Safira. Safira pun menuju ruang tamu. Saat melangkah dia mendengar sayup-sayup Ustaz Reza dan ayahnya sedang mengobrol. “Kami ingin bertanggung jawab atas kejahatan yang menimpa Nak Safira. Kami aku ini adalah kegagalan kami mendidik Sagara,” ucap Ustaz Reza sambil menangis di hadapan ayah Safira. Dan Safira bisa mendengarnya dengan jelas saat dia duduk dan bergabung di ruang tamu. “Iya, Nak Safira. Kami benar-benar mohon maaf. Kami gagal menjadi orang tua saleh untuk Sagara sehingga dia melakukan kejahatan yang dalam agama pun jelas hukumannya sangat berat,” ucap istri Ustaz Reza. Pipinya berlinang air mata. “Kami siap melakukan apa pun untuk menebus kesalahan besar ini. Kami rasa memang kejahatan, kesalahan, dan dosa tak bisa terhapus sepenuhnya. Tapi minimal, usaha yang kami lakukan dapat memperbaiki kondisi di masa depan,” kata Ustaz Reza. “Kami sudah menganggap Nak Safira seperti anak sendiri. Kami mohon Bapak dan Ibu berkenan menerima cek ini. Ini tak seberapa karena sama sekali tidak akan mengubah keadaan,” ucap Ustaz Reza sambil menaruh cek berisi angka ratusan juta di meja. “Apa-apaan ini?” tanya ayah Safira. Dia naik pitam. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD