Test Pack

1159 Words
“Mohon Bapak tidak salah paham. Dengarkan dulu penjelasan saya,” kata Ustaz Reza. “Tenang, Pa...” ibu Safira meremas jemari suaminya. “Nggak ada salahnya kita dengerin dulu penjelasan Pak Ustaz.” “Silakan, mau menjelaskan apa?” kata ayah Safira. “Saya bisa paham kondisi Bapak saat ini, karena saya punya anak perempuan. Saya pun pasti sedih dan marah bila anak perempuan saya mengalami kondisi yang tidak seharusnya terjadi seperti yang dihadapi Nak Safira saat ini,” kata Ustaz Reza. “Saya saya sangat terpukul manakala yang melakukan kejahatan atas Nak Safira adalah anak saya. Seandainya saya bisa melaksanakan hukuman yang sesuai syariat Islam atas kasus penodaan terhadap perempuan, saya rela dan bersedia untuk menghukum anak saya saya sendiri dengan hukuman mati biar menjadi pelajar bagi yang lain agar tidak lagi merendahkan seorang wanita.” “Dan sebenarnya Bapak sekeluarga jika memang menginginkan hal itu, hukuman mati, hukuman jilid atau rajam untuk p*******a itu bisa dilakukan dan itu lebih adil. Namun sayangnya, dalam era kehidupan saat ini, hukum itu tidak bisa dilakukan karena kita dipaksa untuk mengikuti hukum yang berlaku di negara ini.” “Langsung saja Pak, jangan berbelit-belit, tujuan dan maksud Bapak apa?” pinta Safira.  “Saya tidak mungkin menghukum mati anak saya sendiri. Kalau saya melakukan itu, justru yang ada saya malah jadi yang tertuduh telah melakukan kriminal. Kita harus akui bahwa hukuman penjara bagi seorang p*******a itu terlalu ringan dan takkan membuat mereka jera untuk melecehkan wanita.” “Jadi kami sebagai keluarga dari pihak korban anak Ustaz harus bagaimana?” tanya ibu Safira. “Opsi pertama tadi adalah tuntutan hukuman mati. Opsi lainnya adalah Bapak sekeluarga bisa menuntut diyat atau uang tebusan. Dan terakhir, keluarga Bapak bisa memilih untuk memaafkan. Untuk diyat pun, bagi kami sekeluarga tentu takkan pernah bisa menebus kesalahan Sagara yang telah dilakukan pada Safira. Nilai uang dicek itu tentu sangat tidak mencukupi,” jelas Ustaz Reza. “Pastilah tidak akan cukup, Ustaz,” Safira emosional. “Bagaimanapun kesucian yang sudah terenggut tidak akan bisa kembali. Mustahil. Aku akan tetap dicap sebagai yang ternoda sekalipun misalnya aku melakukan operasi untuk mengembalikan keperawananku yang sudah direnggut paksa,” ujar Safira sambil terisak-isak. “Justru itulah, Nak. Anggap saja itu sebagai ungkapan permohonan maaf kami. Kami sangat mengharapkan pemaafan dari keluarga Bapak, terutama Nak Safira. Harapan kami satu-satunya hanya opsi yang terakhir, kami mengajukan permohonan maaf,” jelas Ustaz Reza. “Anak kami sudah kehilangan masa depannya. Rencana pernikahannya pun entahlah. Jika keluarga calon suaminya tahu, apakah mereka masih mau menerima atau tidak. Lalu bagaimana jika mereka membatalkan rencana pernikahannya?” tanya ibu Safira. “Kami paham. Kami benar-benar minta maaf,” kata istri Ustaz Reza. “Jika berkenan, bisakah hubungkan kami dengan keluarga calon suami  Nak Safira?” tanya Ustaz Reza. “Untuk apa?‘ tanya ayah Safira. “Kami ingin mengusahakan, memohon kepada mereka agar mau menerima kondisi Safira.” “Nonsense. Pak  Ustaz yakin? justru bukankah nanti hanya akan menambah masalah baru? Lagi pula seandainya aku menerima kondisi terburuk, aku harus siap-siap untuk belajar menerimanya. Aku memang sudah tak punya masa depan,”  ungkap Safira. “Kami tidak akan pernah lari. Kami akan selalu berada di sisi Nak Safira,” kata istri Ustaz Reza. “Aku rasa sudah cukup. Kalau sudah selesai ceramahnya, silakan pergi. Aku tak berminat cek itu. Tolong ustaz datangkan saja mukjizat, keajaiban, karamah, atau apapun itu namanya untuk mengembalikan kesucianku dan mengembalikan nama baik. Jika Ustaz mampu silakan datang kemari. Jika ustaz tak punya kesaktian itu, tidak perlu datang kemari lagi, terima kasih,” ucap Safira meledak-ledak. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan. Ustaz Reza bersama istrinya, ayah dan ibu Safira hanya melongo. Suasana sungguh menjadi terasa canggung dan benar-benar terasa tak nyaman. *** Dua bulan kemudian Beberapa hari pekan ini, setiap pagi Safira selalu mual-mual. Kondisi itu diperkuat dengan kenyataan dua bulan terakhir ini Safira tidak haid.Pikirannya yang mulai gusar inilah yang akhirnya mendorong ia mengecek dengan test pack seperti yang disarankan mamanya. Safira malas membelinya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kemungkinan terburuk itu benar-benar terjadi. Kalau terjadi, mustahil juga dia melakukan aborsi karena memang hal itu tidak seharusnya dia lakukan. Akhirnya, ibu Safira sendiri yang membeli test pack itu di apotek yang berlokasi tak jauh dari rumahnya. Nggak mungkin juga, aku nyuruh Lian membelinya. Apa kata orang, nanti jika ketahuan dia membelinya. Bisa-bisa digunjing tetangga dan publik, punya dua anak gadis kok semua udah nggak perawan, astagfirullah, pikir ibu Safira, sehari yang lalu. Ya Allah, tolonglah aku. Aku bukan Maryam yang suci, yang hamil tanpa bersuami atau tak disentuh laki-laki. Aku ini wanita biasa yang berlumur dosa. Aku yang ternoda dan disentuh oleh lelaki secara paksa, piki Safira. Air matanya tak kunjung mengering. Sejatinya, ibu Safira sudah menyuruh Safira untuk menggunakan tes pack itu dari malam. Namun Safira terus menerus mengulur waktu. “Nanti aja besok pagi, Ma,” kata Safira. “Aku capek, pengen cepat istirahat,” dia beralasan.  Setelah bicara begitu, Safira mengurung diri di kamar. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, bahkan sampai kepala dan wajahnya pun ikut ditutupi. Dan apakah yang terjadi, apakah dia benar-benar tertidur? Ah, nyatanya tidak. Dia malah mengalami insomnia. Malah terus bepikir, apakah mual-mual yang selalu dia alami setiap pagi beberapa hari ini memang pertanda buruk? Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan hal ini. Kalau benar-benar terjadi, Safira merasa riwayatnya sudah tamat. Bagianya, dunia dan alam semesta ini seolah kiamat. Di kamar mandi, sembari memegang test pack, dia terus menangis meskipun dia belum tahu apa hasilnya. Dia sama sekali tak berani memandang test pack yang dipegangnya. Sementara itu, di luar kamar, orang tuanya menunggu cukup lama dengan pikiran yang kacau dan hati yang risau. “Ma, coba panggil Safira, dia kok lama amat ya?” pinta ayah Safira sambil mondar-mandir. Ibu Safira terdiam. Hatinya benar-benar dag-dig-dug. Jantungnya terasa mau copot. Perasaannya mendadak tak nyaman. Dia merasakan firasat buruk. Ya Allah, apa yang harus kami lakukan, kalau ternyata akhirnya putriku benar-benar hamil. “Fira… Fira… sudah belum?” ibu Safira memanggil anaknya sambil mengetuk pintu beberapa kali. Safira yang sedari tadi masih menangis dan belum berani melihat hasil tes pack tersadarkan oleh panggilan mamanya. Akhirnya Safira buka matanya lebar-lebar. Dia beranikan diri untuk melihat apa yang terjadi dengan test pack yang dipegangnya. Dua garis biru terlihat jelas oleh matanya. Safira menyapu kedua matanya dengan telapak tangannya berkali-kali. Dia berharap dia salah lihat. Namun nyata, dua garis biru itu tak berubah.  “Fira… Fira...” panggil ibu Safira lebih kencang dari yang sebelumnya. “Tidak… aku tidak bisa terima ini. Aku harus balas dendam. Dia harus bayar semua ini,” kata Safira sambil menangis. Sementara ibu Safira masih memanggil-manggil putrinya dan terus mengetuk pintu kamar anaknya berkali-kali. Safira keluar dari kamar mandi dengan lunglai seraya memegang test pack dengan malas. Dia melangkah menuju pintu kamar tanpa semangat. Lalu dengan rasa malas dan tak berenergi, dia pun membuka pintu kamar. “Bagaimana hasilnya?” tanya ibu Safira, penasaran. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD