Pengantin Pengganti

1219 Words
Safira tak menjawab. Tak ada sepatah kata pun yang terucap, yang ada hanya lelehan air mata. Ibu Safira paham, air mata putrinya sudah cukup menjawab pertanyaan yang barusan dia lontarkan kepada putrinya. “Ini, liat aja sendiri,” kata Safira kemudian seraya menyerahkan tes pack itu kepada ibunya.  “Ya Allah… astagfirullah… Ya Alllah...” ibu Safira menangis sejadi-jadinya. Tangisannya jauh lebih menyayat hati dibandingkan tangisan putrinya. Ayah Safira memegangi kepalanya yang pening. Tak lama kemudian, ibu Safira kehilangan keseimbangan. Dia pun pingsan. Tubuhnya yang lunglai tertahan di pangkuan ayah Safira. “Mama...” Lian tiba-tiba datang. Dia terkejut melihat kondisi mamanya. *** Sehari kemudian. Belum reda ‘kejutan pahit’ yang menimpa keluarga Safira, mereka kedatangan tamu, yatu dari keluarga Benua. Orang tua Safira yang dalam kondisi sedih tetap harus tenang dan bersikap ramah menghadapi calon besannya. “Senang sekali, Bapak dan Ibu bisa silaturahmi kemari,” kata ibu Safira sambil mencoba tersenyum, sekalipun susah karena suasana hatinya sedang sedih. “Iya, lain kali, kalau mau kemari ngasih tahu dulu, jadinya kami kurang persiapan, jadi menjamunya kurang maksimal,” kata ayah Safira. “Mohon maaf, kami tidak memberi tahu terlebih dahulu. Ini memang dadakan,” ucap ayah Benua.  “Iya, tidak usah repot-repot menjamu kok Bu, Pak.. kami nggak akan lama-lama,” ucap ibu Benua. “Nyantai saja dulu, Bu. Nggak usah buru-buru pulang, Belum apa-apa kok udah mau pulang. Ayo lebih baik diminum dan dinikmati dulu jamuan kami seadanya. Silakan, Bu, Pak,” ucap Ibu Safira sambil memandangi satu  per satu calon besannya. Melihat roman muka pasangan calon besannya itu, Ibu Safira memiliki firasat buruk. Mereka mau apa ini ya? Jangan-jangan mereka sudah tahu soal putriku… Ya Allah, kasihilah putriku… pikir ibu Safira. Lantas ibu Safira melirik putrinya yang saat ini duduk di sampingnya mengenakan kerudung. Terlihat cantik. Tubuhnya juga dibalut gamis. Sekilas ibu Safira melirik ke arah perut putrinya.  Dia membayangkan kengerian, saat ini perut itu kelihatan normal, tapi lambat laun pasti pertumbuhan janin di perut putrinya pasti membuat perut putrinya itu kian membesar. Ya Allah, astagfirullah, ibu Safira berulang kali berzikir dalam hatinya. Dipandangi seperti itu oleh ibunya, Safira diam tak merespon. Namun manakala kedua calon mertuanya menatapnya dengan sorot tajam, dia mulai merasa tidak nyaman. Dia pun lebih memilih banyak menunduk. Dan entah kenapa, tangannya tiba-tiba refleks memegangi perutnya. Ya Allah, mudah-mudahan pagi ini aku nggak mual dan muntah. Sekalipun jika nanti aku merasa mual dan ingin muntah, mudah-mudahan bisa aku tahan sampai Benua dan kedua orang tuanya pulang, pikir Safira. “Silakan diminum, Pak, Bu,” ibu Safira menawarkan jamuan kepada tamunya untuk yang kedua kali. “Baik, terima kasih  banyak, Bu,” kata Ibu Benua. Dia mengambil gelas air bening yang ada di hadapannya. Tindakannya itu diikuti oleh Benua dan ayahnya. Kemudian, ibu Benua pun mencicipi jamuan yang dihidangkan. Dia mencicipi kue brownies kukus yang terhidang di piring. “Wah enak ini browniesnya, Bu,” kata ibu Benua. “Ini bikin sendiri atau beli di mana, Bu?” “Oh, itu kami bikin sendiri. Saya bikin dibantu sama Lian, kebetulan memang dia senang banget bikin-bikin kue,” kata Ibu Safira. “Oalah adiknya Safira kan ya. Ternyata dia jago juga ya bikin kue,” kata ibu Benua. “Ah, enggak juga, dia masih belajar kok Bu,” ucap ibu Safira merendah saat calon besan memuji putrinya. Kedatangan keluarga Benua yang membatalkan, jika ingin tetap dilangsungkan Ibu Benua malah menginginkan Berliana. Saat-saat yang menegangkan pun akhirnya tiba juga. Orang tua Benua saling menatap satu sama lain, seakan memberi kode. Kode yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. “Bu, kedatangan kami kemari sebenarnya ingin menyampaikan hal penting berkaitan dengan rencana pernikahan Safira dan Benua,” ujar ayah Benua.  Jantung Safira berdebar lebih kencang. Napasnya memburu. “Ini memang di luar perkiraan. Kami tak menyangka Safira akan mengalami kejadian yang mengenaskan ini….” Jadi mereka sudah tahu kondisiku rupanya, kata hati Safira. “Dan dengan terpaksa kami harus membatalkan pernikahan ini,” pungkas ayah Benua. Waktu seakan berhenti. Dunia seperti membeku. Safira mematung. Dia tak terlalu memperhatikan lagi apa yang selanjutnya diucapkan oleh ayah dan ibu Benua. “Kami harap, Bapak dan Ibu, juga Safira bisa memahami keputusan kami ini,” kata Ibu Benua. Ayah dan ibu Safira pun tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada sepatah kata pun yang bisa ia sampaikan. Ibu Safira hanya memegangi jemari Safira untuk menguatkannya dalam menghadapi situasi yang amat sulit dan di luar kendali mereka ini. Dalam kondisi seperti itu, mendadak mual yang dirasakan Safira tak tertahankan lagi. Dia segera berlari ke belakang. Dari halaman rumah, Berliana yang dari tadi mengamati dari kejauhan sambil membaca buku. Dia bisa melihat apa yang terjadi pada kakaknya.  Dia meletakkan buku yang tengah dibacanya di mejal dan segera berlari untuk membantu kakaknya.  Ya Allah, kasihan banget Kak Safira. Semoga ujian yang menimpanya ini bisa segera berakhir. Ya Allah, kuatkanlah Kak Safira. Karena tak ada jalan lain yang lebih cepat, Berliana terpaksa melewati ruang tamu. “Apalagi mungkin Safira sekarang sedang hamil,” ucap ibu Benua ketus. “Ma… sudah Ma, jangan dilanjutin,” ayah Benua mengingatkan. Ibu Safira kesal. Dia sangat tersinggung dengan ucapan ibu Benua. Enggak punya rasa empati sama sekali, padahal sama-sama perempuan, pikir ibu Safira. “Permisi, Pak, Bu,” ucap Berliana dengan sopan sambil terus melangkah menuju ke kamar Safira. Ibu Benua tersenyum. “Silakan, Nak. Lian kok makin cantik aja ya. Enggak kalah sama kakaknya. Pake busana muslimah makin anggun,,” pujinya sambil terus mengamati Berliana yang sudah mau masuk ke kamar kakaknya. “Saya permisi,” ucap ibu Safira meninggalkan ruangan itu. Dia ingin mendampingi Safira. Di wastafel kamar mandinya, Safira muntah cukup banyak. Kepalanya pun sangat pusing.  “Kak, Kayak nggak apa-apa kan?” “Biasa aja, cuma kali ini muntahnya lebih banyak.” “Tunggu bentar Kak, aku ambilkan aromaterapi ya,” kata Berliana. Dia mengambil aromaterapi yang tersimpan di kotak P3K di ruang tengah.  Saat ibu Safira tiba, dia pun memijat tengkuk dan kepala Safira. “Kamu pusing ya?” kata ibunya. “Banget, Ma.” “Ini Kak, coba kakak hirup, mudah-mudahan lebih segar,” ucap Berliana yang menyerahkan aromaterapi rasa citrus. Safira membuka botol aroma terapi itu. Dia menuangkannya ke telapak tangan dan menghirupnya. “Ma, udah aku bisa sendiri, dampingin Papa aja tuh,” kata Safira. “Udah, nggak perlu. Udah selesai juga kayaknya bentar lagi mereka juga pulang, biar Papa kamu,” ucap Ibu Safira sambil memijat-mijat kening putrinya. “Kalau gitu, ayo kita ke sana lagi, kasihan Papa sendirian,” kata Safira. “Kamu yakin udah baikan?” tanya ibunya. “Mudah-mudahan udah sih, Ma,” balas Safira. “Aku temani Kakak boleh ya?” pinta Berliana. “Bagus, kamu temani kakakmu, Lian,” kata ibu Safira. Akhirnya mereka bertiga kembali ke ruang tamu. Entah kenapa, ibu Benua tiba-tiba begitu sangat antusias dan tertarik kepada Berliana. Melihat kedatangannya, dia sangat bahagia.  “Pak, Bu… kami rasa, pernikahan dan hubungan kita sebagai besan akan tetap terjalin,” ucap ibu Benua tiba-tiba. “Maksud Ibu? Bukannya tadi...” “Ah, begini kami akan sangat senang sekali. Pernikahan Benua akan tetap dilangsungkan, tapi pengantin perempuannya adalah Berliana!” ucap Ibu Benua sambil tersenyum. “Mama… mama sudah gila ya?” teriak Benua.  Benua menatap Safira yang kini hatinya kian hancur berkeping-keping. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD