Bab 14
Titip Cinta
“Mama kenapa mendadak begini sih. Sebelum ngomong begini kita harusnya ngobrol dulu,” kata ayah Benua.
“Tenang, Pa. Ini bukannya baik untuk anak kita,” ucap ibu Benua santai.
“Papa nggak ngerti, baiknya di mana?”
Ibu Benua tak membalas pertanyaan itu. Dia merasa santai tanpa ada beban.
Berliana sungguh tak menyangka akan ikut terseret dalam pusaran besar yang sungguh rumit ini. Matanya tak berkedip. Dia memandang ibu Benua yang masih tersenyum ke arahnya.
Kemudian dia berganti memandang kakaknya yang malam.
Safira dan Berliana bertatapan cukup lama. Mereka berusaha saling menyelami perasaan yang menyelimuti di antara mereka berdua.
“Bagaimana Bu, Pak… bersedia?”
“Maaf, kami lebih baik memilih tidak ada pernikahan sama sekali,” kata ibu Safira.
“Iya, lagi pula jika harus menikah dalam waktu dekat, Lian masih harus fokus menyelesaikan kuliahnya,” ucap ayah Safira.
“Tidak masalah, kami akan menunggu, bukankah begitu, Ben?”
Benua tidak menjawab sama sekali. Moodnya saat ini benar-benar kacau. Dia tak habis pikir kenapa mamanya bisa berpikiran sebodoh itu.
“Atau begini saja, silakan Bapak dan Ibu pikirkan dulu matang-matang. Saya akan hubungi Bapak dan Ibu lagi 3 hari. Bapak dan Ibu sangat kayak mempertimbangkan tawaran kami,” ibu Benua tersenyum seakan-akan dirinya adalah wanita paling ramah dan terbaik di dunia.
“Ingat lho, gadis-gadis yang mengharapkan dinikahi oleh Benua mengantre.Sayang banget kalau tawaran baik dari kami ini ditolak,“ ibu Benua berbicara dengan pongah.
“Mama… sudah Ma, kenapa Mama kok jadi ngaco begini sih?” pinta Benua.
Safira yang tadi sudah muntah, sekarang tiba-tiba kembali mual. Dia pun lagi ke belakang, dan muntah-muntah lagi.
Berliana berlalu mengikuti Safira. Dia ingin memastikan kakaknya baik-baik saja.
“Ini, Kak, pake aromaterapi lagi,” Berliana kembali memberikan aromaterapi rasa citrus.
“Makasih, Lian,” kata Safira. Safira menghirup aromaterapi itu.
Berliana ikut membantu Safira memijat leher dan keningnya.
“Kamu kenapa malah diam di sini? Ayo cepat sana, temui ibunya Benua,” ucap Safira ketus.
Berliana merasa tak enak hati.
“Enggak mau, Kak. Aku lebih baik temani Kak Fira aja di sini,” ucap Berliana.
“Kak, kenapa sih ibu Kak Benua kok jadi aneh begitu. Dia mau mempermainkan kita ya?”
“Entahlah… Aku juga memang sakit diperlakukan seperti ini, tapi ya mau gimana lagi. Semua sudah terjadi dan ini di luar kendaliku. Aku harus berusaha tegar, berdamai dengan semua ini,” ucap Safira pelan.
“Alhamdulillah, sekarang Kakak sepertinya jauh lebih tegar,” ucap Berliana sambil tersenyum.
“Hmmm… Kakak nggak marah sama aku?” lanjut Berliana dengan sangat hati-hati.
“Tadi pas aku dengar pertama kali ibu Benua bilang begitu, aku benar-benar sakit. Aku juga kesal padamu. Tapi setelah dipikir-pikir, sumber masalahnya sebenarnya bukan kamu, tapi ibunya Benua,” Safira menghela napas.
Dia melangkahkan kakinya dari wastafel. Dan kini dia duduk di tepi ranjang.
“Dalam kondisi seperti ini, rasanya nggak fair juga kalau aku marah sama adikku sendiri. Aku tahu ini berat, tapi aku akan terus berusaha dan belajar,” jelas Safira.
Mendengar jawaban seperti itu, Berliana merasa sangat bahagia.
“Alhamdulillah, sekarang Kakak sudah lebih baik. Kakak sudah bisa objektif dan sangat bijak dan menyikapi sesuatu, termasuk masalah yang barusan terjadi...”
“Dari awal aku memang sudah harus mengondisikan kemungkinan terburuk soal nasib pernikahanku. Dan nyatanya ini benar-benar terjadi.”
“Kakak punya rencana apa ke depan?” tanya Berliana.
“Aku tak punya rencana apa-apa, masa depanku sudah begini hancur. Aku sudah hamil begini, otomatis harus melahirkan dan membesarkan anak dalam perutku ini, sekalipun sebenarnya hatiku sangat berat menerima kehadirannya,” ucap Safira bercucuran air mata.
“Tinggal kamu, kamu dan papa mama harus memilih keputusan terbaik soal tawaran ibu Benua. Kamu siap ambil tawaran ini?”
“Jangan gila, Kak. Kak Benua hanya mencintai Kakak,” Berliana tertawa getir.
Ayah dan ibu mereka pun masuk ke kamar Safira.
“Kamu baik-baik saja, Fira?” tanya ayahnya.
“Baik kok, Pa. Mereka sudah pada balik?”
“Barusan mereka pamit,” ucap ibu Safira. “Beneran kamu nggak apa-apa?”
“Ini, aku udah baikan. Tadi dibantu aromaterapi lagi,” kata Safira.
“Nanti Mama bantu coba buatin teh jahe ya. Biar lebih segar,” kata ibu Safira.
“Ya, makasih ya. Ma. Oia, gimana keluarga ini sudah ada keputusan bagaimana dengan tawaran keluarga Benua?”
“Enggak usah diladeni. Ibu Benua mungkin sudah gila. Bisa-bisanya dia memperlakukan keluarga kita seperti itu,” ayah Safira tegas.
“Iya, lagi pula itu bukan keinginan Benua, kita nggak tahu pasti, Nak Benua juga belum mau,” kata Ibu Safira.
“Ma, Pa... Benua anak yang penurut. Dia nggak mungkin menentang keinginan ibunya,” kata Safira.
“Terus kita harus nerima gitu aja?” tanya Berliana.
“Lian, aku tahu persis, Benua juga adalah lelaki yang baik. Aku rasa, tidak ada salahnya kamu menerima tawaran itu. Kamu juga, Lian tidak perlu kuatir, Benua itu tipe lelaki setia. Dalam hidupnya, perempuan yang pernah mendapatkan tempat di hatinya hanya aku.”
Berliana terdiam. Dia tak habis pikir, kenapa Kakaknya bisa berubah drastis seperti itu.
“Kakak ini becanda. Sudah, Kak. Nggak usah dilanjutkan. Aku memang belum punya calon, tapi kalau dipaksakan dengan Kak Benua, belum tentu kami bisa hidup bahagia.”
“Kamu bisa bahagia dengan Benua. Kalau Benua dan kamu bahagia, aku juga akan bahagia. Aku sudah ikhlas, kalau aku tidak bisa menjaga dan menjadi istrinya, karena kondisiku saat ini,” ucap Safira.
“Kamu serius bicara begitu?” tanya ayah Safira.
“Kenapa kamu tiba-tiba ngomong begini, kok tiba-tiba setuju dengan rencana gila ibu Benua?” ibu Safira memandangi putrinya dengan aneh.
Bukan hanya Berliana yang merasa aneh dengan Safira, tetapi kedua orang tuanya pun merasakan hal yang sama.
“Aku serius… hanya ini satu-satunya jalan supaya hubungan antara keluarga kita dengan keluarga Benua tetap baik dan tidak tercoreng,” kata Safira.
“Tapi tidak juga dengan mengorbankan perasaan dan masa depanmu, Nak,” kata ibu Safira sesenggukan.
“Nonsense dengan perasaan.Persetan dengan masa depan. Perasaanku dari sejak peristiwa malam terkutuk itu sudah tak tersisa. Aku sudah mati rasa. Masa depanku pun sudah sirna. Aku sudah tak punya harapan dan masa depan lagi.,” ucap Safira.
Kali ini Safira tak lagi menangis. Mungkinkah air matanya sudah mengering?
“Lian, mau tak mau kamu harus siap, demi kebaikan keluarga ini. Ma, Pa… sudah paham kan sekarang dengan watak keluarga mereka. Jika sampai tawaran ini ditolak dan pernikahan batal, mungkin nama baik keluarga ini akan makin rusak. Aku yakin, ibu Benua tak akan tinggal diam. Dia akan terus memojokkan kita,” kata Safira.
“Terus… Kakak… nanti bagaimana?” Berliana bercucuran air mata.
“Jangan pikirkan aku. Sekarang pikirkan kamu sendiri. Mungkin pada awalnya kamu akan merasa berat. Tapi belajarlah untuk menerima kondisi ini. Belajarlah kamu mencintai Benua. Anggap saja aku menitipkan Benua padamu untuk kamu jaga dan kamu cintai seutuhnya.”
“Tapi kan Kak Benua cintanya sama Kakak, bukan aku?”
“Kamu lupa ya, kamu pernah bilang, bahwa cinta itu bisa diusahakan saat kamu dulu jelasin soal konsep ta'aruf sama Kakak. Anggap saja, meskipun tidak sesuai kenyataan, kamu melakukan taaruf, dan sedang belajar mencintainya,” jelas Safira.
Safira menggenggam jemari Adiknya. “Aku mohon, kamu bersedia menikah dengan Benua. Aku titipkan cintaku untuk Benua lewat kamu. Tolong jagalah dan cintai dia sepenuhnya. Lakukan apa pun yang bisa membahagiakan Benua. Dan jangan pernah kamu sakiti, khianati dan kecewakan dia,” ungkap Safira.
“Kak Benua adalah cintanya Kakak...” ucap Berliana.
“Selama ikatan pernikahan belum terjadi, bukankah itu cinta yang semu? Kamu pernah bilang begitu. Benua sekarang bukan cintanya Kakak,” ucap Safira.
“Ingat, hati manusia itu bisa berubah-ubah. Mungkin seiring waktu pernikahan kalian, lama-lama dia akan bisa melupakanku dan bisa belajar mencintaimu,” lanjut Safira.
“Kenapa Kakak malah mendorongku bahkan terkesan memaksaku untuk menikah dengan Kak Benua?” tanya Berliana.
Bersambung