Pagi menjelang. Ando dan Rian digelandang keluar ruangan. Rian seperti biasa harus berhadapan dengan anggota-anggota Hendra, sedangkan Ando kini bertugas di luar. Dengan ditemani oleh hari yang sedikit mendung dan suasana kelabu yang lebih cocok untuk melanjutkan mimpi, Ando bersama empat orang lainnya tengah mengawasi gerak-gerik musuh. Ando tak diberitahu secara detail misinya. Ia hanya diberitahu untuk menangkap semua orang yang keluar dari gedung di depannya. Lebih tepatnya semua yang berseragam hitam, sedang yang lain dibebaskan begitu saja. Lebih buruknya Ando bahkan tidak mengenal orang-orang yang satu tim dengannya. Tidak hanya itu, rekan-rekan Ando entah mengapa selalu memanggil Ando dengan ‘duda’. Yang justru panggilan itu selalu menyulut emosi Ando. “Ayo kita maju!” suruh seo

