Tiada hari tanpa Ando berdarah. Setiap hari ia harus melawan lebih dari sepuluh orang. Mereka tanpa ampun akan langsung menghajarnya hingga Ando tak sanggup lagi dan akhirnya pingsan.
Orang bertato itu tidak bohong. Latihan ini justru bukan hanya sekadar latihan, tapi ini jelas-jelas seperti pembunuhan berencana. Bagaimana tidak? Seberapa pun Ando babak belur atau bahkan menangis, ia tak akan diampuni.
"Kenapa kamu di sini?" tanya seorang yang satu sel dengan Ando. Iya sel. Di sini tidak ada kasur maupun makanan yang layak. Hanya sel yang karatan beserta makanan sisa - yang bahkan tidak cukup untuk dimakan berdua.
Ando tidak menjawab. Lebih tepatnya ia tidak bisa menjawab. Mulutnya penuh dengan darah. Dan ia rasa tulang rahang bawahnya patah. Ini tidak seberapa dibanding saat pertama kali ia ke sini.
Waktu itu, ia dibawa dalam keadaan pingsan. Saat bangun, ia tahu-tahu sudah di arena pertarungan. Belum juga ia menguasai keadaan saat itu, sebuah tangan sudah mampir ke wajahnya. Tanpa ampun, tanpa jeda, hingga akhirnya Ando terpaksa dilarikan ke ruang perawatan.
“Aku di sini untuk menuntut balas,” balas Ando sebisanya.
“Apakah dendammu sebesar itu sampai berani datang ke sini?”
Ando tak mau menjawab lagi. Ia memilih tidur dengan tubuh yang penuh luka itu. Di matanya yang kini terpejam, ia masih bisa membayangkan istri dan anaknya yang tersenyum lalu mati sia-sia tanpa ada alasan yang jelas. Memikirkan hal itu saja membuat Ando muak. Ia sama sekali tak bisa tidur meski badannya telah remuk. Maka setiap hari ia berlatih. Walaupun tidak serta-merta membuatnya menang melawan sepuluh orang itu, paling tidak ia bisa semakin meminimalisir luka yang ia terima.
“Kalau aku jadi kau, aku sudah mencelakai diriku daripada terkurung di tempat busuk ini.” Teman satu sel Ando masih meneruskan pembicaraan.
“Lalu kenapa kau ke sini?” Ando yang tidak bisa tidur akhirnya memilih untuk melayani teman satu selnya itu.
Orang yang satu sel dengan Ando itu duduk. “Kita sudah seminggu di sini. Aku sudah tahu namamu, tapi sepertinya kamu belum tahu namaku. Namaku adalah Rian dan alasanku ke sini hanya untuk membunuh penguasa tempat ini.”
Ando semakin tertarik dengan ucapan temannya ini. Ia pun melayangkan pandangan penuh tanda tanya.
“Dia merampas semua yang aku punya. Keluarga, profesi, bahkan semua hartaku dimakan olehnya. Satu-satunya yang belum dia rampas dariku hanyalah harga diriku. Dia dengan senang hati berhadap-hadapan satu lawan satu denganku. Dia juga berjanji akan membiarkan dirinya mati jika berduel tanpa boleh ada satu pun anggotanya yang membantu. Suatu saat aku mengajukan duel. Dia terdesak. Anak buahnya hendak turun tangan. Saat anak buahnya tidak mendengarnya, dia langsung menembak anak buahnya itu dan melanjutkan duel denganku,” jelas Rian, seakan-akan dia tahu kalau Ando butuh penjelasan.
Rian kini menjajari Ando yang tengah duduk di pojok sel. “Kau tahu? Dia selalu memberitahuku di mana dia berada. Selama itu juga aku menantangnya dan selalu kalah. Dia pun menawari aku berlatih di tempatnya dengan beberapa syarat. Dan bodohnya diriku mengiyakannya. Aku pun terjebak di sini hingga sekarang,” sambung Rian.
Ando menelan ludah. Ia jadi terpikir apakah yang membunuh keluarganya juga adalah pemimpin para berandalan di sini?
“Yah tidak ada jalan bagiku kecuali mati. Tapi kau! Aku lihat kau mempunyai kunci itu. Kau punya jalan keluar yang jauh lebih besar daripadaku. Kau harus bisa keluar dari tempat busuk ini,” kata Rian dengan nada yang berapi-api.
Pikiran Ando makin tidak keruan. Namun dikarenakan tubuhnya yang sudah lelah dan sakit, akhirnya ia tertidur.
***
Mata Ando mengerjap-ngerjap. Luka-luka di wajahnya masih berdenyut. Ia pun mencoba membuka mata lalu duduk untuk mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Sepertinya malam tadi adalah malam terpanjang yang pernah ia alami. Ando sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak.
“Makan!” Rian menodongkan sebuah piring. Piring itu masih lengkap. Nasi dan lauk tidak berkurang sama sekali.
Ando mendongak, “Kamu sendiri?” satu sel hanya satu piring makanan. Yang berarti Rian sama sekali belum makan.
“Aku tidak lapar. Yang lapar itu tinjuku yang tak kunjung bisa menang. Makanya kamu harus segera sembuh dan membunuh si pemimpin otoriter itu. Katanya kamu belum melihat siapa yang membunuh anak dan istrimu, kan? Bisa jadi pembunuhnya adalah orang yang sama. Bisa jadi pembunuhnya adalah dia.”
Ando mengembuskan napas. “Tak peduli apa niatku, perutmu tetap saja perut manusia. Aku tidak akan makan kecuali kamu juga mengambil jatah makananmu. Ayo makan bersama!” ujar Ando.
Rian pun duduk. Ia bersama dengan Ando menghabiskan jatah makan mereka yang sangat sedikit. Setelah itu Rian membantu Ando untuk mengobati luka-lukanya. Satu-satunya yang disediakan lengkap di sel ini hanya peralatan penyembuh luka.
“Terima kasih, Do!” ucap Rian sembari melilitkan perban ke bahu Ando.
“Untuk?” Ando meringis. Pegerakan Rian membuat luka memarnya sedikit terasa lebih menyakitkan.
“Sudah mengingatkanku kalau di dunia ini bukan hanya manusia berhati busuk saja yang bisa hidup.” Rian melepas tangannya. Ia telah rampung mengobati Ando.
Ando pun kembali memakai bajunya. Tanpa ia sadari, tubuhnya sudah mengalami banyak perubahan. Otot-ototnya dulu yang tak pernah terlatih, kini menyembul ke luar dengan bentuk yang sempurna. Perutnya yang dulu hanya berupa perut orang kantoran yang tak pernah mengenal bentuk, kini sudah berbentuk sempurna layaknya roti sobek.
“Maksudmu aku orang baik?” Ando tertawa mendengar perkataan temannya barusan.
“Orang tidak bisa berubah begitu saja. Walau sejahat apa pun, jika intinya baik, dia akan terus menjadi baik. Begitu pun sebaliknya. Kamu itu orang baik, hanya saja nasibmu yang buruk sehingga jalur hidupmu berubah haluan.”
Ando tertawa. “Terserah apa katamu. Fokusku hanya satu, mengungkap pembunuh keluargaku dan mengadilinya.”
Rian diam. Ia lebih memilih untuk duduk di pojok sel. Ando pun memilih untuk melatih otot-ototnya lagi. Besok ia akan bertarung kembali. Bertarung untuk kesekian kalinya. Dan kalau ia berhasil mengalahkan sepuluh orang itu, Ando akan masuk ke tahapan berikutnya. Dia akan melakukan tugas lapangan untuk bisa bertarung di ruang bebas.
***
Satu hari berlalu. Ando digelandang menuju arena pertarungan. Di sana ia melihat orang-orang yang dihadapinya beberapa waktu lalu telah siap. Wajah mereka dan Ando pun tak jauh berbeda. Mereka semua sama-sama mempunyai luka lebam.
Si pemimpin tersenyum melihat ekspresi Ando saat ini. Ia jauh berbeda dengan saat pertama kali lelaki itu ia bawa ke sini. Kini wajah Ando penuh dengan amarah dan kesiapan yang matang. Dendam dalam jiwanya bukan lagi dendam mentah yang menuntut pembalasan. Dendam itu sudah berubah menjadi kekuatan yang siap diledakkan kapan pun.
“Oh liat si anak culun sudah siap sepertinya,” salah seorang mulai bicara. Ia pun tak segan-segan dan langsung melayangkan pukulan.
Ando belum mengangkat wajahnya. Tapi tangannya sudah bisa menahan pukulan yang melayang kepadanya. Lalu sebelum semuanya terjadi, Ando memutar tangan itu lalu menendang kaki orang yang menyerangnya terlebih dahulu membuat orang itu jatuh tanpa persiapan dan tangan yang dipegangi Ando pun patah.
Orang-orang yang awalnya menertawakannya pun sekarang diam. Mereka satu per satu menyerang Ando. Dan Ando kali ini melayani mereka dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ia tak lagi takut dengan serangan bergerombol. Ia bahkan bisa mengatur kapan menyerang dan kapan bertahan.
Ando membiarkan yang lainnya menyerang, sedangkan dia berfokus untuk melumpuhkan satu musuhnya. Sebenarnya ia tak begitu membiarkannya, setiap orang yang mendekatinya pasti akan mendapatkan hadiah dari kakinya. Tapi utuk serangan mematikan, Ando arahkan hanya kepada orang yang ia pegang sekarang.
Si pemimpin tersenyum. Ia perlahan menaiki arena sembari menyingkirkan para bawahannya yang telah kalah. Ando yang melihat si pemimpin kemari, langsung menyerangnya. Ia ingat akan kata-kata Rian dan entah kenapa ia juga tersulut emosi. Dalam hati terdalamnya, Ando ingin membuktikan pria di depannya ini adalah si pembunuh atau bukan.
Dengan enteng dan hanya dengan satu tangan, si pemimpin itu menangkis semua serangan Ando. Kakinya menendang kaki Ando dengan kencang sehingga Ando terjatuh dan pas ketika ia masih di awang-awang, si pemimpin memutar tubuhnya dan menendang Ando sekuat tenaga sampai tubuh Ando terhempas dan kaluar dari arena pertarungan.
“Kau belum siap menghadapiku, tapi kau sudah siap untuk terjun ke lapangan,” lantang si pemimpin.
Ando terbatuk. Ia mengeluarkan darah, “Kapan kau akan menunjukkan siapa pembunuh keluargaku?” teriak Ando tidak terima. Ia di sini bukan untuk bermain-main apalagi melakukan perintah pemimpin di depannya.
Pemimpin penjahat itu mendekati Ando. Ia membungkuk, menjajarkan wajahnya dengan wajah Ando. “Segera setelah kau siap!” ucapnya.
“Aku sudah siap, bodoh!” teriak Ando tepat di depan wajah pempimpin itu. Ia kesal bukan main kepadanya.
Si pemimpin tertawa, “Siapa yang bodoh? Aku? Kau saja belum bisa mengalahkanku, mau balas dendam dengan dia? Jangan harap! Kau hanya akan mati konyol kalau tidak bertarung di alam terbuka sebelum berhadapan dengan dia.” Si pemimpin pun pergi. Begitu juga dengan dua orang yang selalu mengikutinya. Hari ini Ando dinyatakan lulus tahap pertama.
Ando berdiri. Ia digelandang menuju ruangan lain, ruangan yang bukan selnya lagi. Ia kini ditempatkan ke ruangan yang lebih manusiawi. Sebuah kamar lengkap dengan kasur dan juga bantal.
“Sekarang kamu tidur di sini!” ujar salah seorang yang mengantarkannya.
“Aku tidak mau!” tegas Ando.
“Masuk!” teriak salah seorang yang lain.
“Tidak! Aku tahu kalau kalian tidak berhasil memasukanku ke sana, kalian akan dibunuh kan?” Ando kini tertawa yang membuat kedua orang di samping kanan dan kirinya bermuka masam.
“Aku tidak akan masuk kecuali Rian juga dibawa ke sini,” sambung Ando.
Salah seorang dari mereka menghubungi si pemimpin. Setelah berbicara sebentar mereka berdua saling tatap dan mengangguk. “Baiklah, tunggu di sini!” orang yang mengantarnya pun pergi.
Selang beberapa saat, orang itu kembali dengan membawa Rian. Rian yang melihat Ando langsung tersenyum.
“Aku tahu kau orang baik.”
Ando menggeleng lalu mendorong Rian masuk ke ruangan yang telah disediakan. Sadar atau tidak, Ando tengah membangun kepercayaanya kepada orang lain setelah ia dulu memutus hubungan dengan siapa pun.
“Aku tahu kau akan membawaku ke mana pun kau pergi,” ujar Rian sembari merentangkan badannya di kasur.
“Jangan terlalu percaya. Kau tahu kan tidak ada benar-benar bisa dipercaya dalam hidup ini.” Ando menelan ludah. Ia teringat ketika anak dan istrinya meninggal. Semua keluarga mereka lenyap begitu saja. Mereka seperti tidak mengenal Ando itu ada bahkan ketika Ando ditahan karena berbuat onar pun tidak ada yang menjenguknya di penjara.
“Lalu kenapa kau membawaku ke sini?” Rian duduk sembari bertopang dagu. Ia menatap Ando yang lagi-lagi tengah berlatih. Kali ini dia mencoba bersikap lilin. Ia berusaha menopang tubuhnya dengan empat jari. Dua jari di tangan kanan dan dua jari di tangan krii.
Ando menyudahi latihannya. Ia berdiri dan duduk sembari menyandarkan punggungnya ke tembok. “Aku ingin kamu melatihku.”
Rian membelalak. “Kau ingin aku melatihmu? Haha yang benar saja. Aku saja tak pernah berhasil mengalahkan Hendra,” tolak Rian. Ia mengutarakan fakta yang tak pernah terbantahkan. Dia sama sekali belum bisa mengalahkan bos dari kumpulan penjahat ini. Kalaupun sampai terdesak, Hendra entah bagaimana caranya berhasil bangkit dan lalu menguasai arena pertarungan kembali.
“Tapi itu tidak merubah fakta bahwa kau pernah memojokkannya,” kata Ando datar.
“Kenapa kau ingin aku melakukannya? Apakah kau mau membalaskan dendamku?”
Ando tertawa, “Dendammu tak akan padam jika aku yang membalaskannya. Kau harus memadamkannya sendiri. Yang aku inginkan hanya sebuah pengakuan. Aku memang tidak tahu siapa yang membunuh keluargaku, bisa jadi itu Hendra atau bukan. Tapi yang jelas dia tahu semua itu. Aku ingin dia segera mengatakannya tanpa menyuruhku untuk melakukan pekerjaan kotornya.”
Rian mengangguk. “Baiklah. Sepertinya kita punya kesepakatan. Tapi jika memang Hendra adalah pembunuh keluargamu, izinkan aku berperan juga dalam pembunuhan itu.”
Ando bangkit. Ia menjulurkan tangannya. Rian tersenyum lalu menjabat tangan Ando. Setelah sekian lama dia di sini, akhirnya ada yang bisa diajak untuk bekerja sama.
“Baiklah. Mulai sekarang kita akan latihan.” Rian bangkit. Ia memasang kuda-kudanya.
Ando menjaga jarak. Ia pun turut bersiap diri. Tangannya mengepal. Pandangannya menajam. Ia akan mengawasi semua gerak-gerik Rian. Dan kedua orang itu pun mulai bertarung. Mereka sama-sama menajamkan jurus dan juga kekuatan yang mereka miliki. Hanya satu tujuan mereka yakni mengalahkan Hendra. Entah nanti bagaimana caranya. Yang pasti sandiwara busuknya harus segera diakhiri.
Ando tersungkur. Ternyata jurus-jurus Rian lebih mutakhir daripada jurus-jurusnya.
“Apa kau menyerah?”
Ando menyunggingkan senyum. “Tidak sampai aku mati,” katanya. Ia pun maju kembali. Ia akan jalani apa pun untuk memadamkan dendamnya. Tanpa Ando sadari, ia telah berjalan di atas jalur yang diingankan Hendra. Amarah dan dendamnya selama ini benar-benar telah menjadi kekuatannya. Hendra pun memberikan izin Rian bisa bersama Ando itu dengan suatu tujuan. Tujuan yang hanya dia yang tahu. Sebuah tujuan besar yang mungkin hanya Ando yang bisa mewujudkannya.
Hendra mengawasi semua gerak-gerik Ando dari layar di ruangannya. Tak ada satu pun bangunan itu yang tak tersambung dengan CCTV. Baginya tak ada privasi yang penting. Semua hal yang ada di bangunan miliknya itu wajib terpantau. Tanpa terkecuali. Ia paling membenci pengkhiatan. Maka untuk menghilangkan hal itu, Hendra selalu mengawasi bawahannya.
Melalui CCTV itu, Hendra dapat melihat Ando yang berulang kali tersungkur tapi terus bangkit hingga Rian kewalahan dan memilih untuk istirahat. Hendra tertawa. Ia akui tidak ada tenaga yang lebih besar daripada dendam. Baginya cinta hanyalah bahasa halus dari dendam. Dendam lahir dari cinta yang tak terbalas. Buktinya saja Ando. Ando mempunyai dendam karena cintanya direnggut paksa darinya.
“Sebentar lagi. Sebentar lagi, aku akan bisa membunuh kalian semua,” desis Ando lalu tertawa dengan keras.