028 Tragedi

1434 Words
Hari kamis. Hari biasanya Dimas dibawa Nur ke klub sains. Ando ingin agar anaknya itu kelak menjadi peneliti yang hebat. Tidak seperti ayahnya yang hanya pekerja kantor biasa. Ando sengaja bersikap sok misterius karena tanggal hampir mendekati hari aniversary mereka. Ando akan menyiapkan kejutan yang sangat tak terduga. Untuk itu ia mengambil cuti sekarang. Dengan semangatnya Ando membereskan rumah. Ia sudah menahan emosinya untuk bersikap biasa saja sejak kemarin. Bahkan tadi pas sarapan ia hampir saja tersenyum. Puji Tuhan, ia diberi ekspresi wajah yang sedikit kaku, sehingga senyum atau tidak, itu hampir mirip. Ando bergegas memasang pernak-pernik rumah. Ia pun mengeluarkan lukisan yang selama ini ia kerjakan diam-diam. Ando mengerjakan lukisan itu tepat ketika istrinya tertidur lelap. Makanya kadang kala pasti ada coretan yang tidak berarti berada di lukisan itu. Ya meski lama, Ando puas dengan rencana yang sudah ditatanya matang-matang. Tak ada yang membantu. Ando sempurna sendirian menata rumahnya ini. Ando sudah memetakannya. Sebagai karyawan yang bekerja di bidang properti, ia tahu bagaimana menata rumah agar terkesan indah sejak langkah pertama masuk ke rumah. Ando menyalakan kompor. Meski ya seumur hidupnya ia menyentuh peralatan ini bisa dihitung dengan jari, ia tetap memaksa. Walaupun nanti masakannya bentukannya seperti masakan pembunuh berantai, ia tak peduli. Baginya hari ini lebih penting daripada hari apa pun di dunia. Handphone Ando berbunyi. Lelaki itu langsung mengangkatnya. Pesanannya datang tepat waktu. Bunga-bunga segar telah datang. Ando segera menyuruh para pengantarnya untuk meletakkan di halaman. Setelah itu, pria dengan tubuh tegap itu langsung kembali ke dapur. Dengan ditemani alunan musik kesukannya, Ando menghias setiap lekuk rumah. Mawar merah dan mawar putih yang ia pesan segera ia sebar ke segala arah. Sementara bunga-bunga lain yang ia pesan, Ando letakkan di meja, taman, dan juga kamar. Ia tak lupa meletakkan pengharum ruangan serta mematikan semua lampu. Lampu-lampu itu, Ando ganti dengan lampion dan juga lilin. Ando meletakkan kue di atas meja. Kue sederhana, terlalu kecil malah untuk disebut kue. Menurut Ando itu tak masalah. Asalkan masih bisa dimakan walaupun hanya satu gigitan. Perlahan namun pasti, desain itu selesai. Pernak-pernik sudah tertata dengan baik. Pintu utama sudah Ando kaitkan dengan benang yang tersambung dengan kotak berisi mawar di atasnya. Jika nanti Nur, membukanya, dia akan terguyur oleh mawar-mawar itu. Lampion-lampion pun telah dihidupkan. Untuk menyamarkan keberadannya, Ando menyalakan semua lampu di rumah. Sempurna, ia siap menyambut istrinya pulang. Perlu waktu seharian bagi Ando untuk menyiapkan segalanya. Tapi setelah melihat hasilnya, Ando cukup puas. Ia yakin istrinya pasti akan menangis terharu sampai tidak bisa berkata-kata. Sayangnya setelah menunggu dan menunggu, istrinya tak kunjung juga pulang. Rasa tak sabar menanti, berubah menjadi kekhatiran yang begitu mendalam. Apalagi setelah jam menunjukan pukul lima petang lewat, Ando tak kuasa untuk menahan tangannya agar tidak menghubungi istrinya. Handphone berdering tetapi tidak diangkat. Berulang kali Ando hanya mendapatkan pemberitahuan dari operator bahwa nomor yang dihubungi berada di luar jangkauan. Ando pun menghubungi tempat klub. Kata mereka Nur dan Dimas sudah pulang sedari tadi. Ando terus-menerus mondar-mandir. Ia merasa sangat khawatir, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu. Sampai akhirnya ketika Ando memutuskan untuk pergi dan meminta bantuan polisi, ia dikejutkan dengan sebuah mobil istrinya yang tiba-tiba berhenti di rumahnya. Ando tersenyum senang. Akhirnya yang ditunggu datang juga. “Aku sangat khawatir. Kamu habis dari mana saja, Sayang?” lantang Ando sembari mendekati mobil istrinya. Ando tertawa dan membuka pintu mobil. Tapi senyum dan tawanya itu langsung sirna ketika ia mendapati istri dan anaknya sudah pucat pasi. “Sayang?” Ando dengan ragu-ragu menyentuh tubuh istrinya. Dingin. “Sa … yang?” Ando bergemetar. Jarinya ragu-ragu memgecek napas istrinya dan anaknya. Nihil. Ia pun turut mengecek nadi mereka. Nihil. “Tidak … tidak … tidak!” Ando buru-buru menelepon ambulan. Setelah itu ia memeluk keluarganya. Matanya yang tadi berbinar, kini sembab memerah. Tawa yang harusnya terdengar kencang, kini malah berubah menjadi teriakan. “Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku!” ucap Ando seakan-akan istri dan anaknya masih mendengarnya. Seseorang mengendap-endap dari belakang. Seseorang itu yang telah dengan tidak sengaja membunuh Nur dan Dimas. Dan saat ini, ia mencapai target puncak. “Maafkan aku. Aku tak sengaja membunuh mereka. Andai mereka memberitahu lokasimu, aku tak perlu mengotori tanganku.” Ando berbalik. Dan tiba-tiba sebuah peluru telah melesat menembus dadanya. Orang yang tadi mengakui perbuatan bejatnya itu, membuka masker. Wajahnya tampak begitu jelas di mata Ando. Orang itu berjalan menjauh seiring dengan serine ambulan yang kian meraung, mendekat. Tak lama orang-orang pun datang dan mengevakuasi keadaan. Lalu tiba-tiba rumah Ando meledak begitu saja. *** Ando tak pernah melupakan kejadian itu. Ia rasa ia telah mati bersamaan dengan istri dan anaknya saat itu. Dan entah untuk alasan apa, ia hidup sampai saat ini. Kematian anak dan istrinya hanya diidentifikasikan sebagai keracunan makanan. Polisi dan detektif tidak menemukan barang bukti apa pun yang mencurigakan. Lalu untuk penembakan yang dialami oleh Ando, polisi beranggapan itu adalah perampokan. Sedang rumah Ando yang meledak itu dikarenakan lampion jatuh dan mengenai tabung gas. Untuk alasan-alasan seperti itu, kasus Ando ditutup. Keputusan itu membuat Ando marah besar. Setiap hari ia mabuk dan jalan tak tentu arah. Rumahnya musnah, keluarganya sirna, dan beberapa waktu kemudian kantor pun memecatnya karena tak lagi becus bekerja. Kehidupan Ando berubah seratus delapan puluh derajat. “Aku tahu siapa pembunuh istri dan anakmu!” seseorang muncul di depan Ando, tepat ketika lelaki itu tengah mabuk dan terhuyung ke depan. “Omong kosong. Polisi dan detektif saja tak mempunyai buktinya. Bagaimana kau yang seorang preman seperti ini mengetahuinya?” Ando mengarahkan telunjuknya ke arah orang di depannya. Orang itu memakai jaket hitam. Rambutnya panjang. Lengannya kekar dan bertato. Wajahnya juga kelihatan bengis. “Aku tahu dia menembakmu lalu membuka maskernya.” Orang itu meneruskan. Ando terdiam. Ia yang tadi hendak melangkah pergi, kini terhenti. Orang bertato itu mendekati Ando. Ia menyentuh pundaknya. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke gendang telinga Ando lalu berbisik, “Apakah kau ingin balas dendam kepadanya?” Ando melepaskan tangan orang itu dari pundaknya. Ia tenggak lagi minuman alkohol di tangannya lalu beranjak pergi. Entah mengapa di saat-saat seperti ini, ia malah mendengar nasihat sewaktu ia kecil. Balas dendam hanya akan menimbulkan luka lebih dalam. “Kau pasti akan berubah pikiran,” kata orang itu. Ando sempat terhenti sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. Malam kian larut. Ando telah mabuk berat. Namun ia justru tak dapat tidur. Pikirannya masih menjadi miliknya. Lelaki itu terus memikirkan perkataan orang yang baru ditemuinya itu. Ia mulai berpikir apakah balas dendam akan sedikit meringankan beban pikirannya? Ando tahu. Ia sangat tahu kalau balas dendam akan merusak jiwanya. Tapi apakah alkohol tidak? Lihatlah kehidupannya saat ini! Kehidupannya sekarang tak lebih dari sampah masyarakat yang tak berguna bahkan patut untuk dimusnahkan. Kesehariannya hanya berjalan ke bar dan memesan minuman yang kian hari mereknya kian murah. Ando berpikir. Jika ia melakukan balas dendam apakah ia akan terbebas dari beban emosi? Ia tahu bahkan hafal kalau balas dendam tidak akan mengembalikan kehidupannya yang dulu. Tapi apakah tidak balas dendam juga akan mengembalikan kehidupannya seperti sedia kala. Jawabannya tentu tidak. Kalimat-kalimat pembenaran mulai merangkul jiwa Ando. Lelaki itu pun melempar botol minumannya sampai pecah berkeping-keping. Matanya kini tajam menusuk, seperti elang yang hendak berburu mangsa. Hari baru berganti sejak Ando bertemu dengan orang yang menawarinya balas dendam itu. Tapi lelaki itu sudah yakin dengan aksinya. Ia pun menuju ke gang yang tadi dan menunggu. Selang beberapa saat, orang itu keluar lagi. Ia seperti malaikat pencabut nyawa yang tahu kalau mangsanya sudah ada di depan mata. “Jadi apa kau mau balas dendam kepadanya?” Ando mengangguk. Napasnya memburu. Tangannya mengepal kuat. Memori-memori indah bersama anak dan istrinya, hilir mudik dalam otaknya. Memori-memori yang tinggal kenangan itu seakan menjadi bahan bakar amarah Ando. “Lebih baik aku mati daripada menanggung emosi seperti ini!” tukasnya. Orang dengan tato naga itu tersenyum. “Orang yang kau hadapi adalah orang yang sangat berpengalaman. Apakah kau sanggup menjalani latihan neraka untuk berhadapan dengannya?” “Walau seperti kerak neraka sekali pun, aku akan menjalaninya.” “Bagus! Mari ikut denganku.” Orang itu melangkah dan Ando mengikutinya. Entah bagaimana, sebuah mobil berhenti di depan mereka tepat setelah mereka keluar dari gang. Ando masuk ke mobil tanpa curiga apa pun. Lelaki itu telah dibutakan oleh emosinya sendiri. Ando duduk di tengah, sedangkan orang yang tadi mengajaknya duduk di depan. “Mau ke mana kita?” tanya Ando. “Lebih baik kau tidak usah tahu,” tukas orang yang mengajak Ando. Dua orang di samping kanan dan kiri Ando bergerak. Mereka memegangi Ando. Lalu dengan cepat salah seorang di belakang, menyuntikkan sesuatu ke tubuh Ando. Dalam hitungan detik, kesadaran Ando menghilang lalu sampai beberapa saat, ia pun pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD