Ando tengah berkacak pinggang. Akhirnya pembalasan dendamnya terwujud juga. Agensi yang telah menghancurkan keluarganya tumbang juga. Mereka semua lenyap tak berbekas seperti daun yang dimakan ulat.
Ando memandang pemandangan di depannya. Sejauh mata memandang hanya warna biru yang terhampar. Persis seperti hari-hari yang dilakukannya setelah itu. Semua biru, tidak ada yang cerah ataupun ceria. Semuanya hanya hari hampa dengan expresi yang dibuat-buatnya. Seperti orang yang dahaga tapi terus-menerus meminum air laut, Ando tak pernah puas dengan hidupnya. Darahnya mendidih kala mengingat kejadian pembantaian itu.
Ombak bergulung-gulung mendekati Ando. Namun pria itu tak peduli. Tubuhnya basah oleh basuhan ombak. Sesekali ombak itu menghujam badannya. Sesekali juga Ando terhunyung hampir terbawa. Tapi sekali lagi, pria itu tak henti-hentinya duduk tegap lagi. Ia ingin emosinya terbawa oleh ombak. Terbawa sampai ke tengah laut dan tenggelam di dalamnya.
Dulu, Ando sering datang ke pantai bersama istri dan seorang anak laki-lakinya. Mereka tersenyum dan tertawa bersama. Anak Ando itu akan selalu memintanya untuk memanggulnya dan menerjang ombak bersama. Anak kecil itu akan tertawa, begitu juga Ando, sedang ibu mereka akan duduk di pantai mengawasi suami dan anaknya bermain bersama.
Kebahagian menyertai mereka. Tiada hari tanpa canda dan tawa. Kehidupan Ando kala itu benar-benar sempurna. Istrinya menyayangi dirinya. Anaknya begitu sehat dan ceria. Kala ayahnya lelah menemaninya bermain, ia akan berlarian mengejar capung di sepanjang bibir pantai.
Tidak ada kebahagian yang lebih daripada itu. Ando menikmati setiap hari bersama keluarga kecilnya. Debur pantai, semaraknya angin laut, dan burung camar, menjadi saksi kebahagiaan mereka. Tidak ada yang terlewat kecuali setelah itu datang.
***
Berangsur-angsur matahari menapaki ranjangnya. Rona jingganya menyepuh langit. Bertahap-tahap binar lampu menggantikan cahaya mentari. Tepat ketika tarhim mulai berdendang, roda mobil lelaki berumur tiga puluhan itu sampai di rumahnya. Deru mesin sontak menggema, membuat keributan kecil di dalam rumah.
“Ayah!” teriak seorang bocah.
Nur yang mendengarnya tersenyum simpul. Ia pun langsung mengekor di belakang putranya. Perempuan berumur dua puluh sembilan tahun itu memasang wajah sumringah. Senyumnya tulus. Begitu segar. Ronanya sempurna mengembang. Matanya menatap penuh ke arah suaminya.
“Alhamdulillah, Mas sudah sampai.” Nur mengecup tangan suaminya. Rambutnya yang begitu lurus dan harum tergerai ke bawah.
Dengan lembut, Ando mengusap kepala istrinya. Dirasakannya halus jilbab putih itu. Ketika tangannya sampai di pundak, diangkatnya sang istri hingga pandangan mereka saling bertemu. Lalu dengan segenap perasaan, Ando menyunggingkan senyuman.
Mereka bukan lagi pengantin baru, tapi kehangatan mereka sama sekali tak berkurang. Ando merasa hidupnya sudah sempurna. Istrinya selalu saja bisa berdandan rapi sehingga ketika Ando pulang, lelahnya langsung menguap begitu saja. Rasa lelah dan letih itu seperti terbayar tuntas kala Nur menyambutnya penuh dengan senyuman.
“Ayah-Ayah, panggul!” rengek si bocah.
“Nggak boleh Dimas, Ayah kan baru pulang,” larang Nur.
Ando tersenyum memandang kelakuan anak semata wayangnya. Dalam hati, ia ingin sekali mewujudkan permintaan kecil Dimas, tapi sendinya sudah seperti robot, kaku di mana-mana.
“Hari ini Dimas masakin sesautu loh, Mas,” celetuk sang istri, “katanya khusus buat Ayah. Aku mau nyicip aja nggak boleh.”
Anak kecil itu langsung berkacak pinggang, dadanya membusung. Ia bangga dengan dirinya.
“Makanya Ayah panggul aku, dong!” pintanya kemudian.
Ando memandang istrinya lalu tertawa bersama. Rasa lelah karena seharian bekerja mendadak pergi begitu saja.
“Iya-iya, sini,” Ando melingkarkan tangannya di pinggang Dimas lalu mengangkatnya.
“Asyik!” Dimas tertawa kegirangan.
Satu keluarga kecil itu masuk ke rumah. Rumah kecil yang hanya memiliki enam ruangan. Sengaja memang disusun demikian, agar keceriaan selalu dapat terikat dan terperangkap di dalamnya. Ando tak akan pernah lupa bagaimana dirinya berdebat hebat dengan Nur ketika membangun rumah ini. Dimulai dari kamar mereka sendiri, ruang tamu, kamar mandi, dan dapur.
“Catnya harus pink, Mas!” usul Nur.
“Ini kan bakal jadi kamar kita, masa pink. Cokelat aja gimana?”
“Ya ampun, masa kamar catnya gelap. Nanti banyak nyamuk.”
“Banyak nyamuk kalau jarang dibersihkan. Lagian kan ada fentilasi sama kacanya.”
“Lah kalau malam, hayo .... Belum lagi kalau mati lampu.”
“Hmm ... ok. Kita pilih warna biru muda aja, gimana? Kalau kamu mau warna pink, kamu bisa ngecat dapur, deal?”
“Ok, deal.”
Sepasang suami istri itu berjabat tangan.
Meski sering cerewet dan selalu berkomentar, Ando senang memiliki istri yang mau berunding dengannya. Meski ia tahu kalau lelaki ditakdirkan sebagai pemimpin rumah tangga, tapi ia tak pernah menganggap sepele saran dari istrinya. Ando tahu pasti, tiada pemimpin hebat, tanpa penasehat agung di sampingnya.
Maka jadilah rumah sederhana namun penuh dengan lukisan dinding. Hanya satu ruangan resmi yang dicat dengan satu kuas saja. Tidak lain dan tidak bukan itulah ruang tamu. Sedang kamar mandi, kamar tidur, dan musala disusun sedemikian rupa agar fungsinya kian kentara.
Rumah kecil yang indah dengan segala kehangatan yang tak pernah mau pindah. Seakan-akan di rumah itu tak ada drama yang tak diperlukan. Semuanya hanya berupa canda dan tawa. Inilah yang diinginkan Ando dalam rumah tangganya. Ia tak ingin kaya, ia juga tak berharap istri dan anaknya pintar, ia hanya ingin rukun sampai maut memisahkan kelak.
“Mas, masih lama ya?”
Ando terbangun dari lamunannya. Ia diam tak menjawab dan langsung pergi mandi secepat yang ia bisa.
Selang beberapa menit, ia pun menghampiri anak dan istrinya yang telah rapi di meja makan. Dilihatnya nasi yang masih mengepul dan sayur yang begitu segar. Lauk berupa ayam pun terhidang dengan sempurna. Nur langsung mengambilkan piring serta menaruh nasi di atasnya.
“Mas ngelamun lagi ya?” tanyanya sembari meletakkan piring itu di depan Ando.
Ando hanya terkekeh. Ia sibuk mengambil sayur dan lauk. Ia kemudian memandang anaknya yang selalu duduk di sampingnya.
“Makan yang banyak, ya! Biar jadi jagoan,” seringainya.
“Dimas nggak mau jadi jagoan, Dimas maunya jadi kayak Ayah!” ucapnya, membuat Ando sampai tersenyum. Hatinya begitu tersentuh.
“Nah, mana nih yang masakannya, Dimas?” tanya Ando bersemangat.
“Itu loh, Mas, itu!” timpal Nur.
“Yang mana? Yang ini? Ini? Atau ini?”
Ando menunjuk-nunjuk semua makanan. Ia bingung, sementara istrinya hanya bilang “Ituloh-ituloh”. Nur pun merasa jengkel dan langsung mengambil lalu menyodorkan mangkok makanan yang ia maksud.
“Nih,” katanya.
“Oh ini, bilang dong!”
Nur mendengkus.
“Dasar laki-laki. Kapan mereka peka?” batinnya.
Walaupun sering merasa kesal, Nur selalu suka dengan kekonyolan yang dibuat Ando. Hanya saja setelah semua kebahagiaan yang ia peroleh, ia masih belum puas. Jauh dalam benaknya, ia merasa tak berguna menjadi seorang istri. Istri yang baik akan selalu membuat suaminya melewati semua masalahnya. Namun, Nur belum bisa menyelesaikan masalah suaminya.
“A-a-a,” Ando hendak menyuapi Dimas. “Haem,” tapi akhirnya makanan itu berubah haluan dan masuk ke mulut istrinya.
“Iih Ayah curang!” Dimas bersungut-sungut.
“Dimas kan udah gede, masa minta disuapin,” seloroh Nur.
“Dimas sama Ibu gedean mana?” timpal Dimas polos.
“Iih pinter banget sih jawabnya,” ujar Nur sembari mencubit pipi Dimas, gemas.
“Kan ayah yang ngajarin ....”
“Ouh, ayah ya!”
Tangan Nur beralih ke pipi suaminya. Ia pun mencubitnya agak keras.
“Mas pinter banget ya, ngajarin anak kita.”
“Hehehe,” kekeh Ando.
***
Langit sudah tertutup tirai malam. Bintang-bintang di atas sana berunjuk gigi, mereka seperti mau mengalahkan sinar rembulan yang kian hari terasa kian terang. Angin berembus sepoi. Alam perlahan mulai hening, memberi jeda kepada manusia agar bisa beristirahat. Ando mematikan televisi. Ia lihat anaknya telah pulas terlelap di sampingnya.
“Ayo, Dimas!” Ando mengangkat Dimas.
Perlahan lelaki berwajah tegas itu menggendong anaknya seraya melangkah pelan menuju kamar.
“Ah, Ayah curang,” igau Dimas lalu tersenyum sendiri.
Ando terkekeh mendengarnya. Setelah sampai, ia merebahkan putranya lalu mengecupnya. Lelaki itu kini pergi menuju rooftop, di mana istrinya telah menunggu.
Setiap malam, sesudah segala sesuatu di bawah telah teratasi, mereka berdua duduk bersama menggapai sebuah memori yang sangat indah. Sepertihalnya sepasang kekasih yang baru berpacaran, Ando dan Nur akan beradu kasih. Mereka berdua akan duduk bersama, menyaksikan panorama alam yang sangat indah di atas sana. Dan kadangkala, Ando dan Nur malah tertidur di atas sana lalu dibangunkan dengan teriakan Dimas yang bingung ayah dan ibunya berada di mana.
Di momen seperti itu, Nur tidur berbantalkan kaki suaminya. Lalu dengan halus Ando membelai rambut istrinya itu sembari sesekali mengecup dahinya. Nur seringkali memejamkan mata. Ia ingin indranya yang lain merasakan betapa hangatnya kasih sayang Ando itu. Nur akan mengumpulkan lelah, kesal, dan rasa tidak enaknya seharian lalu menumpahkannya di malam ini. Ia tidak mau meminta baju, ia merasa cukup rasa-rasa itu dibalas dengan perhatian dari suaminya yang tak pernah pudar.
“Kenapa?” tanya Ando lembut.
Mendengar suara suaminya, Nur terpikir akan sesuatu. Sewaktu ia beberes rumah, ia menemukan sebuah dokumen yang sangat aneh. Nur menghirup udara dalam-dalam. Ia berusaha mencari intonasi yang tepat untuk mengutarakannya. Seperti janji pernikahan mereka, tidak ada rahasia lagi. Masalah salah satu anggota keluarga adalah masalah semua keluarga.
“Kebahagiaan kita akan lebih sempurna jika kamu tak menyimpan masalahmu sendiri, Mas ....” lirih Nur. Akhirnya kata yang selama ini terpendam, ke luar juga.
Mata almond perempuan itu beralih menatap suaminya yang termangu. Agaknya dia pun memikirkan hal yang sama. Sudah enam tahun mereka menikah, tapi tak sekali pun Ando berkeluh kesah. Memang sih bagus. Hanya saja Nur merasa kurang jika hanya dia saja yang mendapatkan solusi dari Ando, sedang suaminya itu tak pernah meminta saran terkait apa pun, kecuali penataan rumah.
“Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, Mas? Tadi sewaktu beres-beres aku menemukan sebuah dokumen berisikan riwayat hidup seorang perempuan.”
Suara perempuan bermata almond itu sedikit bergetar. Ia takut suaminya kembali murung seperti dulu.
“Nggak ada kok. Santai aja, itu bukan selingkuhan aku. Dia mah nggak ada apa-apanya dibanding istriku yang cantik ini,” pungkas Ando.
Nur terkesiap. Aura suaminya mendadak berubah. Ando berdiri begitu saja lalu pergi. Entah mengapa setiap kali membahas tentang hal yang berkaitan dengan pekerajaan, Ando selalu menghindar. Dia akan buru-buru pergi dan menghilang sebentar sebelum akhirnya muncul lagi.