026 Jati Diri

2154 Words
Rudi membalut lukanya. Tidak ada waktu untuk ke rumah sakit. Kantor yang biasanya bisa dihubungi sekarang sama sekali tak bisa dihubungi. Darah terus menetes. Namun Rudi tidak peduli. Ia terus menancap gas, sebisa mungkin untuk cepat sampai. Untungnya ia sempat menghindar sehingga peluru itu tak mengenai organ vitalnya. Rudi hanya mengikat lukanya agar pendarahannya bisa terhenti. Walau tidak menutup kemungkinan Rudi bisa saja kehabisan darah, tapi hal ini lebih memungkinkan untuk tetap bisa bergerak. Rudi telah menyuntikkan serum ke Rico. Jika perkataan lelaki berjubah itu benar, seharusnya Rico sudah merasakan sebuah reaksi mulai dari sekarang. Tapi tidak ada waktu untuk mengeceknya. Yang terpenting adalah ia harus segera ke kantor. Betapa kagetnya Rudi ketika melihat kantornya telah luluh lantak. Bukan hanya api yang melahap semuanya, tapi bangunan pun tak bersisa. Hanya ada puing-puing serta asap yang mengepul. Agensi yang selama ini menaungi dirinya, hancur sudah. “Periksa semuanya! Pastikan tidak ada yang masih hidup!” sebuah suara mengerikan terdengar. Rudi mencari dari mana asalnya suara itu. Ia menyipitkan matanya. Di sana, di tepi reruntuhan ia melihat wajah yang tak asing. Wajah yang sudah memenuhi semua berkas agen. Ando. Lelaki itu berkacak pinggang. Ia tersenyum, seakan-akan tengah menyaksikan sebuah karya yang teramat agung dan dapat dibanggakan. Samar-samar, Rudi mendengar ada yang mendesis kesakitan. Ia pun mencoba mendekati secara perlahan. Matanya dengan teliti memeriksa sekitar. Ia tak mau aksi penyelamatannya malah menjadi bagian akhir dari kehidupannya. Langkah demi langkah, Rudi tegakkan. Beruntung masih banyak api dan asap yang membumbung, sehingga dia tidak dapat dengan mudah terdeteksi. Sayangnya luka yang ia dapat dari pertarungannya dengan Rico, membuat langkahnya tak dapat segesit ketika ia sehat. “Berjalalah ke belakang! Atau tidak lehermu akan mengeluarkan banyak darah!” ancam seseorang. Rudi sedikit mendongak. Di depan lehernya sudah terdapat sebuah pisau yang siap kapan saja menebas. Peluh segera membanjiri dahinya. Ia lengah. Gara-gara luka yang dideritanya serta dampak kagetnya melihat kantornya yang telah luluh lantak, ia tak menyadari ada seseorang yang telah mengintainya. “Bergerak sedikit saja, kau hanya akan bisa bergerak di akhirat kelak,” ancam seseorang yang di belakang Rudi. “Apa yang kau inginkan?” dari nada bicaranya, Rudi tahu kalau di belakangnya adalah seorang wanita. “Bukankah sudah kubilang? Kupikir kau cukup pintar,” ejek wanita itu. Rudi terpaksa menuruti perintah wanita di belakangnya. Dalam kondisinya saat ini, sangat kecil kemungkinannya dia akan menang. Sehingga jalan satu-satunya hanyalah menuruti apa yang diinginkan wanita di belakangnya ini. Sebuah suara pintu mobil dibuka terdengar. “Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Rudi. Wanita itu tersenyum dan dengan cepat memukul tengkuk Rudi dengan keras sampai akhirnya pria itu pingsan. *** Semilir angin mengantarkan bau yang tak sedap. Angin itu turut menggerakkan gorden berwarna putih yang terjurai indah di daun jendela. Rudi mengerjapkan mata. Ia dapati dirinya tengah diinfus dan selang oksigen terpasang di hidung serta mulutnya. Ia hendak bergerak, tapi tubuhnya kaku. Ia seperti diikat oleh sesuatu. Kepala Rudi menengok ke samping. Di dapatinya seorang wanita yang tengah duduk dengan satu kaki dilipat ke kaki yang lain dan dia tengah sibuk membaca majalah. “Jangan bergerak dulu atau tulang rusukmu akan semakin patah lagi dan menusuk jantung!” ucap wanita itu datar. Ia seakan tahu kalau orang yang ditungguinya telah siuman. Ia pun melipat majalahnya lalu meletakan majalah itu ke meja. “Kamu ….” Rudi mengingat wajah perempuan di sampingnya. Perempuan itu mendekatkan wajahnya ke Rudi. Mata keduanya kini hanya berjarak sepuluh centi. Begitu dekat sampai Rudi bisa merasakan embusan napas dari wanita yang entah menyelamatkannya atau hendak membunuhnya. “Ya. Aku adalah pembunuh bayaran yang kamu tangkap beberapa waktu yang lalu.” Wanita itu kembali menjauh. Ia bertopang dagu sekarang. Salah satu jemarinya menyentuh bibir. “Kenapa kamu tidak membunuhku tadi?” tanya Rudi dengan nada yang tak enak didengar. Wanita itu tertawa. “Bukankah tidak sopan kalau berbincang tapi belum berkenalan terlebih dahulu. Perkenalkan namaku Lidia.” Perempuan itu menjulurkan tangan. “Kita sudah saling mengenal. Bahkan jauh sebelum kita bertemu. Kau pasti pernah mendengar tentangku bukan? Dan bisa kau lihat, tangaku diperban seperti ini.” Rudi menolak dengan kata-kata yang diperhalus. Ia sebenarnya tak mau berurusan dengan wanita ini. Lidia menutup telapak tangannya. “Kau benar-benar lelaki yang unik ya, Di,” tanggapnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak membunuhku saat itu juga.” Alih-alih menggunakan kata ‘menyelamatkan’ Rudi malah menggunakan kata ‘membunuh’. Ia benar-benar ingin menjaga jarak dari Lidia. Lidia bangkit dari kursi. Ia tunjuk d**a Rudi, tempat di mana sebuah peluru bersarang pada awalnya. “Tanpa aku membunuhmu pun, kamu akan mati nantinya. Kamu pikir bisa menyelamatkan rekanmu yang sekarat sementara kamu juga sekarat?” Lidia terkekeh. “Oh ya, apa kau bilang? Aku tadi tidak membunuhmu tadi? Asal kamu tahu saja ya Kapten Rudi yang terhormat kamu sudah pingsan selama beberapa hari di sini.” Rudi tercengang. Ia sama sekali tak percaya dengan perkataan Lidia. Mata Rudi pun mengarah pada kalender yang terletak di samping kirinya. Ia masih ingat bahwa dirinya pergi ke markas yang telah hancur pada tanggal tiga puluh dan kini kalender itu telah berganti bulan. “Kalau aku membunuhmu, bisa saja kusuntikkan racun pada impusmu, tapi aku punya hal yang lebih menarik. Maukah kamu bergabung bersamaku untuk balas dendam?” bisik Lidia. “Mana mungkin aku sudi menuruti kemauan busukmu itu.” Rudi menolak mentah-mentah. Lidia tertawa, “Bahkan kalau target kita adalah Ando?” Rudi menelan ludah. Walaupun ia adalah agen, masih ada jiwa kstaria di dalam dirinya. Ia tidak mau menggunakan cara-cara kotor untuk menyelesaikan misinya. Namun kali ini berbeda. Semua anggotanya telah dibasmi. Dia tidak mempunyai bala bantuan lagi. Satu-satunya harapannya adalah Rico, tapi Rico juga belum pasti sembuh. Jadi dia kini benar-benar seorang diri. Jika demikian bagaimana dia bisa menangkap Ando dan pasukannya jika sendirian? *** “Jelaskan apa ini!” tegas Rico pada istrinya. Fira menoleh. Ia yang tengah minum spontan terhenti ketika melihat sesuatu yang dipegang Rico. Sebuah serum berwarna putih yang sangat tidak asing di mata Fira. Wanita itu pun berdiri dan mendekati Rico. “Mas kok wajahnya pucat?” tanyanya berusaha mengalihkan topik. Tangannya membelai wajah Rico yang kini penuh akan peluh. Rico mengelak. “Jelaskan apa ini!” desaknya kembali. Fira diam. Wajah ramahnya berubah menjadi masam. “Kamu temukan ini di mana?” “Tidak penting aku menemukannya di mana. Yang kutanyakan ini apa!” napas Rico mulai terengah-engah. Wajahnya semakin pucat pasi. Berdirinya pun sudah tidak keruan. Hanya tatapan matanya saja yang masih tajam menusuk. “Itu sih apa, Mas. Coba berikan kepadaku!” pinta Fira. Ia tidak menemukan penjelasan yang tepat untuk mengelak dari tuduhan Rico. Ia mencoba memilih jalan aman dengan bersandiwara. Rico menolak. Ia mengembuskan napas. “Jadi benar apa yang terlintas dalam otakku sekarang? Kamu menggunakan serum ini untuk menjebakku? Untuk mencuci otakku?” Fira yang mendengarnya ikut pucat pasi. “Mas ini bilang apa? Mana mungkin aku melakukan hal keji itu padamu. Kayaknya Mas lagi berhalusinasi, deh. Keringat Mas banyak banget. Pucat pula. Tidur aja yuk!” Fira masih mencoba bersikap manja seperti biasanya. Ia pun mencoba menggandeng tangan suaminya. Rico tergopoh-gopoh. Pandangannya kian kabur. Ia pun sempoyongan dan menyandarkan tubuhnya ke tembok. Kilatan-kilatan memori yang saling bertabrakan membuat kepalanya semakin meledak. “Aku … aku tidak akan ke mana-mana sebelum kamu menjelaskan apa ini!” tegas Rico sekali lagi. “Aku tidak tahu!” Fira mencoba berdusta. “Orang yang jujur akan mengatakan hal itu daritadi, sedangkan kamu baru mengatakannya sekarang. Dan tidak mungkin tidak tahu kalau expresimu begitu kaget ketika melihatnya ada di tanganku.” Fira diam. Kini wajahnya menunduk. Lalu tiba-tiba ia menarik tangan Rico, merebut serum di tangannya lalu dengan cepat meloncat dan mengalungkan kakinya ke leher Rico dan membuat Rico jatuh. Ia lalu dengan cepat memukul wajahnya dan membuat lelaki itu pingsan. “Selamat malam, Mas. Belum saatnya Mas tahu apa-apa!” “Lalu sampai kapan dia akan dibuat lupa?” sebuah suara bergema dalam ruangan. Fira pun kaget. Ia memutar pandangannya seratus delapan puluh derajat. Tidak ada orang. “Keluar!” teriaknya. “Belum saatnya juga aku keluar dan menampakkan diri,” jawab suara itu. Fira memegangi alat komunikasi yang terpasang di telinganya. Ia hendak meminta bantuan kepada bawahan Ando yang berjaga di luar. “Oh tak usah repot-repot memanggil bantuan. Aku di sini hanya untuk menjemput sahabatku. Lagipula bantuanmu sudah tidur nyenyak di akhirat sana!” Perkataan orang itu membuat Fira kian terjaga. Orang yang tengah berkata seperti itu berarti melihat tindakan Fira sekarang. Wanita itu pun buru-buru mengambil pisau. Ia kembali berjaga di sekitar tubuh Rico. “Pisau yang tajam, ya! Sayangnya aku tidak ingin berkelahi dengan wanita. Terlebih wanita itu adalah istri dari sahabatku sendiri. Kamu lebih baik pergi ke kamar dan tidur. Karena kurasa suamimu itu butuh dibawa ke rumah sakit tanpa pengawasanmu. Akan kubuat dia ingat semua. Ingat tentang sesuatu yang seharusnya dia ingat.” “Siapa kau!” Wajah Fira kian panik. Ia bisa dengan jelas mendengar suara itu berasal dari dapur, sebuah lokasi yang tertutup tembok. Tapi Fira enggan meninggalkan suaminya yang tergeletak pingsan. “Kan sudah kubilang aku adalah sahabat suamimu. Dan ya … aku membutuhkan sahabatku kembali.” Sebuah asap membumbung. Alarm kebakaran menyala. Air pun keluar. Fira kian berjaga. Ia mengacungkan pisau ke arah dapur, bersiap dengan kemungkinan terburuk. Sayangnya dengan banyaknya asap dan juga air, pandangannya terbatas. Entah mengapa pergerakannya pun terasa kaku. Sesaat ketika Fira mengusap wajah, seseorang keluar dari arah dapur. Pergerakannya sangat cepat. Ia tahu-tahu sudah berada di belakang Fira lalu menendang wanita itu sampai terpental. “Aku memang tidak suka kasar kepada perempuan. Anggap saja tadi latian, ya!” kata orang itu sembari mencoba memapah Rico. Fira segera menguasai diri. Ia lempar pisau yang ada di tangannya agar bisa mengenai orang di depannya itu. Sayangnya dengan cepat orang itu memutar tubuh dan menendang pisau yang dilemparkan Fira. Buru-buru Fira berdiri. Ia tak ingin kehilangan suaminya. Ia lalu berlari dan hendak menyerang lelaki yang hendak membawa pergi suaminya. Fira melayangkan pukulan. Pria itu dengan cepat menangkis serangan Fira. Lalu memutar lengan Fira sehingga wanita itu kesakitan. “Aduh-aduh Fira! Bukannya Ando pernah bilang kalau menyerang jangan sambil terbawa amarah?” kata pria dengan masker itu. “Lepaskan Rico!” teriak Fira histeris. Ia lalu mencoba melompat agar bisa mengalungkan kakinya ke leher lawannya dan membantingnya. Sayangnya pria itu keburu lebih gesit. Ia dengan mudahnya memukul kaki Fira sehingga Fira kehilangan keseimbangan dan jatuh begitu saja ke lantai. “Lebih baik kamu tidur!” bisik pria itu lalu memukul tengkuk Fira. Pria itu kembali memapah Rico. Ia kini dengan santai membawa Rico keluar dari apartemen. Kesadaran Fira perlahan menghilang. Ia masih bisa dengan jelas melihat suaminya yang dibawa oleh orang asing. Ia sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Semuanya berlalu begitu cepat. Baru beberapa jam yang lalu ia kembali dengan Rico setelah berziarah ke makam orang tuanya. Baru saja mereka merencanakan akan serius mempunyai bayi. Dan baru saja mereka tertawa bersama, kini mereka harus terpisah. Rico tiba-tiba berubah sikap. Sama persis ketika dulu ia dibawa Fira ke rumah sakit gara-gara demam yang tinggi. Fira rasa kali ini pasti penyebabnya sama. Ramuan penawar White Memory benar-benar telah ditemukan. Dengan tenaga yang tersisa, Fira mencoba untuk berdiri. Gagal. Konsentrasinya telah buyar. Tenaganya pun seperti lenyap. Ia baru menyadari kalau asap yang keluar bukanlah asap sembarangan, melainkan asap itu adalah asap bius. Fira pun merayap. Ia sama sekali tak mau kehilangan suaminya. “Rico!” teriaknya lemas. “Rico!” teriaknya lagi. Matanya perlahan menutup. Tangannya mencoba menggapai suaminya. Tapi sayang beribu sayang, Fira tak mampu. Ia sudah benar-benar kehilangan kesadarannya. Hal terakhir yang bisa dia lakukan hanyalah mengeluarkan setetes air mata. Fira benar-benar tak tahu kehidupannya akan hancur seperti ini. *** Hal pertama yang Rico lihat hanyalah benturan-benturan cahaya yang tidak jelas. Matanya terasa buram. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Tapi tak bisa. Beberapa saat kemudian, ia baru menyadari bahwa kaki dan tangannya diikat. Bukan hanya tubuhnya, bahkan tubuhnya pun diikat. Ia sempurna seperti orang gila yang tengah menjalani terapi. “Sudah bangun?” seorang lelaki masuk ke dalam ruangan. Rico hanya bisa memandang lelaki itu datang. Mulutnya ditutup dengan lakban. Ia sama sekali tak bisa melakukan apa pun selain menggerakkan kedua bola matanya. “Sudah lama kita tak bertemu, Ric!” lelaki itu membuka masker yang selama ini menutupi wajahnya. Sontak Rico membelalak. Ia tak menyangka akan bertemu dengan orang ini lagi. Meski wajahnya terkesan familiar, ia tak mengingat apa pun. Ia hanya mengingat itu sebagai mimpi. Mimpi yang selalu menghantuinya. Dan kini mimpi itu datang. Datang tepat di hadapannya sekarang. Yang berarti mimpi itu bukanlah hanya sekadar mimpi. “Kau … kau ….” Rico tercekat. Kepalanya terasa pusing sekali. Ia tak tahu harus bagaimana. Fakta dan juga halusinasi silih berganti, hilir-mudik dalam otaknya. “Jika kau tak dapat mengingat, biar aku perkenalkan diriku.” Rico menelan ludah. Ia tidak tahu harus mempercayai siapa. Ia rasa dirinya kini seperti burung elang yang ditetaskan oleh ayam. Rico benar-benar kehilangan jati dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD