025 Ingatan yang Kembali

1332 Words
“Stop-stop. Aku tak ingin kita berkelahi!” cegah Rudi ketika Rico memasang kuda-kudanya. “Kau kira aku percaya padamu, hah?” seringai Rico. Ia siap dengan pukulannya. “Bicar dengan dirimu yang dulu memang lebih mudah, ya!” Rudi pun terpancing. Ia juga memasang kuda-kudanya. Keduanya maju secara bersamaan. Rico melayangkan pukulannya sementara Rudi menahannya. “Dengarkan aku! Kau bukan bagian dari mereka!” seru Rudi. Rico tertawa sinis. Ia pun melayangkan tendangannya dan meloncat dengan menjadikan d**a Rudi tumpuan. Ia kini menjaga jarak. “Aku memang bukan bagian dari mereka,” ucap Rico datar. Rudi melayangkan tendangan terbang. Tubuhnya berputar dan kakinya mengarah ke leher Rico. Dengan cepat Rico memakai tangannya untuk menahan tendangan dari Rudi. "Kau bagian dari kami!" tegas Rudi. Rico menarik tangannya lalu ia melayangkan pukulan telak pada perut bagian samping Rudi. Rudi segera mengetahuinya dan menghindar. "Sejak kapan seorang kapten sepertimu banyak bicara?" tanya Rico. Tanpa sadar ia sudah memanggil Rudi dengan sebutan yang selama ini ia pakai. Rudi meringis. Ia tak mau lagi mengulur-ulur waktu. Jika kata orang berjubah itu benar, ia bisa menyembuhkan Rico dengan menyuntikkan serum yang kini sudah berada di tangannya. "Sepertinya ini akan berjalan dengan sengit," ujar Rudi. Ia kembali mempersiapkan diri. Awalnya ia akan menyelinap di rumah Rico. Rumah yang ia lacak dari informasi-informasi yang ia dapatkan. Sayangnya belum juga lengkap mendaftar setiap ruang, setiap kegiatan orang rumah, dia sudah ketahuan oleh Rico. Dan berakhirlah mereka di sini. Saling berhadap-hadapan satu sama lain. "Siapa bilang ini akan berjalan dengan mudah?" Rico menjawab enteng. Ia mengendurkan otot-ototnya. Bersiap untuk beraksi. Ia sudah muak dengan segala urusan dengan pria di depannya ini. Mereka kembali maju secara bersamaan. Keduanya melayangkan tendangan sehingga kaki-kaki mereka saling berhantaman seperti pedang yang menyilang. Belum cukup, Rico memutar tubuhnya sehingga satu kakinya ikut terbang dan mengenai kepala Rudi. Rudi terpelanting sedang Rico berhasil menjaga tubuhnya tetap berdiri. Rudi meludah. Ia tahu kalau urusan antar lelaki tak bisa diselesaikan dengan hanya kata-kata. Mungkin bisa untuk sebagian orang. Tapi untuk dirinya dan Rico itu sangat mustahil. Dahulu saja ketika mereka memutuskan untuk bicara empat mata, Rudi dan Rico harus berdarah-darah dahulu sampai akhirnya bisa tertawa bersama. Akankah kali ini juga berlaku hal yang sama. Rico menyerang lagi. Kali ini Rudi berhasil menghindar dengan salto ke belakang. Rudi pun menjaga jarak. Rico mendekat. Rudi langsung menarik napas dalam-dalam. Napas adalah teknik utama dari menyerang. Sebenarnya ia tak ingin menggunakan jurus ini kepada Rico. Namun apa boleh buat. Rudi menghalau setiap serangan Rico dengan mudah. Tangannya sibuk menghalangi serangan telak yang menuju ke kepalanya. Sementara kaki Rudi sibuk mengirim serangan ke perut Rico dengan menyikunya. Rico menyadari sesuatu yang aneh. Ia segera mengambil jarak. Terlambat. Rudi tak membiarkan itu terjadi. Rudi terus-menerus merangsek maju dan menghadiahi Rico dengan serangan-serangan terbaiknya. Rico memejamkan mata. Ia ambil sikap tenang. Ia pun menghirup napas dan mengosongkan pikiran. Meladeni pikiran dan nafsu lawan adalah jalan menuju kematian. Ia pun berpura-pura pingsan sehingga tubuhnya otomatis jatuh ke bawah. Rudi berhenti menyerang. Dan disaat itulah Rico menarik lengan Rudi lalu dengan cepat membanting lelaki itu. Rico menggunakan teknik terbaiknya. Ia pun menghilang, menyamarkan keberadaannya di antara alam. “Teknikmu memang tak pernah berubah. Selalu saja licik!” seru Rudi sembari tertawa. Tahu-tahu Rico berada di belakang Rudi. Ia melayangkan pukulan ke tengkuk pria lawannya. “Tapi hanya itu yang kamu bisa!” ejek Rudi. Rudi dengan cepat memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan ke Rico. Berhasil. Namun Rico juga tak ketinggalan aksi. Tangan Rico berhasil melayangkan pukulan walaupun dampaknya tak sehebat jika pukulan itu mengenai musuhnya dengan telak. “Tak akan kubiarkan kau menjadi sampah lagi, Ric!” lantang Rudi. Ia kali ini tak menyerang meski Rico kini persis di hadapannya. “Tahu apa kau, hah?” “Oh aku tahu segala hal tentangmu. Segala misimu. Dan ya segala hubunganmu dengan agensi. Kau adalah seorang agen yang menghilang setelah kukira kau mati di misi terakhirmu.” Rudi mengatakan hal itu dengan nada datar. “Sekali omong kosong tetap omong kosong. Ingatkah kau pertama kali menyebutku apa? Pencuri!” “Iya. Karena itulah jati diri aslimu. Di setiap misimu kau selalu mengambil barang yang berharga sebagai kenang-kenangan. Dan lebih lagi dulunya sebelum kau direkrut ke agensi, kau adalah seorang pencuri tingkat kakap. Tak pernah ada sidik jari, tak pernah ada tanda-tanda, dan tak pernah tertangkap.” Rudi mencoba meyakinkan Rico. Ia terus mendekat, sementara tangannya menyiapkan serum yang akan ia suntikkan ke temannya itu. Rico memeras kepalanya, “Aku adalah anggota penjahat. Aku adalah penjahat,” tegasnya pada dirinya sendiri. “No. Kau tahu dalam jati dirimu ada sesuatu yang mengganjal bukan? Sesuatu yang terlukis di sana. Dan kau bertahun-tahun selalu mengatakan hal itu kepadaku. Kau menginginkan kehormatan. Sesuatu yang tidak akan didapatkan oleh seorang pencuri.” Rudi terus berjalan mendekati Rico. Ia membuka penutup jarum suntik. Rico termenung. Ia seperti menyadari sesuatu. Rudi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia pun langsung menubruk Rico dan mengunci pergerakannya. Lelaki itu lalu menyuntikkan serum yang diberi oleh pria berjubah. “Kuharap kau dapat mengingat sesuatu,” ujar Rudi. Ia pun berdiri. Namun tiba-tiba sebuah peluru menembus dadanya. Rudi terjatuh. Ia menyapu pandang. Beberapa orang tengah menuju ke arahnya. Mau tidak mau ia harus mundur. Dengan hadirnya mereka, Rudi sudah tahu bahwa sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Ia pun mencoba menghubungi markas, nihil. Ia pun mengakali sesuatu agar bisa terhubung ke sana, nihil juga. Rudi pun menggeram. “Kamu tidak apa-apa, Mas?” Fira menghampiri suaminya. Orang-orang yang tadi menembak, tidak mengincar Rico sama sekali. Mereka hanya melewatinya begitu saja. Setelah itu Fira mendekati suaminya dan memangkunya. Rico menggeleng, “Tidak apa-apa.” Meski sebenarnya ia sedikit pusing. Namun efek samping yang dirasakannya jauh dari efek samping ketika sesuatu yang mungkin sama, dimasukkan ke dalam tubuhnya. *** Malam menjelang. Burung hantu melenguh panjang. Petir sesekali menyambar. Angin berembus sepoi-sepoi. Beberapa di antaranya memaksa masuk lewat celah-celah rumah. Dingin. Dari kejauhan pun tak ada suara apa pun. Sepertinya sudah tidak ada pengendara yang lewat malam ini. Sempurna sudah, kesunyian melingkupi malam ini. Rico terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang yang menyebut namanya dengan keras. Sayangnya itu hanya mimpi belaka. Ia pun menengok istrinya di samping. Untunglah dia masih terlelap. Rico pun mengecup istrinya lalu bangkit hendak mengambil minum. Lampu tiba-tiba padam. Sepertinya akan terjadi badai besar sehingga listrik dipadamkan. Rico pun tak peduli. Ia ambil minum lalu duduk sembari memandangi jendela. Di matanya, tergambar kilatan cahaya petir yang entah kenapa sangat familir. “Kamu harus pergi!” sebuah suara masuk ke telinga Rico. Sontak lelaki itu menatap ke samping. Tidak ada. Ia pun mengedarkan pandangan, tidak ada juga. Perlahan-lahan, ada sebuah entakan memori di kepalanya. Rasa sakit pun tak dapat dihindarkan. Ia bisa melihat memori yang dilaluinya. Mulai dari penyerangan, pengorbanan, dan hubungannya dengan Fira. Sayangnya memori-memori yang hilir-mudik itu tak pernah jelas. Semuanya samar. Wajah, suara, dan tempat tak ada yang dikenali. Rasa sakit menghilang bersamaan dengan memori yang kian mengabur. Rico pun terengah-engah. Peluh membanjiri wajahnya. Lelaki itu pun bangkit untuk memilih tidur kembali. “Maafkan aku, Ric! Kamu harus pergi!” sebuah suara kembali terdengar. Entah mengapa, tangga yang dinaikinya berubah menjadi jurang. Melihat hal itu, kaki Rico tersandung dan dia terjatuh. Tidak ada luka. Tapi rasanya sekujur tubuhnya kesakitan dan ia pun pingsan. Selang beberapa saat Rico terbangun. Kepalanya masih berdenyut kencang. Ia melihat jam dinding. Masih menunjukan pukul tiga dini hari. Berarti Rico berada di bawah tangga sekitar dua jam. Apa yang sebenarnya terjadi? batin Rico. Kepalanya kembali berdenyut. Kali ini serasa ada entakkan hebat yang terjadi. Rico pun tergopoh-gopoh menuju ke lemari obat. Ia mencari obat pusing sembari menahan sakit. Tapi karena ia tak sabar, ia menumpahkan seluruh obat-obatan dan melihat ada sekat kecil di belakangnya. Rico pun membuka sekat itu dan dia menemukan cairan aneh dalam botol yang disertai dengan beberapa suntikan. “Apa ini?” Dan kepalanya berdenyut lagi, memutarkan sebuah memori yang telah terkubur. Kali ini Rico dengan jelas dapat melihat istrinya yang menyuntikkan sesuatu kepada dirinya. “Fira?” katanya tak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD