Rico tak menyangka ia ditipu oleh istrinya. Tepatnya bukan ditipu tapi merasa tertipu. Tepat ketika istrinya menangis karena belum bisa memberikan anak, Rico menangkap bahwa istrinya mual-mual karena masuk angin bukan karena hamil.
Sontak Rico merasa sedih dengan hal itu. Harapannya yang ia telah junjung tinggi-tinggi seperti terhempaskan begitu saja ke tanah. Tapi mau bagaimana lagi? Anak bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan dengan instan.
Sebenarnya Rico sudah lelah dengan kehidupan yang dijalaninya. Ia tahu kemarin-kemarin dirinya dan Fira mengalami ancaman sehingga rumah pun harus sering berpindah. Namun kini Ando telah membebaskannya. Bukankah sekarang dia telah aman?
Rico menghela napas. Ia tidak tahu mengapa istrinya melarangnya membeli rumah. Padahal tabungan mereka lebih dari cukup untuk membeli rumah. Dan ketika Fira ditanyai hal itu, ia selalu mengalihkan topik.
Rico pernah membayangkan mempunyai sebuah rumah kecil yang menawan dengan segenap kenangan yang terjebak di dalamnya. Kenangan yang dirajut atas kekompakan keluarganya dan juga tangisan seorang bayi. Inilah yang dibayangkan oleh Rico selama berbulan-bulan. Perlu usaha besar memang. Namun semakin besar usahanya, semakin manis pula hasil yang didapat. Rumah kecil itu pasti akan sangat terasa istimewa.
“Mas …,” panggil Fira lembut. Wanita itu duduk di samping Rico yang tengah menatap jalanan dari rooftop.
Satu waktu di antara dua puluh empat jam, Rico merangkai sebuah kenangan. Ia akan berdiam diri di atas apartemennya sembari memandang mentari yang hendak terbenam. Fira yang hafal kebiasan baru suaminya itu, akan menyusulnya ke atas. Lalu layaknya sepasang kekasih yang baru saja menikah, mereka berduaan memandang gumpalan cahaya yang terperangkap di tanah. Apartemen mereka berada di atas bukit sehingga dengan mudah, mereka memandang nuansa petang tepi perkotaan yang begitu indah.
Di saat seperti ini, Fira selalu menyendehkan kepalanya di bahu suaminya. Dirasakannya hangat bahu sang suami yang selalu membuat wanita itu lega. Fira meresapi semua hal yang patut ia kenang. Mengumpulkannya lalu menumpahkan semuanya di malam ini.
“Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Fir?” Rico bertanya tiba-tiba. Tatapannya masih lurus ke depan, memandang hamparan tanah dan juga jalanan.
Mendengar suara suaminya, Fira menoleh. Ia menghirup udara dalam-dalam lalu berusaha mencari intonasi yang tepat untuk mengutarakannya. Tapi belum sempat ia berucap, Rico sudah mendahuluinya.
“Kebahagiaan kita akan lebih sempurna jika kamu tak menyimpan masalahmu sendiri, Sayang ....” lirih Rico. Akhirnya kata yang selama ini terpendam, keluar juga.
Mata almond perempuan itu beralih menatap suaminya yang termangu. Agaknya dia pun memikirkan hal yang sama. Sudah hampir dua tahun mereka menikah, tapi Fira sama sekali tak pernah mengutarakan hal yang jujur kepada suaminya.
“Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, Fir?” serbu Rico. Kini kepalanya menoleh ke Fira yang sedari tadi bungkam.
Fira membuka mulutnya. Ia bimbang antara harus mengatakan kebenaran atau berdusta kembali. Suara perempuan bermata almond itu sedikit bergetar. Ia takut suaminya kembali murung seperti dulu.
“Kelak kamu juga akan tahu, Mas,” pungkas Fira. Akhirnya hanya itu yang bisa diucapkannya.
Fira terkesiap mendengar Rico menghela napas panjang. Aura suaminya mendadak berubah. Rico berdiri begitu saja lalu pergi. Entah mengapa setiap kali membahas tentang ini, Fira enggan menjawab yang membuat Rico pergi begitu saja. Fira sebenarnya ingin sekali jujur. Toh suatu saat hal yang ditutup-tutupi seperti pasti akan terbongkar. Tapi Fira merasa, waktu ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuat ingatan Rico bangkit kembali.
Tirai kelam kian menghitam. Binar bintang-gemintang pun menjadi terang. Bisik suara angin malam mendesis. Alam seakan telah terlelap. Hening. Sunyi. Hanya suara gema mobil dari kejauhan yang masih terdengar. Jika TV di ruang keluarga telah dimatikan, sudah pasti penghuni apartemen Rico telah berpindah ke kamar. Namun Rico masih belum bisa menutup matanya. Ia merasa sedikit bersalah. Walau bagaimana pun ini juga bukan kesalahan istrinya. Seharusnya Rico bisa lebih perhatian, sehingga Fira tak menutup apa pun darinya.
“Maafkan Mas ya!” bisik Rico, tangannya meraba halus rambut sang istri.
Fira mengerjap. Ia sebenarnya belum tidur. Perempuan itu ragu untuk membalikkan badannya. Setelah apa yang dilakukannya suaminya tadi, Fira merasa Rico membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.
Rico ingin menutup matanya kembali, tapi urung. Perempuan bermata almond itu lebih memilih menyapu pandang, melihat kamar yang telah ia dan suaminya desain bersama, ya walaupun hanya kamar apartemen. Kamar mungil dengan spring bed putih menghadap ke jendela. Halus, harum selimutnya menutupi tubuh Fira dan Rico. Memang inilah yang diharapkan perempuan itu. Sebuah kamar dengan jendela yang mengarah ke luar.
Di dinding bagian kanan terpampang foto keluarga. Ada Fira dan Rico yang tertawa ketika hari pernikahan mereka. Tidak ada anggota keluarga yang datang karena orang tua mereka memang sudah tidak ada. Meski foto itu terkesan hangat, namun sebenarnya hambar. Sedari SD Fira tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Ia harap setelah menikah ia dapat merasakannya lagi. Namun impian itu harus kandas. Namun baginya yang penting adalah suaminya kini sangat mencintainya.
Semakin Fira melihatnya, semakin ia ingat akan mendiang ibunya. Memorinya berputar, membawanya mengenang tentang kenangan saat ia kecil. Jemarinya masih ingat betul betapa hangat genggaman sang ibu. Bibirnya pun demikian. Ia masih ingat betapa halus pipi sang ibu kala ia kecup. Fira rindu, tapi ketika ia harap hal itu bisa ia raih kembali, harapan itu sudah buru-buru menjadi kenyataan.
Setetes air mata mengalir. Perlahan-lahan tubuh Fira bergetar. Ia terisak.
“Sayang ... kamu kenapa?” Tangan Rico membalikkan tubuh istrinya.
Fira ingin sekali jujur bahwa ia rindu dengan ibunya, namun bibirnya kelu. Matanya menangkap ada kerinduan juga di mata suaminya, membuatnya urung.
“Mas, boleh nggak besok kita ke ke sebuah makam?” akhirnya hanya kata itu yang terucap.
Rico tersenyum lalu mengangguk. Ia berharap dengan ini, ia dapat lebih dekat dengan istrinya. Dengan begitu tak ada lagi yang ditutup-tutupi darinya.
***
Pagi yang terang. Ditemani dengan pelita mentari yang tenang. Indah nian. Semilir angin pagi menghempaskan aroma kopi ke seluruh ruangan. Burung kutilang di atas pohon menyanyi indah hendak menyanjung sang mentari. Rico yang sibuk membaca sembari menghadap jendela tampak sangat senang. Sesekali ia mencoba ikut bernyanyi dengan siulannya agar si burung mau mendekat ke jendela apartemennya.
Kepulan bau makanan bertebaran tiada tahu arah. Hilir-mudik, asal masuk ke hidung semua orang. Sengaknya bau bumbu rempah-rempah membuat hidung gatal. Kali ini Fira sengaja membuat seisi apartemen bersin. Ia hendak mengusir awan mendung yang sedari malam masih belum pergi juga.
“Sayang .... Jangan masak yang aneh-aneh deh!” seru Rico yang sedang berada tak jauh dari dapur.
Fira terkekeh. Ia ambil satu saset kopi lalu diseduhnya perlahan. Sekilas ia melihat bumbu yang ia masak, ternyata sudah matang. Fira langsung mengambil kangkung dan memasukkannya lalu mengaduk-ngaduknya. Setelah merata, kompor ia kecilkan kemudian mengambil secangkir kopi itu dan pergi menyuguhkannya ke sang suami.
Dengan hati-hati ia menaruh kopi itu di atas meja.
“Siapa yang masak aneh-aneh, Mas?” Perempuan manis itu mengalungkan tangan ke bahu suaminya. Kepalanya ia sandarkan di bahu kanan lelaki itu, “Justru kalau masakan membuat bersin, tandanya masakannya lezat,” tukasnya kemudian.
“Istriku yang bawel. Lezat itu, kalau masakannya nggak gosong.”
“Nggak bakal gosong kok.”
“Kamu ninggalin masakanmu untuk membuatkanku kopi, mending aku buat sendiri daripada menyusahkan istri, apalagi nanti sampai harus makan masakan gosong. Duh!”
“Iya-iya suamiku.” Fira mengecup pipi suaminya lalu pergi ke dapur lagi.
Di balik seruputan kopinya, Rico tengah tersenyum. Lagi-lagi istrinya mampu mengusir pikiran kabut dari otaknya. Sedari malam ia masih terpikir tentang bagaimana keinginan besarnya memiliki anak yang tidak kunjung terkabul, tapi lewat suguhan kopi, ia merasa tenang. Lelaki berwajah teduh itu merasa istrinya menitipkan sebuah dukungan lewat seduhan kopinya.
“Sarapan jadi!” seru Nur sembari menata makanan di atas meja.
Rico diam. Ia masih sibuk dengan korannya.
Fira mendengkus kesal. Ia melirik ke suaminya yang tengah membaca koran sembari menyuruput kopi. Yang dilirik lantas menoleh seraya nyengir. Rico pun menaruh kopi dan korannya lantas menatap istrinya.
“Kukira bakalan gosong beneran,” seringai Rico.
“Mau aku masak lagi dan membuatnya gosong?” seloroh Fira.
Rico tersenyum. Tangannya menjulur lalu mencubit pipi Fira, “Istriku emang pinter banget sih jawabnya.”
Tanpa sadar, wajah Fira sudah berubah menjadi merah. Mungkin inilah yang dinamakan dengan kehidupan ‘normal’. Apakah kehidupan kali ini, Fira dapat menikmati hidupnya?
Tak lama, sarapan pun selesai. Rico lalu membonceng istrinya menuju sebuah pemakaman umum di sebuah kota. Agak jauh memang, tapi tak masalah. Fira ingin sekali berziarah sejak dulu. Nahasnya ia dulu harus selalu kabur dari kejaran Ando. Dan mungkin karena kali ini, pria itu benar-benar melepasnya, Fira bisa dengan leluasa melakukan apa pun yang dia inginkan.
Fira menyabuti rumput yang tumbuh di atas pusara ibunya. Ia memunguti bunga kamboja yang berserakan di sekitar makam itu lalu menatanya dengan cantik. Rico ikut membantu istrinya itu. Ia ikut menyabuti rumput yang tumbuh di pusara ayah Fira.
Untungnya hari ini tidak hujan. Cakrawala biru membentang dengan gagah di atas sana. Burung-burung dengan senang bermain di sana. Tidak ada yang mencegah ataupun polusi yang menghalangi mereka bermain. Di sana terlihat bersih. Sebersih sinar mentari yang memantul ke bumi. Fira tersenyum melihatnya. Berkat itu ia bisa leluasa berlama-lama duduk di sini.
Rico memimpin doa. Untungnya semalam Fira bilang ingin berziarah, sehingga lelaki itu bisa bangun lebih awal dan menghapalkan doa ziarah. Meski sedikit kikuk dan beberapa kali tersendat, Fira dengan khusyuk mengamininya.
“Pa … Ma … ini suami Fira. Ganteng ya,” ujar Fika sembari mengusap batu nisan orang tuanya.
Rico yang di samping Fira tersenyum. Salah satu tangannya, ia rangkulkan ke bahu Fira. Baru kali ini dia melihat Fira yang rapuh. Fira yang biasanya hanya menangis sekejap dan setelah itu bangkit, kini tersedu-sedu. Wajahnya sempurna memerah. Beberapa kali Rico mengecup pelipisnya untuk memberikan Fira kekuatan.
“Pa … Ma … Rico sayang banget sama Fira, seperti kalian yang menyangi Fira. Tapi … tapi … Fira nggak mampu memberikan Rico kebahagian. Fira belum bisa kasih dia anak.” Fira semakin tersedu-sedu.
Rico tertegun mendengarnya. Ia pikir selama ini, hanya dia yang menginginkan anak sedang istrinya tidak. Ia pikir Fira mengonsumsi obat-obatan tertentu sehingga ia tak kunjung hamil. Ternyata semua terkaannya itu salah. Ternyata semua sangkaannya itu hanyalah sebatas khayalan yang tak berdasar. Nyatanya Fira juga sama inginnya dengan Rico. Mungkin hanya Tuhan saja yang belum memberikan karunia-Nya.
Rico menarik tubuh istrinya lalu membenamkannya dalam pelukan. “Semua itu bukan kesalahanmu, sayang! Kita akan lebih berusaha lagi.”
Fira semakin menangis. Ia pun mendekap suaminya dengan erat. Selama beberapa tahun ini, ia selalu tegar dan menghadapi semuanya dengan optimis. Kali ini ia mau seperti anak kecil. Ia mau menuntaskan semua tangisnya yang selama ini ia bendung.