Sejak Rico menyatakan bahwa ia akan mendeklarasikan perang dengan Ando, aku selalu mengawasi gerak-gerak lelaki itu. Dan ternyata Rico benar-benar tak main-main dengan perkataannya. Ia kini sudah berada di salah satu markas Ando.
“Wah-wah. Lihat siapa yang datang!” Seseorang bertepuk tangan menyambut kedatangan Rico. Dia pun mendekat sembari terkekeh-kekeh. “Berani-beraninya seorang kucing pengecut masuk ke kandang anjing!”
Rico diam. Wajahnya tertekuk. Meski samar, aku dapat melihat rahangnya mengeras. Dia siap bertempur.
“Boleh kubunuh kau sekarang?” tanya orang yang mendekatinya. Dia meremehkan Rico.
Orang itu langsung melesatkan pisau ke perut Rico lalu dengan sepersekian detik, Rico memukul pria di depannya lalu memutar tangannya ke belakang. Teknik mengunci.
“Katakan di mana Ando berada!” perintah Rico dengan nada yang begitu mengintimidasi.
Orang yang ditawan Rico tak mau berkata. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Rekan-rekan yang melihat kejadian itu, sontak langsung menembaki Rico. Namun Rico dengan santainya menjadikan sanderanya itu sebagai tameng. Kemudian Rico mengambil revolvernya dan menembaki orang-orang yang menjadi musuhnya.
Rico menyisahkan satu orang. Dia pun menginjak dadanya. “Katakan di mana keberadaan Ando!” Rico marah. Orang yang diintimidasi Rico itu memucat. Peluh membanjiri wajahnya.
“Baiklah … baiklah akan kukatakan,” katanya terengah-engah.
Sayang seribu sayang. Belum sempat dia mengatakan apa pun, serbuan peluru menghujam. Rico langsung meloncat, mengamankan dirinya dari peluru-peluru yang ditembakkan.
Aku mengigit jari ketika melihatnya. Dia benar-benar terdesak, tapi aku tak mampu untuk menolongnya. Kulihat Rico membuka revolvernya, memastikan sisa peluru yang masih bersarang di sana. Tak sampai sepuluh detik, ia merapikan kembali revolvernya dan mendesis. Sepertinya pelurunya hampir habis.
“Kau tak bisa menang kali ini, Ric!” bentak salah seorang yang menyerang Rico. Dia menunjuk dua arah yang berlawanan. Masing-masing orang di belakangnya mengangguk. Mereka semua mengepung Rico dari segala penjuru.
Haruskah aku turun sekarang? batinku.
Aku mendesis. Otakku mulai mengatur rencana. Aku memang tak ingin tertangkap oleh Ando kembali, tapi aku juga tak ingin Rico terbunuh.
Aku mengembuskan napas. Kakiku mulai langkah keluar dari persembunyian. Sampai kemudian aku mendengar suara tembakan lain yang berasal dari belakang gerombolan orang yang menyerang Rico.
“Polisi! Kalian semua ditangkap!”
Aku menahan napas kala menyadari bahwa suara yang berteriak lantang itu adalah suara orang yang kukenal. Antonio?
Aku menepuk dahi kala menyadari dia hanya datang sendiri. Ini orang beneran bodoh atau mau menyerahkan nyawa begitu saja?
Orang-orang yang diserang Antonio, kini menyerang balik. Mereka menembaki Antonio yang masih bersembunyi di balik sebuah tembok. Kesempatan ini tak dilewatkan oleh Rico begitu saja. Dia menyabotase satu per satu musuh yang ada. Entah bagaimana caranya, dia berhasil melumpuhkan setengah dari musuhnya, sebelum akhirnya sebagian orang memutuskan untuk menyerang Rico juga.
Antonio tanpa menunggu aba-aba apa pun langsung menyerang begitu juga dengan Rico. Kedua orang itu dengan lincah menghindari tembakan demi tembakan. Mereka juga melumpuhkan musuh lalu mengambil senjata mereka, dan menembak musuhnya.
Pertarungan itu berlangsung cukup sengit. Setelah pergerakan yang begitu dramatis, akhirnya Rico dan Antonio menang. Mereka saling pandang lalu kemudian bersama-sama mengintimidasi musuh yang tersisa. Aku mendengarnya dengan seksama. Aku ingin mengetahui apa sebenarnya alasan Antonio datang kemari.
“Katakan di mana Ando!” Rico mengulangi perintahnya – yang bahkan sebenarnya dia bisa saja bertanya kepadaku.
“Katakan di mana kalian menyembunyikan rekanku!” sergah Antonio.
Rekan? Aku mengernyitkan dahi. Apakah penyerangan kemarin ada kaitannya dengan gembong penjahat yang dipimpin Ando? Bagaimana mungkin? Aku kenal Ando. Dia tak mungkin ikut campur dalam masalah orang lain. Dia pasti akan fokus terlebih dahulu pada apa yang akan dia capai, baru mengurusi hal lain. Ataukah mungkin rekan Antonio itu juga ada kaitannya?
Entah mengapa Rico terdiam. Mungkin dia teringat akan pertakataan anggota Ando dulu yang mengejar kami. Dia berkata bahwa rekan Rico masih disandera mereka.
“Cepat katakan!” hardik Antonio. Baru kali ini aku melihat dia marah. Ternyata menakutkan juga.
Lelaki yang mereka intimidasi hanya terkekeh. Dari mulutnya keluar darah segar. “Membusuklah kalian di neraka!”
Orang itu menunjukkan sebuah alat pemancar sinyal. Sial ternyata dia meminta bantuan. Rico yang mengetahui fungsi alat itu langsung menembaknya. Sayangnya itu saja tak cukup. Hanya beberapa menit setelah orang itu menunjukkan alat pemancar, beberapa suara mobil dan motor terdengar. Rombongan itu berhasil mengepung seisi gedung. Mau tidak mau aku pun keluar mendekati Rico dan Antonio.
Kedua lelaki itu menatapku secara bergantian.
“Fira? Sejak kapan kau ….” Antonio menggantungkan perkatannya.
Aku hanya diam. Dalam posisi terjepit seperti ini, mengobrol tak jelas hanya akan melayangkan nyawa. Rico dan Antonio lalu mengganti persenjataan mereka dengan persenjaan musuh. Setelah itu kami bertiga pun bersembunyi.
“Harusnya kamu tidak di sini!” Antonio masih saja berkata.
“Mana mungkin aku membiarkan dua teman bodohku ini bertindak ceroboh,” ujarku sembari melihat Antonio dan Rico secara bergantian. Dua orang itu kini mengapitku di tengah, seakan-akan mereka menjagaku dari segala bahaya.
Rico diam mendengarkan aku dan Antonio saling berkata. Dia lebih memilih untuk mengamati musuh.
“Siapa dia?” tanya Antonio.
Aku langsung bungkam, bingung harus menjawab apa. Meski aku bertahun-tahun dalam pengawasan Ando, ada satu hal yang tidak bisa kuubah. Aku benci kebohongan.
“Dia … dia ….” Aku terbata-mata. Mataku mengalihkan pandangan dari tatapan Ando.
“Aku Rico, penjaga Fira. Dia pasti akan kulindungi, apa pun risikonya,” sela Rico tiba-tiba.
Dan jawaban itu membuat Antonio hanya bisa diam. Aku menangkap ada rasa sendu yang terpancar dari matanya.
“Sekarang aku tidak perlu khawatir,” ucapnya.
Belum sempat aku bertanya apa maksudnya, Rico langsung membuat gerakan. Dia memberikan kacamata renang dan juga masker kepada kami berdua. Lalu sesaat setelah memakainya, dia melemparkan sebuah bom asap. Melihatnya membuat aku tahu bahwa dialah orang yang menyelamatkan aku dan Antonio beberapa hari yang lalu.
Terdengar suara keributan di depan sana. Para penjahat sudah pasti kewalahan menahan gas air mata ini. Pintar juga Rico. Dia memilih bom yang tidak merusak tapi kapasitas menangnya lebih tinggi.
Rico maju. Antonio pun. Mereka dengan cepat melumpuhkan para musuh. Aku yang tidak mau kalah dari mereka pun memilih ikut maju.
Mataku masih pedih walaupun sudah memakai pelindung. Di depan sana hanya terlihat asap putih yang tebal. Perlahan aku mendekati sebuah bayang-bayang lalu dengan sigap, aku hantam tenkuk orang di depanku, tentu setelah yakin kalau itu bukan Antonio maupun Rico.
Perlahan aku berhasil mendekati gerbang keluar. Aku menyapu pandang, memastikan di luar tidak ada orang. Sunyi. Aku pun keluar. Gas air mata masih membumbung. Udara di luar pun tak sama dengan ekspektasiku. Di sini masih terasa pedih meski tak terlalu.
Aku hendak maju lagi. Tapi tiba-tiba seseorang terpental tepat di sampingku. Sontak aku menengok dan itu ternyata Antonio. Seketika, mataku membelalak.
“Bagaimana mungkin?” desisku.
Aku mendekati Antonio dan membantunya berdiri.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Kenapa bala bantuan yang aku minta belum juga datang?” desisnya.
Benar juga. Antonio pasti meminta bala bantuan ketika misinya semakin sulit. Bukan seperti Rico yang akan maju sendirian apa pun hasilnya.
Perlahan namun pasti, gas air mata itu mulai menghilang. Aku pun dapat melihat kalau Rico tengah dicekik sembari diangkat tinggi ke udara. Dia tengah terdesak. Antonio langsung berdiri. Dia melompat lalu menendang tangan orang yang mencekik Rico. Berhasil. Rico lepas dan kini orang itu menatap Antonio dengan bengis.
Kini aku giliran mendekati Rico. Nahas. Belum sempat aku mendekat, sebuah ledakan, membuatku terpental.
Aku mengerjap-ngerjap. Sudah tiada orang di tempat pertarungan Antonio, Rico, dan orang kekar itu. Kemungkinan semuanya terpental sehingga tak ada yang mampu berdiri. Aku pun langsung berpikir cepat, memeriksa keadaan. Tubuhku utuh.
Dari mana datangnya bom itu?
Aku menoleh. Mencari keberadaan Rico dan Antonio. Kulihat Antonio tergeletak di dekat mobil. Dia tengah mencoba berdiri. Wajahnya telah penuh dengan kotoran. Di sana juga tampak ada darah yang mengalir.
Di mana Rico?
Aku mulai khawatir. Dengan sekuat tenaga yang kumiliki, aku pun berdiri dan mulai berjalan. Kutatap satu per satu tubuh yang tergeletak. Aku sangat berharap salah satu dari mereka bukanlah Rico. Mereka tidak bergerak sama sekali dan di bawahnya banyak darah yang sudah keluar.
Lagi dan lagi, serbuan tembakan terdengar. Aku langsung melompat dan berlindung di samping Antonio.
“Kamu tidak apa-apa, Fir?” tanyanya padaku. Sesekali dia terbatuk, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan sistem pernapasannya.
“Di mana Rico?” aku tak menghiraukan pertannyannya dan malah bertanya balik.
Antonio menunjuk seseorang yang tergeletak di samping mobil berwarna putih. Aku tanpa memedulikan kondisi yang tengah keos, langsung mendekati Rico.
“Ric! Rico!” Aku mengguncang-guncang tubuhnya histeris. Dia tidak menjawab. Aku langsung membuka masker dan juga kacamatanya.
Aku pun mengecek napasnya. Nihil. Dia tidak bernapas. Tanpa berpikir panjang aku langsung melalukan gerakan CPR dan memberikannya napas buatan.
“Ayo Ric! Ayo! Tolong jangan tinggalkan aku!” ucapku kian histeris saat kucek dia tak juga bernapas.
“Rico!” air mataku mulai bercucuran. Jika sampai delapan menit Rico tak bernapas, akan ada masalah besar di otaknya. Dan jika lebih dari itu dia bisa mati. Aku menggeleng-geleng. Tidak-tidak. Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi.
“Rico!” teriakku lagi.
Antonio mendekat. Dia mengamatiku yang tengah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Rico. Dia pun mengawasi kalau-kalau ada musuh yang mendekat.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Rico terbatuk. Dia mengeluarkan darah. Aku pun langsung memiringkan memangku kepalanya dan memiringkannya. Setelah dirasa cukup, aku memeluknya.
“Syukurlah!”
Antonio menatap aku dan Rico kembali. Dari tatapan matanya sepertinya dia merasa sedikit iri.
“Bawalah dia pergi! Aku akan menghadang mereka!” katanya.
Aku mendongak, menatap Antonio dengan tatapan tak percaya. “Jangan bodoh! Kamu hanya akan mati konyol di sini!” seruku.
“Kita tak bisa pergi bersama. Salah satu dari kita harus jadi umpan. Lagipula aku tak bisa meninggalkan rekanku yang ditawan mereka.”
“Bagaimana kamu tahu rekanmu ada bersama mereka?”
“Dia mengirim sinyal kepada kami di kantor polisi.”
“Bagaimana jika itu sinyal palsu dan dia sudah tidak ada?” sergahku. Aku sangat berat meninggalkan Antonio.
“Walaupun itu hanya sebuah sinyal palsu. Walaupun dia sudah meninggal. Aku tetap tak bisa meninggalkannya. Kami sudah bersumpah akan menyelamatkan satu sama lain,” ujar Antonio. Dia pun bangkit dan mendekati Rico, “Tolong jaga Fira, ya!” pesannya lalu dia berlari sembari menembak ke arah musuh-musuh kami.
Aku mencoba memapah Rico. Kami pun pergi. Sebelum itu, aku sempat menengok ke belakang. Kulihat Antonio tengah bersembunyi di balik tembok. Dia mengangguk sembari melukiskan sebuah senyuman indah. Tak kusangka hubunganku dengan Antonio akan berakhir seperti ini.
Dengan bermodalkan sebuah mobil yang terparkir agak jauh dari lokasi kejadian, aku membawa Rico menjauh. Sedari siuman, Rico terdiam. Ia seperti terpikir akan sesuatu.
“Kenapa? Kamu tidak apa-apa, kan?” tanyaku memastikan keadannya.
Rico menggeleng. Aku pun menerima mentah-mentah jawaban itu. Setelah dirasa aman, kami berdua langsung menaiki pesawat dan pergi dari kota ini, meninggalkan Antonio. Aku berharap semoga dia baik-baik saja dan kelak akan mempunyai pasangan.
***
Hari demi hari berlalu sejak kejadian di negeri orang itu. Kedekatanku dengan Rico semakin serius. Akhirnya kami memilih untuk menikah. Kami sepakat untuk memulai hidup baru dan menjauhi masa lalu. Jika diarasa ada yang tak beres atau ada tanda-tanda kemunculan Ando, kami akan berpindah.
Namun komitmen itu tak berlangsung lama, sampai suatu hari aku mendapati suamiku tengah bersiap pergi.
“Mau ke mana?” tanyaku.
“Kita tak bisa terus hidup seperti ini!” katanya tegas.
“Tapi kita sudah berjanji akan terus menjaga keamanan.”
“Dengan cara kabur?”
“Ya. Hanya cara itu yang kita bisa. Kamu tidak lihat betapa kuatnya mereka? Kamu tidak sadar kalau kita terus-menerus kalah dari mereka?”
Rico diam. “Aku akan menyelamatkan rekanku.”
“Apa?”
“Aku akan menyelamatkan rekanku yang kata mereka masih hidup.”
“Dan kamu percaya?” aku menelan ludah. Ternyata selama ini dia diam karena terbayang-bayangi akan perkataan Antonio.
“Pokoknya aku akan menyerang mereka. Aku ingin hidup bebas, Fir. Aku ingin kita bebas dari bayang-bayang mereka!”
Aku berbalik arah. Aku pun menuju dapur.
“Sayang?” Rico mendekatiku. Dia memelukku dari belakang. “Apakah kamu ingin anak kita kelak tidak bisa bersekolah?”
Aku menggeleng. Lalu dengan gerakan sepersekian cepat, aku membungkam mulut Rico dengan tisu. Aku pun langsung meloncat ke atas bahunya dan terus membekapnya. Rico tak sanggup melawan sampai akhirnya dia pingsan.
“Maafkan aku, Mas!” kataku.
Setelah memastikan Rico pingsan, aku beralih ke tempat penyimpanan rahasia. Kuambil serum White Memory yang selama ini kusimpan lalu kusuntikkan ke Rico.
“Aku akan menghapus ingatanmu, Mas. Dan akan kupastikan hidup kita baik-baik saja. Kita akan bahagia!” Kukecup dahi Rico.
Aku tak percaya melakukan hal ini kepada suamiku sendiri. Tapi bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan. Aku tak mungkin membiarkan Rico mati. Aku tak ingin melihatnya terluka parah. Hanya dia satu-satunya yang kupunya di dunia ini. Dan aku tak akan membiarkan siapa pun merebutnya.
“Kamu adalah petani biasa dan kita suami istri di desa.” Aku mulai memori palsu ke Rico. Aku pun mengarang cerita dan terus mengulanginya agar alam bawahnya merekam kejadian ini seakan-akan kejadian ini nyata.
Semoga dengan cara ini aku dan Rico akan aman. Semoga. Walau kutahu Ando akan terus mencari kami. Tapi paling tidak kalau kami terus bersembunyi, dia tidak akan menemukan kami. Hanya ini yang dapat kulakukan agar rumah tangga ini bisa bertahan. Bisa bahagia. Dan bisa terus bersama untuk selamanya.
Maafkan aku, Mas! aku membatin lagi.