022 Misiku

2114 Words
Aku mendesis. Dengan usaha sekuat tenaga aku mencoba memotong tali yang mengikat tanganku. Walau beberapa kali meleset dan mengenai tubuhku, aku tak menyerah. Tak akan kubiarkan hidupku berakhir sia-sia. Sebuah suara pecahnya kaca terdengar. Dari kaca itu menggelinding sebuah bom yang langsung mengeluarkan asap. Mataku pedih sekali. Aku pun menutup mata, tapi tetap pedih. Aku hanya mendengar orang-orang yang ribut lalu diselingi dengan dentingan besi. Apa itu pisau? Atau itu pipa? Aku pun juga mendengar suara tembakan. Sesekali aku bergidik, berharap-harap cemas kalau tembakan itu mengenaiku. Perkelahian yang tak tahu ujungnya itu akhirnya diam. Aku masih tak bisa melihat. Mataku pedih tak keruan. Tiba-tiba ada yang menggotongku ke luar. Aku tak tahu itu siapa. Mataku terus saja terpejam tanpa sampai aku merasakan udara yang segar dan juga rerumputan. Suara sirene polisi terdengar. Satu menit, dua menit, terdapat keributan dan aku mendapatkan pertolongan atas gas air mata. Aku dan juga Antonio dibawa menuju ke rumah sakit. Keadaan Antonio mungkin parah, tapi aku tahu hal itu tak akan mengancam jiwanya. Lukanya tak dalam. “Maafkan aku, Fir!” rintihnya. Aku memegang tangannya erat. Ia pun membalas pegangan tanganku itu. “Untuk apa kamu meminta maaf. Ini musibah, An.” Antonio mengalihkan wajah. Tubuhnya bergetar. Ia dengan jelas tengah menangis. Aku pun mengecup pipinya. “Sudah … tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Sesampainya di rumah sakit, Antonio langsung di bawa ke UGD. Tepat seperti dugaanku tak perlu ada yang dikhawatirkan. Penjahat itu memang benar. Ia tak mengincar nyawa Antonio, tapi mengincar sesuatu yang lebih. Aku mengembuskan napas panjang. Kupikir dengan menghindari Rico saja sudah cukup. Namun nyatanya Antonio memiliki masalah lain yang tidak aku ketahui. Yah … setidaknya itu bukan Ando. “Nyonya Fira?” dokter memanggil. Ia menengok ke sana-ke mari, mencari seseorang yang dia cari. “Saya.” Aku pun mendekati dokter itu. “Dia sedang mencarimu.” Dokter menunjuk ke dalam. Aku mengangguk lalu masuk ke ruang UGD. Para polisi yang berada di sana langsung memahami situasi dan meninggalkan kami. “Mau minum?” tawarku. Antonio tak menjawab. Aku pun langsung antusias mengambil satu gelas minuman dan juga sedotan. Kudekatkan gelas dan sedotan itu dan meminumkannya ke Antonio. “Duduklah, Fir. Aku mau memberitahuku sesuatu.” Aku pun duduk. Kulipat tanganku di atas kaki. Antonio menelan ludah. Darah masih terlihat jelas di perban yang dia pakai. Padahal aku tahu mulutnya juga terluka. Akan sangat sakit jika dia memaksakan berbicara. Apa sesungguhnya yang ingin dia sampaikan sampai membuat dia memaksakan diri seperti ini? “Kita akan tetap nikah, kan?” aku memberanikan diri bertanya terlebih dahulu. Aku tak mau opsi kehidupanku terganggu. Antonio diam. Matanya mengawang ke atas. Ia menghirup napas dalam-dalam. “Aku ingin hubungan kita sampai di sini saja, Fir.” Aku melongo. Benar-benar tak menyangka dengan perkataan Antonio. Ini kira-kira kepalanya dia kena pukul apa ya? “Kepala kamu sakit? Kok gitu sih?” tanyaku menebak-nebak. Apa ini gara-gara aku menjawab lamarannya terlalu lama? “Kita bicarain ini nanti aja, ya! Pas kamu sehat! Aku akan sabar kok nunggu kamu sembuh,” hiburku. Mungkin saja Antonio khawatir kalau aku menunggu terlalu lama. “Kamu sekarang istirahat!” aku pun mengecup dahinya lalu bersiap untuk pergi. Sesaat sebelum aku pergi, Antonio tiba-tiba memegang tanganku. “Aku ….” Kalimatnya menganggantung. Aku mengurungkan niat untuk pergi. Aku pun kembali ke kursi di samping ranjang Antonio. Kutatap wajahnya yang tampak kian sedih. “Aku adalah polisi, Fir ….” Aku serasa ingin tertawa mendengarnya. Kurasa kepala Antonio benar-benar dipukul secara telak oleh musuhnya sehingga dia tidak berpikir secara jernih. Tapi demi menjaga hatinya, aku berusaha keras untuk tidak tertawa dan menggantikannya dengan tatapan iba. “Jika … jika … kita menikah kamu akan selalu dalam bahaya. Aku tak mau hal itu terjadi padamu.” Ok … eh tunggu-tunggu, apa? “Antonio, kamu juga tahu kalau aku itu punya musuh. Kita bisa saling melindungi …,” sangkalku. Entah mengapa aku rasa aku terlalu kejam jika mengiyakan perkataan Antonio lalu pergi kembali ke Rico. “Tapi ini beda.” Antonio tak mau mengalah. “Beda? Beda gimana? Musuh kita sama-sama mengincar ….” “Dia mengincarmu, Fir. Mereka mengincar siapa pun yang dekat denganku. Jika kamu berada di sisiku, itu berarti aku membawakan musuh baru untukmu. Padahal musuhmu telah tertangkap seutuhnya dulu. Aku tak mau melihatmu terluka.” Mata Antonio basah sudah. Ia tak bisa lagi menahan tangisnya. Jujur ini baru pertama kali aku melihat lelaki menangis. Ternyata Antonio mempunyai sisi seperti anak kecil juga. “Kita akan hadapi sama-sama,” ujarku sembari mengusap-usap tangannya. Antonio tiba-tiba menghempaskan tanganku. Matanya kini menatapku tajam. “Apakah kamu tidak paham juga? Aku itu seorang polisi. Musuhku itu tidak Cuma satu. Dan kemarin adalah buktinya. Di atas orang itu banyak orang lainnya. Mereka bukan hanya penjahat kelas teri, tapi mereka itu sebuah gembong penjahat, Fir!” “Aku bahkan pernah mengalami yang lebih buruk, Ant,” kataku jujur. Aku ingin mulai membuka semuanya. Masa laluku, bagaimana aku di sini, dan … bagaimana aku dengan Rico. “Tolong jangan anggap ini bercanda,” potong Antonio. Aku pun terperanjat mendengarnya. “Apakah kamu tidak paham juga, hah? Aku ingin kamu tidak terjerumus ke dalam masalahku.” Antonio tampak sangat emosional. Wajahnya memerah. Ia antara dalam kondisi terpukul dan juga sangat depresi. “Aku tidak ingin wanita yang kucintai menderita karenaku …. Aku tak ingin wanita itu menanggung beban yang kutanggung …,” lirihnya. Teramat lirih malah. Andai rumah sakit ini tidak menghalau angin-angin dari luar, kuyakin suara Antonio barusan tidak akan terdengar. “Kalau bukan aku, wanita seperti apa yang bisa mendampingimu?” tantangku. Aku memang sudah kehabisan akal. Rico telah pergi. Sekarang hanya Antonio lah satu-satunya harapanku untuk bisa menjalani kehidupan ‘normal’ seperti kebanyakan wanita lainnya. Antonio diam. Ia sekarang menolehkan pandangannya ke sisi lainnya. “Baiklah. Jika itu yang kamu mau, tapi jika kamu berubah pikiran, kamu tahu di mana bisa menemuiku.” Aku pun mengecup pelipis Antonio lalu berjalan pergi. Kini aku tahu jika hati bisa patah dua kali meski cinta tidak tumbuh dua kali secara bersamaan. *** Hari berganti hari. Musim semi sudah menjadi hal biasa yang kulihat. Tak lagi indah meski kemarin aku benar-benar merindukannya. Dengan menyalanya mentari di atas sana, aku duduk memandang sungai. Anak-anak berlarian sembari tertawa. Mereka pasti sedang senang karena sekarang adalah hari libur dan orang tua mereka mendampingi mereka bermain di taman ini. Satu yang aku kagumi, mereka semua membaca buku sembari mengawasi anak-anaknya berlarian. Aku mengembuskan napas. Sepi rasanya. Tanpa Antonio, tanpa Rico, dan juga tanpa adegan-adegan besar yang terjadi dalam hidupku. Mungkin kehidupan seperti itu sudah menjadi kehidupan ‘normal’ bagiku. Nyatanya menjalani kehidupan seperti orang biasa, bekerja, pulang, punya teman, malah terasa membosankan. Setelah beberapa hari dan bisa berdamai dengan keputusan Antonio, aku baru sadar bahwa ada janggal. Hari itu, hari ketika aku ditangkap untuk menjadi modal menyiksa Antonio, aku baru sadar bahwa orang yang menyelamatkanku bukan dari kalangan polisi. Meski ya aku tidak bisa melihat, tapi jika orang itu adalah kepolisian itu sama sekali tak masuk akal. Bagaimana mungkin dia datang sendiri sedang teamnya datang belakangan setelah semua beres. Apakah itu Rico? Aku rasa tidak. Jika dia masih ada di sini, aku yakin bisa melacaknya. Jejak agen tidak selalu bersih. Dan aku sudah hapal jejak Rico. Tapi kalau bukan dia siapa lagi? Seseorang mendekatiku. Aku tak peduli. Ini juga tempat umum. Buat apa aku melarang? Orang itu dengan entengnya mengangkat salah satu kakinya dan menggoyang-goyangkannya. Kudengar dia menyeruput sesuatu. Entah apa itu, aku tak mau menengoknya. “Jadi dia udah mengakui kalau nggak bisa melindungimu?” tanyanya. Sontak aku menengok ke arah laki-laki yang menjajariku. Di tangan kanannya terdapat roti dan di tangan kirinya terdapat minuman. Ia menjulurkan roti itu kepadaku. “Kenapa kamu masih di sini?” aku berbalik bertanya. Rico memakan rotinya dengan santai. Ia kini memakai hem, bertopi, dan juga memakai kacamata. Entah bagaimana mengatakannya. Berbeda mungkin? Dia menghela napas, “Kan aku sudah bilang akan melindungimu terus,” ucapnya santai. “Dasar stalker,” sergahku jengkel. Aku sedikit tersenyum. Jujur ada rasa hangat yang menyelimuti hatiku. “So … kamu belum menjawab pertanyaanku barusan. Jadi dia sudah mengakui tidak bisa menjagamu?” Rico mengulangi pertanyaanya. “Dia pria yang baik.” Aku memilih alternatif jawaban lain. Rico tertawa. “Dan aku pria yang jahat?” tanggapnya dengan nada yang tak enak terdengar. “Tidak ada pria jahat yang mau menolong lelaki perebut perempuannya.” Lagi-lagi aku memilih perkataan lain. Dalam hal ini aku tidak mau menyalahkan Antonio. Semua ini murni karena kebodohanku dan keegoisanku. Andai aku bisa yakin dengan Rico, lelaki polisi itu mungkin tak akan ikut-ikutan dalam ini. “Lalu apa yang membuatmu lebih memilih dia dibanding aku?” Rico masih belum menyerah. Ia kini menanyakan pertanyaan klasik. Pertanyaan yang biasa diajukan oleh orang yang merasakan cinta segitiga. Sayangnya kisah cinta kami itu bukanlah kisah cinta segitiga. Lebih tepatnya kisah cinta tak berbentuk. Kali ini aku terdiam. Aku tidak mungkin memberitahu alasan itu. Jika Rico sampai tahu, ia pasti akan memaksakan diri. “Inilah yang aku tidak suka darimu. Kamu selalu saja memikul semuanya sendiri.” Rico memandang ke laut. Meski beberapa kali aku melihat dia marah, aku sudah hafal. Dia tidak pernah memandang orang yang dia marahi. “Aku ingin melindungimu,” ucapku lirih. Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tidak tumpah. “What? Come on? Melindungiku dari apa? Kamu tahu sendiri aku selalu bisa menjaga diriku, bahkan menjagamu,” ungkap Rico. Kini dia menatapku lamat-lamat. Aku menunduk, “Aku tak ingin melihatmu seperti pertama kali kita bertemu.” Aku tak mungkin bisa melupakan bagaimana parahnya kondisi Rico saat itu. Tak hanya fisik, tapi mentalnya juga mengalami masalah. Aku yakin dia bisa menang melawan penjahat manapun. Aku juga yakin dia bisa mengatasi apa pun, tapi itu bukan Ando. Sadar atau tidak, jauh dalam alam bawah Rico, Ando telah menanamkan bibit-bibit dendam. Suatu saat bibit itu bisa saja tumbuh dan membuat Rico balas dendam kepada Ando. Aku tak mau hal itu terjadi. Pertarungan yang dilaksanakan dengan kepala panas dan hati yang membara hanya akan berakhir dengan kekalahan. Rico menyentuh daguku. Minuman serta makanannya sudah ia taruh di bawah. Ia dengan halus mengangkat kepalaku agar aku bersitatap dengannya. “Fir …,” panggilnya halus. Bukan hanya telingaku saja yang mendengar, jiwaku juga seolah terbangun. Panggilan Rico itu benar-benar murni panggilan dengan hati yang tulus. “Bukankah kamu mencintaiku?” tanya Rico. Dari matanya kulihat sinar kasih sayang yang begitu dalam. Mata teduh itu benar-benar meneduhkan hati dan jiwaku. Lelaki tampan mungkin banyak dan hanya Rico yang tak hanya tampan, dia juga memiliki kenyamanan. Aku mengangguk. “Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kita akan melalui ini bersama, sampai mereka benar-benar bosan mengejar kita,” sambung Rico. “Justru karena itulah aku ingin kamu melepasku, Ric. Aku ingin kamu aman dengan kembali ke agensimu. Aku ingin hubungan ini berakhir di sini!” Air mataku tumpah sudah. Tubuhku pun ikut bergetar. Rico melepaskan tangannya dari daguku. Ia meninju pembatas tepi sungai lalu mencengkram besi itu dengan erat. Rico menggeram. Wajahnya memerah. “Kembalilah, Ric! Kembalilah ke tempat amanmu.” Aku menggenggam tangannya lalu mengecup pipinya. Aku pun pergi. Aku menyeka air mataku. Tak kusangka aku benar-benar mengatakan apa yang ingin kuperbuat pada Rico. Namun tanpa kuduga Rico tiba-tiba berlari-lari kecil mendekatiku. Saat ia sampai di sampingku, ia tak menengokku sama sekali. “Baiklah jika itu yang kamu mau, Fir. Aku akan menghabisi mereka semua agar kamu tidak perlu khawatir lagi. Aku akan menghabisi mereka semua!” bisiknya. Sontak mataku membelalak. Dugaanku sebelumnya tepat. Rico memilih untuk menerjang jalan berduri daripada kami tak dapat bersama. “Percuma, Ric! Aku akan tetap bersama Antonio walaupun kamu berhasil membunuh mereka semua,” cegahku. Rico tak menjawab. Ia terus-menerus berjalan tanpa sekali pun menengokku. “Ric!” panggilku. “Rico!” teriakku. “Tolong jangan pergi!” rintihku. Tapi hal itu tetap saja percuma. Rico sudah yakin dengan keputusannya. Aku hanya bisa tergugu melihat punggungnya. Dengan cepat aku berpikir. Aku menyeka air mataku dan kutegakkan langkahku. Baiklah jika ini yang dia mau. Rico menunjukan jati diri aslinya, maka aku pun harus demikian. Aku akan menunjukan jati diri asliku agar tak seorang pun menghalangi langkahku. Dengan cepat aku kembali ke apartemen. Kusiapkan apa pun yang diperlukan lalu aku pergi melacak Rico berada. Dia tak akan pernah bisa melaksanakan misinya itu. Aku jaminannya. Kalau aku tak berhasil, jangan panggil aku Fira si anak buah Ando. “Rico tunggullah aku!” Aku pun pergi. Kali ini dengan jati diri yang berbeda. Ternyata amanat yang kudengar dari film yang kutonton benar. Tidak ada jalan lain untuk kabur. Satu-satunya jalan hanyalah menghadapinya. Baik Ando, Antonio, ataupun Rico, semuanya harus aku hadapi. Bukankah sudah tanggung jawab wanita untuk menyadarkan pria yang bodoh?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD