021 Maafkan Aku!

2223 Words
Antonio menutup pintu. Petugas hotel meninggalkan kami berdua. “Maksud kamu apa, Fir?” Antonio menatapku dengan tajam. Matanya seakan-akan bisa menerkamku bulat-bulat. Firasatku buruk. Dengan mata yang tajam menusuk serta napas yang terengah-engah, aku tahu Antonio sedang tidak baik-baik saja. “Kamu tidak apa-apa?” aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Kusentuh pipinya yang penuh dengan luka. Entah mengapa tiba-tiba saja Antonio memelukku. Dia memejamkan mata sembari berbisik, “Aku sangat bahagia kamu selamat,” ucapnya. Tanganku terjulur. Aku ragu antara mau balas memeluknya atau tidak. Dia sudah berkorban banyak. Lihatlah! Di saat aku sibuk melarikan diri dengan Rico, Antonio malah mati-matian bertarung dengan para penjahat, sendirian pula. Antonio melepas pelukannya. Ia kini menatapku. “Tolong beritahu aku siapa kau sesungguhnya! Aku ingin melindungimu, Fir!” Aku memalingkan wajah lalu berjalan menjauh. Kuambil peralatan P3K. “Biar kuobati lukamu dulu,” kataku lalu menarik tangan Antonio agar dia duduk di kasur. Aku pun duduk di sampingnya lalu menuangkan antiseptik ke wadah dan mengoleskannya ke perban untuk membersihkan luka Antonio. Aku diam. Entah apa yang dipikirkan Antonio. Yang jelas aku tidak mungkin untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya. “Fir ….” Antonio mulai membuka suara lagi. “Hmm …” sahutku. Pandanganku masih mengarah ke luka gores di pipinya. Aku tak mau menatap langsung mata hanzelnya. “Apakah kamu mencintaiku?” Pertanyaanya barusan membuatku spontan menatap matanya. Aku diam. “Kamu sudah tahu kalau aku suka sama. Aku sayang sama kamu, tapi aku tidak tahu kalau kamu punya rasa sama aku.” Antonio menunduk. Ia mengembuskan napas perlahan. “Aku ….” Aku mengigit bibir, tak bisa berkata-kata. Niatku memang sudah berubah untuk setia dengan Rico. Namun kini dengan kehadiran Antonio apalagi setelah ia bertarung dengan para penjahat itu dan masih selamat, niatku mulai goyah. Aku pun mulai bertanya-tanya. Apakah Antonio lebih hebat daripada Rico? “Nggak apa-apa kalau belum bisa jawab.” Antonio menyentuh tanganku lalu menurunkannya. Ia memegang tanganku itu dengan erat. “Aku akan selalu setia menunggu.” Antonio pun bangkit lalu meninggalkanku di kamar sendirian. Pernyataan Antonio membuatku terjaga semalaman. Aku sama sekali tak menyangka jika bisa terjebak di antara dua cinta. Kupikir istilah itu hanya berlaku untuk wanita-wanita dan laki-laki dengan kehidupan ‘normal’, tapi tak kusangka juga berlaku untukku. Padahal aku pikir aku tak cantik-cantik amat. Kunyalakan televisi. Terlihat di sana sebuah berita tentang kericuhan di jalan yang tentu menyebabkan macet. Terlebih lagi mungkin kejadian itu adalah kejadian luar biasa yang terjadi di kota ini. Hal itu juga yang sebenarnya membuatku datang ke kota ini. Kota ini memiliki catatan kriminal paling sedikit dan kemakmuran yang patut diacungi jempol. Aku mengembuskan napas. Aku terpikir kembali akan niat awalku yang menjauhi Rico. Besok aku sudah bisa ke bandara dan akan pergi selama-lamanya dari kehidupan Antonio, jika memang aku ingin menjauhi Rico dan memilih untuk hidup bersama Antonio aku harus berbuat sesuatu. Tapi mampukah aku? Rico adalah seluruh definisi dari lelaki yang kuidam-idamkan. Ia tak mudah cemburu. Ia juga mau mengorbankan segalanya untukku. Bukankah itu artinya cinta sejati? Tak mengharapkan apa pun, hanya ingin selalu memberikan yang terbaik kepada yang dicinta. Rico juga penuh akan kasih sayang. Dan tatapannya sungguh menenangkan. Sedangkan Antonio memang tampan. Ia juga mau bertarung demi aku. Ia tak menaruh curiga apa pun dan menerima aku apa adanya. Hanya saja kami belum benar-benar dekat. Aku pun belum mengenalnya secara utuh – tidak seperti Rico. Tapi jujur aku lebih mencintai Rico dan sangat sulit bagiku untuk mencintai dua laki-laki sekaligus. Hati manusia diciptakan hanya satu, jadi kupikir cinta juga cuma satu. Tepat seperti apa yang dikatakan oleh film India, hidup hanya sekali, jatuh cinta juga sekali, dan menikah hanya sekali. Aku meremas kepala. Tak kusangka hal yang bernama cinta itu sesulit ini. Aku memang tak peduli jika aku harus mati, disiksa, bahkan menderita sekali pun. Tapi Rico harus hidup. Dia harus bahagia. Dan mungkinkah hal itu terjadi jika aku bersamanya? *** Pagi yang dijanjikan pun tiba. Dengan indahnya matahari bersinar, membelah awan mendung dari atas. Pucuk-pucuk rerumputan terlihat menyembul dari dalam salju. Pemandangan yang jarang ada di musim salju ini, mengundang banyak orang. Banyak orang yang mengabadikannya dalam hp mereka. Aku yang memang sudah terbiasa dengan pemandangan mentari pagi, hanya memandang sejenak tanpa peduli. Malah sebenarnya aku harap hari ini salju turun dengan lebat, kalau bisa badai sekalian, agar waktu untuk memilih dua pria itu akan lebih panjang. Rico mengabarkan bahwa jadwal penerbangan kami nanti jam sebelas pagi. Aku tak tahu negara mana yang akan kami singgahi, tapi yang pasti katanya di sana aman. Hanya saja aku tak yakin. Aku sebelum ke sini sudah meriset tentang negara, angka kriminal, kemakmuran, angka kemiskinan, dan bagaimana penjabat bertindak. Kuyakin di sini aman dari Ando. Nyatanya sama saja. Bahkan kemarin adalah pengejaran terheboh yang pernah aku alami daripada saat berada di negara asalku. Aku mengembuskan napas. Meski sebenarnya dingin, aku memilih untuk duduk di taman, berhubung sebentar lagi aku akan lepas landas, meninggalkan negara dengan empat musim ini. “Sudah sarapan?” tiba-tiba seorang mendekat. Dia duduk di sampingku. Aku menengok sekejap lalu menggeleng, “Belum.” Selalu begini. Antonio ada di mana pun dan kapan pun. Kadang aku heran. Dengan luas kota berpuluh-puluh kilometer, dia tahu di mana aku berada. “Mau sarapan di apartemenku?” tawarnya. “Emang ada makanan apa?” “Nggak ada.” Antonio tertawa kecil. “Terus mau sarapan apa? Kita saling makan satu sama lain gitu?” “Nggak.” Kali ini Antonio benar-benar tertawa. “Aku yang masak.” “Emang bisa?” Antonio tak menjawab. Ia malah langsung menarik tanganku. Kami pun berjalan berdua di trotoar yang masih dipenuhi salju. Asap-asap membumbung dari rumah-rumah penduduk. Tidak seperti di negaraku, di mana kalau sudah ada asap seperti itu, pasti bau rempah-rempah akan sangat tercium. Di sini tidak. Hanya saja bau harum masakan tetap bisa terendus. “Kenapa kita nggak makan di restoran seperti dulu aja?” tanyaku. Antonio menggeleng. “Kalau di restoran nanti tidak ada ciri khasnya.” “Emang di apartemenmu ada?” “Ada. Aku ingin menunjukan bahwa aku suami yang kelak bisa dimintai bantuan untuk masak.” Sumpah, aku tidak baper sama sekali. Kalau yang bicara seperti itu Rico, itu lain soal. Tapi aku juga tidak terganggu mendengarnya. Hanya saja kurang ada rasanya gitu. Ibarat minuman tapi bukan minuman favorit. Tetap doyan dan berhenti di kata itu. Tidak sampai doyan banget. Kami pun masuk. Aku mengedarkan pandangan. Apartemen ini jauh dari kata bangunan modern. Temboknya masih berupa tembok dengan gaya abad ke dua puluhan. Begitu juga dengan jendela dan juga pintunya. “Kamu tinggal sendiri di sini?” tanyaku hati-hati. Siapa tahu ada wanita yang disimpannya diam-diam. “Nggak.” Tuh kan … “Kan sama kamu.” Aku lagi-lagi menyipitkan mata. Tebakanku tentang pribadi Antonio ternyata salah. Kukira dia adalah tipe polisi yang tempramental dan dengan gampang memukul siapa saja yang berani menentang hukum. Tapi nyatanya dia kini sering menggombal. Antonio menarik kursi di sebelah dapur. Apartemennya yang cukup luas membuat dapur, kamar, dan ruang tamu bisa mempunyai cukup ruang untuk dibagi sendiri-sendiri. “Sejak kapan kamu nyekolahin mulut buat ngegombal?” tanyaku. Mataku masih menerawang ke segala sisi. Aku benar-benar tak bisa behenti kagum dengan gaya apartemen ini. Aku yakin sekali kalau apartemen seperti ini ada di negaraku, pasti sudah hancur duluan. Entah itu karena bangunannya yang tidak dirawat atau paling tidak karena kesewenang-wenangan pemerintah. “Sejak ketemu sama kamu, lah.” Aku tertawa. Entah di mana pun, lelaki tetap bisa menjadi buaya. Benar-benar hebat. Sebuah nada dering terdengar. Aku mengintip nama di layar, berharap bukan Rico yang menghubungi. Dan ternyata tentu aku salah. Kami akan segera pergi, sementara aku malah menghilang dari hotel. Aku pun keluar sebentar dari apartemen lalu menerima panggilannya. “Di mana?” tanya Rico halus, benar-benar halus. Aku sama sekali tak merasakan adanya nada tekanan di sana. “Aku di ….” Kata-kataku menggantung. Tak mungkin rasanya jika berkata jujur bahwa aku di apartemen seorang laki-laki. Terdengar dari seberang sana, Rico menghela napas. “Aku tahu sebenarnya kamu di mana. Kalau seandainya kamu memang tak ingin pergi pun tak apa-apa ….” Memang susah jika punya kekasih agen. Dia serba tahu di mana dan bagaimana kondisiku. “Ric … aku ….” Lagi-lagi kata-kataku menggantung. Aku tak sanggup melanjutkan. Telepon terputus. Aku pun meremas handphone lalu menyandarkan bahu ke tembok. Tak kusangka pemanjang cerita ini bukan karena faktor alam, tapi karena faktor diriku sendiri. Kenapa ya hidupku tidak ‘normal’ tapi giliran kisah cinta agak normal? Masalahnya sama saja gitu. Aku menyeka ujung mata. Sejenak aku menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan batin. Aku tak boleh sedih. Tidak boleh. Ini keputusanku, maka aku harus tegar menjalaninya. “Makanan udah siap!” kata Antonio sembari membuka pintu. “Kok nggak ada baunya,” jawabku seriang mungkin. Kisahku bukan kisah drama. Aku tak mau ada tangis-menangis di dalamnya. “Makanya masuk.” Antonio dengan entengnya kembali menarik tanganku. *** Pada akhirnya aku benar-benar terhenti di negara ini. Aku tak lagi bisa menghubungi Rico. Ia juga tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Entah di mana dia sekarang. Yang aku harapkan dia baik-baik saja di luar sana. Aku memang bukan jodoh yang tepat buat dia. Aku musibah yang hanya bisa membuat Rico sengsara. Musim sudah berganti. Daun-daun baru bermunculan. Burung-burung berkicau dengan riang. Serangga pun mulai unjung suara. Orang-orang tak lagi memakai pakaian tebal. Mereka memilih memakai kaos yang cerah, persis seperti cuaca hari ini. Beberapa waktu lalu Antonio sudah melamarku. Ya melamar. seusai badai salju yang menyelimuti kota dengan sungai paling indah ini, dia melamar. Dia melamarku tepat di tempat pertama kami bertemu. Di tepi sungai berpagar hitam, dia berdiri di sampingku sembari memberikan cincin berlian. Melihatnya sungguh membuat aku terharu. Sebuah cincin berlian putih yang dihiasi oleh butir-butir salju tipis. Meski angin salju berhembus, aku sama sekali tak merasakan dingin. Wajahku sempurna memerah. Aku benar-benar tak menyangka Antonio berani mengajukan komitmen denganku yang bahkan dia belum tahu latar belakangku. Sayangnya aku belum bisa menjawab. Bahkan sampai saat ini. “Nggak papa. Kamu simpan saja. Saat kamu siap, pakai itu dan temui aku,” kata Antonio saat itu seperti tahu kalau aku belum siap karena pada kenyataanya aku belum mencintainya. Belum ya, tidak tahu nanti-nanti. Selain memikirkan jawaban yang tepat untuk Antonio, aku juga sedang berpikir tentang Ando. Aku sudah lama di sini. Satu musim. Dan tidak ada penyerangan lagi semenjak saat itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Atau jangan-jangan mereka sudah bosan? Aku rasa tidak. Aku masih memegang kendali dari White Memory, dan kutahu Ando benar-benar menginginkannya. Sedari aku dikejar sampai sekarang, aku sudah mencari alat pelacak apa pun yang mungkin dipasangkan lelaki itu. Nihil. Tak ada barang, baju, atau apa pun yang melekat di bajuku yang sekiranya bisa dipasang alat pelacak. Yang tersisa hanya bagian dalam tubuh. Tapi apa itu mungkin? Belum sempat aku berpikir lebih jauh, tiba-tiba di depan mataku, sebuah mobil polisi melesat. Di bagian kemudi aku bisa melihat dengan jelas Antonio di sana. Anehnya tidak ada yang dikejarnya. Di depannya hanyalah jalanan kosong. Tapi wajahnya tampak sangat serius. Ada apa sebenarnya? Aku mencoba memahami situasi. Selangkah demi selangkah, aku mendekati jalan, mencoba melihat apa yang terjadi. Dan tiba-tiba ada seseorang yang mendekapku dari belakang lalu semuanya gelap. *** Aku terbangun. Sebuah sinar menyorot mataku. Sangat silau. Aku pun mencoba berkata, tapi tak bisa. Ketika kesadaranku pulih seutuhnya, aku baru menyadari bahwa diriku tengah diikat di sebuah kursi dengan mulut pun yang juga terikat. “Lepaskan dia!” teriak seseorang yang amat kukenali suaranya. Aku mengerjap-ngerjap. Sebuah gambaran jelas mulai terlihat. Antonio. Dia di seberang sana tengah dipegangi oleh dua orang dengan wajah yang sudah babak belur. “Antonio!” aku mencoba berteriak. “Lepaskan dia!” Antonio berteriak sekali lagi. Aku mendesis dan mendramatisir suasana. Aku tak mungkin gugup dengan keadaan seperti ini. Keadaan yang dibuat Ando jauh lebih mencekam. Aku pun mengeluarkan pisau dari lengan panjangku yang memang selalu kubawa, persis seperti latihan yang Ando berikan kepadaku. “Bawa ini selalu. Kita pasti membutuhkannya!” kata Ando waktu itu. Aku terus memasang wajah panik sembari terus mengiris tali yang mengikatku. Sial talinya bukan sembarang tali. Tali yang mereka gunakan adalah tali tambang. Perlu waktu lama untukku bebas dari tali ini. Namun apakah Antonio juga memiliki waktu yang sama? Darah telah memenuhi wajah polisi itu. Dia terus-menerus berteriak sedang perutnya terus dipukul oleh dua orang yang menjagalnya. “Apa yang kalian mau pasti kuberikan, tapi tolong lepaskan dia!” rintihnya. Hatiku terasa ngilu kala mendengar kalimat itu. Antonio benar-benar sudah putus asa. Dia seperti tak punya tenaga lagi untuk melawan. Orang yang berada di sisiku, pergi mendekati Antonio. Bagus sebuah kesempatan emas datang. Aku pun tak perlu pelan-pelan untuk mengiris tali ini. Lelaki paruh baya itu menendang Ando lalu menginjak dadanya. “Kami hanya mau kau menderita!” bentaknya. Antonio mencoba menyingkirkan kaki laki-laki itu tapi gagal. Tangannya sudah seperti tangan anak kecil. Ia tak punya tenaga lagi. “Ohoho tenang saja. Kami tak akan membunuhmu. Karena membunuhmu tak akan membuatmu menderita. Kami akan berbuat sesuatu dengan kekasihmu itu.” Sekali lagi lelaki paruh baya itu menendeng Antonio lalu mendekat ke arahku. “Tidak … tidak! Jangan!” teriak Antonio. Peluh di dahiku makin menderas. Aku pun mencoba secepat mungkin untuk mengiris tali yang mengikatku. Tapi seberapa cepat aku mengiris, tali ini seperti tak ada ujungnya. Akankah aku mati di sini? Ric … maafkan aku! Aku tidak bisa jujur kepadamu, bahkan sampai akhir khayatku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD