“Alpha code!” teriak Rico melalui alat komunikasi yang berada di telinganya. Berulang kali ia menekan alat itu untuk dapat tersambung. Nahas semua usahanya sia-sia belaka. Tidak ada yang tersambung. Semua rekannya tak bisa dihubungi atau mungkin mereka semua telah tewas.
“Argh!” Rico tak tahan lagi. Ia pun mendobrak pintu yang menghalanginya.
Di luar sedang badai. Kilatan cahaya petir, terlihat menyambar di mana-mana. Deru gunturnya mendera telinga. Hujan semakin deras. Sempurna. Suasana kian mencekam. Tapi bukan itu yang ditakutkan oleh Rico. Tepat saat pintu yang ia dobrak berhasil tebuka, matanya membelalak. Semua rekannya telah jatuh. Hanya satu yang masih berdiri dan dia sudah terpojok.
Semburan darah terlihat. Perkelahian yang tak adil mulai menghasilkan korban. Sayangnya sudah tak ada waktu lagi. Rico melihat seorang rekannya itu yang masih hidup sudah terluka parah. Tak tunggu lama, Rico pun mengambil alih pertarungan.
Rico memukul musuh pertamanya, tapi dihalau. Lantas dia jongkok dan meluruskan kakinya lalu berputar layaknya orang berdansa. Kaki Rico mengenai ketiga musuh di sekitarnya, sehingga mereka berjatuhan bagai pohon tumbang. Rico segera berdiri, dia melihat sebatang besi tergeletak kemudian mengambilnya. Ketiga orang tadi berdiri lalu berlari menuju Rico. Dengan cepat, Rico memukul d**a mereka secara bergantian sehingga mereka memegangi dadanya sembari mundur beberapa lagkah. Rico mengayuhkan tongkatnya ke musuh yang lain, tapi musuh itu menangkapnya kemudian mengambil alih tongkat yang diayunkan Rico.
Rico tidak kehabisan akal, dia berlari lalu setelah cukup dekat dia meniarapkan tubuh dan meluncur ke belakang musuhnya. Rico memegangi tangan yang dimaksud kemudian membantingnya. Dua orang yang lain mendekat, Rico melompat sembari menendang d**a mereka.
Merasa kehebatan Rico terlalu dahsyat, seorang musuh mendekati rekan Rico yang telah kehabisan tenaga. Ia dengan kekuatannya menginjak kaki rekannya Rico itu lalu memaksanya berdiri.
“Cukup, hentikan semua ini! Atau tidak kubunuh dia!” bentak seorang musuh.
Rico menoleh ke arah suara. Dua orang tadi berdiri dan memegangi Rico. Musuh yang lain mendekati Rico kemudian memukul perutnya.
Rico menarik napas. Dia salto sehingga terlepas dari cengkraman dua orang yang memeganginya. Rico berputar sembari menendang kepala mereka. Rico yang tenaganya penuh hasil dari amarahnya, menyerang tanpa ampun sampai dua penjahat yang memeganginya kewalahan.
Yang terakhir orang yang menyekap rekannya. Dia menjulurkan pisau yang telah berlumuran darah. Rico menghindar kemudian memegangi tangan si musuh dan memutarnya. Lalu diakhiri dengan menendang tangan musuhnya, sehingga pisau itu melambung tinggi. Musuh yang tadi menyekap rekan Rico mencoba melepaskan dirinya. Rico tidak tinggal diam, dia melompat seraya menendang d**a musuhnya itu. Dia terjatuh. Untuk mengakhiri pertarungan, Rico menjatuhkan dirinya dengan bertumpuan siku ke perut musuhnya, sehingga dia tak kuat sekalipun untuk berdiri.
Sayangnya orang yang tadi dilawannya hanya segelintir dari musuh yang ada. Orang-orang mulai berdatangan kembali. Kali ini lebih banyak dari yang tadi. Dan nahasnya mereka semua mengelilingi Rico, menghalanginya dari rekannya yang masih selamat itu. Rico kembali memasang memasang kuda-kuda, dia bertahan mati-matian. Pemuda dengan tulang mata yang sedikit menonjol itu terpojok. Ia ingin sekali menerobos musuh di depannya lalu menyelamatkan rekan-rekannya yang tengah sekarat.
“Menyerahlah berengsek!” salah seorang laki-laki dengan muka bengis menyalak.
Rico hanya diam. Meski di pipinya terus-menerus mengalirkan darah segar akibat tersayat pisau, ia tetap berdiri tegap. Kedua tangannya mengepal ke depan. Mulutnya bungkam. Ia sadar di dalam sana ada darah, namun ia tahan sekuat tenaga. Tak akan dia biarkan dirinya terlihat lemah.
Saat musuh-musuh mulai menyerang, Rico langsung berputar sembari menjulurkan kakinya. Sepatu yang keras, berhasil menguatkan serangannya. Para musuh barisan depan terpental. Si pemuda itu tak menunggu waktu lama. Ia pun langsung menerobos sembari menahan setiap serangan lawannya dengan siku. Berulang kali ia hujamkan pukulan dan berulang kali ia menghindar.
Ketika ia berhasil keluar dari musuh-musuh yang mengerumuninya, Rico langsung menendang seorang musuh yang hendak menembak rekannya. Pemuda itu menyapu pandang sedang tangannya meraih tubuh rekannya yang tengah terduduk menahan sakit. Mata yang tadinya tajam menusuk, berubah menjadi terbelalak. Ternyata rekannya tak hanya jatuh. Semuanya tidak ada yang selamat. Hampir semua rekannya telah menjadi gelonggong-gelonggong daging tak bernyawa.
Tanpa berpikir panjang, Rico memapah rekannya lalu berlari sekuat tenaga. Meski perutnya mengalirkan darah akibat tusukan salah seorang musuh, ia tetap berlari. Tidak peduli apakah nanti dia akan kehabisan darah, tak peduli akankah dia selamat atau tidak. Yang ada di otak pemuda itu hanya bagaimana caranya ia bisa lari dari tempat terkutuk ini.
Air hujan masih turun. Bulir-bulirnya terasa bagai butiran cabai di luka Rico. Ia sedikit meringis. Sedang rekannya makin lemas. Ia terjatuh begitu saja.
“Bertahanlah! Kita pasti bisa selamat.”
Rekan Rico itu hanya tersenyum. Ia tahu benar bahwa hampir mustahil mereka selamat. Di kanan mereka hanya ada tebing, sedang di kiri mereka ada jurang yang dalam. Hanya orang bodoh yang mau menuruni jurang atau menanjak ke atas. Dengan tenaga yang tersisa, rekan Rico itu merayap mendekati bibir jurang. Ia lihat di sana ada sebuah jalan.
Si rekan menjulurkan tangannya. Ketika tangannya diraih, ia sekuat tenaga menyeret dan menghempaskan Rico yang telah menyelamatkannya ke jurang.
***
Dan Rico pun terbangun. Mimpi yang sama. Tak pernah berganti. Ia bahkan malu untuk menceritakannya kembali kepada Fira. Rico memandang jam weker yang berada di samping tempat tidurnya. Masih jam tiga. Waktu yang selalu sama di mana ia selalu terbangun. Dan waktu yang sama pula jika ia mengingat ia sempat melihat jam tangan di dalam mimpinya itu.
Apakah semua itu bukan hanya mimpi? batin Rico.
Buru-buru ia menggeleng. Kepalanya seperti tersentak. Rasa sakit mulai menjalar. Dan sebuah gambaran mengenai dia telah membunuh beberapa orang dalam waktu dekat ini, muncul. Ia berlari sembari memegangi tangan yang mengeluarkan darah terus-menerus.
Rico meraba lengannya. Di sana ada perban yang membalut. Merasa penasaran dengan yang terjadi, lelaki itu pun membuka perbannya. Betapa tercengangnya ia ketika mengetahui lengannya telah dijahit. Lukanya memang tak dalam, tapi besar, persis seperti sekelebat bayangan yang melintas di otaknya.
Belum sempat Rico memastikan ingatan itu, sebuah kelebat bayangan yang memperlihatkan istrinya tengah tersenyum di depan dirinya yang hendak pingsan terlihat. Sontak hal itu membuat Rico bertanya-tanya. Istrinya itu selama ini memang mengaku bahwa Rico hanya berhalusinasi tentang peperangan. Tapi buat apa halusinasi datang dengan mendatangkan istrinya tengah tersenyum setelah meminumkan sesuatu kepadanya?
Rico memandang istrinya yang masih terlelap di sebelahnya. “Siapa kamu sebenarnya, Fir?” tanyanya begitu lirih. Hari ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rico ragu akan istrinya sendiri.