002 Aku dan Faktaku

1057 Words
      Aku tak menyangka. Setelah pelarian yang begitu lama telah kujalani, mereka kembali menemukannya. Kini tak ada pilihan lain, selain kembali melarikan diri. Kupandang wajah Rico dari spion. Dia masih tertidur. Syukurlah. Aku harap obat yang kusuntikan tadi akan bekerja menghapus ingatannya kembali. Hal biasa yang kulakukan kepadanya.            Aku menghela napas. Untung saja mereka datang terlambat. Waktu orang-orang desa melapor bahwa Rico tengah diserang, aku langsung ke sawah. Selangkah lagi, benar-benar selangkah lagi aku memutuskan untuk membantunya. Ketika kulihat seseorang bergerak akan memborgolnya, langkahku sudah mulai menginjak luasnya sawah. Tetapi tak kusangka insting Rico masih bekerja walau ingatannya telah kurusak. Dia dengan tangkas dan cepat mengatasi semua orang yang hendak menangkapnya.            Aku pun memutuskan untuk kembali, menyiapkan skenario baru untuk membawa pergi kembali Rico. Tak akan kubiarkan orang lain menangkapnya. Tak akan. Hubungan kami abadi dan lebih baik aku mati daripada berpisah dengannya lagi. Maka dengan obat tidur yang aku campurkan ke dalam minumannya, aku kembali beraksi.            Semoga kamu tidak menyadarinya, sayang.            Kusentuh dagunya. Tak akan kubiarkan seorang pun bahkan dirimu sendiri menyadari siapa dirimu sesungguhnya.            “Aku akan menjagamu, sayang. Selalu,” kataku sambil menatap mata Rico yang tertutup.            Kembali kulajukan mobil. Sebuah daerah baru dengan kawasan yang sepi menjadi tujuanku. Di sana akan ada banyak pendatang, hal yang sangat tepat untuk berlindung sementara waktu. Tak akan ada yang curiga, toh semua juga pendatang. ***            “Kau sudah bangun, sayang?” sapaku. Sebisa mungkin aku berekspresi seperti biasa.            Rico bangun. Dia mengusap belakang tengkuknya. Sepertinya rasa sakit karena disuntik dengan cepat masih terasa di sana. Ia memutar balikkan badan. Kaosnya telah aku buka. Ia sempurna bertelanjang d**a sekarang. Dan itu membuatku sangat ingin menciumnya.            “Hei!” sapaku sembari membelai wajahnya untuk menatapku. “Kamu kelihatan bingung, ada apa?” tanyaku memastikan apa obatnya telah berhasil mencuci otaknya atau tidak.            Aku berdiri lalu mengambilkan air minum. Aku tahu saat obat itu berfungsi dan mengubah memori yang telah terjadi menjadi seperti halusinasi, dia akan sangat kehausan. Bahkan kini tubuh kekarnya telah dipenuhi oleh keringat.            “Minumlah, sayang!” kusuguhkan minuman yang kali ini tak kucampuri dengan obat tidur.            Rico tersenyum. Ia mengangguk lalu meminumnya.            “Apa kita perlu ke dokter?” tawarku berpura-pura. Tentu tak akan kubiarkan suamiku ke rumah sakit. Dia pasti dengan cepat akan mengetahui semua hal buruk yang telah kuperbuat kepadanya.            Dan tentu saja Rico menggeleng. Seperti yang sudah-sudah. Ia hanya mengangapnya hanya sakit kepala ringan.            “Akan sembuh jika kau cium aku sekarang!” godanya.            Aku pun menciumnya dengan cepat. Terlampau cepat. Meski kami telah menikah secara sah di mata hukum dan agama yang kami percayai, tapi ingatannya telah kurebut dan kuretas. Apakah dia mencintaiku secara pasti, pun aku tak mengetahuinya. Tapi yang jelas aku mencintainya dan sekarang sebagai Rico yang memiliki hanya sebagian ingatannya dia mencintaiku.            Rico sama sekali tak protes. Dia malah yang menyunggingkan senyum terbaiknya sembari mengucapkan “Terima kasih.”. Tentu hal itu membuatku semakin ingin menerkamnya. Dia sungguh lelaki yang kucintai. Dia simpel dan ramah. Orang baru yang pertama kali bertemu dengannya bahkan bisa langsung merasa nyaman dengan Rico.            “Kita di mana sayang?”            Rico bertanya lagi. Dia menyapu pandang. Sepertinya dia menyadari kalau suasananya berbeda. Langit-langit rumah tak seperti yang dia lihat bulan-bulan yang lalu. Inilah salah satu kelemahan dari obat pencuci otak buatanku. Ada sentakan memori kecil di dalam otak Rico, sehingga memori-memori akan berantakan begitu saja. Jika tak ditangani dengan baik, otaknya akan cedera dan dia akan menjadi gila. Untungnya aku dokternya, jadi tak masalah jika aku menjaganya. Selalu. Dan selalu. Sampai memori dirinya yang asli benar-benar hilang. Setelah itu barulah kami bisa berpindah negara dan hidup bahagia di sana selama-lamanya.            “Kita sedang berbulan madu, Mas. Mas, masa lupa.” Aku memukul pelan hidung Rico dengan ujung telunjukku.            “Astaga. Sepertinya halusinasiku semakin parah. Aku kira aku sedang dikejar-kejar oleh sesuatu.”            Aku menggeleng. Kukecup pipinya. “Makanya ketika halusinasinya kumat, pikirin istrimu yang cantik ini, dong!” bisikku.            Rico tersenyum. “Kalau benar kita berbulan madu, mari temani aku tidur!”            Aku membalas senyumnya yang indah. “Kamu masih demam, Mas. Ndak baik,” tolakku.            “Ayolah. Cuma temani aku tidur saja.”            Rico pun mulai merebahkan diri dan aku pun merebahkan diri di sampingnya. Wajah kami saling berhadapan. Embusan napas Rico mengenai wajahku. Perlahan lelaki itu mulai memejamkan mata. Seperti apa yang dikatakannya. Tidak terjadi apa-apa. Dia hanya ingin menatap wajahku sampai dia benar-benar bisa tertidur kembali.            Sekali lagi kukecup dahi suamiku. Wajahnya ketika tidur begitu menggemaskan. Aku selalu suka menatapnya. Dia seperti rembulan purnama yang begitu terang dan begitu menenangkan. Deru napasnya bernada, layaknya embusan angin di setiap senja menyapa. Indah sungguh indah. Sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Atau lebih tepatnya memiliki setengah dari jiwanya. Apakah dia akan tetap mencintaku kalau ingatannya itu kukembalikan? Entahlah. Aku tak bisa memikirkan itu.            White memory. Seperti itulah nama untuk obat yang kubuat. Setiap orang yang meminumnya akan menganggap memori yang telah dia lewati hanya ilusi belaka. Efek dari obat ini bisa dihilangkan dengan tidak meminum obatnya lagi selama sebulan. Dan efek obat ini bisa permanen jika yang dimaksud, terus meminumnya selama setahun penuh. Memang lama. Tapi seperti itulah aturannya jika tak menginginkan si pasien menjadi gila.            Dalam kasusku Rico sudah meminumnya selama sembilan bulan dua puluh hari. Tinggal sepuluh hari lagi, aku akan berhasil mengusai dirinya sepenuhnya. Tapi mengapa di saat-saat seperti itu, mereka datang kembali. Dan mengapa mereka bisa tahu lokasiku? Kenapa? Kenapa? Sayangnya aku tak menemukan alasan apa pun. Tak mungkin jika Rico yang melakukannya. Memorinya selama ini sudah bisa kuretas. Selain itu, semua alat komunikasi yang berhubungan dengan masa lalunya telah aku buang.            “Jangan!” Rico mulai berhalusinasi. Atau lebih tepatnya memorinya yang dulu kembali berputar dalam mimpinya. Keringat di dahinya pun sudah mulai bercucuran. Aku dapat menebaknya. Pasti dia bermimpi tentang kematian rekannya itu.            Aku tersenyum. Kuseka peluhnya yang mulai membanjir. Kupeluk tubuh Rico dan kukecup pipinya. Perlahan dia mulai tenang. Ketegangan yang terlukis di wajahnya mulai surut. Napasnya kembali mulai teratur. Pelukan memang hal terbaik yang bisa diberikan untuk mengurangi rasa takut. Pelukan juga menjadi simbol kepercayaan satu sama lain.            “Tidurlah, Mas. Mimpikan kita yang memiliki anak suatu saat nanti,” bisikku.            Anak. Sebuah kata yang indah. Tapi sayang aku tak bisa memilikinya. Akan sangat berisiko memilikinya sekarang. Apalagi kini Rico masih dikejar-kejar oleh dua pihak. Dan hanya aku dan instingnya yang bisa melindunginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD