"Good afternoon ladies and gentleman. This is your officer Bella Aldila speaking from flight deck." Dengan lancarnya, Bella berbicara lewat speaker seperti biasanya. Namun, ia tak mau menoleh ke samping kanan. Ada dua mata yang selalu melirik sejak tadi.
Begitu pesawat landing, gadis itu sedikit lega. Sebentar lagi, dia akan turun dan menghindari tatapan maut pria itu. Semua penumpang menuruni tangga dan keluar dari pesawat, Bella sudah tak sabar ingin pergi dari sana.
Setelah dirasa kini gilirannya, gadis itu mulai melepas sabuk pengaman. Belum sempat memindahkan satu kakinya, Adam mencegah dengan berkata, "Jangan keluar dulu. Aku mau bicara."
"Ck." Gadis itu berdecak. "Ya udah bicara aja. Aku enggak bisa lama-lama."
Adam hanya tersenyum. "Nanti malam, ada pertemuan di kafe Mutiara. Ada atasan kita juga di sana yang akan memberitahu sesuatu. Aku harap kamu datang. Kita kan ...."
"Aku enggak bisa datang!" ketus Bella. Lalu ia pergi dari hadapan Adam.
Bella berjalan dengan wajah murung. Suasana hatinya belum begitu baik. Apalagi ditambah dengan hadirnya mantan kakak kelasnya dulu itu semakin membuat hati kesal. Begitu sampai di depan pintu pesawat, Bella hampir saja terjatuh lagi karena tersandung. Namun, satu tarikan tangan Adam memegang pinggang Bella dan membuat gadis itu selamat.
Mereka saling menatap dan tak segera menyadari bahwa kejadian itu mengundang perhatian semua orang yang tersisa di sana.
Rangga yang kebetulan masih di dalam menatap dengan kedua mata melotot. Kedua tangan Bella terlihat memegang d**a bidang sang kapten. Mereka sudah seperti memerankan adegan film romantis sepanjang zaman.
"Eh." Bella tersadar dan segera menegakkan punggung. Gadis itu tampak salah tingkah sambil mengatur napasnya yang naik turun.
"Lain kali hati-hati, ya. Jangan melamunin aku terus." Adam tersenyum manis.
"Apaan, sih," lirih Bella lalu melanjutkan langkahnya. Diikuti Adam dari belakang sudah seperti bodyguard yang tengah menjaga sang putri.
Mereka tak tahu jika dari belakang sana masih ada tatapan kebencian dan kepalan tangan menggenggam erat. Melihat kedekatan Bella dengan kapten baru itu, Rangga tampak muak. Lelaki berjas hitam itu lantas menuruni tangga.
"Hai, Bel. Istirahat, yuk!" Mira yang sejak tadi sudah terlihat santai di salah satu kursi dekat terminal 2 langsung mendekat.
Bella hanya mengangguk saja seraya menggeret koper sedangnya. Namun, Mira yang menyadari bahwa ada sosok yang mengikuti mereka dari belakang pun lantas menghentikan langkah.
"Eh, kapten. Mau sekalian ikut?" tanya Mira dengan mata berbinar. Siapa yang tak terpesona dengan ketampanan lelaki itu.
Bella pun ikut menoleh sambil mencubit lengan Mira yang dianggapnya berlebihan. Bella menatap Mira dengan kode. Namun, Mira tak paham akan hal itu. Mira kira, Bella menyetujuinya.
"Boleh." Satu kata yang keluar dari bibir semu merah itu membuat para pilot muda seperti Bella terkagum-kagum. Hanya Bella saja yang tampak kesal.
Tak hanya itu, pramugari yang berpapasan dengan Adam pun saling berbisik membicarakan sang kapten yang baru saja pindahan dari Australia itu.
"Boleh banget, Kep."
Mira tampak sangat bersemangat. Ia merasa sejuk melihat pemandangan yang sangat bening di hadapannya. Sambil membatin, andai saja Adam adalah lelaki yang ditakdirkan untuknya.
Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju kafe luar yang tak jauh bandara. Sampai di sana, Adam menggeret kursi untuk Bella. Membuat Mira ternganga karena hanya Bella saja yang mendapat perhatian manis itu.
"Bell, lu apain tadi dia bisa begitu," bisik Mira saat Adam tak melihat. "So sweet banget."
"Huss! Gue juga kagak tau. Yang jelas, gue enggak suka dia begitu." Bella membalas sambil menatap ke arah lain.
Saat mereka tengah mengobrol sambil menunggu pesanan datang, tiba-tiba datang dua orang yang tampak tak acuh pada mereka. Rangga dan Vina yang saling bergandeng tangan. Mereka duduk tak jauh dari meja Bella dan dua orang di dekatnya.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Vina yang sudah tak malu lagi memperlihatkan kemesraannya dengan Rangga.
"Apa aja." Rangga membalas sambil menghela napas panjang.
Selama itu, Bella lebih banyak diamnya. Untung saja posisi Rangga tertutup oleh tubuh Adam yang duduk memunggungi Rangga. Adam mencurigai sesuatu karena sejak tadi, Bella tampak aneh. Apalagi saat kedatangan dua orang di belakangnya.
Pesanan datang, bersama datangnya pilot-pilot lain yang baru saja landing. Sekali berkumpul, tempat itu menjadi penuh. Memang kafe itu terkenal menjadi tempat nongkrong para pengendali burung besi setiap harinya.
"Bella, kamu cuman pesan itu aja? Enggak sekalian makan?" tanya Mira pelan sambil menatap cangkir kopi latte milik Bella.
"Enggak usah. Habis ini juga pulang. Aku enggak bisa malem-malem pulangnya." Bella mulai menikmati kopi dalam cangkirnya.
"Ngga!" panggil salah seorang yang mejanya penuh dengan para pilot muda. "Bukannya, lu mau nikah sama Bella, ya? Kenapa ... malah jalan sama yang lain?"
Mereka saling lempar pandangan dan senyum mengejek.
Bella melotot. Gadis itu tak habis pikir. Namun, lisannya tetap tertutup rapat. Ia tak mau mendatangkan keributan di tempat itu. Dan, Adam hanya diam mencoba menyimak ucapan mereka.
"Ambil aja kalau kalian mau. Gue udah punya Vina yang segalanya." Satu sudut bibir Rangga terangkat. Ia melirik Bella yang seperti patung sejak tadi. Puas dengan ucapannya tadi, Rangga malah semakin memperlihatkan kemesraannya dengan Vina dengan mencium tangan wanita itu.
"Wih, kasian si Bella. Jadi, boleh dong kalau ada yang deketin nanti. Udah enggak ada yang punya, kan?" celetuk salah satu pilot yang ada di sana.
Dengan wibawanya, Adam berdiri. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. "Bella sebentar lagi akan menikah dengan saya. Jadi, saya harap tidak akan ada yang mencoba menggoda apalagi mengganggunya. Bella hanya butuh lelaki yang setia padanya. Terima kasih." Senyum Adam tampak teduh. Tak terlihat seperti orang yang sedang terpancing emosi.
Bella ternganga. Tubuh terasa meremang dan jantung perlu diamankan. Apalagi Rangga yang tampak mencengkeram tangannya sendiri. Bibirnya mengatup rapat menahan amarah yang sudah siap meledak. Ia merasa tersaingi.
Melihat reaksi Rangga, Vina tampak kesal karena ia merasa perhatian Rangga tak lagi padanya.
Para pilot semua itu terdiam. Mereka tahu, siapa yang baru saja mengumumkan berita besar itu. Adam pun lantas duduk lagi seraya mengulas senyuman pada gadis cantik yang kini terlihat panik itu.
"Buseehh! Bel, putus satu tumbuh seribu. Keren." Melani yang baru saja datang menghampiri langsung menyerobot. Ia duduk bergabung di dekat Bella.
"Mel, dateng-dateng nyerobot aja lu," balas Mira sambil menepuk lengan gadis bertubuh gendut itu.
Mereka saling bercanda, sedangkan Bella semakin pusing karena ulah mereka semua. Saat Bella hendak berdiri untuk pergi, Adam mencegah dengan tangannya. Lelaki itu ikut berdiri dan berkata, "Maaf, semuanya. Saya dan Bella pergi dulu. Kalian lanjutkan saja." Adam mengulas senyuman.
Adam menggandeng tangan Bella yang masih tampak bingung itu lalu membawanya pergi dari sana. Setibanya di depan eskalator, Bella langsung menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Abang apa-apaan, sih! Engga usah sebar berita bohong." Kedua tangan Bella bersedekap di depan d**a, memasang wajah cemberut dan memunggungi Adam.
"Bagus lah, ada yang selalu menolongmu. Kamu berhutang lagi denganku." Adam tersenyum manis. Ia tak peduli dengan sikap Bella yang geregetan dengannya.
"Mulai sekarang enggak usah pedulikan aku. Lagian kita juga bukan siapa-siapa."
"Bukan siapa-siapa gimana? Kamu lupa, kita masih terikat pernikahan waktu itu. Kita belum bercerai Bella Aldila." Adam menahan tawanya.
"Idih, orang cuman bohongan aja dulu itu. Mana ada pernikahan beneran di sekolah. Itu cuman acara sekolah aja, Abang!" Bella tetap melangkah mendahului pria gagah itu.
Sambil menunggu mobil antar jemput bandara, Bella menatap jam tangan mungil di tangannya. Adam masih saja mengekor di belakang Bella lalu berhenti di sana juga.