Bella berjalan mendahului Adam yang masih berdiri. Gadis itu menarik pintu mobil lalu masuk ke dalam. Mobil jemputan itu pergi dan Adam masih menatap hingga tak terlihat lagi. Hanya senyuman lembut yang masih bersemi di bibir pria itu.
Tak lama, ponsel pria itu berdering. Lalu, Adam pun mengangkatnya. Begitu selesai, lantas pergi ke mobilnya sendiri. Mobil mewah berwarna putih itu melesat ke jalanan ramai pengendara. Pria itu tak sabar untuk sampai di tujuan selanjutnya.
["Iya, Ma. Bella masih di jalan. Sebentar lagi sampai."]
Setelah panggilan selesai, Bella memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. Gadis itu menyandarkan kepalanya dan teringat kembali dengan ucapan Reno yang sudah keterlaluan.
"Begitu cepat dia melupakanku. Aku sudah menyerahkan seluruh hatiku untuknya. Tapi, kenapa dia tega menghancurkan itu semua," gumam Bella sangat pelan.
Tak terasa kantuk telah membawanya hingga sampai ke depan rumah. Tiga kali sang sopir memanggil, Bella baru terbangun. "Mbak Bella."
"Iya, Pak. Maaf, ketiduran."
"Enggak apa-apa, Mbak. Saya maklumi, kok. Pasti capek." Pria paruh baya itu tersenyum.
"Makasih banyak ya, Pak. Saya masuk dulu." Bella melangkah masuk setelah mendapat jawaban dari sang sopir. Sampai di rumah, baru saja pagar besi itu ia buka, Bella melihat pemandangan yang berbeda.
Bella menatap ke atas dan ke samping kanan kiri. Ia melihat halaman rumah itu tampak lebih terang dari biasanya. Air mancur di tengah-tengah terlihat lampu mengelilingi. Kedua alis Bella terangkat, tetapi ia tak begitu mengindahkan.
Gagang pintu Bella sentuh, tak menyangka pintu dengan ukiran khas Jepara itu terbuka dengan sendirinya. Bella terkejut bukan main saat mereka semua yang ada di dalam tampak bersorak mengangetkannya.
"Happy birthday, Sayang." Sarah, wanita paruh baya itu membentangkan tangan.
"Happy birthday, Honey." Lalu, Sandy tersenyum sambil merangkul istrinya.
"Papa ... Mama ...." Bella tersedu-sedu dan segera memeluk mereka. Gadis berseragam pilot itu menumpahkan segala beban dalam d**a berupa air mata. Satu sisi ia tengah bersedih, satu sisi lagi ia terharu dengan kejutan dari kedua orang tuanya.
"Sayang, selamat atas pencapaian dan di usia yang sekarang kamu membuat kami bangga."
Bella menunduk. Tiba-tiba padam rona wajah gembiranya. "Maafkan Bella, Ma. Bella sudah buat kalian malu dan ...."
Sandy menggeleng kepalanya. "Tidak, Sayang. Kau sudah menjadi yang terbaik. Lanjutkan perjuanganmu. Buat kamu lebih bahagia lagi."
Bella tersenyum. "Bella janji, Ma, Pa. Bella akan membuat kalian lebih bahagia lagi."
"Happy birthday, Cil." Tawa menggema dari balik dinding. Sosok pria gagah dengan kaus oblong muncul membawa kue tart lengkap dengan lilin bertuliskan 23.
Bella tertawa melihat kakaknya berjalan mendekat dengan topi kerucut di kepalanya. Gadis itu terpingkal-pingkal lalu menepuk lengan kekar milik Andra.
"Jangan panggil aku bocil terus napa sih, Mas. Ah elah." Bella segera meniup lilin itu.
"Yeee." Andra tertawa.
"Makasih ya, semua. Mama, Papa, Mas Andra. Cuman kalian yang sayang sama aku." Bella tersenyum pada mereka.
"Siapa bilang yang sayang cuman kami saja," celetuk Mama Bella dengan senyuman misterius.
Seketika gelak tawa Bella terhenti. Satu persatu, Bella menatap mereka. Apakah akan ada kejutan lagi? Dalam hati Bella bertanya-tanya.
Dalam hitungan ketiga, Mama Bella mengarahkan tatapannya pada pintu masuk rumah itu. Semua orang menatap ke sana. Termasuk Bella yang sudah tak sabar.
Ada sosok yang datang dengan wajah tertutup oleh buket mawar. "Selamat ulang tahun, Bella." Muncul pria gagah dengan lengan kekar menjiplak pada kemeja putih. Adam mengulas senyuman sambil membawakan mawar merah.
"Hah!" Kedua mata Bella terbelalak, sementara kedua tangannya menutup mulut.
"Kejutaaaan." Serentak kedua orang tua dan kakak Bella berucap.
Adam mendekati Bella. Pria itu lantas menyerahkan buket mawar merahnya pada gadis itu. Dengan gugup, Bella menerimanya. Telapak tangan yang dingin tak sengaja tersentuh oleh jemari kekar Adam. Pria itu pun tersenyum manis tanpa batas.
***
"Jadi, Mama yang undang dia ke sini," lirih Bella di dekat telinga sang Mama. Gadis itu baru saja ganti pakaian, lalu turun ke lantai bawah bersama Mamanya.
"Siang tadi, kami ketemu sama kedua orang tuanya. Membicarakan bisnis Papa. Tapi, kita bahas nanti saja lah. Malam ini kita makan malam sama Adam."
Bella menghela napas panjang mendengar balasan dari Mamanya. Gadis itu tampak anggun dengan setelan gamis berwarna nude dengan jilbab senada. Mereka melangkah mendekati ruang makan yang sudah penuh dengan sajian spesial.
Tampak Sandy tengah mengobrol dengan Adam perihal bisnis. Bella duduk di sebelah kursi Mamanya. Berhadapan langsung dengan Adam yang selalu mengulas senyuman manis padanya. Satu tatapan elang itu mampu membuat Bella merasa malu.
"Adam, Tante dengar sekarang kamu kerja satu industri dengan Bella. Benar begitu? Baru aja kemarin rasanya pulang ke Indo sekarang sudah makin sukses saja." Sarah bertanya sambil menatap pria itu.
"Iya, Tante. Sebenarnya, Adam sudah lama kerja di penerbangan di Australia. Di sana sering ketemu Andra." Adam mulai menyendok makanan di atas piringnya.
"Kata Mama kamu, kamu pulang buat cari istri."
Adam tersedak tiba-tiba.
Andra tertawa saat Mamanya bertanya lagi. Semua orang menatapnya. "Iya, bener banget, Ma. Dia nanyain Bella terus di sana."
Seketika rona wajah Adam berubah merah seperti stroberi. Ia malu karena kenyataannya memang benar. Berbeda dengan Bella yang semakin kesal. Wajah cemberut dengan bibir mengkerut bagai kerucut itu tak ingin membalas tatapan Adam.
"Berarti cocok dong. Gimana kalau ...."
Belum sampai Sandy melanjutkan ucapannya, Bella langsung memotong. "Udahlah, ini jadi makan enggak sih. Ngobrolnya makin jauh aja."
"Bilang aja kalau malu," balas Andra sambil mengulurkan lidahnya pada Bella.
Obrolan hangat malam itu berakhir tepat pukul 11 malam. Kedua orang tua Bella masih duduk di ruang tamu, sementara Andra sibuk menerima telepon dari rumah sakit. Lalu, Bella mengikuti langkah Adam yang menuju ke luar karena ia akan pulang.
"Bel, aku pulang dulu ya." Adam membalik badan.
"Buruan pulang. Jangan balik lagi." Bella menyedekapkan kedua tangan di depan d**a.
Mereka kini sudah berada di luar pagar, tepatnya di dekat mobil pria itu. Mendengar ketusnya ucapan Bella, Adam tetap tersenyum.
"Jangan gitu dong. Nanti kalau enggak balik lagi, kamunya kangen."
"Jangan ge er!"
"Beneran. Habis ini pasti kamu bakalan ingat sama aku terus. Nanti malam, aku pasti datang di mimpi kamu."
"Udah-udah, sana masuk mobil. Terus pulang!" Bella mendorong tubuh Adam ke belakang.
Adam pun masih tetap tersenyum saja. Namun, detik selanjutnya pria itu memegangi dadanya bagian kiri. "Aduh, Bel." Adam meringis seperti kesakitan. "Bella, tolong."
"Jangan bercanda, Bang! Aku enggak suka."
"Beneran, aku enggak bohong." Tangan kiri Adam memegang pintu mobil, terlihat tubuhnya hampir terjatuh. Bella pun mendadak panik.
"Abang! Abang, kenapa?" Raut wajah Bella ketakutan. "Abang, sakit?"
"Coba kamu pegang di sini." Adam pun langsung meraih tangan lembut Bella dan meletakkannya pada d**a bagian kirinya. "Kerasa enggak?"
Adam menatap wajah yang terpantul cahaya rembulan itu dengan lekat. Batin Adam bergumam melihat betapa cantiknya gadis yang ada di hadapannya. Bella masih bingung.
"Cuman debaran jantungmu."
"Iya, itu yang bikin aku enggak bisa tidur." Bella mendelik. "Saat dekat denganmu. Jantungku ... debarannya kuat banget."
"Ih, Abang!" Sontak Bella pun langsung memukul d**a bidang milik pria itu. Namun, tangannya langsung dicekal oleh Adam.
"Tunggu aku datang melamarmu."
Bella mendadak menjadi patung. Ia terpaku dengan ucapan Adam. Pria itu langsung memasuki mobilnya. Jendela kaca mobil diturunkan, Adam melambai setelah mengucapkan salam. Bella masih di sana dengan tubuh meremang. Ia masih tak percaya dengan kenekatan Adam.
"Ternyata kamu enggak berubah," gumam Bella.