Pengakuan Rangga

1046 Words
Mobil itu tampak semakin sering bergoyang. Tatapan Bella tak lepas dari bagian kemudi yang buram. Langkah semakin mendekat, Bella menatap dengan jelas setelah jarak tinggal beberapa senti saja. Dua sejoli tampak tengah memadu kasih di dalam sana. Punggung berbalut kemeja putih itu tengah menikmati wajah gadis di hadapannya. Mereka tampak sama-sama tak bisa mengendalikan diri. Tubuh Bella meremang, bola matanya terdapat lingkaran bening yang kemudian tumpah membasahi pipi. Dua orang di dalam sana masih belum sadar kalau Bella dan dua sahabatnya menyaksikan adegan panas yang mereka lakukan sembunyi-sembunyi. "Bell, lu yang sabar. Kita pergi aja," bisik Mira. "Gile, mereka keterlaluan. Ini tidak bisa dibiarkan, Gais." Melani mengambil tindakan. Gadis bertubuh gendut itu lantas menendang mobil Rangga. "Woi, dasar laki-laki b***t lu, Ngga!" Sontak yang di dalam pun terkejut bukan main. Mereka kalang kabut bergegas membenahi pakaian masing-masing. Wajah Rangga sudah seperti maling tertangkap basah. Lelaki itu memukul kemudinya sendiri. "Woi, gila lu ya! m***m di tempat beginian!" Melani semakin terbakar emosi melihat tunangan sahabatnya sendiri berkhianat. "Tukang selingkuh!" "Keluar, Lo! Vina, dasar lu ya, penghianat! Teman makan teman, lu." Melani masih memaki dua orang di dalam mobil itu. Sementara Mira mencoba menenangkan Bella yang terpaku. Teriakan Melani mewakili isi hati Bella. Ingin sekali ia menonjok wajah tunangannya itu. Namun, hatinya sudah terlalu hancur lebur bersama angin malam. Tubuh Bella menyandar mobil Mira dan luruh ke bawah. "Bell, lu yang tenang. Masuk aja ke dalam mobil, yuk!" Mira membantu Bella berdiri lagi. Mereka hendak masuk ke dalam mobil, tetapi Rangga tiba-tiba turun dan mencegah. Pria itu melarang Bella pergi. "Tunggu! Tunggu sebentar, Bella." "Bel, dengerin aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu lihat." Rangga memohon. Ia hanya sendirian keluar dari mobil. Pria itu tak peduli tatkala Melani terus memaki Vina. Fokusnya saat ini hanyalah pada sang tunangan. "Bella, tunggu, Bel!" Rangga berhasil membuat langkah Bella terhenti. Lelaki itu mencengkeram kedua lengan Bella dan menatap gadis yang tampak putus asa itu. "Bella, please! Dengerin aku, ya." Seketika Bella menghempas tangan Rangga. Ia mendorong kuat d**a kekar yang tampak kancing kemejanya compang-camping itu. Makin lama, Bella semakin muak. Apalagi saat melihat bekas merah pada leher pria itu. Aroma parfum yang begitu kental menguar dari tubuh Rangga. Bella kenal betul siapa pemilik parfum itu. "Cukup, Ngga! Aku muak!" Bella membentak. "Bel, ini enggak seperti yang kamu kira! Please, Baby. I only love you. Sebentar lagi kita menikah, Sayang." Rangga terus saja meyakinkan Bella. Namun, nasi telah menjadi bubur. Kepercayaan Bella sudah pupus. Gadis itu tampak sudah sangat kecewa dan sakit hati. Tak pernah ia menyangka akan dihianati dua orang yang sangat dekat dengannya. "Aku mau batalkan pertunangan ini. Terima ini, Ngga." Dadanya terasa semakin perih seperti dialiri cairan cuka. Bella mengembalikan cincin dari Rangga. Gadis itu melemparkan benda mengkilay itu dan mengenai d**a bidang itu. Rangga terpaku dengan tatapan yang sudah berbeda. Lelaki itu sudah tak meminta belas kasihan lagi. Namun, kini ia bersiap untuk meluapkan segala emosinya. Semua yang ia pendam selama ini. "Terserah! Terserah jika kamu maunya begitu. Lagi pula, tujuanku juga sudah tercapai." Bella mengerutkan keningnya saat mendengar pengakuan Rangga. Mereka semua yang ada di sana terdiam tanpa kata. Bella menghentikan langkahnya ketika ia sudah melewati Rangga. "Apa maksud kamu, Ngga?" lirih Bella. Rangga menyeringai. "Aku memang sengaja ingin membuatmu hancur, Bella. Sebenarnya, tujuanku bertunangan denganmu adalah karena ... ingin membalas dendam pada kedua orang tuamu. Mereka sudah menghinaku!" Bella ternganga. Begitu pula dengan kedua sahabatnya yang kini mendampinginya. "Apa? Kamu ...." Bella membalik badan. "Iya. Aku memang sengaja karena mereka telah menghinaku. Mereka menginginkan seorang menantu yang kaya! Sementara dulu ... aku hanya seorang pengangguran yang ke sana sini mencari pekerjaan. Mereka menganggapku miskin!" Bella menggeleng kepalanya. "Kamu salah paham, Rangga! Orang tuaku enggak seperti itu. Mereka ...." "Halah! Diam kamu, Bella. Sekarang, tanggung sendiri akibatnya. Jangan lagi menemuiku. Nikah saja sama pilihan kedua orang tuamu. Aku sudah cukup puas setelah membuatmu bodoh selama ini. Aku menjalin cinta dengan Vina sudah lama. Bahkan kamu tak sadar akan hal itu. Salah kamu sendiri mengenalkan aku dengan dia. Dia jauh lebih cantik dan segelanya. Tidak sepertimu yang sok suci!" Lelaki arogan itu meludah ke kiri. Seolah menghina Bella. "Kamu jahat, Rangga!" Bella mendekat dan memukul keras tubuh Rangga. Namun, pria itu hanya tertawa puas. "Sampai kapan pun, semoga kamu tidak akan pernah menemukan lelaki yang benar-benar tulus mencintaimu!" Bella berlari menjauh dari mereka semua. Meski diteriaki oleh dua sahabatnya, gadis itu tetap berlari dan tak mengindahkan. Bella berlari tanpa berhenti menerabas malam. Suara klakson memekik telinga pun tak ia hiraukan. *** Bella masih berjalan, tak peduli ketika hujan mulai mengguyur seluruh tubuhnya. Malam itu, dingin menusuk hingga ke tulang. Sang gadis pun menggigil sambil mengusap kedua lengan. Dari ujung jalan, sorot lampu membuatnya berpaling. Mobil putih itu berhenti tepat di depan Bella. Tak lama, lampu padam dan salah seorang pria turun dari sana. Bella tak bisa menatap jelas pria itu. Hanya tampak postur tinggi tegap melebihi Rangga. "Bella ...." Lelaki itu menyebut nama sang gadis. Bella yang tak begitu jelas menatap pun, hanya bisa menyipitkan mata sambil terus mengusap wajah yang basah. Pria itu segera melepas jas hitamnya dan memayungkan pada Bella. "Ayo, masuk!" "Kamu ...." Bella tak sempat berkata panjang. Ia masih bingung, tetapi tak dapat menolak ajakan pria itu. Mereka kini sudah berada di dalam mobil. Lalu, kendaraan besi itu menerjang derasnya hujan. Sesaat tak ada percakapan, Bella tampak menunduk tak berani menoleh. "Kamu ngapain hujan-hujanan?" tanya pria itu. "Enggak apa-apa," jawab Bella dengan jantung berdebar kencang. "Rumah kamu masih sama? Aku antar pulang, ya." Pria itu sesekali menoleh. "Hem." Bella meremas tangannya sendiri. Gadis itu tak berani menjawab lebih, ia masih tak menyangka akan bertemu pria yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia jumpai lagi itu. Ketika mobil berhenti di depan rumah, Bella langsung melepas sabuk pengaman. "Makasih, sudah diantar. Maaf, sudah membasahi mobilmu." Bella tetap menunduk. Tak berani ia menatap sang pemilik wajah tampan. "Oke. Aku pikir kamu lupa denganku. Besok aku boleh ke rumah kamu?" Pria berdarah Indo-Maroko itu menyunggingkan senyuman. Membuat Bella semakin gemetaran. "Jangan! Aku masuk dulu." Bella langsung berlari ke dalam rumah setelah melewati pagar besi yang menjulang tinggi. Namun, pria itu masih saja di sana. Dia mengingat kembali kenangan yang pernah terjadi di antara mereka. Senyum manis dari bibir semu kemerahan pun tampak nyata. Pria itu lantas pergi dari sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD