Kejutan

1385 Words
Pagi itu, Bella baru saja berpamitan pada kedua orang tuanya untuk berangkat ke bandara. Gadis dengan koper sedang yang digeret itu mengucap salam lalu melewati pintu utama. Namun, ia melihat Rangga sudah berdiri di depan gerbang sambil menyandar pintu besi. "Hai, Bel. Kamu udah siap?" tanya pria dengan jas hitam itu. "Udah, Mas." Bella menunduk. Ia tak berani mengungkap hal semalam. "Oke. Kita berangkat sekarang, ya." Rangga berjalan mendahului Bella. Namun, Bella masih melamun. Rangga pun segera memanggil Bella lagi agar bergegas mengikutinya. Sampai di dekat mobil, Bella terkejut ketika melihat Vina ada di dalam, bersebelahan dengan Rangga yang siap mengemudi mobilnya. "Ada Vina?" lirih Bella. "Iya. Kenapa?" Rangga balik bertanya. "Kamu di belakang enggak apa-apa, kan?" Bella berusaha menahan dirinya. Ia tak ingin terjadi perdebatan di pagi ini. Setelah tubuh Bella masuk dengan sempurna, mobil melaju dengan kencang membelah jalanan beraspal. Dari spion dalam, Bella melirik Vina yang tengah mengusap wajahnya dengan tisu. Hidung merah, mata sembab, tampak jelas duka masih menyelimuti. Namun, Bella tak berniat untuk membuka percakapan. "Bel, kamu tau kalau orang tua Vina meninggal dalam kecelakaan?" Rangga bertanya. "Iya, Mas. Aku tau." Beralih pada Vina, Bella melanjutkan, "Turut bela sungkawa ya, Vin." "Iya, Bel. makasih banyak. Kalau kedua orang tuaku ada salah, tolong maafin, Bel." Vina masih sesenggukan meski ia sudah siap dengan seragam pramugari. "Kamu tau dari siapa, Bel?" Tiba-tiba Rangga kembali bertanya. Ia masih terfokus pada kemudi, tetapi rasa penasaran pun membuatnya tak dapat menahan tanya. "Aku kebetulan lewat depan rumah Vina saat itu." Sampai di parkiran, mobil berhenti dan Rangga segera membuka seat belt. Lagi-lagi, Bella diberi kejutan oleh mereka. Rangga membantu Vina melepas sabuk pengaman. Sejauh mengenal Rangga, tak pernah Bella mendapat perhatian seperti itu. "Maaf, aku duluan. Makasih, Mas Rangga, sudah dijemput tadi. Vin, aku duluan." Langkah Bella tak dapat dihentikan meski Rangga memanggil dengan kencang. Sambil mengusap wajahnya yang sudah basah, Bella berlari menuju ruangan pemeriksaan sebelum terbang. Bella berlari dan langsung memeluk sahabatnya, Mira. Yang sudah lebih dulu di sana. Semua orang menatap, Mira membawa Bella ke ruangan lebih dalam. "Ada apa, Bel? Malu tuh, diliatin semua orang." Mira membantu mengusap wajah Bella. "Gue kayakanya udah enggak tahan lagi sama kelakuan mereka berdua, Mir. Mereka mesra-mesraan di depan mata gue." "Siapa maksud lu? Si Rangga sama Vina? Gile memang mereka ya. Liat aja nanti, mereka pasti dapat balasannya sendiri." Mira menghela napas panjang. "Lu udah enggak usah sedih lagi, Bel. Tenang. Ada gue sama Melani." Hari itu, Bella sengaja menghindar jika berpapasan dengan Rangga. Mereka bekerja di satu maskapai. Bella yang kini berada di bagian flight deck tampak tak acuh saat Rangga menengoknya. Semua teman-teman mereka sudah tahu kalau Bella dan Rangga akan segera melangsungkan pernikahan. Namun, kasak-kusuk berita miring tak sampai di telinga Bella. Tak ada yang berani memberitahu Bella, siapa sebenarnya sosok yang selama ini selalu ia puja. Karena pesawat belum take off, Bella ingin ke toilet sebentar setelah berpamitan pada rekan terbang di sebelahnya. Ia berjalan melewat deretan penumpang yang sudah siap dengan sabuk pengaman. Bella membuka korden kecil berwarna merah, pembatas antara bagian penumpang dan tempat pramugari menyiapkan keperluan. Di sana, Bella melihat Rangga tengah menata sesuatu. Bella lantas melewatinya tanpa bertegur sapa. Setelah selesai dari toilet, hendak kembali, Rangga mencekal tangan Bella. Gadis itu pun tersentak dan ingin segera melepaskan. "Bel, kenapa kamu selalu menghindar?" Tatapan elang menembus ulu hati, Rangga tak mau melepaskan. "Kamu masih pengen tau kenapa, Mas? Tanya aja sama diri kamu sendiri." Berhubung ada seseorang yang ingin lewat, Bella mengambil kesempatan itu. Bella segera kembali ke bagian kokpit. Tak lama, pesawat siap untuk berangkat mengudara. Di dalam pesawat itu, Rangga tampak kurang konsentrasi. Ia lebih sering melamun. Sampai ditegur pramugara yang lain, Rangga tersadar lalu kembali pada pekerjaannya. Begitu pesawat kembali ke Jakarta, dan para penumpang telah bergiliran turun dengan selamat, Rangga langsung menyalakan ponselnya. Tampak banyak panggilan di sana. Pria itu bergegas menyelesaikan sisa pekerjaannya setelah itu baru turun. Para penumpang dan kru yang bertugas melewati sebuah jembatan menuju bandara. Rangga tampak menoleh kanan kiri. Memastikan di mana sosok yang ia cari. Setelah melihat seorang gadis, ia segera menunjuk ke sebuah arah dengan dagunya agar gadis tersebut lebih dulu berjalan. Pria itu tak tahu kalau di belakang sana, Bella melihat mereka. Ada rasa seperti diremukkan di dalam d**a. Bella diam-diam mengikuti Rangga bersama Mira saja. "Bel, lu yakin mereka ada sesuatu?" bisik Mira sambil melangkah. "Ikuti aja, Mir. Aku juga enggak tau pasti. Yang jelas, aku sudah enggak kuat lagi terus di posisi seperti ini." Air mata hampir tumpah, Bella menahan diri. Rangga telah membelok ke tempat yang jarang orang lewati. Setelah tak terlihat lagi, Bella langsung berlari. Gadis itu rasanya ingin mencabik-cabik wajah Rangga jika benar dia ada hubungan spesial dengan Vina. Begitu sampai di balik dinding, tak tampak sesuatu pun. Mira ikut bingung karena di sana seperti mengarah ke gudang. Sepi tak ada orang. Bella menatap ke segala arah, tetapi tak juga menemukan Rangga. "Happy birthday, Sayang!" Tiba-tiba Rangga muncul dari tempat yang tidak pernah disangka-sangka. Rangga membuat Bella ternganga karena lelaki tampan itu membawa buket bunga mewah sementara Vina dengan kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya. Bella menutup mulutnya. Lalu, Rangga mendekat dan memberikan pelukan. Lelaki itu membisikkan kata-kata yang membuat semua wanita bertekuk lutut. "Love you, Honey. Aku harap kamu suka dengan kejutan ini." Bella terisak. Ia tak menyangka akan mendapat kejutan di luar dugaan. Dalam hatinya berkata, semua yang ia duga selama ini ternyata salah. "Selama ulang tahun, Bella. Maaf ya, aku sama Rangga enggak bermaksud apa-apa." Vina membentangkan satu tangannya lalu memeluk Bella. Bella tampak kaku awalnya. Namun, semakin waktu berjalan, gadis itu tersenyum pada Vina. Mira di belakang mereka tampak lega juga melihat mereka yang ternyata diam-diam merencakan kejutan untuk Bella. Setelah lilin ditiup, Rangga memeluk Bella sekali lagi. Akan tetapi, Vina malah menunduk. Ia tak ingin melihat pemandangan itu. "Makasih banyak, Mas. Aku ... enggak tau harus bilang apa lagi." Bella berjalan beriringan dengan Rangga menuju tangga ringan yang tertuju lobi keluar. Sementara itu, Vina dan Mira tampak di belakang mereka. "Iya, sama-sama. Oh ya, aku enggak bisa antar kamu pulang. Kamu sama sopir bandara aja, ya." "Aku sama Mira aja. Sekalian mau jemput Melani yang udah duluan. Dia mampir di supermarket dekat sini katanya." "Oh gitu. Ya udah, kamu hati-hati, ya. Love you." Rangga mengusap pipi Bella dengan lembut. Membuat Bella semakin luluh. Kalimat terakhir dari lelaki dengan postur tubuh tinggi tegap itu mampu merobohkan dinding kecemburuan yang sempat terbangun. Kini, Bella tak lagi curiga melihat Rangga masuk ke dalam mobil bersama Vina. "Eh, lu yakin mereka enggak ada apa-apa? Mereka berdua aja loh, Bel." "Udah, Mir. Yakin aja, enggak ada hubungan apa-apa antara mereka. Yuk, kita jemput Melani." Dua gadis itu masuk ke dalam mobil pribadi milik Mira. Jingga melintang di langit Jakarta dengan sebagian sinarnya tertutup awan, mobil akhirnya sampai tempat tujuan. Setelah mereka bertemu Melani, dan gadis itu masuk ke dalam, mobil kembali meluncur di jalanan. Panjang lebar mereka bercerita. Bella yang saat ini tampak paling bahagia. Apalagi, buket mawar merah ada di dekatnya. Terbayang wajah tampan Rangga saat melihatnya. "Gais, kita makan dulu gimana? Mumpung hari ini pulang agak sore," ucap Mira sambil mengemudi. "Boleh tuh, itung-itung merayakan ultahnya si Bella. Lu gimana, Bel? Enggak keberatan, kan? Lagian, lu di rumah sendirian kan? Katanya kedua orang tua lu dinas di luar kota." "Iya sih, Mel. Tapi ...." "Alah, kita pulangnya enggak bakal malem, kok." Melani menaikkan dua alisnya sambil tersenyum. "Ya udah." Setelah Bella menyetujui, Mira membawa mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Mereka masuk ke lantai khusus parkir mobil. Mobil Mira melewati jejeran mobil-mobil mewah di sana. "Eh, Gais. Stop deh!" ucap Melani dengan cepat sambil memukul jok yang diduduki Mira. "Ada apaan?" tanya Mira penasaran. "Kayaknya gue tadi liat mobilnya Rangga deh. Coba mundur lagi." Bella hanya diam dengan tatapan bingung. Karena ia di bagian jok belakang, tak melihat apa pun. Ketika nama calon suaminya disebut, Bella pun langsung tak tenang. Kanan kiri dilihatnya dan benar saja. Sebuah mobil menghadap ke tembok. Kebetulan di sebelah mobil yang diduga milik Rangga itu tampak kosong. Mira pun segera mengambil tempat di sana. Ada yang aneh dengan mobil itu, Bella turun dengan sendirinya. Ia menutup pintu tanpa suara. Lalu, langkahnya mendekat bersama debaran jantung yang tak bisa atur. Kedua mata gadis itu menyipit. Memastikan apakah di dalam sana ada orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD