Lima

453 Words
"Kenapa Rin? Kamu kenal nama itu?" Tanyaku ketika melihat respon Arina yang tampak terkejut.  "E, enggak mas. Aku nggak kenal."jawabnya namun penuh keraguan. "Lalu apa maksudmu sampai kamu istigfar gitu." Tanyaku curiga.  "Oh, eh, i..ini mas tiba-tiba gigiku ngilu sekali ja..jadi aku refleks gitu aja." Jawabnya gugup.  Bapak, Mbak Asya dan sekarang Arina, ada yang aneh dengan tingkah mereka saat nama itu di sebut. Ada apa?  "Mas, ini sudah jam setengah 9. Mas Agung nggak ngajar?" Ucapan Arina mengalihkan pikiranku. Baiklah aku sepertinya harus menunda menanyakan tentang Aya itu pada mereka. Bergegas aku membersihkan diri dan bersiap berangkat mengajar.  Aku dan Andi sedang menikmati semangkuk soto ayam di kantin sekolah setelah menunaikan sholat. Masih ada satu kelas setelah ini, dan aku harus mengisi tenaga terlebih dahulu.  "Ibu sudah sadar." Kataku sambil menelan sesendok nasi yang tersisa.  "Alhamdulillah, aku ikut senang dengarnya. Tapi kenapa wajahmu masih murung Gung."  "Ini aneh Ndi. Kamu tahu kalimat apa yang pertama di ucapkan ibu ketika sadar?" Andi menggeleng, matanya menatapku tajam.  "Aya. Aya. Aya" hanya kata itu, berkali - kali. Lagi, ku lihat ekspresi terkejut. Kali ini dari Andi.  "Kamu apa kenal nama itu. Tolong jawab jujur! Aku tahu kamu kaget waktu aku nyebutin nama itu. Dan kamu orang ke empat dengan ekspresi yang sama. Anehnya nama itu sama dengan gadis yang sering datang di mimpiku." Andi terlihat kikuk, dia menggaruk kepalanya dengan enggan.  "Ja.. jadi mimpi yang sering menghantuimu itu tentang gadis bernama Aya?" "Ya."  "Ya allah, , " suara Andi terdengar frustrasi.  "Kamu gak tahu siapa gadis di mimpi kamu itu? Kamu nggak merasa kenal?" Cecarnya.  "Aku nggak tahu Ndi, yang ku lihat gadis itu masih SMA, tatapan matanya kadang bahagia, kadang sedih tapi lebih sering dia menatapku penuh kecewa." Aku dan Andi sama menghela napas berat.  "Ndi, apa aku pernah berbuat salah di masa lalu? Apa ada yang kamu ketahui tentangku dan aku tak tahu apa itu? Tolong, jika kamu tahu tentang orang yang bernama Aya itu, aku mohon ceritakan pada ku. Entah kenapa aku merasa Aya di mimpiku dengan Aya yang keluar dari bibir Ibuku adalah orang yang sama."  "Maaf gung, lebih baik kamu tanyakan langsung pada keluargamu." Andi yang sudah menyelesaikan makan siangnya berdiri dan gegas meninggalkanku.  Datang ke Rumah Sakit menjadi pilihanku setelah selesai memgajar. Aku harus segera menyelesaikan rasa penasaranku. Dengan sedikit terburu aku berjalan di koridor Rumah Sakit dan tanpa sengaja menyenggol seseorang.  "Maaf, maaf." Ku lihat seorang perempuan sedang berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh akibat ku sengol. Segera ku bantu dengan menarik tangannya.  "Lho, Pak Agung." Aku cukup terkejut karena ternyata perempuan ini mengenalku. "I..Iya. Anda kenal saya?" "Saya Ellya Pak. Ellya Diandra temannya Aya."  "Aa..Aya." "Iya Pak saya temannya Cahaya dulu kami murid Bapak. SMA 1 Pak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD