bc

CAHAYA

book_age18+
13
FOLLOW
1K
READ
teacherxstudent
goodgirl
independent
drama
no-couple
small town
teacher
like
intro-logo
Blurb

Sebuah musibah membuka rahasia di masa lalu. Agung Wicaksana harus mencari tahu siapa sosok Aya yang di sebut sang Ibu ketika pertama kali sadar dari pingsannya. Apakah rahasia yang tersembunyi itu?

chap-preview
Free preview
Satu
"Saya suka kamu Aya? Apa .. Apa kamu mau jadi pacar saya?" wajah gadis itu merona, cantik. Bahkan jingga warna senja kalah dengan merah rona wajahnya yang sederhana. Sedetik kemudin senyum paling indah disore itu tersunging dari bibir tipisnya. Anggukan kepalanya yang pelan cukup menjadi jawaban atas gundah hatiku beberapa bulan berselang.  Ku beranikan menyentuh tanggannya dan mengengamnya. Lagi, bibir nya menyungingkan sebuah senyuman yang ku balas dengan senyum juga. Ah, sungguh ku ingin waktu berhenti barang sejenak untuk merekam momen ini.  Namun tiba-tiba gadis itu melepaskan gengaman tanganku, raut wajahnya lantas berubah muram, perlahan kakinya melangkah menjauh.  "Aya.. Aya.. Cahaya.. ! semakin dia mempercepat langkahnya. Entah kenapa tak bisa ku gerakkan kakiku untuk mengejarnya, Hanya sekali dia menoleh dan bisa kulihat butiran bening air mata membasahi wajah cantiknya. Mengiris hatiku.  "Aya.. Aya.. Cahaya!" "Gung.. Gung... Agung!" tepukkan keras membuatku terbangun dari mimpi yng sering kali datang. Mimpi yang selalu sama, berulang.  Ku usap wajahku dengan kasar, dengan cepat kuraih gelas yang disodorkan kepadaku. Segera ku minum habis, berharap bayangan muram gadis itu ikut larut seperti air yang mulai mengaliri tenggorokanku yang kering.  "Kenapa? Mimpi lagi?" aku menggangguk lemah.  "Haahh... Mungkin alam bawah sadarmu merindukkannya. Atau mungkin kamu tadi tidak berdoa dulu sebelum tidur jadi mimpi itu datang lagi." aku mendengus kesal. Aku bukan bocah usia 4 tahun yang harus diingatkan untuk berdoa dulu sebelum tidur.  "Mau berbagi cerita" tawarnya sambil menerima uluran gelas dariku. Kugelengkan kepalaku. Dia paham dan tersenyum.  "Oke, berarti tandanya kamu bisa mengatasinya sendiri. Kalau gitu aku pulang dulu. Kalau butuh bantuan kamu punya nomorku bukan? Setelah selesai memasukkan berkas-berkas pentingnya, pria itu berajalan keluar ruangan meninggalkanku sendirian.  Menyandarkan tubuh yang lelah ke sofa adalah pilihan terbaik, berusaha memejamkan mata lagi. Namun sialnya bayangan gadis itu kembali lagi mengisi otakku.  Belum hilang rasa lelah akibat mimpi barusan ponsel di meja kerjaku berbunyi cukup nyaring untuk menandakan ada panggilan masuk. Tanpa menunggu lama segera ku angkat -panggilan itu. Ibu! "Ini Bapak Gung." Belum sempat aku mengucap salam suara berat pria itu sudah menyapaku duluan. "Bisa pulang sekarang! Ibu mu tiba-tiba pingsan." Nada cemas sungguh kelihatan dari suaranya yang bergetar. "Pingsan Pak? Bagaimana bisa? " tanyaku tak kalah khawatir.  "Bapak juga gak tahu. Kamu pulang dulu sekarang. Bapak tunggu!" Tak perlu di perintah dua kali otakku segera membimbing tubuh untuk mengemasi barang-barangku dan melaju meninggalkan kantor dengan secepatnya.  Selama ini Ibu tak pernah pingsan, ini pertama kalinya. Beliau juga orang yang sangat tertib dengan apa yang di makannya. Lantas bagaimana bisa dia bisa pingsan dengan mendadak. Aku hampir lupa apa yang tidak mungkin di dunia ini. Segala ketidak mungkinan adalah sebuah kemungkinan juga bukan.  Jarak kantor dan rumh yang hanya 30 menit dengn jalanan yang tak begitu ramai mempermudah mobilku melaju dengan cepat.  "Gimana kondisi Ibu Pak?"tanyaku begitu memasuki rumah kelurga kami. Tak lupa aku mencium takzim tangan yang terulur itu. "Masih belum sadar. Ibumu ada di kamar." jawabnya. Raut cemas terlihat di wajahnya yang mendung. Memasuki kamar Ibu kulihat Mbak Asya kakakku sudah ada disana dan sedang membaluri kaki Ibu dengan minyak kayu putih. "Ibu kenapa Mbak?" ku salami kakakku itu sambil menanyakan keadaan ibu. "Mbak juga kurang tahu Gung, tadi kata Bapak Ibu sedang di kamar mandi saat di temukan pingsan sama Bapak." Jelas Mbak Asya "Ibu gak bilang juga kalau pusing atau gak enak badan. Wong tadi kata Bapak juga masak kayak biasanya."  "Apa enggak kita bawa ke Rumah Sakit saja ta Mbak? "  "Tadi Mbak sudsh telepon Om Indra, mungkin bentar lagi beliau datang."  Ku pandangi wajah tua itu, mengambil duduk di sisinya sambil sesekali mengusap dahinya, berharap beliau segera sadar dari pingsannya. Tak berapa lama Bapak datang dengan Om Indra. Mbak Asya dan aku segera minggir untuk memudahkan om Indra memeriksa Ibu. "Mbak Min harus di bawa ke Rumah Sakit Mas!" terang Om Indra yang juga merupakan adik dari Ibu ku.  "Memang Mbakmu kenapa dik?"  "Iya Om , Ibu kenapa? Mbak Asya yang cemas juga bersuara "Dari gejalanya Ibu mu mengalami stroke As."  "Astagfirulloh hal adzim..."  "Tapi Ibu nggak ngeluh apa-apa Om. Bagimana bisa Ibu terkena stroke?"Mbak Asya tak bisa menahan rasa kaget dan sedihnya. Air matanya sudah menetes dengan deras. Bapak dan Aku juga sama kagetnya hanya saja kami masih bisa menahan diri. Segera Bapak merangkul anak sulungnya itu dan menenangkannya. "Sudah! Sudah! Gak perlu menanggis. Gak ada yang ndak mungkin kalau Gusti Allah sudah berkehendak. Sekarang kamu bantu Bapak berkemas. Kita harus segera bawa Ibu mu ke Rumah Sakit.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Takdir Cinta

read
506.9K
bc

The Lost Love

read
528.7K
bc

Bukan Cinta Pertama

read
60.7K
bc

No Escape, Honey (BAHASA INDONESIA)

read
19.4K
bc

HYPER!

read
641.3K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

FINDING THE ONE

read
36.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook