Di sinilah kami sekarang berada. Rumah Sakit. Setelah Bapak dan Mbak Asya selesai berkemas, kami dengan dibantu Om Indra segera membawa Ibu kesini. Ibu masih belum juga sadar, dan beberapa peralatan medis sudah terpasang di tubuhnya. Dokter juga sudah melakukan tindakan, dan sekarang tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menunggu.
"Kamu nggak pulang dulu Gung? " tanya Mbak Asya sambil menyodorkan kopi yng di belinya di kantin Rumah Sakit. Kopi. Jujur aku bukan peminum kopi tapi untuk saat ini aku rasa kopi cukup baik untuk menguragi rasa cemas.
"Aku nunggu Ibu sadar dulu Mbak? Nggak tenang ninggalin Ibu dengan kondisi yang seperti ini." ujarku sambil menyesap cairan kopi berwarna coklat itu. Manis walaupun ada rasa pahit setelahnya.
"Tapi disini masih ada Bapak dan Mbak Gung, sebaiknya kamu pulang mandi nanti baru kesini lagi. Lagian kamu apa sudah mengabari orang rumah? tannyanya lagi. Dan aku hanya bisa mengelengkan kepalaku.
"Habiskan kopimu dan terus pulang. Kalau ada apa-apa nanti Mbak pasti kabari kamu. Tidak berusaha membantah kakakku, segera ku habiskan kopi yang masih separuh itu.
Setelah Sholat Ashar dan melihat kondisi Ibu aku pamit pulang ke Bapak dan Mbak Asya. Matahari mulai tergelincir dari tempatnya ketika mobilku meninggalkan parkiran Rumah Sakit. Hari yang cukup melelahkan dan menguras tenaga.
Adzan Magrib berkumandang saat mobilku memasuki halaman rumah.
"Baru pulang Mas? Ada rapat kok sampai Magrib?" Perempuan berambut sebahu yang baru saja menyalamiku itu mulai melontarkan pertanyaannya.
"Aku dari rumah sakit Rin. Ibu di rawat."
"Ya Allah, , " raut terkejut dan tak yakin menghiasai wajahnya.
"Ibu sakit apa mas?"
"Stroke." Jawabku yang diikuti wajah pias nya. Ku taruh tubuhku di sofa ruang tamu, seraya melepas sepatu dan kaos kaki.
"Kenapa mas nggak ngabari aku?"
"Aku sendiri juga kaget Rin pas Bapak telepon ngabarin kalau Ibu tiba-tiba pingsan. Jadi maaf aku gak kepikiran buat hubungi kamu." Jelasku.
"Maaf mas." Katanya kemudian
"Nggak apa-apa. Aku tahu kamu juga pasti khawatir."
"Sekarang kondisi Ibu gimana mas?"
Menghela napas berat, ku sandarkan kepalaku pada pinggiran sofa.
"Ibu belum sadar Rin." Arina menutup mulutnya dengan ujung tangannya. Matanya tampak berkaca-kaca. Ibu sangat dekat dengan dia. Wajar jika dia kaget dan terluka.
" Aku mau mandi dulu Rin. Nanti sehabis Isya kita kesana." Tak perlu menunggu jawabannya, aku segera melangkah ke belakang.
Jam setegah tujuh kami berangkat ke Rumah Sakit, sebelum berangkat tadi aku sempat menanyakan kondisi Ibu pada Mbak Asya dan tetap belum ada perkembangan apapun dari Ibu.
Arina segera memeluk Mbak Asya begitu sampai di Rumah Sakit. Tampak Mbak Asya menepuk-nepuk bahu Arina dan menguatkannya. Bapak tidak berada di kamar ini, kata Mbak Asya tadi Bapak pamit mau ke mushola.
" Mbak udah telepon Mas Syarif?" Tanyaku pada kakakku yang sedang mengunyah nasi yang tadi di bawakan Rina.
"Udah." Jawab singkat.
"Mbak gak pulang aja sama Rina. Biar aku sama Bapak yang ganti jagain Ibu." Pintaku kemudian.
" Ndak usah Gung, tadi mbak udah ijin Mas Syarif kok. Kamu saja yang baiknya pulang. Besok kamu juga Rina kan kerja."
"Lagian juga belum ada perkembangan apa-apa."
Mbak Asya segera menyelesaikan suapannya. Berdiri dan mencuci sendok yang tadi dipakai di wastafel.
"Nanti kalau jam berkunjung sudah habis, kalian segera pulang. Mbak pasti telepon kalau ada perkembangan baru tentang Ibu."
Arina hendak membantah putusan Mbak Asya, tapi saat melihatku mengelengkan kepala niat itu diurungkannya. Kami tahu saat Mbak Asya sudah memutuskan sesuai sangat tidak mungkin merubah putusan itu. Jadi percuma mendebatnya.
"Kalian sudah dari tadi?" Tanya Bapak yang muncul dari balik pintu, kami segera memyalaminya.
"Baru setegah jam Pak. Bapak sudah makan?"
"Belum. Bapak nggak lapar. Tadi barusan ngopi."
"Kok ngopi lagi Pak" protes Mbak Asya, tangannya mengambikan nasi yang masih ada di meja, memberikannya pada Bapak.
"Makan dulu ya Pak, kita lagi jaga orang sakit. Jadi jangan sampai kita juga ikutan sakit."
Bapak hanya mengeleng sambil tersenyum. Tak bisa mendebat putrinya. Membuka bungkusan nasi dan mulai memakannya.
Kami masih sempat bertemu dengan dokter jaga yang memeriksa Ibu, sebelum Bapak menyuruh untuk segera pulang karena takut sudah malam. Dan dengan berat hati aku dan Arina menurutinya.