07. Selamat Ulang Tahun.

1176 Words
***** "Ini ... ini apa?" "Selamat ulang tahun. Maaf terlambat, semoga kamu suka!" Xena tersenyum melihat apa yang ada di depannya. Wanita itu menoleh dan menatap suaminya yang sudah menarik kursi agar dirinya bisa duduk. Xena yang masih bingung langsung duduk di kursi yang sudah di siapkan. "Aku suka ..." "Baguslah kalau kamu suka." Xena penasaran, bagaimana mungkin Rion tiba-tiba bisa berpikir untuk membuat acara makan siang dengan tema romantis seperti ini, dan dalam waktu sesingkat ini. "Xena ... aku sudah bilang sebelumnya, dan mungkin kamu masih belum percaya. Akan tetapi, aku ingin memulai kembali semuanya dari awal, mungkin terlambat aku mengatakan ini, tapi aku juga tidak ingin mengakhiri pernikahan ini. Aku ingin, kita mulai dari awal semuanya. Apa kamu bersedia?" "Apa, kamu yakin?" Tentu saja Xena sedikit ragu, bagaimanapun, selama sebulan lebih, dirinya terus tersiksa hidup bersama pria di depannya ini, dan bisakah dia memulai kembali semuanya. Walaupun ada sedikit harapan tentang hubungan keduanya, Xena tetap ragu, tidak ada jaminan bahwa Rion tidak akan bertindak kasar lagi kepadanya. "Aku yakin. Maaf selama ini sudah salah paham terhadapmu, aku tau mungkin kamu membeciku, tapi ... aku mengatakan ini bukan hanya karena merasa bersalah, tapi aku memang benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita. Apa kamu mau melakukannya bersamaku?" Xena tersenyum kecil, lalu mengangguk dengan pelan. "Aku mau ..." Rion mengangguk dia merasa ini awal yang baik untuk hubungan keduanya. "Tapi, bagaimana dengan ..." Rion menatap Xena bingung. "Apa?" "Dengan keluargamu, dan juga ... Leah!" Rion langsung bad mood mendengar nama mantan tunangannya di sebut-sebut. "Don't talk about other people when we're together." Xena terkejut mendengar nada tak suka dari suaminya. "Maaf, aku tidak ... bermaksud!" Suasana yang awalnya hangat kini menjadi canggung. Xena hanya bisa menghela napasnya pelan, wanita cantik itu memulai memakan makanannya. Namun, dia merasa tidak nyaman saat beberapa sendok makanan sudah masuk ke perutnya. "Besok, kita pergi ke rumah orang tuaku!" Xena menoleh, meletakkan garpu dan pisau ke atas piring, "ada apa?" Wanita cantik itu membekap mulutnya sendiri lalu, berlari mencari toilet terdekat, dan untunglah dia bisa menemukannya. Rion menatapnya bingung. "Apa tidak enak?" Pria itu berdiri dari duduknya dan menyusul sang istri yang sudah keluar dari kamar mandi. "Apa kamu baik-baik saja?" Xena mengangguk pelan, lalu tiba-tiba dia menghirup aroma yang membuat rasa mual dalam dirinya berkurang. "Mana mungkin?" Xena menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ada apa?" "Aku tadi merasa sangat mual!" "Kenapa?" "Tidak tau ..." "Kita ke rumah sakit saja!" "Tidak perlu. Sekarang sudah tidak mual lagi!" "Kau yakin?" Xena mengangguk pelan, lalu menatap Rion dengan ragu. "Iya." Rion mengangguk, lalu memilih untuk mengakhiri makan siang mereka. Lagi pula, tampaknya Xena sudah tidak ingin makan lagi. Rion sebenarnya jarang mengendarai kendaraannya sendiri, Ernon yang selalu membawanya, kecuali jika Rion meminta Ernon untuk melakukan tugas lain. Seperti sekarang, jadi Rion akan membawa kendaraannya sendiri. "Kita mau kemana?" Pria itu menoleh, Xena tengah menatapnya dengan bingung. "Mencari dokter!" "Dokter? Untuk apa?" "Untukmu!" "Aku?" "Dokter kandungan ..." ucap Rion pelan, Xena tetap mendengarnya lalu mengangguk. Dia tidak menyangka sendiri, dia tengah mengandung sekarang, padahal dia tidak pernah berpikir tentang pernikahan. Apa yang akan di katakan sahabatnya jika mereka tau kalau dirinya hamil? Ngomong-ngomong soal sahabat, Xena belum memberi tahu Mika dan Loopsy tentang pernikahannya, apa yang akan dia katakan nanti jika bertemu mereka? "Aku ada permintaan!" ucapnya ragu. "Katakan?" "Bolehkah kapan-kapan aku pergi menemui teman?" Rion dengar dari Ernon, Xena tak memiliki banyak teman. "Pergi saja jika kamu mau!" Xena tersenyum. "Benarkah?" "Mn." "Terima kasih!" Xena terlihat senang mendengar suaminya mengijinkan dirinya untuk bertemu Mikaila dan Loopsy. ****** "Sepertinya ini pertama kalinya Ibu membuat janji dengan dokter kandungan?" tanya Dokter bernama Lina. Xena mengangguk dengan canggung, "jangan sungkan, Ibu bisa anggap saya sebagai teman saja." Lina tersenyum ramah. "Iya, dokter ..." "Kalau begitu, mari Bu, berbaring biar saya bisa memeriksanya." Xena tampak ragu, tapi tetap mengikuti apa yang Lina katakan. Baru saja Xena berbaring, dia merasa sangat mual, membuatnya kembali duduk. "Ada apa bu?" "Saya merasa mual dok." Lina tersenyum. "Itu umum terjadi pada ibu hamil, ibu tidak perlu khawatir. Saya akan panggilkan suami Ibu, biasanya rasa mual akan hilang saat janin berdekatan dengan Ayahnya." Xena bahkan tak bisa mencegah saat Lina berjalan keluar dari ruangannya, Rion tadi tengah mengangkat panggilan saat mereka baru saja sampai. Beberapa saat berlalu, Lina kembali bersama Rion yang menatapnya bingung. "Sebaiknya, Bapak menemani ibunya, karena sepertinya janin di dalam perut sang Ibu ingin bersama Ayahnya." Mendengar itu, Xena bahkan tak ingin menatap Rion yang entah akan bereaksi seperti apa. "Baiklah." Mendengar Rion menjawab seperti itu, Xena hanya bisa diam. Lina kembali meminta Xena untuk berbaring, dan benar saja, rasa mual yang tadi Xena rasakan, itu sama sekali tidak terasa lagi. "Selamat Bu, saat ini, kandungan Ibu kira-kira berusia 27 hari, itu artinya sudah hampir 1 bulan. Janinnya juga sangat sehat." Xena tersenyum menatap sebuah titik yang ada di layar monitor, tanpa sadar Xena meremas pakaian yang Rion kenakan, karena pria itu berdiri di sampingnya. Rion juga benar-benar tak percaya, merasakan ada yang meremas pakaiannya, Rion menoleh ke arah Xena yang tampak bahagia. Rion menggenggam tangan Xena yang masih meremas kemejanya, lalu menunduk. "Terima kasih ..." Xena terkejut saat tiba-tiba Rion tengah mencium keningnya. Perasaan nyaman tiba-tiba menyeruak di dadanya, Xena merasa sangat bahagia saat ini. Dokter menyelesaikan pemeriksaannya, Xena kembali duduk di bantu oleh suaminya. Lalu keduanya duduk berhadapan dengan dokter. Dokter berkata untuk Xena menjaga kesehatan, asupan makanan dan juga pola hidup yang sehat. Dia juga tidak boleh terlalu memfosir diri sendiri, harus cukup istirahat juga melakukan olahraga yang cocok untuk ibu hamil. Kedua pasangan itu mendengarkan dengan seksama. "Dan satu lagi, Pak." Rion langsung menoleh begitu dokter berbicara padanya. "Ada apa dok?" "Sepertinya, janin yang ada di tubuh istri anda tidak bisa jauh-jauh dari anda. Selama periode awal kehamilan calon ibu juga akan merasakan morning sickness di mana Ibu akan merasa mual dan muntah, ada yang sangat parah, ada juga yang tidak terlalu parah, tergantung dengan kondisi calon ibu." Rion hanya mengangguk-angguk. "Biasanya, calon ibu juga akan mengalami ngidam, saat itu terjadi, usahakan anda untuk menuruti apa yang calon ibu inginkan." "Apa mual tiba-tiba juga termasuk?" Rion bertanya mengingat saat makan siang tadi, Xena tiba-tiba merasa mual. "Iya, Pak. Biasanya, saat mencium aroma yang menyengat, atau memakan makanan bercita rasa terlalu tajam, calon ibu akan merasa mual bahkan muntah." Rion akhirnya mengangguk mengerti. Setelah pembicaraan mereka selesai, Rion dan Xena memutuskan untuk pulang ke apartemen mereka. Saat pulang, Xena merasa ada perubahan besar di apartemen itu, banyak pajangan baru yang terpasang, entah bagaimana atau seberapa cepat perubahan itu. Yang dia ingat saat pergi dari rumah siang tadi, tidak ada sofa baru bahkan foto pernikahannya bersama Rion yang terpajang di ruang tamu. "Ini ..." "Welcome home ..." sebenarnya, Rion sejak siang tadi menghubungi Ernon dan terus bertanya apa semuanya sudah selesai atau belum. Dan setelah melihat hasilnya saat ini, Rion merasa puas. "Maaf selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan baik." Xena merasa sangat senang, dia hanya bisa membekap mulutnya sendiri. Tanpa sadar, Xena meneteskan air matanya, melihat itu Rion berinisiatif menarik istrinya kedalam pelukannya. "Selamat ulang tahun ..." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD