bab 06. Pergi.

1070 Words
***** Rion menatap dalam diam, seorang wanita yang tengah membuat cake di dapur, dia bilang, dia sudah lama tidak membuat makanan manis itu. Dengan keahliannya, wanita itu kini tengah menghias cake yang sudah hampir jadi. "Sudah siap!" Rion masih diam tak bereaksi, menatap cake berbentuk lingkaran yang sudah tersedia di hadapannya. Dengan ragu, wanita itu memotong cake itu dan meletakkannya di dalam piring. "Aku tidak suka manis!" Mendengar Rion berkata seperti itu, wanita itu tampak semakin kikuk di buatnya. "Maaf, saya tidak tau ..." wanita itu menarik kembali piring kecil yang ada di hadapan Rion. Namun, Rion menahannya. "Aku memang tidak suka, tapi aku tidak bilang tidak akan memakannya!" Wanita itu melepaskan tangannya yang masih memegang piring. Rion dengan pelan memakan cake coklat vanila itu. "Bagaimana rasanya?" Setelah satu suapan masuk ke dalam mulut pria itu, sang wanita buru-buru bertanya. Rion menatapnya sesaat sebelum kembali menatap cake di hadapannya dan menghabiskan satu potong cake itu. "Tidak buruk." Wanita itu kali ini tersenyum, Rion baru pertama kali melihat wanita itu tersenyum, "Xena ..." "Ya!" Wanita itu adalah Xena Altafunnisa, istri nya sendiri. Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, Xena di diperbolehkan pulang, dengan catatan harus menjaga kesehatan dan juga asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. "Kau tidak marah?" Rion benar-benar tidak mengerti jalan pikiran istri nya. Saat dia meminta maaf hari itu, Xena sempat diam sebelum akhirnya bicara dengan pelan. 'Saya juga minta maaf. Seandainya saat itu saya pulang lebih cepat, kejadian itu tidak akan terjadi.' Rion tidak menyangka Xena justru meminta maaf padanya, dan ada satu kalimat yang sebenarnya Rion ingin menyangkalnya, 'saya juga menyesal, jika bukan gara-gara saya, tunangan anda tidak akan marah, maaf karena membuat hubungan anda dengan tunangan anda jadi berantakan!' Rion ingin menjelaskan kejadian sebenarnya, tapi dia takut, bagaimana jika Xena marah dan kata maaf yang sudah terucap itu menjadi kemarahan. Jika Xena tau yang menjebak dirinya dan Xena malam itu justru adalah tunangannya sendiri, Leah. "Marah untuk apa?" Xena menarik kursi dan duduk di depan Rion. Mereka ada di meja makan apartemen Rion, sebenarnya, Rion berencana pindah ke rumah baru yang sudah dia siapkan untuknya dan Leah sejak dulu. Akan tetapi, dia ragu karena di dalam rumah itu semua foto yang terpajang di sana adalah foto dirinya dengan Leah. "Tentang semuanya ... aku, sudah banyak menyakitimu!" "Apa yang sudah terjadi, tidak akan pernah berubah. Meski kita menyesal sedalam apapun, itu tidak akan mengubah apapun. Yang bisa kita lakukan, hanya memperbaikinya!" Rion mengangguk ragu. "Mungkin terdengar aneh, tapi apa kau mau memperbaiki semuanya?" Xena menatap suaminya bingung. "Aku ingin memperbaiki hubungan yang salah ini, maksudku setidaknya kita mulai memperbaiki hubungan kita, dan ... anak yang ..." "Saya mengerti ..." Xena tersenyum lagi, "setiap orang pasti memiliki penyesalan dalam hidupnya." Rion ikut tersenyum, lalu menarik tangan Xena yang ada di atas meja untuk di genggamnya. "Terima kasih sudah mau memaafkan aku dan memberiku kesempatan!" Xena mengangguk dan kembali tersenyum. "Sebenarnya ... a.aku membuat kue karena hari ini aku ulang tahun!" Rion menatap Xena tak percaya. "Kamu ulang tahun? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" Rion langsung berdiri. "Itu karena ..." sepertinya, Rion mengerti alasannya. "Ayo kita lakukan sesuatu!" "Eh' lakukan apa ..." sebelum ucapan Xena selesai, Rion sudah pembimbingnya berdiri dan membawa Xena ke kamar wanita itu. "Ganti bajumu, ayo pergi ke suatu tempat!" Xena hanya mengerjapkan matanya bingung saat Rion meninggalkannya di kamarnya sendiri lalu pria itu pergi dengan sangat cepat. Tapi, Xena tetap mengganti bajunya mengikuti perintah sang suami. Setelah memakai pakaian yang lebih rapi, Xena keluar dari kamarnya. Ternyata sudah ada Ernon di luar yang tengah membuat kopi. "Eh' Xena di dapur ada kue, milik siapa?" "Itu ..." "Jika kau mau, makan saja!" "Bos?" Ernon melihat Rion yang baru keluar dari kamarnya, "seriusan? Gue makan ya!" "Terserah!" Rion mendekati Xena dan menarik tangannya pelan. "Lu mau kemana?" Ernon sedikit khawatir, melihat atasannya itu menarik Xena untuk pergi. Takut bosnya itu melakukan sesuatu yang buruk pada istrinya sendiri. "Pergi!" "Kemana?" Rion melirik Xena sesaat, wanita itu tengah memperhatikan kedua pria di ruangan itu dengan bingung. "Nanti ku beri tahu." Rion kembali menggenggam tangan istrinya dan membawanya pergi. "Kita mau kemana?" "Suatu tempat!" Rion tak memberi detile pasti tujuan mereka pergi, tapi Xena tidak menolak setiap perlakuan Rion padanya, jika di pikirkan, Xena merasa bingung, Rion yang saat ini bersamanya, dan Rion yang dulu saat pertama kali mereka berdua menikah, itu benar-benar berbeda. Rion sibuk berkendara saat Xena sesekali meliriknya, dia masih tidak percaya, Rion bisa berubah dengan sangat cepat. Dia pikir, seumur hidup dia akan mengalami kekerasan fisik dari suaminya. Memikirkan hal itu, Xena jadi merasa senang, Rion mau berubah dan tidak memperlakukan dirinya dengan buruk seperti sebelumnya. "Ada apa?" Rion tiba-tiba bertanya, Xena menoleh lalu menggeleng pelan. "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Rion menoleh cepat. "Bagus!" "Apa?" "Kamu tidak berkata dengan formal padaku!" Xena menunduk lalu baru mengingat sesuatu. "Ada apa? Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu?" Wanita itu menatap suaminya lalu memberanikan diri bicara. "Sudah lama aku tidak melihat kedua orang tuaku, bolehkah ... bolehkah aku pergi melihat mereka!" Rion terdiam, dia merasa bersalah karena dia sendiri yang membuat Xena tidak bisa pergi kemanapun, tentu saja karena luka-luka yang ada di tubuh Xena membuat wanita itu tidak bisa keluar dari apartemennya dengan bebas. Rion menarik tangan Xena dan menggenggamnya. "Tentu saja, kita pergi kesana terlebih dahulu, sebelum kita pergi ke suatu tempat." "Sungguh?" Rion terkekeh pelan, ternyata Xena bisa menunjukkan ekspresi seperti itu juga. Menggemaskan. "Tentu ..." Xena mengangguk dengan senang. "Terima kasih!" ***** "Ayah ... Ibu, aku datang ... maaf aku jarang mengunjungi kalian. Ayah, Ibu, sekarang aku sudah menikah. Aku tau ini sangat mendadak, tapi sekarang, aku tengah mengandung, kalian akan memiliki cucu sebentar lagi. Ayah, Ibu, pria yang berdiri di sana itu suamiku. Dia ... dia orang yang baik, aku pasti akan bahagia ... aku yakin, Ayah, Ibu doakan aku, semoga kami bisa bahagia selamanya." Xena mengusap nisan makam ayah dan ibunya sebelum menoleh lagi ke arah Rion, pria itu tadi sedang menelfon seseorang dan kini, dia mulai melangkah mendekatinya. Pria itu duduk di samping Xena, lalu menunduk. "Om, Tante ... aku Rion. Maaf karena terlambat memperkenalkan diri, kalian tenang saja, aku berjanji, mulai saat ini, aku akan menjaga putri kalian." Rion menatap Xena dan mengganggap tangannya, "Om, Tante ... maaf karena tidak datang sebelumnya, tapi aku janji. Aku akan membahagiaannya dan calon anak kami." Rion mendekati Xena dan mencium kening wanita itu. "Tolong restu hubungan kami." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD