bab 05. Dia juga korban.

730 Words
****** "Sebenernya, gue nggak mau ngasih tau lu. Ini udah bukan urusan lu lagi, tapi ..." Ernon duduk di kursi yang ada di seberang tempat duduk Rion. "Apa?" Sebenarnya, semenjak malam itu, saat Rion telah melakukan malam pertamanya dengan Xena, pria itu seperti banyak melamun. Dia juga jarang pulang dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, ini sudah lebih dari satu bulan tetapi Rion bahkan enggan hanya untuk bertemu dengan Xena. "Gue baru denger kabar, kalo Leah bakal nikah!" "Maksud lo?" Rion menatap Ernon tajam. "Iya, Leah bakal nikah sama Rendi ..." "Siapa lo bilang?" Rendi adalah musuh Rion sejak dulu, sejak dirinya memasuki bangku perkuliahan, Rendi sejak dulu terus saja mengibarkan bendera perang dengannya. "Rendi Perwira, anak bungsu Pak Toni. Gue udah cari tau tentang mereka ..." Ernon menatap Rion dengan sedikit takut, "mereka udah punya hubungan lebih dari setahun!" Rion mengepalkan tangannya. "Jadi, maksud lo ..." Rion memejamkan matanya, jadi dari awal dia sudah salah. "Leah sama Rendi udah pacaran sejak setahun lalu." "Barusan lo bilang, kalo Leah hianatin gue!" "Itu kenyataannya!" "Nggak mungkin, pasti lo salah!" "Bos, lu nggak bisa nyangkal itu. Sejak kapan lu sama Leah terus-terusan berantem tanpa sebab. Dia selalu banyak nuntut ini itu sama lu, dia juga selalu nyari kesalahan lu." "Tapi itu bukan berarti dia hianatin gue!" "Terus apa? Lu bakal bilang kalo itu nggak mungkin! Jangan jadi bodoh, bos! Leah cuma manfaatin lu dari dulu! Gue udah sering bilang!" Ernon memberikan sebuah map dan memberikannya pada Rion. "Gue nggak tau, ini waktu yang tepat atau enggak buat bahas ini, tapi ..." Ernon menghela napasnya, "Xena sama sekali nggak ada hubungannya sama apa yang lu tuduhkan selama ini ke dia!" Rion mengambil map itu, "Xena di jebak juga, sama orang suruhannya Leah. Dia itu ... korban!" Rion meremas map yang ada di tangannya. "Nggak mungkin!" "Udah ada bukti Bos, lu nggak bisa ngelak lagi! Lu pikir, Xena bisa tiba-tiba ada di kamar itu. Itu bukti isi chat Leah sama orang suruhannya." Rion mendongak dan menghela napasnya dengan lelah. Ini tidak seperti yang dia pikirkan selama ini. "Dia bahkan nggak nolak saat pernikahan itu, kenapa?" Rion entah kenapa sangat marah, entah pada Leah, Xena atau justru pada dirinya sendiri. "Kalo itu, lu perlu tanya sendiri sama dia. Gue udah coba cari tau di perusahaan tempat dia dulu kerja, tapi nggak ada yang terlalu kenal sama Xena, tapi mereka bilang, Xena deket banget sama Mikaila Aditama, penerus perusahaan Rush team." "Mikaila Aditama?" "Iya, mungkin lu bisa cari tau soal istri lu sama dia!" ****** Rion memasuki apartemennya dengan ragu. Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya tidak ingin dia ketahui, Rion merasa sangat bersalah pada Xena. Tidak seharusnya dia memperlakukan Xena seperti itu. Setelah dirinya masuk ke apartemennya, dia tidak menemukan tanda-tanda ada kehidupan lain di sana. Semua lampu masih padam, diapun melangkah ke arah kamar Xena yang terletak tidak jauh dari kamarnya. Dengan pelan dan perasaan ragu, Rion membuka pintu itu tanpa mengetuk. Ruangan itu gelap, tidak ada cahaya sama sekali, pria itu langsung membuka pintunya lebar, dan memang benar tidak ada orang. "Xe.na ..." ini kali pertama Rion memanggil nama istrinya, tapi tak ada yang menjawab panggilannya, "Xena ..." kali ini, Rion sedikit mengeraskan suaranya. Tetap tidak ada yang menjawab. Pria itu segera menyalakan lampu, dan dia tidak melihat ada orang di dalam ruangan itu, hari sudah malam, kemana istrinya itu pergi. Apa jangan-jangan dia kabur? "Xena!" Seketika, pemikiran itu membuat Rion marah. Pria itu mengobrak abrik kasur yang ada di ruangan itu, dia baru menyadari ada suara air di dalam kamar mandi. "Xena! Kau ada di dalam?" Tidak ada jawaban, Rion menggedor pintu yang terkunci, tapi masih tidak ada jawaban. Dengan sekali tendang, pintu itu sudah terbuka dengan paksa. "Xena!" Rion melihat wanita itu sudah tergeletak di lantai, dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat, air keran wastafel masih menyala, bahkan sudah meluber kemana-mana. Di samping tubuh Xena tergeletak sebuah benda kecil berbentuk panjang yang dia tau itu adalah alat untuk mengetes kehamilan. Rion mengambil alat itu dan menyimpannya, setelah itu menarik handuk untuk menyelimuti tubuh Xena yang mulai dingin. Rion segera menggendong Xena untuk keluar dari kamar mandi. "Hei ... bangun!" Rion membaringkan Xena di tempat tidur, lalu menepuk pipinya beberapa kali, itu tidak akan berhasil sama sekali. Rion tak mampu berpikir cepat saat ini, perasaannya benar-benar kacau. Dengan keadaan itu, satu yang terlintas di pikirannya, dia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Ernon. "Dateng ke apartemen gue sekarang!" ***** "Bos, lu benar-benar gila!" Ernon mengacak surai hitamnya dengan bingung. Setelah dirinya mengantar bos dan istrinya itu ke rumah sakit. Kini dia dan bosnya sudah kembali dan mereka berada di ruangan kerja milik Rion. "Dia sekarat dan lu malah narik gue pulang, lu mikir apa sih!" Rion memijat pelipisnya, lalu mengambil benda kecil yang sejak tadi ia bawa. Lalu meletakkannya di atas meja. Ernon yang sedang mengoceh dengan kesal langsung diam. "Dia ..." "Xena hamil?" Ernon mengambil test pack itu dan melihatnya dari dekat, "bos ... lu benar-benar deh!" Ernon tak bisa lagi berkata-kata. "Gue ..." "Iya! Lu bikin dia hamil, Bos. Dan lu terus-terusan nyiksa dia!" Ernon meletakkan test pack itu sedikit membantingnya. "Mending sekarang lu balik ke rumah sakit, dan minta maaf sama dia!" "Nggak mungkin!" "Apanya yang nggak mungkin, lu tinggal minta maaf, bos. Apa susahnya sih!" "Dia nggak akan maafin gue!" Ernon langsung diam. Mungkin itu adalah hasil yang tidak Ernon pikirkan. "Mana lu tau kalo lu nggak nyoba. Jangan jadi pengecut, Bos. Siapa tau, dia mau maafin lu, itupun kalo lu beruntung." Ernon berdiri dari duduknya, "sekarang pilihan ada di tangan lu, Bos. Kalo lu benar-bener menyesal, harusnya lu dateng sendiri dan minta maaf." ****** Setelah meyakinkan diri, Rion memilih untuk meminta maaf. Pria itu melangkah memasuki ruang rawat yang di tempati Xena sejak semalam. Dia melihat Xena sudah bangun dari tidurnya dan menatapnya dalam diam. Rion berjalan semakin mendekat dan berdiri di dekat tempat tidurnya. "Bagaimana keadaanmu?" Mendengar Rio bertanya padanya, Xena refleks menyentuh perutnya, lalu menunduk. "Sa.saya baik-baik saja. Maaf, karena sudah merepotkan anda." Rion tertegun sesaat, lalu menarik kursi untuk dia duduki. Pria itu tampak ragu untuk berucap, tapi dia dengan berani menarik tangan Xena dan menggenggamnya. "Maaf ..." Xena menatap suaminya bingung. Setelah semua perbuatan yang di lakukan pria itu padanya, lalu dia mendapatkan permintaan maaf yang sebenarnya mustahil terucap dari mulut pria itu. Xena mengerjap bingung. "Sa.saya tidak ..." "Aku sudah mencari tau tentang malam itu!" "Apa maksud anda?" "Aku sudah tau, kamu juga korban ... aku minta maaf!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD