Malam itu hujan turun deras sejak sore. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan pohon mangga di halaman depan. Aku sedang duduk di meja kerjaku, menulis di bawah cahaya lampu belajar yang lembut, saat terdengar suara pintu terbuka dan tertutup dengan agak terburu-buru. Langkah kaki Bima terdengar berat saat masuk ke ruang tengah.
Aku segera keluar kamar. “Bima? Kamu sudah pulang? Hujannya lebat sekali di luar ya?”
Kalimatku terhenti di tengah jalan. Bima berdiri di dekat pintu, napasnya sedikit terengah. Seragamnya basah di bagian bahu dan lengan kanan. Di pergelangan tangannya ada luka lecet yang sedikit berdarah, dan keningnya tergores tipis. Dia tersenyum saat melihatku, tapi senyum itu terlihat agak paksa.
“Ada operasi tadi. Sedikit insiden kecil. Tidak apa-apa,” jawabnya singkat sambil berusaha melepas sepatunya sendiri.
Aku tidak membiarkannya. Aku segera mengambilkan handuk kering dari lemari, lalu menyuruhnya duduk di kursi ruang tengah. “Duduklah, jangan bergerak dulu. Kamu bilang tidak apa-apa padahal terlihat seperti habis berkelahi dengan angin ribut. Duduk diam, ini perintah!”
Bima tertawa pelan, lalu menuruti permintaanku. Aku mengelap air hujan dari wajahnya dengan lembut, lalu membersihkan lukanya di pergelangan tangan dengan kapas dan obat luka yang tersedia di kotak obat. Saat aku menempelkan plester di lukanya, aku mengomel pelan, “Kamu ini ya. Memaksakan diri. Kalau lelah, istirahatlah. Kamu bukan pahlawan film yang kebal pukulan, Bima. Kamu manusia biasa yang butuh istirahat seperti kita semua.”
Dia menatap tanganku yang sedang merawat lukanya, lalu perlahan berkata, “Aku terbiasa mengurus diri sendiri. Tapi rasanya nyaman sekali ada yang peduli begini. Terima kasih, Aruna.”
Wajahku terasa sedikit panas. Aku segera merapikan kotak obat. “Istirahatlah dulu. Aku buatkan teh jahe hangat. Supaya badanmu tidak kedinginan.”
Tak lama kemudian, aku kembali membawa dua cangkir teh jahe yang masih mengepul. Kami duduk berhadapan di meja ruang tengah, hanya diterangi lampu yang hangat dan suara hujan yang mengetuk jendela dari luar. Keheningan yang nyaman menyelimuti kami, sampai Bima tiba-tiba bercerita dengan suara yang pelan dan jauh, seolah menembus waktu yang lama.
“Saya belajar hidup tanpa Sandra. Saya bekerja, pulang ke rumah yang sunyi, makan sendiri, tidur sendiri. Saya tidak pernah mencari penggantinya. Bukan karena menunggunya, tapi karena saya tidak percaya diri cukup untuk membahagiakan siapa pun. Sampai kamu datang.”
Dia menatapku, dan matanya jernih seperti hujan yang baru reda. “Kamu masuk ke rumah ini dengan tawa yang riang, cerita yang tak pernah habis, dan semangat yang membuat hari-hari saya terasa lebih berwarna. Kamu tidak pernah meminta apa-apa selain tempat berteduh dan meja untuk menulis. Kamu tertawa lepas, bekerja keras, dan tetap baik hati walau hidup tidak selalu ramah padamu. Lama kelamaan saya sadar, saya tidak lagi merindukan masa lalu saya. Saya mulai menantikan hari esok, karena tahu kamu akan ada di sini menyambut pagi saya.”
Jantungku berdebar kencang sekali. Aku tidak berani berbicara, takut suaraku akan bergetar. Jadi aku hanya mendengarkan di kursi seberang, menahan napas agar tidak melewatkan satu kata pun.
Dia menatapku dalam-dalam, Sangat dalam sampai aku nyaris lupa bernafas.
“Saya tidak menyesal dia pergi. Karena kalau dia tidak pergi, saya mungkin tidak akan pernah menghargai kesederhanaan yang ada sekarang. Saya tidak akan pernah tahu bahwa kebahagiaan sejati ternyata sesederhana ada yang menunggumu pulang, ada yang mendengarmu bercerita, ada yang menyiapkan teh hangat saat hujan turun. Dan hal-hal sederhana itu, kamu yang membawanya ke sini, Aruna. Bukan dia. Kamu.”
Air mata jatuh pelan di pipiku. Bukan sedih, tapi karena terharu yang luar biasa. “Bima, kenapa kamu bilang hal-hal ini padaku? Kamu membuatku susah untuk menjaga jarak,” isakku pelan sambil tersenyum getir.
Bima tersenyum lembut, menyeka setetes air mata di pipiku dengan ujung jarinya yang kasar namun hangat. “Saya tidak ingin kamu menjaga jarak, Aruna. Saya hanya ingin kamu tahu kebenaran.”
Dia berdiri perlahan, mengambil cangkir kosongku. “Selamat malam, Aruna. Semoga tidurmu nyenyak malam ini. Dan terima kasih sudah merawatku tadi.”
“Selamat malam, Bima. Semoga lukamu cepat kering,” jawabku pelan.
Setelah dia masuk ke kamarnya, aku duduk sebentar di ruang tengah yang mulai sepi, membiarkan kata-katanya meresap perlahan ke dalam hatiku. Malam itu aku menulis sebelum tidur.
“Kenyamanan bisa dibeli dengan uang. Tapi ketenangan hati? Itu anugerah yang hanya bisa diberikan oleh seseorang yang benar-benar mengerti siapa kita. Dan ternyata, seseorang itu tidak selalu datang dengan gemerlap cahaya. Kadang dia hanya ada di sana, tenang, sederhana, dan selalu ada saat kita paling membutuhkannya.”
Aku menutup bukuku, tersenyum sendiri dalam gelap. Besok mungkin masih ada kerumitan. Sandra mungkin masih datang. Keraguanku mungkin belum sepenuhnya hilang. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku merasa satu percikan manis yang mendebarkan.
Aku lupa , tenang sebelum badai kedua biasanya justru yang paling menipu.
Pagi itu aku baru saja selesai menyiram tanaman di halaman depan saat sebuah sedan mewah berhenti tepat di depan pagar. Pintu terbuka, dan Sandra keluar dengan penampilan yang sangat rapi dan elegan. Dia mengenakan setelan jas yang mahal, sepatu hak tingginya mengkilap, dan di tangannya ada tas belanja bermerek yang cukup besar. Dia tersenyum saat melihatku, tapi senyumnya kali ini terasa lebih tegas, lebih pasti.
“Selamat pagi, Aruna. Bima ada di dalam?” sapanya tanpa menunggu aku menjawab, langsung melangkah masuk seolah rumah itu miliknya.
Aku menelan ludah, menutup keran air dan mengeringkan tanganku di celemek. “Selamat pagi, Sandra. Silakan masuk. Bima sedang sarapan.”
Kami masuk ke ruang tengah. Bima sedang duduk di meja makan dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat. Dia tampan terkeju melihat tamu kami hari itu.
“Sandra? Pagi-pagi sekali kamu sudah ke sini. Ada yang penting?” tanyanya sopan namun tidak menyambut terlalu antusias.
Sandra meletakkan tas belanjaannya di meja dengan gerakan yang sengaja. Dia membukanya dan mengeluarkan kemeja bermerek, jam tangan, dan sepasang sepatu kulit yang terlihat sangat mahal.
“Aku datang karena aku sudah lelah berputar-putar di tempat yang sama, Bima,” katanya tegas, suaranya terdengar mantap namun menyembunyikan ketegasan yang tajam. “Aku tidak mau lagi bermain tebak-tebakan perasaan. Aku sudah siapkan semuanya. Apartemen di pusat kota sudah siap, posisi di kantor tempatku bekerja menunggumu. Semua dokumen sudah kubawa. Kita bisa pindah bulan depan kalau kamu setuju.”
Bima menatap barang-barang itu di meja, lalu menatap Sandra dengan ekspresi yang tenang namun dingin. “Sandra, kamu tidak perlu membelikan saya barang-barang ini. Saya sudah punya pakaian, jam tangan, dan sepatu. Saya tidak membutuhkannya.”