Langkah Tanpa Kebijaksanaan
Pagi itu suasana rumah sudah terasa tegang sejak matahari baru mengintip di balik atap tetangga. Namaku Aruna, penulis naskah yang sudah tiga kali berturut‑turut menerima surat penolakan dari penerbit. Aku tidak punya pekerjaan tetap, hanya sesekali menerima pesanan menulis skrip pendek untuk akun media sosial kecil, bayarannya tidak besar tapi cukup untuk menabung sedikit demi sedikit. Semalam pertengkaran dengan ibuku pecah lagi, setelah aku memberitahunya bahwa naskah panjang yang kuharapkan terbit kembali ditolak.
“Kamu terus‑terusan hanya duduk di kamar melamun! Kapan kamu mau punya pekerjaan yang jelas?” suara ibuku masih terngiang-ngiang di kepalaku. “Kamu tidak akan pernah berhasil dengan hobi tidak jelas itu!”
Aku sudah mencoba menjelaskan, tapi emosi kami sama‑sama memuncak. Pada akhirnya aku mengambil keputusan yang terburu‑buru. Aku harus pergi dari rumah.
Aku tidak membawa tas ransel besar, hanya selempang kain tua yang sudah kusayangi sejak kuliah. Di dalam saku celana ada seluruh tabunganku, lima ratus ribu rupiah. Itu saja cukup untuk membeli tiket bus ke Jawa, tidak lebih. Tidak ada uang cadangan untuk hotel, tidak ada rencana kerja yang pasti. Hanya harapan samar bahwa di sana mungkin ada kesempatan baru untuk menulis.
Sebelum keluar kamar aku memasukkan laptop tua, ponsel, dompet berisi uang itu, dan sebotol air mineral ke dalam selempang. Aku menatap meja kerjaku sebentar, lalu mengunci pintu rumah dengan bunyi klik pelan. Tidak ada pesan perpisahan. Aku hanya berjalan perlahan menuju terminal bus di pinggiran kota.
Jalan menuju terminal cukup panjang. Di sepanjang trotoar aku melihat pedagang gorengan mulai membuka lapak, pengantar ojek online bergerak cepat, dan beberapa orang berjalan terburu‑buru menuju tempat kerja. Kadang aku berhenti sebentar untuk berpikir apakah keputusanku terlalu gegabah. Namun setiap kali teringat suara pertengkaran semalam, aku melanjutkan langkahku.
Sesampainya di terminal, suasana cukup ramai. Bau bensin, gorengan hangat, dan aroma kopi dari warung kecil bercampur di udara. Antrean pembelian tiket cukup panjang. Aku berdiri di barisan itu sekitar dua puluh menit sebelum tiba giliranku.
“Satu tiket bus ekonomi tujuan Yogyakarta, ya,” kataku pada petugas loket. Setelah membayar, sisa uangku tinggal dua ratus dua puluh ribu rupiah. Aku menerima tiket kertas kecil itu, lalu berjalan menuju ruang tunggu.
Aku duduk di bangku kayu dekat jendela besar. Selempang diletakkan di pangkuanku. Aku sempat membuka laptop sebentar, mencoba menulis kalimat pertama cerita baru yang sudah kubayangkan beberapa hari terakhir. Namun pikiranku terus kembali ke perkataan ibuku dan surat‑surat penolakan yang pernah k****a. Jari‑jariku berhenti bergerak di atas papan ketik.
“Jangan terlalu berharap, Aruna,” bisikku pelan pada layar. “Kamu kan penulis sial.”
Beberapa saat kemudian suara pengeras suara terminal bergema. “Penumpang bus ekonomi tujuan Yogyakarta segera naik ke gerbang tiga! Bus akan berangkat dalam sepuluh menit!”
Aku menutup laptop dengan perlahan, memasukkannya kembali ke dalam selempang, lalu berjalan menuju gerbang keberangkatan. Di dalam bus sudah cukup banyak penumpang. Ada ibu‑ibu membawa tas belanja besar, pemuda dengan earphone terpasang, dan seorang kakek yang membawa keranjang anyaman.
Aku sendiri menemukan kursi dekat jendela di bagian tengah bus, lalu duduk sambil tetap memeluk selempang di pangkuan. Bus bergerak perlahan keluar dari terminal.
Perjalanan berlangsung berjam‑jam. Jalan kadang berguncang, matahari bergerak perlahan dari sisi kanan ke sisi kiri jendela. Aku sempat melihat sawah, desa‑desa kecil, dan jajaran pohon di pinggir jalan. Kadang aku membuka ponsel untuk melihat jam, kadang hanya menatap luar jendela. Lama‑kelamaan mataku terasa berat. Aku tidak sadar kapan aku tertidur dengan kepala miring ke kaca jendela.
Ketika aku terbangun, suasana di dalam bus masih sama, hanya saja beberapa penumpang sudah tertidur. Aku ingin meraih ponsel di dalam selempang untuk mengecek waktu. Tanganku meraba pangkuanku, tapi selempang itu terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Jantungku berdegup kencang. Aku segera membuka ritsletingnya dengan jari gemetar.
Laptopku hilang. Ponselku juga hilang. Dompet yang berisi sisa uang juga lenyap.
Aku meraba seluruh bagian selempang, meraba di bawah kursi, celah sandaran tempat duduk, bahkan lantai bus di dekat kakiku. Tidak ada apa‑apa. Kepalaku mulai pening. Aku menoleh ke penumpang di sebelahku, seorang ibu yang sedang menenangkan anak kecil di pangkuannya. “Maaf, apakah kamu melihat seseorang mengambil tas saya saat aku tidur?” tanyaku dengan suara gemetar.
Ibu itu menggeleng bingung. “Tidak, dek. Saya juga tertidur cukup lama, anakku baru saja bangun.”
Aku berdiri perlahan, berjalan ke depan menghadap sopir.“Pak! Barang‑barang penting saya dicuri di dalam bus! Laptop, ponsel, uang semuanya hilang!”
Sopir tetap memegang kemudi dengan tatapan lurus ke depan. “Ya sudah, nanti kamu bisa melapor ke polisi di terminal akhir. Saya tidak bisa berhenti di tengah jalan, ada jadwal yang harus diikuti.”
“Tapi itu semua yang saya punya! seruku dengan suara hampir menangis.
“Bukan tanggung jawab saya menjaga barang penumpang,” jawabnya datar.
Aku kembali ke kursiku dengan hati hancur. Sepanjang sisa perjalanan aku hanya diam menunduk, tidak berani bicara dengan siapa pun. Satu jam kemudian bus tiba di terminal akhir. Aku turun dengan langkah berat, tidak punya alat komunikasi, tidak ada uang, tidak ada kontak siapa pun di daerah ini.
Aku bertanya pada petugas terminal arah kantor polisi terdekat, lalu berjalan kaki sekitar lima belas menit menuju sana. Di ruang pelayanan polisi, aku bercerita dengan suara gemetar tentang pencurian di bus. Petugas mendengarkan dengan wajah datar, mencatat beberapa baris di buku laporan, lalu menghela napas pelan.
“Banyak penumpang, rekaman kadang buram, tidak ada identitas jelas pelaku. Untuk sementara ini kami tidak bisa melakukan tindakan segera. Lagi pula, tempat kejadian perkara jauh dari daerah yang kami pegang. Jadi, yah, kemungkinan barang-barang itu tidak akan ketemu.”
Aku menatapnya putus asa. “Lalu, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak punya apa‑apa lagi.”
Petugas itu bangkit sebentar, mungkin lima belas menit, lalu kembali membawa sebungkus nasi bungkus sederhana dan selembar uang lima puluh ribu rupiah.“Ini saja dari kami. Cari tempat istirahat, atau coba cari orang yang bisa kamu hubungi. Kami tidak bisa memberikan lebih dari itu sekarang.”
Aku menerima bungkusan dan uang itu dengan tangan gemetar, merasa tidak berdaya. Tidak ada janji pengejaran, tidak ada arahan lebih lanjut. Aku keluar dari kantor polisi dengan perasaan hampa.
Sore hari mulai tiba. Aku berjalan tanpa tujuan menuju pasar besar tidak jauh dari kantor polisi, berkeliling di antara pedagang sayur, penjual jajanan, dan orang‑orang yang bergerak sibuk. Aku duduk di bangku kayu di pinggir area pasar, memandangi orang‑orang lewat seperti orang yang benar‑benar bingung. Uang lima puluh ribu itu masih kusimpan di saku, tapi aku tidak tahu mau dipakai untuk apa. Aku tidak punya tempat tinggal, tidak ada nomor telepon siapa pun yang bisa dihubungi.
Saat itu ada seorang pria berpenampilan biasa, tidak terlalu kumuh dan tidak terlalu rapi, berjalan perlahan mendekat. Ia sudah beberapa saat memperhatikanku dari jarak agak jauh. Ia berhenti di depan bangku, lalu bertanya dengan suara lembut. “Kamu bukan orang sini ya?”