Bermula

1118 Words
Pertanyaan sederhana itu seolah membuka seluruh bendungan perasaanku. Tanpa bisa menahan lagi, aku tiba‑tiba menangis sejadi‑jadinya, lalu secara spontan bangkit dan memeluk pinggang pria itu erat‑erat. Aku tidak peduli apakah itu aneh atau tidak, semua beban ketakutan, kelelahan, dan keputusasaan yang kubawa sejak berangkat dari rumah tumpah keluar dalam tangis itu. Pria itu terkejut sebentar, lalu perlahan mengusap punggungku dengan gerakan ragu‑ragu, tidak tahu harus berkata apa. Lewat beberapa adegan perjalanan singkat, tahu‑tahu aku sudah berada di ruang tamu rumah sederhana milik Bima. Dindingnya berwarna krem pucat, ada beberapa foto keluarga di rak dinding. “Kamu bisa menginap di sini untuk sementara, kata Bima. “Sampai kamu bisa memikirkan siapa yang perlu dihubungi atau apa yang harus dilakukan selanjutnya.” Belum sempat aku menjawab, terdengar suara langkah kaki cepat dari arah dapur. Seorang wanita paruh baya, ibu Bima, muncul dengan wajah merah karena marah. “Bima! Apa‑apaan ini? Kamu membawa orang asing pulang begitu saja?” “Bu, dia sedang dalam kesulitan,” coba Bima membela. “Kita tidak bisa menampung orang begitu saja seperti menampung anak kucing yang lewat!” potong ibunya dengan nada tinggi. “Pengeluaran rumah ini sudah banyak! Biaya listrik, belanja harian, obat‑obatan ayahmu. Kita tidak bisa menambah beban lagi!” Kata‑kata tajam itu membuat air mataku kembali menetes. Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Rasa malu dan putus asa bercampur menjadi satu. Aku tidak berbicara apa‑apa lagi saat itu. Ibu Bima berdiri diam sejenak, melihatku yang terisak lemah. Kemarahan di wajahnya perlahan memudar digantikan rasa tidak tega. Ia menghela napas panjang. “Baiklah, baiklah. Kamu boleh tinggal di sini dulu. Tapi ingat, ini hanya sementara.” Rasa lega yang lembut merayap di dadaku meskipun mata masih terasa perih karena menangis. Aku mengangguk pelan, tidak sanggup mengucapkan ucapan terima kasih yang panjang. Bima mengantarkanku ke kamar tamu kecil di ujung lorong; hanya ada tempat tidur kayu, lemari tua, dan meja kecil di dekat jendela. Sebelum ia pergi, aku sempat berbisik meminta tolong. “Bisa minta satu buku tulis dan pena? Kalau ada.” Bima mengernyitkan dahi sebentar lalu tersenyum tipis. “Tunggu sebentar ya.” Beberapa menit kemudian ia kembali membawa buku tulis tipis sampul biru tua dan pena hitam bekas pakai. “Buku ini sisa dari masa sekolahku, masih ok, kok.” “Terima kasih,” ucapku pelan. Malam pun tiba. Rumah perlahan menjadi tenang. Suara televisi dari ruang tamu sudah mati, suara langkah‑langkah kaki ibu Bima sudah tidak terdengar lagi. Aku terbangun di tengah malam, tidak tahu jam berapa sekarang, hanya cahaya rembulan yang masuk melalui celah tirai menerangi permukaan meja kecil. Pikiran‑pikiran berputar cepat di kepalaku, sebuah plot sederhana yang mampu menggelitik jariku untuk bergerak. Aku mulai menulis. Karakter utamanya adalah aku sendiri, kisah tentang penulis yang pergi meninggalkan rumah, kehilangan semua barang berharganya di perjalanan, lalu tiba‑tiba mendapat tempat untuk bersandar meskipun penuh ketidakpastian. Kata‑kata mengalir keluar dari ujung pena, tidak terburu‑buru, seperti aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Di sana‑sana aku menyelipkan sedikit harapan, sedikit ketakutan, tanpa tahu bagaimana akhir cerita itu nanti. Ketika aku sedang asyik menulis, tiba‑tiba terdengar bunyi getaran pendek dari arah ruang tamu. Bunyi itu berasal dari ponsel yang diletakkan di atas meja ruang tamu. Getarannya berulang dua kali. Tidak ada nada dering keras, hanya getaran yang terdengar samar dari balik pintu kamar. Aku mendengar suara langkah kaki cepat. Bima berlari terburu‑buru menuju ruang tamu, seakan panggilan itu adalah hal yang sangat serius, sesuatu yang aku tidak boleh tahu. Aku berhenti menulis. Pena berhenti di atas kertas. Aku diam, mendengarkan. Langkahnya berhenti di dekat meja. Ada suara bisikan sangat rendah yang tidak bisa aku paham isinya. Ada jeda sejenak. Sedang aku diam, menguping hingga hanya suara Bima dan detak jantungku yang terdengar. Bima menengok ke arah celah pintu itu secara tiba‑tiba. Wajahnya awalnya mengeras, penuh kewaspadaan seolah ia baru tertangkap sedang menyembunyikan rahasia besar. Namun ketika ia melihat bahwa orang yang berdiri di balik pintu adalah aku, ketegangan di wajahnya perlahan melembut. Garis‑garis tegas di dahinya melunak, tatapan matanya berubah menjadi lebih tenang. Ia berjalan mendekat ke arahku, lalu mengulurkan tangan untuk menepuk pundakku dengan gerakan lembut namun mantap. “Ada kabar untukmu. Barang‑barangmu sudah ketemu.” Mataku membelalak. Aku tidak menyangka mendengar kalimat itu. “Apa? Laptop, ponsel, dompetku, benar‑benar sudah ditemukan?” suaraku bergetar karena campuran antara kaget dan harapan. “Tapi bagaimana kamu bisa tahu? Bahkan kantor polisi tempat aku melapor tadi sore hanya berkata bahwa kasusnya sulit dilacak.” Bima menarik napas pendek, seolah baru memutuskan untuk membuka rahasia yang selama ini ia simpan. “Sebenarnya aku polisi. Hanya saja aku bertugas di salah satu divisi khusus, di mana penampilan bukan hal utama. Kami sering bekerja dengan penyamaran agar bisa mengamati situasi tanpa dicurigai orang‑orang di sekitar.” Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Selama ini aku mengira ia hanya pria biasa yang kebetulan baik hati dan suka berjalan‑jalan tanpa tujuan. Tidak pernah terpikir olehku bahwa ia adalah petugas kepolisian. “Setelah bertemu denganmu di pasar sore tadi,” lanjut Bima, “aku segera menghubungi anak‑buah di timku. Kami memeriksa semua rekaman CCTV di sepanjang rute bus, memeriksa daftar penumpang, dan membandingkan hal-hal kecil yang kamu ceritakan kepadaku. Dari hasil pemeriksaan itu kami dapat bukti bahwa yang mencuri tasmu adalah ibu‑ibu yang duduk tepat di sebelahmu di dalam bus.” Aku teringat kembali wanita yang duduk di sampingku, yang saat itu berkata bahwa ia juga tertidur dan tidak melihat siapa‑siapa. Perasaan bingung dan sedikit kecewa muncul di hatiku. “Dia, dia berbohong kepadaku?” “Ya,” jawab Bima pelan. “Ia menyembunyikan barang‑barangmu di dalam tas belanja besarnya, lalu turun di terminal akhir sebelum kamu sempat menyadari kehilangan itu. Tim kami berhasil menjumpainya di rumah kontrakan tidak jauh dari pasar, dan mengambil kembali semua barangmu tanpa ada kerusakan berarti.” Rasa lega yang luar biasa menyelimuti diriku. Aku tidak bisa menahan senyum haru di wajahku. “Terima kasih, terima kasih banyak, Bima. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa bantuanmu.” “Tidak perlu terlalu berlebihan,” katanya sambil tersenyum tipis. “Ini memang tugasku. Sekarang, jika kamu siap, kita bisa langsung pergi ke kantor polisi untuk mengambil kembali barang‑barangmu secara resmi dan menyelesaikan administrasi laporanmu.” Aku mengangguk dengan semangat. Aku segera mengambil sepatu di depan kamar, berpamitan sebentar pada ibu Bima yang masih terbangun di ruang tengah, lalu ikut bersama Bima keluar menuju kantor polisi. Di sana proses pengambilan barang berlangsung cukup cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD