Terbuka

1174 Words
PENULIS SIAL Aku menandatangani beberapa lembar surat pernyataan, lalu menerima kembali laptop tua, ponsel, dan dompetku. Semua isinya masih utuh, tidak ada uang yang hilang. Aku memeriksanya berulang kali untuk memastikan. Setelah semua selesai, kami berdua berjalan kembali menuju rumah Bima di bawah cahaya lampu jalan yang kuning lembut. Sesampainya di rumah, Ibu Bima sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah yang tampak lebih tenang dibandingkan saat pertama kali aku datang. “Syukurlah,” ucapnya dengan nada tulus. “Aku senang akhirnya kamu bisa menemukan kembali barang‑barangmu dan bisa bersiap untuk pulang ke rumahmu.” Kata‑kata itu menggantung di udara. Aku terdiam. Selama beberapa jam terakhir pikiranku sudah berubah banyak. Aku menatap wajah Ibu Bima, lalu menatap Bima yang berdiri di sampingku. Napasku teratur perlahan sebelum aku mengucapkan kalimat yang sudah muncul di kepalaku. “Aku, aku tidak akan pulang.” Aku tidak menunggu reaksi Bima dan Ibu Bima lebih lama. Setelah mengucapkan bahwa aku tidak akan pulang dan ingin menetap selamanya, aku segera berlari ke kamar tamu kecil dan mengunci pintu dari dalam dengan bunyi klik yang keras. Di dalam kamar, aku menempelkan telinga di pintu sambil berteriak histeris. “Gak mau pulang! Gak mau pulang! Aku mau tinggal di sini selamanya!” Di luar, terdengar suara Bima yang tenang namun sedikit kaget. “Aruna, buka pintu dong. Kamu gak bisa begitu saja. Barangmu udah dapat, kan? Kamu harus pulang ke rumahmu, ibumu pasti khawatir.” “Rumahku kaya neraka!” teriakku lagi, suara makin tinggi dan histeris. “Ibu selalu marah karena aku penulis yang gagal! Mending aku di sini aja, meskipun hanya kamar tamu kecil!” Tiba‑tiba semua jadi hening. Tidak ada suara lagi dari luar. Aku merasa sedikit ragu, lalu membuka pintu sedikit celah dan menatap Bima dengan mata berkelip‑kelip. Tanpa pikir panjang, aku mengucapkan kalimat yang tiba‑tiba muncul di kepalaku. “Kita nikah saja yuk!” Bima terkejut, mata membelalak seolah melihat hantu. “Apa? Nikah? Kamu beneran?” “Ya dong!” jawabku dengan nada ceria yang tidak pantas. “Kalau aku jadi istrimu, kamu gak harus mengusirku keluar kan? Gak ada aturan yang bilang suami harus mengusir istri sendiri!” Sebelum Bima sempat menjawab, tiba‑tiba terdengar suara meradang dari arah dapur. “APA KAMU BILANG?!” Ibu Bima muncul dengan wajah kemerah‑merahan karena marah, tangannya menggenggam sandal jepit hitam yang sudah tua. “Nikah? Di situasi seperti ini? Kamu saja baru kenal Bima sehari! Kau pikir nikah itu mainan?!” Ia berjalan cepat menuju arahku, sandal jepitnya sudah siap dipukulkan. Aku yang terkejut, segera menutup pintu kamar dan mengunci lagi dengan cepat. Dari dalam, aku berteriak lagi dengan nada yang sedikit gemetar tapi masih tegas: “Kalau gak diizinkan aku tinggal, aku bakal gantung diri pakai seprai kamar ini!” “Gantung diri pakai seprai?!” teriak Ibu Bima dari luar. “Seprai itu tipis banget, pasti putus sebelum kamu bisa apa‑apa!” “Kalau gak, aku bakal minum sabun cuci piring!” “Sabun cuci piring rasanya pahit banget tapi gak akan bikin mati!” balas Bima yang mulai ikut adu mulut dari luar pintu. “Kamu baca dulu buku bahaya makanan dan minuman sebelum ngomong gitu!” “Kalau gak, aku bakal tidur terus sampai besok sore dan tidak mau makan apapun!” “Ya sudah, itu juga bukan cara bunuh diri!” teriak Ibu Bima. “Itu cuma malas banget!” Tapi akhirnya debat itu selesai. Ibu Bima merasakan sakit di kepalanya akibat hipertensi dan Bima memapahnya untuk istirahat di kamar. Sedang aku. Aku tersenyum puas di dalam kamar, lalu membuka pintu perlahan. Bima berdiri dengan wajah lelah, “Hehehe.” “Jangan senyum,” katanya dengan nada pelan. “Sekarang istirahat dan coba pikirkan lagi omonganmu.” Setelah itu, rumah perlahan menjadi tenang. Bima kembali ke kamar tidurnya. Aku masuk ke kamar tamu, mengambil buku tulis biru tua dan pena yang masih ada di meja. Kali ini, kata‑kata mengalir lebih lancar lagi, dengan perasaan tenang yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku menulis tentang rumah yang penuh kegaduhan tapi hangat, tentang pria yang menyembunyikan rahasia sebagai polisi, dan tentang usulan nikah yang tiba‑tiba yang membuat semua orang kaget. Lalu menit demi menit berlalu begitu saja. Pagi tiba lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku bangun jam empat, setelah itu berjalan ke dapur. Aku melihat lemari es dan menemukan telur, nasi, sayuran. Beberapa ide masakan tersaji di wajan dengan keahlian khusus yang tak seberapa. Tak lupa, aku juga membersihkan dapur, mencuci piring yang tertinggal semalam, membersihkan meja, dan menyapu lantai. Setelah itu, aku berjalan ke ruang tamu untuk membersihkan semua barang yang berserakan, lalu ke kamar Bima untuk mengambil baju kotornya dan mencucinya di mesin cuci. Jam lima pagi tepat, Bima keluar dari kamar tidurnya dengan wajah kucal, mata masih setengah terbuka, rambutnya acak‑acakan. Ia terkejut melihat rumah yang bersih dan rapi, serta aroma nasi goreng yang menggairahkan mengisi udara. “Apa, apa yang terjadi di sini?” tanyanya dengan suara serak. “Met pagi, Bima!” seruku dengan senyum ceria. “Aku sudah memasak sarapan, membersihkan rumah, dan mencuci bajumu! Coba lihat, rumahnya jadi bersih banget kan?” Bima duduk di meja makan dengan wajah yang masih bingung. Ia mengambil mangkuk nasi goreng yang sudah kupersiapkan, lalu menyantapnya perlahan. Wajahnya terlihat sangat lelah. “Kamu kenapa bangun terlalu pagi?” tanyaku. Ia menghela napas. “Aku tidak bisa tidur. Aku sedang membuat laporan untuk kasus yang penting, kasus penyelundupan barang berharga yang baru saja aku selesaikan bersama tim.” Aku duduk di depannya, menatap wajahnya yang letih. “Kamu pucat. Apakah kamu sakit?” “Tidak, cuma lelah saja,” jawabnya. Ia berhenti makan sejenak, lalu menatapku dengan mata yang lebih jelas. “Aruna, dari pada kamu begini, kenapa sih kamu gak mau pulang ke rumahmu? Barangmu udah dapat, kan? Ibumu pasti sudah mencari‑mencari kamu.” Aku tersenyum dengan gigi terlihat, lalu mengucapkan kalimat ini. “Sudah ku bilang, kan. Karena aku mau disini dan jadi istrimu saja.” Bima mengurut pelipisnya perlahan, seolah kepalanya mulai pusing dengan tingkah‑tingkahku yang tiba‑tiba dan tidak terduga. Aku melihat garis halus di dahinya, lalu segera tertawa kecil sambil menggelengkan tangan untuk memberi isyarat bahwa tadi ucapanku tadi hanya bercanda. “Jangan dipikir serius ya,” kataku pelan. “Tadi cuma bercanda saja.” Bima menghentikan gerakan tangannya sebentar, menatapku dengan tatapan ragu namun sedikit lega. “Kamu beneran cuma bercanda?” Aku mengangguk, lalu mulai bercerita dengan nada yang lebih tenang. “Aku sebenarnya punya mimpi yang sudah lama ditentang ibuku. Aku ingin jadi penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang. Tapi ibuku selalu menganggap itu hobi yang tidak menghasilkan apa‑apa, sering memarahi dan merasa aku hanya menjadi beban keluarga. Itulah sebabnya aku memutuskan lari dari rumah dulu, hanya membawa selempang dan uang lima ratus ribu rupiah yang sudah kubelanjakan untuk tiket bus. Aku berharap bisa mengejar mimpiku di sini tanpa terus‑menerus merasa seperti beban.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD