Aku menatap meja makan sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tidak mau menjadi beban bagi keluargamu juga, Bim. Aku berjanji akan mencari pekerjaan dan membayar sewa tempat tinggal, supaya kalian tidak merasa keberatan dengan kehadiranku. Bahkan hari ini aku akan mulai mencarinya. Tadi malam, setelah semua keributan itu, aku sempat membuka aplikasi pencari pekerjaan di ponselku. Ada beberapa jenis pekerjaan harian yang bayarnya perhari, cukup untuk biaya hidupku sendiri.”
Lalu latar beralih ke sebuah rumah mewah berhalaman luas dengan pepohonan rindang di sekelilingnya. Aku sedang duduk tegang di ruang tamu yang berlantai marmer mengkilap, jari‑jariku saling meremas di pangkuan. Bau bunga melati dan kayu wangi memenuhi ruangan itu. Seorang pria berpakaian rapi mendekatiku, langkahnya tenang.
“Tugasmu adalah menjaga Oma,” ucapnya dengan suara rendah dan jelas. “Kamu harus datang sebelum Oma sarapan pukul delapan pagi. Tugasmu memandikan Oma, menyuapi makan, dan mengajak Oma berjalan‑jalan di taman. Kamu boleh pulang pukul lima sore. Satu syarat penting, sebelum kamu pulang, Oma sudah harus selesai dimandikan, diberi makan, dan diletakkan dengan nyaman di kamar tidurnya.”
Aku menarik napas panjang, memikirkan apakah aku mampu melakukannya. Aku teringat janji kepada Bima dan ibunya untuk segera mencari nafkah. “Aku setuju,” jawabku akhirnya.
Pria itu mengangguk. “Baik. Bayaran perhari tiga ratus ribu rupiah. Kita sudah sepakat.”
Sebelum aku berpamitan keluar rumah itu, aku berjalan melewati taman luas di samping bangunan. Di sana, di bawah pohon mangga besar, ada seorang wanita lansia duduk di kursi roda. Ia tampak menikmati cahaya matahari pagi yang lembut menyentuh wajahnya. Aku menatapnya seakan terpcahay, meskipun usianya sudah tua, wajahnya tetap cantik, ada cahaya lembut di sekelilingnya seolah ia adalah malaikat yang turun ke dunia.
Tiba‑tiba wanita itu menengok ke arahku. Entah mengapa, mata kami beradu tepat satu sama lain.
Malam itu, setelah kembali dari rumah mewah tempat aku baru saja menerima tawaran pekerjaan menjaga Oma, aku berjalan pulang menuju rumah Bima dengan langkah yang lambat.
Pikiran‑pikiranku masih tertahan pada sosok wanita lansia di taman tadi.
Segera aku mengambil buku tulis biru tua dan pena yang dulu diberikan Bima. Selama beberapa jam terakhir, sosok oma itu perlahan‑lahan membangkitkan sebuah ide cerita baru di kepalaku. Sebelumnya aku hanya menulis kisah tentang diriku sendiri, sebagai penulis yang gagal, lari dari rumah, kehilangan barang‑barang di bus, lalu bertemu keluarga Bima. Namun sekarang ada bayangan tokoh baru yang terus memanggilku untuk dituangkan ke atas kertas.
dalam cerita, dia datang bukan sebagai pejuang yang membawa pedang atau sihir besar, melainkan sebagai seseorang yang berjalan perlahan, mencari sebuah harta paling berharga di seluruh bumi. Jika ia berhasil menemukannya, ia yakin bisa mengobati seluruh kutuk derita yang menimpa penghuni dunia itu.
Aku menulis deskripsi perjalanannya. Jalan‑jalan berlumut, hutan dengan pohon‑pohon daun perak, sungai yang airnya berwarna abu‑abu.
Jam di dinding kamar menunjukkan hampir jam dua pagi. Tangan‑tanganku mulai terasa pegal, mataku sedikit perih karena terus menatap kertas. Namun aku tidak mau berhenti sebelum inti gagasan utama itu tertulis dengan cukup jelas.
"Harta itu bukan emas atau permata. Ia adalah sesuatu yang bisa tumbuh, jika kita memberikan perhatian dan kasih sayang.” Aku belum tahu bagaimana kelanjutannya, tapi kalimat itu terasa benar untuk diucapkan tokoh yang kubuat.
Setelah halaman‑halaman itu terisi, rasa kantuk akhirnya datang menyerang dengan lembut. Aku meletakkan pena di atas meja, menutup buku tulis biru tua itu, lalu merebahkan diri di tempat tidur. Lampu meja aku matikan, hanya cahaya rembulan yang masuk melalui celah tirai. Aku memejamkan mata, pikiran masih berputar di sekitar nenek pencari harta, sebelum akhirnya aku tertidur perlahan‑lahan.
Aku masuk ke dalam dunia imaji. Langit di sana berwarna biru pucat dengan awan‑awan yang bergerak lambat seperti kapas. Di depan mataku ada jalan tanah yang berkelok, di sampingnya ada padang rumput hijau luas. Di tengah jalan itu, ada sosok wanita lansia yang duduk di atas punggung seekor keledai berwarna cokelat muda. Keledai itu berjalan tersuruk‑suruk, langkahnya tidak cepat, kadang‑kadang berhenti sejenak karena ingin menunduk untuk makan rumput yang tumbuh di pinggir jalan.
Wanita itu adalah nenek dari ceritaku, yang juga sosok oma yang kulihat di taman rumah mewah tadi. Rambut putihnya terurai tertiup angin, pakaiannya kain panjang berwarna krem dengan bordir bunga kecil di ujung lengan. Ia tidak tampak lelah, hanya tampak tenang, matanya memandang ke arah kejauhan seolah sudah mengenal jalan itu selama bertahun‑tahun. Tas kain kecil tergantung di bahunya, di dalamnya ada biji bunga yang kutulis tadi.
Aku berdiri di pinggir jalan, tidak berani bergerak terlalu dekat. Aku merasa seolah aku adalah pengamat dari tempat yang berbeda, namun juga bisa merasakan angin yang sama menyentuh kulitku. Nenek di atas keledai itu perlahan‑lahan menengok ke arahku. Tatapannya lembut, tidak ada rasa kaget atau curiga. Ia tersenyum tipis, lalu berbicara dengan suara yang lembut seperti bisikan angin di antara daun‑daun pohon.
“Kau tampak cantik, gadis kecil.”
Lalu aku terbangun. kata-kata bagai mantra. aku tak sanggup menjawab dan hanya bisa menunggu kalimat apa yang akan keluar berikutnya.