Aku tertegun. Di dalam mimpi itu, aku ingin menjawab sesuatu, ingin bertanya tentang harta yang ia cari, tentang dunia ini, tentang apakah ia tahu siapa aku sebenarnya. Namun sebelum kata‑kata keluar dari mulutku, keledai itu kembali melangkah maju, tersuruk‑suruk lagi, dan nenek itu masih menatapku sebentar sebelum pandangannya beralih kembali ke jalan di depannya. Aku mencoba berjalan mengikuti, tapi kakiku terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahanku tetap di tempat itu. Aku melihat sosok mereka semakin menjauh, perlahan‑lahan menghilang di balik bukit hijau yang lembut.
Aku terbangun dengan terkejut, bahkan sedikit melompat di atas kasur tamu saat suara alarm ponselku berdering nyaring dari meja kecil. Jantungku berdegup kencang, mataku masih terasa berat karena baru saja terbangun dari mimpi panjang tentang nenek di atas keledai. Aku segera menoleh ke arah layar ponsel, pukul lima pagi.
“Aduh! Sudah jam lima?” gumamku panik. Aku teringat janji harus tiba di rumah mewah itu sebelum pukul delapan pagi. Meskipun masih ada dua jam, aku tak ingin mengambil risiko tersesat atau terhambat kemacetan. Aku segera melompat turun dari tempat tidur, meraih handuk dan perlengkapan mandi sederhana yang kubawa, lalu berlari menuju kamar mandi rumah Bima. Suasana rumah masih tenang. Bima dan ibunya belum bangun, hanya suara burung‑burung di halaman yang terdengar lembut.
Aku mandi dengan cepat, memakai baju yang rapi namun nyaman, lalu segera membuka aplikasi ojek daring di ponselku. Aku memasukkan alamat rumah mewah tempat aku diwawancarai kemarin, lalu menunggu pesanan diterima.
Beberapa menit kemudian, pengemudi ojek sudah tiba di depan gerbang rumah Bima. Aku berpamitan cepat tanpa sempat membangunkan penghuni rumah, lalu naik ke atas motor. Sepanjang perjalanan aku melihat jalan mulai ramai, pedagang sarapan membuka lapak, pekerja bergegas menuju tempat kerja, kendaraan bergerak perlahan di beberapa titik jalan. Aku terus memandangi jam di layar ponselku, takut terlambat.
Untungnya, aku sampai di gerbang rumah mewah itu sekitar pukul tujuh lewat empat puluh menit, masih ada sisa waktu dua puluh menit sebelum batas pukul delapan. Aku turun dari ojek, membayar ongkosnya, lalu berjalan menuju pos penjagaan gerbang. Di sana berdiri seorang satpam muda, usianya mungkin tidak jauh berbeda denganku.
“Maaf, saya datang untuk bekerja sebagai perawat lansia di sini,” ucapku sopan sambil menunjukkan pesan jadwal yang ada di ponselku.
Satpam itu mengerutkan dahi. “Saya tidak menerima pesan apa-apa dari bos. Dan juga, banyak orang suka berbohong untuk bisa masuk ke dalam halaman rumah ini.”
“Aku tidak berbohong! Kemarin saya sudah bertemu dengan putra Oma, dia yang menyuruhku datang pagi ini sebelum jam delapan,” jelasku dengan nada mulai cemas.
“Siapa yang bisa membuktikannya?” sahut satpam itu dengan nada meninggi, mulai marah‑marah. “Bisa saja kamu orang asing yang ingin masuk untuk mencari keuntungan. Saya tidak bisa membiarkan orang masuk tanpa pemberitahuan resmi.”
Kami berdebat sejenak di depan pos gerbang. Aku merasa panik, takut pekerjaan pertama yang kubutuhkan ini akan hilang sebelum dimulai. Aku mencoba menelepon nomor pria yang mewawancaraiku kemarin, namun panggilan tidak tersambung. Satpam itu semakin bersikeras agar aku pergi.
Tiba‑tiba terdengar suara tua yang lembut namun jelas dari arah jalan di dalam halaman. “Jangan marah, Pak. Biarkan gadis itu masuk menemui saya.”
Kami berdua menoleh ke arah suara itu. Di sana ada sosok Oma yang duduk di kursi roda listrik, bergerak perlahan mendekati gerbang. Cahaya matahari pagi menyentuh rambut putihnya, memberikan kesan
“Dia adalah caregiver yang disewa anakku,” ucap Oma dengan suara tenang. “Anakku lupa memberi pesan kepada pos penjagaan. Itu salah anakku, bukan salah gadis ini.”
Satpam itu terkejut, segera menunduk minta maaf. “Maaf, Oma. Saya tidak tahu.”
“Tidak apa‑apa,” jawab Oma lembut. “Buka gerbang ya.”
Gerbang pun terbuka. Aku berjalan mendekat, masih sedikit gemetar karena ketegangan tadi. Oma menggerakkan kontrol kursi rodanya agar berbalik arah. “Ikutlah bersamaku ke taman,” ajaknya.
Aku berjalan di samping kursi roda listriknya melewati jalan berkerikil yang bersih, di sisi kiri dan kanan ada tanaman hias berbunga berwarna‑warni. Udara pagi terasa segar, ada aroma bunga melati yang lembut. Saat tiba di bangku taman yang luas, Oma berhenti di dekat pohon mangga besar tempat aku pertama kali melihatnya kemarin. Ia menoleh ke arah rumah dengan suara cukup lantang untuk didengar pembantu rumah, “Gendis! Minta tolong bawakan teh hangat dan sepiring sarapan ringan untuk gadis ini ya.”
Beberapa saat kemudian pembantu rumah datang membawa nampan. Ada segelas teh hangat, sepiring roti bakar dengan selai stroberi, dan telur rebus. Nampan itu diletakkan di meja kecil di dekat kami.
“Silakan sarapan dulu,” kata Oma sambil tersenyum lembut. “Kamu tampak terburu‑buru tadi. Jangan bekerja dengan perut kosong.”
Aku merasa hangat di d**a. Aku mengambil sepotong roti bakar, memakannya perlahan sambil minum teh hangat. Ketika aku hampir selesai sarapan, Oma menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Ia bertanya dengan suara lembut. “Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?”
Aku terdiam sebentar. lalu perlahan diriku menceritakan apa yang aku cari saat ini. bahwa sebenarnya diriku yang labil ini hanya ingin menemukan jalan untuk jadi seorang penulis, seorang seniman di atas kertas.
“Kenapa, Aruna? Kenapa kau begitu ingin menjadi penulis?” Oma menyesap tehnya tanpa memandangku, tapi aku tahu doa pendengar yang baik.
“Bagaimana, ya. Mungkin karena, dengan menulis, aku bisa lebih jujur. Aku bisa mengungkapkan pendapat dengan lancar. bahkan saat bicara aku tak pernah secerewet tulisan yang sudah ku buat. Aku ingin menjadi jujur, Oma. Aku ingin menuangkan semua hal yang ku punya dalam satu wadah yang bernama tulisan.”
Lalu kami terdiam cukup lama sampai Oma berkata, "pikiranmu sangat indah, Aruna."
“Oma. Aku sering merasa, seolah ada dinding di antara mulutku dan hati,” ujarku pelan, hampir berbisik. “Ketika orang bertanya apa yang kurasakan, lidahku terasa berat. Kata‑kata yang ingin keluar selalu terpotong, berubah menjadi hal‑hal yang tidak benar‑benar kumaksud. Tapi jika aku duduk dengan selembar kertas dan pena, dinding itu seolah lenyap.”
Oma duduk tenang di kursi rotannya, tangan keriputnya mengusap permukaan selimut tipis di pangkuannya. Matanya yang sudah mulai kabur tetap tertuju pada wajah Aruna, penuh perhatian.
Lalu aku mengambil selembar kertas kosong di tas, memegang pensil dengan jari‑jari yang sedikit gemetar. “Di atas kertas, aku bisa menceritakan hujan yang terasa dingin, rasa sepi saat sendirian, harapan yang kadang terlalu rapuh untuk diucapkan secara langsung. Semua hal yang terlalu halus untuk hanya diucapkan dengan satu kalimat pendek.”
Oma menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Aku mengerti. Ada orang yang suaranya paling nyaring ketika berbicara, ada pula yang suaranya baru terdengar benar‑benar di atas kertas. Itu bukan kelemahanmu, Aruna. Itu caramu berbicara dengan dunia.”
Entah mengapa obrolan kali ini membuatku sedikit emosional. Bahkan mataku mulai berkaca‑kaca.