Pilek

1101 Words
Biasanya, setiap kali aku tiba di rumah Oma, pintu sudah sedikit terbuka, lalu ada suara lembut Oma sedang berbicara dengan pembantu rumah tangga atau merapikan tanaman di taman. Namun hari ini suasana terasa sunyi. Tidak ada suara percakapan, tidak ada aroma teh hangat yang biasa tercium dari dapur. Aku melangkah perlahan menuju pintu depan, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ku ketik pintu dengan pelan. Tidak ada jawaban. Aku memutar kenop pintu, lalu masuk. Ruang tamu kosong. Pembantu yang biasanya ada di sekitar rumah juga tidak terlihat. Rasa curiga mulai muncul di hatiku. Aku berjalan cepat menuju lorong menuju kamar tidur Oma. Aku mengetuk pintu kamar pelan‑pelan. “Oma? Ini Aruna, boleh masuk?” Masih tidak ada suara. Aku membuka pintu dengan hati‑hati. Di atas tempat tidur yang luas, Oma berbaring diam, selimut menutupi badannya sampai d**a. Wajahnya tampak pucat, dengan napas yang terdengar sedikit berat. “Oma? Oma kenapa?” tanyaku pelan. Kupegang keningnya. Panas. Lengannya juga. Aku teringat termometer digital di tasku. Termometer itu kudekatkan ke telinga Oma. Beberapa detik kemudian angka muncul di layar: 39 °C. “Astaga,” bisikku dengan cemas. Aku menutup pintu kamar agar tak ada yang masuk sembarangan. Setelah itu aku perlahan‑lahan membuka pakaian tidur Oma dengan lembut, berusaha tidak membuatnya terkejut. Aku mengambil handuk kecil, merendamnya dengan air, lalu mulai mengompres area ketiak, s**********n, leher, dan kening Oma. “Tenang ya Oma, apa yang dirasa?” tanyaku pelan sambil mengusap dahinya. Tapi Oma tak menjawab. Beberapa kali aku mengganti handuk kompres. Menjaga suhu agar stabil. Kadang‑kadang aku berhenti sejenak untuk memeriksa napasnya. “Oma? Oma?” aku terus mengajaknya bicara. Agak takut juga kalau ia sampai kehilangan kesadaran. Oma perlahan membuka matanya. Tatapannya tampak kabur, seolah‑olah sedang menahan rasa sakit yang menusuk. Otot‑otot wajahnya sedikit mengejang, namun dia tidak mengeluarkan suara keluhan. “Oma? aku di sini,” kataku sambil tetap memegang handuk kompres di keningnya. Karena keadaan terasa mengkhawatirkan, aku segera mengambil ponsel dan menelepon bosku. “Halo Pak?” suaraku terdengar sedikit tergesa‑gesa. “Ada apa Aruna? Apakah ada masalah?” tanya suara dari seberang telepon. “Pak, Oma demam tinggi, suhunya tiga puluh sembilan derajat. Dia tampak lemah, kadang mengejang sedikit. Menurut saya sebaiknya segera diperiksa ke dokter,” jawabku. Ada jeda lama. Aku bisa membayangkan syok yang bosku Terima. “Baiklah, bawa Oma ke klinik terdekat segera. Jangan menunda,” perintah bosku. “Baik Pak. Tapi sopir rumah tidak ada di tempat sekarang, bisa saya izin pesan taksi daring saja?” tanyaku. “Boleh saja, lakukan saja yang diperlukan. Saya akan menyusul nanti kalau ada waktu.” Lalu sambungan telepon pun selesai. Aku segera mengenakan kembali pakaian Oma dengan hati‑hati lalu memesan taksi daring. Dengan hati-hati aku membantu Oma ke kursi roda dan bergerak perlahan menuju gerbang. Perjalanan ke klinik terdekat tidak terlalu lama. Untungnya saat itu tidak banyak pasien di sana. Kupandangi dokter yang memeriksa Oma dengan sesekali berdoa agar tak ada hal buruk terjadi pada Oma. “Tidak ada tanda‑tanda infeksi berat. Hanya demam biasa karena flu. Tapi perlu diwaspadai karena ada batuk dan sedikit sesak napas.” “Apakah harus dirawat inap, Dok?” tanyaku cemas. “Tidak perlu, cukup istirahat di rumah dan minum obat secara teratur,” jawab dokter sambil menulis resep. Setelah mengambil obat, aku membantu Oma kembali ke rumahnya. Aku berpikir bahwa tidak baik jika aku pulang ke rumah Bima hari ini. Aku mengambil ponsel lagi dan menelepon bosku. “Halo Pak, kami sudah pulang dari klinik. Oma perlu istirahat. Saya berniat menginap di sini untuk menemani Oma sampai suhu tubuhnya kembali normal,” kataku. “Apakah kamu yakin Aruna? Itu akan membuatmu lelah,” tanya bosku. “Saya siap Pak. Saya takut jika nanti malam suhunya naik lagi dan tidak ada orang yang membantu,” jawabku. “Baiklah, saya setuju. Jaga Oma dengan baik.” Malam pun tiba. Aku duduk di kursi dekat tempat tidur Oma, sesekali memeriksa suhunya, memberikan minum dan obat sesuai jadwal. Lama‑kelamaan rasa kantuk datang menghantamku. Aku menyandarkan tubuh di pinggir ranjang dan tanpa sadar tertidur. Pukul dua belas malam, terdengar suara tangis kecil yang lembut. Aku terbangun dengan terkejut. Aku mendongak ke arah tempat tidur. Oma sudah bangun, wajahnya tampak lebih tenang. Dia mengulurkan tangan lalu mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. “Kamu pasti lelah ya, Nak,” bisik Oma dengan suara yang masih serak. “Oma! Sudah merasa lebih baik?” Dibanding menjawab, aku justru balik bertanya sambil segera bangkit sedikit. “Ya. Panasnya sudah hilang. Terima kasih sudah bersamaku sampai sekarang,” kata Oma pelan. “Mau tidur di sebelahku saja ya? Jangan di kursi itu.” Aku ragu sejenak, lalu mengangguk. Perlahan aku naik ke sisi ranjang yang masih kosong, berbaring dengan hati‑hati agar tidak mengganggu Oma. Di kegelapan kamar yang tenang, aku akhirnya bisa beristirahat sedikit lebih nyaman. Keesokan paginya aku bangun sebelum Oma. Cepat aku mengambil termometer dan mengukur suhu tubuhnya. 36 °C. Normal. Namun Oma masih tampak pilek dan sesekali batuk. Karena ada kemungkinan terjadi radang tenggorokan, aku juga menyiapkan makanan lunak. Semangkuk bubur telur hangat dan segelas air jahe hangat untuk Oma yang aku sajikan di meja kecil dekat ranjang. “Oma, ini sarapannya ya, dimakan perlahan,” kataku ketika Oma mulai membuka mata. “Terima kasih, Aruna. kamu sangat perhatian,” ucap Oma sambil mencoba duduk perlahan. Setelah Oma selesai makan dan tertidur kembali, ponselku berdering. Itu bosku. “Aruna, bisa kamu datang sebentar ke ruang tamu?” ajaknya. Aku terdiam sejenak sebelum berjalan menuju ruang tamu. Saat iti bos sedang duduk di sofa, wajahnya tampak bersinar saat menatapku dengan tatapan yang penuh penghargaan. “Aruna, saya ingin mengucapkan terima kasih atas dedikasimu kemarin dan semalam,” katanya. “Kami sebagai keluarga kadang terlalu sibuk. Kami bahkan tidak menyadari kalau Oma sudah sakit. Jika tidak ada kamu, mungkin hal itu akan terlambat kami ketahui.” “Saya hanya melakukan tugas saya saja Pak,” jawabku dengan nada rendah. “Tidak sekadar tugas. Kamu memilih untuk menginap dan menjaganya. Sebagai tanda terima kasih, saya sudah mengirimkan bonus satu juta ke rekeningmu. Silakan cek nanti,” kata bosku. Mataku terbelalak sedikit. “Benarkah Pak? Terima kasih banyak.” “Ya, itu pantas untukmu. Sekarang kamu boleh pulang dan istirahatlah,” ucap bos sambil tersenyum. Aku berpamitan, lalu berjalan keluar menuju gerbang rumah. Hatiku terasa penuh semangat. Dan juga, di luar gerbang, ada pemandangan yang membuat wajahku memerah. Itu Bima. Dia sedang duduk di atas motor RX‑King tua miliknya, dan senyumnya begitu hangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD