Gavin Mahendra

1530 Words
"Selamat pagi." sapa Gavin, kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi di kelas. Gavin Mahendra, putra tunggal dari Ardan Mahendra dan Ranti Mahendra. Ia bekerja di RS ABDI International Hospital, sebagai dokter bedah saraf, dan juga menjadi dosen di salah satu Universitas ternama di Jakarta. "Pagi, Pak!" jawab mereka serempak. "Sekarang jamnya Bu Arum, ya?" tanya Gavin, karena memang seharusnya Bu Arum yang mengisi, beliau meminta tukar jam mengajar dengannya. "Iya, Pak," jawab salah satu mahasiswa. "Bu Arum ada urusan mendadak, jadi hanya untuk pertemuan kali ini saja, saya yang menggantikan. Untuk pertemuan selanjutnya, akan kembali sesuai jadwal," jelas Gavin dengan tenang. "Oke, Pak." "Gila! Ganteng banget Pak Gavin.m, auranya benar-benar bikin jiwa jomblo gue meronta-ronta," bisik-bisik para mahasiswi, terdengar sampai ke depan. Gavin masih bisa mendengarnya, namun ia sudah terbiasa dengan pujian seperti itu. Jadi ia hanya bersikap biasa saja, akan menjadi luar biasa, jika gadisnya yang mengatakan itu. Mata Gavin memindai seisi ruangan, mencari keberadaan gadisnya dan ya, ia menemukannya. Gadis itu duduk di pojok, barisan paling belakang, dengan buku terbuka di depannya. Gavin menatapnya, pada saat yang bersamaan, gadis itu juga menatap Gavin, hanya sesaat, setelah itu, gadisnya langsung mengalihkan pandangan ke buku yang berada di depannya. Tatapan singkat itu saja, sudah cukup membuat hati Gavin menghangat, jantungnya yang sudah mulai tenang, kembali berdebar tak karuan. "Oke, sebelum perkuliahan dimulai, kita perkenalan dulu ya. Walaupun saya yakin rekan-rekan semuanya, mungkin sebagian besar sudah mengenal saya. Perkenalkan, saya Gavin Mahendra, biasa dipanggil Gavin. Umur 25 tahun. Selain mengajar, saya juga bekerja di RS ABDI, ada yang mau ditanyakan?" kata Gavin setelah berhasil menguasai dirinya. "Sudah punya pacar apa belum, Pak? Mau daftar dong kalau belum." tanya salah satu mahasiswi dengan malu-malu, Gavin belum mengenal namanya, karena ini pertama kalinya ia mengajar di kelas itu. Gavin tersenyum tipis. "Alhamdulillah belum, kalau ada, maunya langsung cari calon istri, nggak usah pacaran," jawabnya, sambil tak lupa melirik gadisnya yang masih asyik dengan buku di depannya. Tidak seperti gadis lainnya yang selalu menatapnya dengan tatapan memuja, gadisnya ini amat sangat cuek, justru itu yang membuat Gavin, semakin penasaran, ingin segera mendekatinya dan memilikinya. "Daftar dong, Pak Gavin," ujar salah satu mahasiswi lagi, disambut tawa kecil teman-temannya, Gavin hanya tersenyum, tidak berniat menjawabnya lagi. Tapi, jika yang bicara itu adalah gadisnya, sudah pasti dengan senang hati Gavin akan menjawab, 'Boleh'. Sayangnya, mustahil hal itu terjadi sekarang. "Ada yang mau ditanyakan lagi?" kata Gavin lagi. "Nomor WA-nya, Pak," kata mahasiswi lainnya yang duduknya tak terlalu jauh dari mahasiswi tadi. Gavin terkekeh pelan. "Nomor saya, nanti saya berikan ke PJ saja. Kalau ada yang penting, bisa lewat PJ untuk disampaikan ke saya. Baik, kalau begitu saya absen dulu ya," jawab Gavin yang langsung membuka jurnal absensi. "Abella Dwi Dharma." "Hadir, Pak!" "Alfa Putra Wijaya." "Hadir." "Bagas Perwira." "Hadir." Dan seterusnya, Gavin mengabsen satu per satu sesuai urutan, sambil berusaha mengenal wajah mereka. Kini, giliran gadis yang selalu membuatnya penasaran, sejak awal jumpa saat PKKMB dulu. "Forza Shanum Adhitama." "Hadir," jawab Forza singkat. Gavin kembali menatapnya sekilas dan melanjutkan absensi hingga selesai. "Baik, semuanya sudah saya absen. Penanggung jawab kelas atau ketua kelas di sini siapa?" tanya Gavin, tak lama, seorang mahasiswa mengangkat tangannya. "Saya, Pak,". "Sekarang, saya mau PJ untuk mata kuliah saya. Apa Anda bisa menunjuk, salah satu teman di kelas ini yang bisa menjadi PJ saya?" tanya Gavin. "Forza saja, Al!" kata seseorang yang duduk di samping gadisnya. Abell, membuat Gavin tersenyum bahagia dalam hati. "Nggak Al, Abell saja, dia sudah berharap tuh," tolak Forza dengan cepat, membuat Gavin sedikit mendengus. "Saya setuju Forza," kata Gavin cepat, agar penanggung jawab kelas juga setuju. "Loh Pak, maaf biasanya PJ itu laki-laki, saya nggak berminat jadi PJ," protes Forza, membuat Gavin makin gemas. _Coba kita sudah resmi, Za, sudah aku cubit pipimu yang menggemaskan itu._ Tentu saja itu hanya bisa Gavin katakan dalam hatinya. "Itu biasanya, kan? Kalau sekarang, saya mau yang nggak biasa. Saya mau Anda yang menjadi PJ mata kuliah saya, Nona Forza Shanum," jawab Gavin tegas, tak ingin dibantah. "Nggak bisa gitu Pak, saya ya nggak tahu juga kerjaan PJ itu apa saja," protes gadisnya lagi. "Nanti bisa ditanyakan sama ketua kelas apa tugas dari PJ," kata Gavin lagi, tak mau kalah. Jelas Gavin tak mau menghilangkan kesempatan emas yang sudah di depan mata dengan cara ini, ia berharap bisa lebih dekat dengan gadisnya. "Tapi, Pak..." Forza kembali akan protes, namun ucapannya keburu dipotong ketua kelas. "Sudah, terima saja, Za! Kalau debat terus, kapan perkuliahannya dimulai?" kata Alfa, sang ketua kelas. _Good job!_ Gavin bertepuk tangan penuh kemenangan dalam hati, melihat gadisnya mencebikkan bibirnya. Membuat Gavin makin gemas melihatnya. "Saya setuju, Pak. Forza jadi PJ Pak Gavin, karena dia paling cerdas di sini," kata Alfa. "Baik, kalau begitu sudah deal ya, PJ saya siapa, kita mulai perkuliahannya," kata Gavin pada akhirnya. Gavin memulai perkuliahan, menjelaskan materi di depan kelas. Forza mencatat apa saja yang menurutnya penting dari materi yang Gavin sampaikan. Entah suatu kebetulan atau apa, saat Forza sedang menatap Gavin, tak sengaja mata mereka saling bertemu. Karena Gavin memang sedang menatapnya, hingga beberapa saat, mereka saling menatap, sampai Forza yang mengakhiri terlebih dahulu. Forza merasakan ada yang aneh dengan jantungnya, hanya karena tatapan dari Gavin, ia merasa menemukan sesuatu yang selama ini telah hilang, entah apa, karena baru kali ini Forza merasakannya. "Cieee, yang saling tatap," bisik Abell sambil menyenggol tangan Forza dan yang disenggol hanya melirik dengan malas, karena Forza masih kesal dengan Abell. "Pertemuan untuk hari ini, saya cukupkan sampai di sini. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya, untuk Nona Forza Shanum, saya tunggu di ruangan saya, terima kasih," kata Gavin mengakhiri perkuliahan. Gavin berjalan keluar meninggalkan kelas, sedangkan Forza membereskan bukunya, karena harus segera menyusul Gavin ke ruangannya. "Kantin yuk, Za," ajak Nadia dan Forza menggeleng. "Kenapa?" tanya Nadia. "Lo lupa? Gue kan diminta ke ruangan Pak Gavin," jawab Forza. "Cieee, buru-buru amat langsung mau ke sana," goda Abell yang sukses membuatnya mendapat jitakan di kepalanya. "Berisik lo, Bel! Ini semua gara-gara lo ya," kata Forza. "Nad, nitip tas gue," lanjutnya lagi, sambil berjalan keluar kelas tanpa mendengar jawaban apa pun dari para sahabatnya. Forza berjalan menuju ruangan Gavin. Ia sendiri tak tahu di sebelah mana, karena jujur saja, Forza memang jarang memasuki ruang dosen. "Forza, ya?" tanya seseorang yang baru keluar dari salah satu ruangan. Forza menoleh dan melihat pria yang ia tahu adalah salah satu dosen dan dekan termuda di Universitasnya, Pradhika Abhimanyu atau biasa dipanggil Pak Dhika. Forza tersenyum dan mengangguk, dalam hatinya ia bertanya, dari mana dekannya itu tahu namanya, padahal dekannya itu belum pernah mengajar kelasnya. "Cari siapa, Za?" tanya Dhika lagi dengan ramah. "Cari ruangan Pak Gavin, Pak. Maaf, di mana ya?" tanya Forza berusaha sesopan mungkin. "Oh, cari ruangan Pak Gavin. kamu lurus saja, nanti belok kanan, pintu ketiga," jawab Dhika sambil tersenyum, senyum manis berhias lesung pipi. Seingat Forza, Abell sering bercerita jika Pak Dekan di depannya ini tak pernah tersenyum. Dari keempat dosen most wanted, Dhika urutan pertama yang paling pelit senyum, urutan kedua ada Gavin, ketiga ada Dimas, dan terakhir Reno. Mereka berempat bersahabat. "Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi ke ruangan Pak Gavin," kata Forza berpamitan pada Dhika, yang dijawab dengan anggukan kepala. Forza berjalan sesuai arahan Dhika dan ia pun mengetuk pintu ruangan, saat sudah berada di depannya. Tok... tok... tok... "Masuk!" sahut suara dari dalam, Forza perlahan membuka pintu ruangan. "Permisi, Pak." kata Forza saat sudah berada di dalam ruangan. Gavin tersenyum dan mempersilakan untuk duduk dengan isyarat tangannya, Forza pun duduk di kursi depan meja kerja Gavin. "Forza Shanum, hmm... saya enaknya panggil Forza atau Shanum?" "Forza saja nggak apa-apa, Pak." "Oke, Forza ini nanti kamu fotokopi untuk materi minggu depan, ya dan saya minta nomor w******p kamu," kata Gavin sambil menyerahkan silabus dan materi untuk pertemuan yang akan datang, juga tak lupa menyodorkan ponselnya. "Nomor w******p? Buat apa Pak?" tanya Forza bingung. "Kamu lupa, ya? Kamu kan PJ saya, jadi wajib saya minta nomor kamu. Kalau ada apa-apa, kan saya hubunginya kamu, bukan ketua kelas," jelas Gavin dan Forza mengangguk paham. "Oh ya, baik Pak." Forza menerima ponsel Gavin dan mulai mencatat nomornya. "Ini, Pak." Gavin menerima ponselnya dan mendial nomor yang baru saja disimpan, membuat ponsel Forza bergetar. "Oke, itu barusan yang misscall nomor saya. Jangan lupa di-save, ya," ujar Gavin. "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Gavin hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum manis yang tak pernah ia tunjukkan pada wanita mana pun, kecuali keluarganya dan Forza tentunya. Setelah berpamitan, Forza kembali ke kelasnya untuk mengambil tas yang ia titipkan pada Nadia. "Gimana, Za?" tanya Abell saat Forza sudah sampai di kelas dan duduk di samping Nadia. "Gimana apanya?" tanya Forza. "Pak Gavin manggil lo ada apa?" tanya Abell lagi. "Oh, ini suruh difotokopi buat pertemuan nanti," jawab Forza sambil memberikan kertas yang ia bawa. "Cuma ini?" Forza mengangguk. "Udah ah, gue mau ke perpus." Forza mengambil tasnya. "Lo sudah kita tungguin, malah mau ke perpus? Nggak bisa ya, Za! Kita ke kantin dulu baru lo ke perpus. Lagian kita mau ditraktir sama Nadia, ya nggak, Nad?" kata Abell. "Iya, Za, yuk ke kantin," kata Nadia. "Kalau ditraktir, mana bisa gue tolak," jawab Forza sambil menyeringai, memamerkan deretan giginya. Mereka pun berjalan menuju kantin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD