LIMA BELAS

1849 Words
Sekarang aku tahu, Mas Javas nggak punya orientasi menyimpang, tapi b******n. Fakta yang aku dapat beberapa waktu lalu bikin aku muak setengah mati, padahal baru kemarin dia bilang cinta padaku. Cih, dia nggak benar-benar punya rasa itu. Aku nggak tahu apa motifnya, tapi aku sangat membenci lelaki macam dia. Tahu begitu, aku nggak bakalan sudi menikah dengannya. Aku marah? Tentu saja. Aku merasa harga diriku sedang diinjak habis-habisan. Bayangan Mas Javas yang tengah mengejek kebodohanku pun berputar bak kaset rusak di benakku. Bisa-bisanya aku dibodohi lelaki kadal macam dirinya. Kesimpulanku, Mas Javas nggak punya hubungan apa pun dengan Mas Natha, melainkan dengan perempuan bernama Andara. Dan Kalana, gadis kecil tadilah yang menjadi hasil dari hubungan mereka. Sekarang, ada skenario baru yang memenuhi otakku, kali ini Mas Javas sengaja memanfaatkanku untuk menutupi aibnya dengan Andara, yang mana adalah wanita yang potretnya kutemukan di foto beberapa minggu yang lalu, dan berakhir membuatku dongkol luar biasa pada Mas Javas. Aku baru ingat itu ngomong-ngomong saat melihat pancaran mata Andara yang mengarah pada lelaki berstatus suamiku itu. Pantas saja Mas Javas mengataiku lancang, ternyata mereka memang punya hubungan spesial. "Kamu salah paham, Kin." Mas Javas berdiri di hadapanku, melihatku dengan sorot paling frustrasi yang pernah aku lihat. Sejak kepulangan Andara dan putri kecil mereka beberapa menit lalu, Mas Javas mengurungkan niatnya ke rumah sakit dan berakhir membuntutiku. Aku muak, aku jengah, aku ingin menonjok wajahnya. "Salah paham apanya? Aku emang nggak sepintar Mas, tapi bukan berarti aku gampang dibodohin ya, Mas. Aku punya mata, aku punya telinga, aku punya otak, mustahil aku nggak ngerti dengan apa yang barusan aku lihat, aku dengar." "Tapi kamu selalu melihat sesuatu dari sudut padang kamu sendiri, Kin, kamu nggak pernah mau lihat dari sudut pandang orang lain." "Ngapain aku lihat dari sudut pandang orang lain, kalau sudut pandangku sendiri udah meyakinkan? Lagian, Mas Javas bilang begitu biar aku percaya, kan? Nggak Mas, aku nggak akan percaya sama omongan Mas," balasku sambil mengangkat dagu. Aku tahu aku nggak sopan, seharusnya aku nggak begini karena bagaimanapun Mas Javas adalah suamiku, yang mana harus kuhormati, tapi kalau dia saja sebajingan itu, apa dia layak mendapat hormat dariku? Di sini posisiku adalah orang yang tersakiti. Mas Javas mengembuskan napas panjang, mengusap wajah kasar, lalu menatapku masih dengan sorot yang sama dengan tadi. "Saya udah nggak punya hubungan apa pun sama Andara, Kin, percaya sama saya," katanya sambil mencoba meraih tanganku. Namun, aku segera mundur dan menjauh darinya, mendadak aku merasa jijik. "Sekarang emang nggak punya, tapi dulu pasti punya kan, Mas. Aku nggak nyangka Mas bakal sampe di tingkat segila itu, punya anak di luar nikah. Nauzubillah." "Kalana bukan anak saya," sahut Mas Javas. "Mas, udah aku bilang aku nggak bisa dibodohin. Aku punya telinga, dan kebetulan nggak ada setan budeg yang tiba-tiba masuk ke tubuhku. Jelas-jelas aku denger dia bilang papa." Aku lantas mendorongnya menjauh, lalu kembali menghela kaki menuju lantai dua. Aku ingin membereskan pakaian-pakaianku dan pulang ke rumah Umi dan Bapak. Aku nggak peduli dengan respons mereka, pun dengan mertuaku. Yang jelas aku nggak mau hidup dengan lelaki yang cuma mau memanfaatkanku. Meskipun hatiku masih belum bermuara pada Mas Javas, tapi aku juga punya hati. Nggak mungkin kan, setelah mendapat kesakitan kayak begini aku bakal ngerasa baik-baik saja? "Dia bukan anak saya, Kin. Kamu harus percaya." "Di dunia ini nggak ada maling yang mau ngaku, Mas," ucapku tanpa mau menatapnya atau sekadar menghentikan langkah. "Saya bukan maling, saya dokter, dan pantang bagi saya buat bohong." Aku nggak menanggapi dan sejujurnya pun nggak mau mendengar apa pun yang keluar dari mulutnya, yang mana cuma bualan semata. "Kamu mau ke mana?" tanya Mas Javas saat aku membuka lemari dan mengeluarkan koperku dari sana. "Mau pulang, aku nggak mau tinggal sama orang yang bisanya cuma bohongin aku," kataku tanpa mau melihat ke arahnya. "Kin, tolong jangan kekanakan. Kita omongin ini baik-baik." Mas Javas berusaha menghentikan gerakanku dengan mencekal kedua tanganku. Aku mendesis kesal. "Kekanakan dari mananya, Mas? Semua udah jelas. Yang ada kalau begini, Mas yang kekanakan, Mas yang salah, dan Mas sendiri yang bertingkah seolah Mas benar. Ingat Mas, umur Mas udah tua. Jangan bikin malu diri Mas dengan bertingkah kayak gini," kataku panjang lebar. Ini kali pertama dalam dua puluh dua tahun hidupku menghadapi laki-laki keras kepala macam Mas Javas, yang mana membuat kepalaku mendadak pusing dan perutku mulas. "Saya nggak bohong---" "Mas, gini ya, mau Mas bilang nggak bohong satu kali, sepuluh kali, seratus kali, seribu kali, dan berkali-kali sampe nggak terhingga pun, aku nggak akan percaya. Mas nggak akan mengubah sudut pandangku tentang Mas, sekali Mas bikin kesalahan, dua kali, tiga kali berikutnya pasti bakal keulang lagi." Aku lantas menggerakkan tanganku, berusaha lepas darinya dan mulai mengemasi pakaian-pakaianku yang untungnya nggak seberapa ini. "Kin, kita mau memulai hidup baru, tapi kenapa kamu begini? Saya nggak mau pisah dari kamu." "Aku udah bilang nggak mau hidup sama laki-laki pembohong." "Kin!" Kali ini suara Mas Javas meninggi, dan itu sukses bikin aku terkejut. Baru kali ini aku dibentak. Bapak nggak pernah begitu, pun Umi meski wanita setengah baya yang paling berjasa di hidupku itu sering meneriakiku. "M-Mas Javas bentak aku," kataku dengan napas tercekat. Mas Javas mengusap wajahnya kasar. "Terserah kamu kalau kamu mau pulang ke rumah orang tua kamu. Saya nggak akan lagi melarang kamu, tapi perlu kamu ingat, sampai kapan pun, saya nggak bakalan mau berpisah dari kamu." Selesai dengan kalimatnya itu, Mas Javas berbalik dan berjalan keluar dari kamar. Dia nggak lagi menahanku. Aku menatap punggungnya yang kemudian hilang di balik pintu. Entah mengapa aku merasa kecewa. Diam-diam aku mengusap perutku yang masih datar. Mataku memanas begitu saja. Dan aku nggak mengerti, kenapa aku sangat ingin menangis, padahal aku nggak semelankolis ini tadi. *** Pada akhirnya aku benar-benar pulang, sementara Mas Javas sudah pergi entah ke mana. Lelaki itu mungkin saja marah padaku, padahal seharusnya aku yang begitu. Egois, aku harus mau menuruti keinginannya sementara dia sama sekali nggak mau tahu perihal diriku. Entah dia bakal bereaksi bagaimana kalau semisal tahu aku sedang mengandung. Bisa jadi Mas Javas adalah orang terakhir yang mengharapkan janinku ini. Aku jelas tahu maksudnya kemarin yang bila kuartikan adalah keenggaksiapannya memiliki anak, mungkin maksud dia punya anak dariku. Baginya mungkin hubungan kami adalah simbiosis parasitisme. Dia mendapatkan untungnya dan aku buntungnya. Aku mengembuskan napas panjang dan menghapus air mata yang entah sudah sejak kapan menjadi penghias di kedua pipiku. Aku bukan tipe manusia yang gampang menangis, tapi hari ini aku membiarkan air mataku lolos untuk lelaki yang nggak sepantasnya kutangisi. Lelaki itu terlalu kurang ajar. "Lho, Kin, kok kamu ada di sini?" tanya Umi, mungkin heran dengan kehadiranku di sini, di depan kompor yang tengah menyala dengan panci berisi mie instan di atasnya. Aku menoleh sekilas, mendapati Umi dengan seragam gurunya yang tengah berdiri di ambang pintu, lalu menjawab pertanyaan beliau dengan gumaman singkat. Nggak mau Umi melihat wajah kacauku, aku menunduk, menatap mie instan yang sedang kumasak. "Kamu ke sini sama suami kamu?" tanya Umi dengan langkah yang terdengar mendekat. Aku nggak menjawab, malah menghela napas panjang. "Ck, kamu ini, mie instan terus. Kurangin Kin, nggak baik buat kesehatan," komentar Umi setelahnya, begitu melongok ke dalam panci. Aku kembali menghela napas, mencoba melonggarkan sesuatu yang bikin aku merasa nggak nyaman sejak tadi. "Aku sendiri, aku lapar, aku nggak pa-pa, aku kuat," kataku kemudian. "Kamu dibilangin juga, ngeyel terus. Kayak anak kecil." Umi kembali ke meja makan, meraih gelas dan menuangkan air, lalu meminumnya hingga tandas. "Umi lupa, Nak Javas di jam-jam segini pasti masih di rumah sakit," katanya setelah itu. "Kamu nanti bakal dijemput atau malah nginep di sini?" Aku menggigit bibir, bingung sekaligus ragu. Aku nggak tahu, apakah bercerita akan menyelesaikan masalah atau malah membuat semuanya makin runyam, tapi aku pun nggak bisa kalau menyimpan ini sendirian. Selain karena nggak ada alasan yang kuat kenapa aku kembali ke sini, aku juga merasa mentalku nggak sekuat dulu. Aku jadi cengeng, gampang menangis. "Kin, kamu ada masalah apa?" Aku terkejut mendapati Umi sudah berdiri di sebelahku lagi sambil mengelus surai sebahuku yang nggak tertutup hijab. Buru-buru aku mengalihkan tatap, melihat kompor yang ternyata sudah Umi matikan. Aku mendesah panjang. Insting Umi memang kuat, dan serapat apa pun aku berusaha menyembunyikan masalahku, beliau akan selalu tahu. "Kamu ada masalah sama Nak Javas?" tanya Umi lagi. Aku menggeleng, menolak untuk menjawab dan memilih menuangkan mie yang terlalu mengembang itu ke dalam mangkok. "Cerita sama Umi, kamu ada apa?" Umi kembali bertanya, masih dengan tangan yang mengelus puncak kepalaku. Aku mengalihkan pandangku dan menatap Umi dalam. Menghela napas, lalu mengucapkan satu kalimat yang sukses membuat wanita setengah baya itu melangkah mundur dan membulatkan matanya lebar-lebar. "Aku mau pisah sama Mas Javas." Itu yang kukatakan. Aku nggak bisa mempertahankan hubungan yang nggak jelas muaranya bagaimana. Pun, aku nggak mau hanya sekadar dijadikan tameng untuk semua yang lelaki b******n itu lakukan. *** "Beda pendapat itu hal yang wajar Kin, dalam setiap hubungan. Kamu udah dewasa, berpikir yang bijak, jangan memutuskan sesuatu saat kamu sedang emosi," kata Bapak begitu kami selesai makan malam. Aku meringis kecut. Bapak nggak tahu kalau masalahku bukan sekadar beda pendapat, melainkan lebih dari itu. Sengaja aku belum memberitahu mereka, aku hanya bingung harus memulainya dari mana. "Kin?" Bapak menyebut namaku. Aku menghela napas. "Nggak ada alasan buat Kin nerusin hubungan Kin sama Mas Javas. Keputusan Kin udah bulat," kataku. "Kin, pikirin baik-baik." Umi menyahut. Aku menggeleng. Bertahan itu bukan pilihan yang bagus. "Pernikahan kalian masih seumur jagung, masih terlalu dini untuk mengakhiri sesuatu yang baru dimulai. Bapak tahu, mungkin Nak Javas belum bisa mengimbangi cara berpikir kamu yang masih terlalu kekanakan, tapi kunci awet pernikahan itu berusaha saling mengerti satu sama lain, berusaha saling percaya, jangan sampai mengutamakan ego karena nggak semua ego itu berujung baik." "Umi tambahin, kunci langgengnya pernikahan itu adalah komunikasi. Kamu perlu komunikasi dengan Nak Javas, jangan asal marah dan pergi gitu aja. Jangan kekanakan ya, Kin, selesaiin semuanya secara dewasa. Kamu udah bukan anak kecil lagi lho, kamu udah jadi istri orang." Aku menghela napas, kalau Umi dan Bapak tahu apa masalahku, apa mungkin mereka masih berbicara seperti ini? Di sini aku yang dianggap salah, aku yang terlalu kekanakan, padahal mereka belum tahu pasti apa masalahku. "Ayo Bapak antar kamu ke Nak Javas, jangan ngambek, Kin," kata Bapak sambil menepuk bahuku beberapa kali. Aku mendesah panjang, menatap Bapak dengan tatapan memelas. "Kin nggak mau, Pak." "Kin, Bapak sama Umi ngomong apa tadi?" Umi menyahut. Aku kembali mendesah, ingin bercerita, tapi hatiku malah meragu, nggak tahu kenapa. Dan pada akhirnya, berakhirlah aku di sini. Kembali ke rumah yang pagi tadi kutinggalkan. Aku mengernyit saat mendapati mobil SUV Mbak Andara di pelataran rumah. Malam-malam begini, kenapa perempuan itu bisa ada di sini? "Nak Javas kayaknya lagi ada tamu." Itu kata Bapak, kami masih berada di dalam mobil, belum sampai turun. Lalu, nggak lama setelah Bapak ngomong begitu, Mbak Andara keluar dari rumah bersama Kalana dalam gendongannya. Kemudian, setelah itu, Mas Javas ikut keluar. Meski nggak terlalu jelas, aku bisa melihat Mas Javas yang tanpa ekspresi mengelus kepala gadis kecil itu. "Itu siapa?" Suara Bapak menarik atensiku. Aku tersenyum tipis. "Pak, ini alasan aku mau pisah sama Mas Javas." Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD