"Pak, ini alasan aku mau pisah sama Mas Javas," kataku. "Dia punya wanita lain. Dan anak kecil itu anak mereka. Kemarin dia manggil Mas Javas papa." Aku melanjutkan.
Ekspresi Bapak berubah mengeras. Bapak lantas turun dari mobil dan berjalan menghampiri Mas Javas dengan langkah tegasnya. Aku bisa melihat wajahnya yang terkejut setelah sadar kehadiran Bapak. Mungkin dia nggak tahu kedatangan kami tadi, bisa jadi terlalu fokus mengobrol dengan Mbak Andara atau main-main dengan Kalana, putri kecil mereka.
Membayangkan hal itu, mendadak aku merasa sakit hati sendiri. Ini bukan karena cinta, aku sudah bilang tentang hal itu berulang kali, tapi ini tentang harga diriku sebagai wanita yang jelas-jelas cuma dianggap sebelah mata. Harusnya, Mas Javas nggak menikahiku kalau nyatanya ada Mbak Andara yang lebih membutuhkan dirinya dan yang pasti memenuhi seluruh ruang di hati Mas Javas. Entah apa yang ada di otaknya, aku sama sekali nggak mengerti jalan pikiran lelaki itu.
Menghela napas, aku pun langsung turun dari mobil dan menyusul Bapak, lalu berdiri di samping lelaki baya itu begitu tiba di depan Mas Javas. Aku sempat memandang sebentar lelaki itu, sebelum mengalihkannya ke tempat lain. Mataku sempat bertemu pandang dengan Mbak Andara yang menyunggingkan seulas senyum. Bukan jenis senyum ramah, melainkan senyumnya yang menyebalkan. Dalam hati aku berdecih. Dia pikir aku akan terpengeruh? Jangan harap. Aku lalu menatap Kalana, gadis kecil sedang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mbak Andara. Ada dengkuran pelan yang masih bisa indraku tangkap. Aku kasihan padanya, di sini Kalana juga korban, sama sepertiku.
"B-Bapak, Kinara," sebut Mas Javas sedikit terbata dengan ekspresi terkejutnya.
"Bapak nggak nyangka kamu seperti ini," kata Bapak dengan sorot kecewa yang nggak berusaha beliau tutupi. Aku tahu, meski Bapak terlihat tenang, Bapak nggak sedang baik-baik saja. "Kenapa kamu menikahi putri saya kalau kenyataannya ada wanita yang lebih pantas kamu nikahi?
"Bapak salah paham. Saya bisa jelasin semua." Raut Mas Javas tampak amat gelisah.
Aku menghela napas. Dia selalu menyangkal, padahal semuanya sudah jelas. Nggak ada lagi yang perlu dia jelaskan, aku sudah cukup mengerti.
"Saya menyerahkan kepercayaan saya ke kamu, tapi kamu malah menodainya begitu saja." Bapak melanjutkan dengan nada yang sangat dingin. Baru kali ini aku melihat Bapak seperti itu, aku jadi merinding sendiri.
"Bapak, saya bisa jelasin semuanya." Mas Javas mengalihkan pandangannya pada Mbak Andara. "Andara, bantu saya. Tolong jelasin kalau nggak ada apa-apa di antara kita. Saya dan kamu hanya murni berteman."
"Kenyataannya aku masih cinta sama kamu, Mas. Dan Mas tahu persisnya gimana," sahut Mbak Andara.
"Andara ...." Mas Javas mendesah panjang, dan Mbak Andara sama sekali nggak menunjukkan ekspresi malu telah berbicara seperti itu di depanku yang notabene adalah istri Mas Javas, pun dengan adanya Bapak di antara kami. Yang ada dia malah dengan santai mengelus surai hitam panjang gadis kecil dalam gendongannya itu.
"Kita udah bicarain ini sebelumnya, Ra. Kamu dan saya sudah selesai sejak lama. Dan kamu juga tahu itu," kata Mas Javas tegas.
"Aku nggak menganggap begitu. Bagiku hubungan kita belum selesai."
"Andara ...."
Bapak hanya diam, tak memberi respons sedikit pun atas drama yang sedang mereka tampilkan. Sementara itu, aku mendadak merasa mual luar biasa. Aku tahu ini bukan jenis mual karena masuk angin seperti yang aku kira sebelumnya. Aku mual karena aku sedang hamil. Dan bisa jadi, janin yang aku yakin masih berupa gumpalan darah ini sedang muak dengan kelakuan bapaknya.
Aku meremas tepi abaya yang sedang kupakai saat mualku ini makin menjadi-jadi. Jangan sampai aku muntah di depan mereka. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Aku berlari menuju halaman rumah dan memuntahkan makanan yang kumakan sebelum ke sini tadi.
"Kin?" Suara Bapak yang berdiri tepat di sampingku seraya memijit tengkukku terdengar sangat khawatir, tapi aku nggak begitu memperhatikan beliau dan terus saja memuntahkan isi perutku.
Kakiku mulai melemas. Aku ingin berpegangan pada Bapak, tapi Mas Javas lebih dulu meraih tanganku dan merengkuh pinggangku.
"Kita perlu bicara, Kin." Itu yang dia katakan.
Aku nggak mengiyakan, nggak pula menolak. Tubuhku terlalu lemas untuk sekarang.
***
"Kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari saya, kan?"
Mas Javas menanyaiku begitu masuk ke dalam kamar kami dengan segelas air putih di tangannya.
"Bapakku mana?" tanyaku saat nggak mendapati Bapak di belakang lelaki itu.
"Pulang."
"Kok nggak ngajak aku?"
"Saya yang minta," sahut Mas Javas.
Aku menegakkan tubuhku yang sejak tadi menyender di kepala ranjang. "Aku juga mau pulang!"
"Ini rumah kamu."
"Bukan." Aku menggelengkan kepala. "Ini rumah Mas."
Mas Javas menghela napas, lalu duduk di tepi kasur. "Kamu istri saya."
"Tapi aku mau pisah sama Mas."
"Saya nggak mau pisah dari kamu."
"Kenapa?"
"Saya sudah bilang, saya cinta sama kamu."
Aku menatap Mas Javas dengan tajam begitu lelaki itu selesai mengatupkan bibir. "Mas, jangan bilang cinta kalau Mas sendiri nggak bener-bener cinta sama aku. Nggak seharusnya Mas pakai alasan itu buat manfaatin aku biar bisa nutupin keburukan Mas."
"Minum ini." Mas Javas mengabaikan ucapanku dan lebih memilih menyerahkan gelas yang ia bawa.
Aku memalingkan wajah, memilih bersikap abai seperti yang dia lakukan.
Lelaki berusia di pertengahan tiga puluh itu terdengar mengembuskan napas panjang. "Jangan keras kepala, Kin."
"Aku mau pisah. Aku mau pisah. Aku mau pisah. Aku mau pisah. Aku mau pisah. Aku mau pisah. Titik."
"Kin, kalau kamu mengira Kalana anak saya, maka kamu salah besar. Dia bukan anak saya. Demi Allah, Kin. Jangan menyimpulkan sesuatu dari apa yang kamu lihat dan kamu dengar," kata Mas Javas. "Sama seperti kamu menganggap saya punya hubungan dengan Natha, pada akhirnya kamu tahu itu nggak bener, kan?"
"Mana aku tahu!"
"Kamu tahu itu," kata Mas Javas.
Aku memalingkan wajah. Nggak mau tahu perihal apa yang Mas Javas katakan.
Mas Javas terdengar kembali mengembuskan napas. "Jujur, saya memang sempat punya hubungan dengan Andara. Kami teman semasa kuliah, lalu saling jatuh cinta. Kami hampir menikah dulu, tapi kemudian dia malah hamil anak orang lain. Orang yang malah milih kabur dan nggak mau tanggung jawab. Saya menerima dia apa adanya, bahkan anak yang dia kandung, tapi kemudian dia kembali mengkhianati saya dan memilih lelaki lain, menikah dengannya."
"Saya nggak tahu kenapa tempo hari dia kembali menemui saya dan meminta saya untuk menikahinya. Hubungan kami jelas-jelas sudah berakhir, kecuali saya yang memang masih sering menghubungi Kalana, tapi percaya sama saya, saya nggak ada niata sedikit pun buat menikahi dia karena jelas-jelas saya sudah ada kamu, perempuan yang diam-diam menyembuhkan luka saya bertahun-tahun lalu."
"Halah, Mas pinter banget ngarangnya, cocok jadi novelis," kataku. Aku menatapnya dengan sinis. Dia menjelaskan sampai berbusa pun, nggak akan membuatku luluh. Masalahnya aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri. Seharusnya itu sudah jadi bukti yang kuat, kan?
"Saya nggak lagi ngarang, Kin."
Aku mendengkus. "Terus, gimana ceritanya Mas bisa cinta sama aku? Kita aja jarang interaksi."
Mas Javas mengembuskan napas lagi, entah untuk ke berapa kali. Aku nggak menghitungnya tadi. "Entah kamu sadar atau enggak, saya selalu memperhatikan kamu. Saya selalu suka dengan kecerobohan kamu atau ketika kamu membicarakan konspirasi bumi datar dan segala ketidakmasukakalan di alam semesta ini."
Kalimat terakhir Mas Javas sukses bikin pipiku memerah, aku malu. Itu cerita lama saat awal kuliah, aku terlalu banyak menonton konspirasi alam semesta dan mulai meragukan kalau bumi itu bundar. Waktu itu aku beradu argumen dengan Rajasa yang mana pada akhirnya membuatku kalah telak.
Aku berdeham, berusaha menetralkan raut wajahku. "Ceroboh dan omong kosongku bukan alasan yang logis buat jatuh cinta," kataku. "Lagian sikap Mas juga nggak ada baik-baiknya sama aku. Malah terkesan mau ngajak perang."
"Saya udah bilang, itu saya lakukan buat menjaga diri saya. Saya nggak mau semakin berdosa karena mencintai dan terus memikirkan wanita yang nggak ada hubungannya dengan saya," sahut Mas Javas dengan cepat.
Aku kembali mendengkus. "Terus, sama Mbak Andara gimana?" Aku kembali sinis. "Itu juga bagian dosa, kan?"
"Itu dulu ketika saya belum mendalami agama saya, Kin."
"Alah, Mas, alasan mulu, sih." Aku berdecak. "Aku nggak akan percaya."
Mas Javas, untuk yang ke sekian, sekian, dan sekian kalinya mengembuskan napas. "Terserah kamu, Kin," katanya. Lalu setelah itu ia memusatkan tatapannya padaku. "Sekarang, jawab saya dengan jujur. Nggak mungkin kalau kamu nggak tahu ada yang berubah sama diri kamu. Kamu sedang hamil, kan?"
Kalimat terakhir Mas Javas membuatku meneguk ludah. Mungkin ini berlebihan tapi aku mulai merasa terancam. Aku masih ingat perkataan Mas Javas kemarin. Nggak mungkin kan, dia mau memintaku menggugurkan janin yang sedang kukandung ini?
Tbc