Terkadang aku merasa heran dengan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Maksudku, mereka tidak memiliki kepentingan apa pun tapi malah bersikap seolah-olah mereka akan rugi besar kalau cuma diam-diam saja. Bahkan hal sekecil apa pun nggak lepas dari komentar mereka.
"Mbak Kin, katanya sarjana, kok sekarang belum dapat kerjaan sih?"
Itu adalah pertanyaan yang selalu mereka gaungkan untukku. Tahu apa responsku? Cuma menarik dua sudut bibir sampai membentuk senyum simetris. Dipikir cari kerja itu semudah mengais sampah di tempat sampah kali, ya? Cari kerja zaman sekarang itu masih sesulit cari jerami ditumpukan jarum. Sudah susah, malah sakit kena tusuk pula, tapi mayoritas orang mah, mana peduli? Yang mereka pedulikan ya cuma kekurangan orang lain.
Ada lagi yang tanya begini, "Mbak Kin, Mbak Kin nggak nikah Mbak? Udah dua-dua harusnya udah nikah lho Mbak. Anak saya yang masih dua-satu aja udah punya anak, masa Mbak Kin enggak. Hati-hati Mbak, jadi perawan tua."
Dan responsku cuma bisa memutar bola mata. P*rsetan dengan kesopanan, pertanyaannya saja sudah terlalu lancang, menikah atau enggaknya itu kan urusanku, bukan urusan mereka. Aku tahu mereka cuma mau menyindir kesendirianku. Aku sendiri begini bukan berarti tidak laku, tapi karena memang masih ingin sendiri saja. Lagi pula, aku juga belum mau menikah, belum ada pandangan untuk melangkah ke jenjang yang seserius itu. Begini-begini aku juga pengin jadi orang sukses dulu, banggain Bapak-Umi meski cuma sebatas guru honorer nanti yang moga kelak bisa jadi guru PNS dan dapat gaji lumayan. Tapi, jangankan menjadi guru honorer, lamaranku di beberapa sekolah saja mendapat tolakan mentah-mentah. Alasannya, kemampuanku masih kurang. Aku sadar diri soal ini, IPK-ku saja pas-pasan. Salahku memang, masuk ke jurusan yang bukan minatku dan tidak sesuai dengan kemampuan otakku. Lagi, menikah itu tanggung jawabnya besar. Aku yang masih muda begini bisa jadi orang yang paling egois, padahal ada suami dan mungkin anak yang harus kupikirkan juga. Intinya, aku belum siap untuk menikah.
"KIN! KINARA, JANGAN NGEDEKEM DI KAMAR DOANG DONG! BANTU UMI SINI. BERES-BERES RUMAH!" Itu suara Umi yang sedang berteriak dari lantai bawah. Suaranya memang senyaring itu, aku sudah pernah bilang, kan?
"Bentar, Umi! Tanggung ini!"
"BANTU UMI CEPETAN!" Umi berteriak lagi. Aku lalu mem-pause layar HP-ku yang sedang menampilkan tutorial 'cara membobol wifi yang digembok'. Rencananya nanti kalau aku sudah paham betul ilmu-ilmu yang ada di tutorial itu, aku bakal membobol wifi Bapak. Kuotaku sudah sekarat, sementara kantongku sudah level tiarap, benar-benar mengenaskan. Tidak tertolong.
Tidak tahan dengan suara Umi yang menggelegar memenuhi rumah, bahkan bisa aku pastikan sampai ke rumah tetangga, aku dengan berat hati turun ke bawah. Kulihat Umi sedang mengepel lantai, lalu adik laki-lakiku yang cuma beda lima tahun dariku sedang menata ulang lemari dengan Bapak. Hari Minggu begini memang tugasnya beres-beres rumah. Bapak nggak ke kantor, Umi nggak ngajar, sementara Rajasa, adikku itu libur sekolah, kalau aku? Sejak nggak jadi mahasiswa lagi kerjaanku cuma gegoleran di kasur atau keliling komplek, main-main ke rumah Tsani kalau anak itu sudah pulang.
"Umi, jangan teriak-teriak dong, nggak malu apa sama tetangga?" ujarku sambil memanyunkan bibir.
Umi mendongak dan menatapku dengan tatapan tajamnya. "Ya kamu, udah besar masa nggak mau beres-beres rumah? Masa harus Umi ingetin berkali-kali? Masa harus Umi teriakin biar mau?" omel Umi lalu kembali sibuk dengan gagang pelnya.
"Kan aku tadi juga lagi usaha di kamar Mi," belaku.
"Halah, palingan cuma rebahan di kasur, Mi." Rajasa menyahut dengan tengilnya. Otomatis aku mendelik pada cowok tanggung berbadan kurus itu dengan sinis. Dia memang ada benarnya, tapi ada salahnya juga. Aku nggak cuma rebahan, tapi aku lagi usaha bobol wifi Bapak. Ingat itu.
"Udah, udah, kamu ke depan aja. Itu siramin tanaman Umi, kalau siang entar keburu panas, terus mati nanti," perintah Umi.
"Iya, Mi," kataku dengan lesu lalu berjalan keluar rumah.
Sebenarnya aku nggak mau, tapi karena ingat kata guru SD-ku dulu, sebagai seorang anak, kita harus patuh sama orang tua, nggak boleh kalau nggak nurut. Nggak boleh kalau durhaka. Tuhan benci sama makhluk-Nya yang durhaka, apalagi sama ibu yang rela mengandung selama sembilan bulan, menyusui, merawat kita dengan penuh kasih sayang. Intinya, seenggak suka apa pun kita sama perintah emak-bapak, kita harus tetap melaksanakannya asal itu baik.
Ngomong-ngomong soal tanaman, yang Umi maksud itu bukan bebungaan, Umi nggak suka. Aku juga. Tanaman Umi itu kalau nggak cabai ya tomat, sawi, wortel, buncis atau kacang panjang. Lumayan juga, daripada beli di pasar.
"Olahraga Mas?" tanyaku saat sibuk menyiangi sawi-sawi Umi dan melihat Mas Javas sudah pakai celana selutut, kaus abu-abu kebesaran, dan sepatu kets putih lewat di depan rumahku.
Visual lelaki di atas kepala tiga itu bukan main. Dia tampan, terlalu tampan malah. Wajahnya putih bersih, dan bibirnya merah delima. Sudah pasti Mas Javas bukan tipe lelaki penghisap nikotin. Aku pun bisa melihat urat-urat yang menonjol di sekitar lengannya, tampak kekar.
Astagfirullah, sadar, Kin. Walaupun pertanyaanku tadi cuma pertanyaan basa-basi karena nggak mungkin aku sok nggak melihat lelaki itu, tapi memandang Mas Javas dan menilai bagaimana visualnya jelas dosa besar. Aku nggak seharusnya begitu.
Mas Javas lalu berhenti, menatapku selama beberapa detik. Nggak ada ucapan, nggak ada pergerakan apa pun, tetapi setelahnya dia menoleh ke samping dan mengangguk kaku. Masih bungkam, dia kembali meneruskan jogging-nya. Dih, manusia satu itu memang sok dingin. Kan aku jadi penasaran bagaimana interaksi dia sama pasiennya, masa judes begitu? Yang ada nggak ada yang mau berobat sama dia.
Namun setelahnya aku sadar. Pantas Mas Javas memandangku lama tadi, aku lupa nggak pakai jilbab! Yang mana pasti Mas Javas juga melihat auratku, maksudku rambut karena rambut memang bagian dari aurat. Dan pantang bagi lelaki yang bukan mukhrim dan bukan suami untuk melihatnya. Astagfirullah, ini dosa besar!
Aku buru-buru melempar selang yang kupegang dan berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis, merasa amat menyesal.
"UMI KENAPA NGGAK NGINGETIN KIN KALAU KIN BELUM PAKEK JILBAB UMI?"
Dan sisa Minggu itu aku gunakan untuk mengurung diri di kamar. Jangan pikir aku lebay, tapi bagiku memang begitu. Memperlihatkan rambutku sama saja mempertontonkan hal yang nggak semestinya kepada orang lain.
Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah.
***
Lain hari dan dengan rutinitas yang tidak berbeda jauh dengan rutinitasku biasanya yang cukup membosankan. Tapi tidak, aku punya lima cara untuk mengatasi kebosananku itu.
Pertama, berselancar di Twitter, membaca alternatif universe atau keluhan mutualku.
Kedua, nonton. Entah itu nonton drama atau film yang kuunduh di laptop atau nonton kartun di TV, tapi nggak semua kartun aku pasti suka. Seperti Spongebob, si kartun sejuta umat. Entah memang karakternya begitu atau bagaimana, tapi Spongebob itu terlalu palsu. Nggak ada di dunia ini orang yang murni punya karakter sebaik dia. Maksudku, ketika dia mendapat perlakuan buruk dari orang-orang sekitarnya, terutama si gurita itu, dia dengan polosnya masih mau-mau saja berteman dengan Squidward. Ini bukan tipe kartun kesukaanku, walaupun dalam keadaan tertentu aku terpaksa menontonnya. Aku lebih suka kartun semacam Doraemon karena kupikir Nobita itu adalah gambaran dari aku yang kalau apa-apa selalu sial, yang hampir nggak bisa di semua pelajaran, tapi bedanya Nobita lebih beruntung karena punya sosok Doraemon yang bakal membantu dia dan memenuhi segala keinginannya yang tidak logis dengan alat-alat ajaibnya itu.
Dan yang ketiga, baca buku. Di kamarku, hampir setiap sudut kupasangi rak buku yang semuanya penuh dengan novel-novel berbagai genre. Aku sejujurnya sudah bingung ingin menyimpannya di mana lagi kalau seumpama mampir Gramedia dan tergoda dengan terbitan buku baru, aku memang paling lemah kalau sudah berurusan dengan dunia fiksi. Sebenarnya bisa saja aku taruh di luar kamar, tapi Umi nggak suka, malah beliau bakal ceramah dan bilang kalau deretan novel yang kubeli itu nggak ada gunanya, cuma buang-buang duit. Jadilah kamarku yang sempit ini jalan satu-satunya. Nggak peduli kalau sudah sumpek minta ampun.
Caraku yang keempat, jalan-jalan keliling komplek yang nggak jarang dihadiahi nyinyiran tetanggaku atau main ke rumah Tsani, kecil-kecil begitu dia asyik kalau kuajak ngobrol tentang konspirasi Bumi datar.
Dan cara yang terakhir yaitu, tidur. Ini kalau aku lagi nggak berminat buat melakukan apa pun, kalau mood-ku memang lagi tidak ada bagus-bagusnya dan nggak tertolong lagi. Biasanya aku bakal tidur dari setelah salat Dhuha lalu bangun untuk salat Zuhur dan makan siang, lalu tidur lagi sampai menjelang salat Asar.
Begitulah siklus hidupku. Nggak berguna sekali, sampai-sampai Umi mengomel tanpa henti. Ya seperti sekarang, aku lagi enak-enaknya tidur tapi Umi tiba-tiba menyiramku dengan air segayung. Aku otomatis terbangun dan meloncat turun dari ranjang.
Wajahku benar-benar speechless ketika melihat Umi yang masih pakai seragam gurunya cuma berkacak pinggang di tengah kamar dengan gayung berukaran sedang di tangan kanannya. Bila kudeskripsikan, wajah Umi tampak begitu merah padam, lalu matanya berkilat begitu tajam. Kalau ini dunia animasi, aku sudah pasti bisa melihat leser merah yang dihunuskan padaku. Umi kalau marah memang seseram itu.
"PUNYA ANAK PÈRAWAN SATU KERJAANNYA CUMA TIDUR-TIDUR MULU!"
Umi dengan ciri khas suara nyaringnya menggelegar memenuhi kamar. Untung suaranya itu nggak berpotensi gempa, kalau iya, buku-buku koleksiku yang mungkin sudah mencapai lebih dari seribu itu akan berjatuhan ke lantai. Aku nggak bisa membayangkan kalau harus membereskan buku sebanyak itu.
"Apa, sih, Umiiiii?" Aku menghentakkan kaki ke lantai lalu mengusap wajahku yang basah, duh jilbabku juga kan jadinya. Padahal ini jilbab kesayanganku yang selalu aku pakai setiap waktu, kecuali kalau sudah sangat kotor dan sedang aku cuci.
"MAKANYA JANGAN MOLOR MULU!" Umi masih berteriak dengan suaranya yang luar biasa. Aku penasaran, bagaimana kabar pita suaranya itu? Semoga baik-baik aja.
"Namanya juga ngantuk Miiii," kataku sedikit merajuk. Nggak, aku nggak terlalu mengantuk sebenarnya. Sudah cukup tidur siangku yang berjam-jam ditambah tidur malamku juga. Aku cuma malas saja kalau harus meninggalkan pulau kapuk tercintaku.
"NGANTUK-NGANTUK, ENAK BANGET KAMU KALAU NGOMONG!" Umi berteriak lagi dan kabar buruknya, kedua telingaku sudah berdenging bising. Aku takut kalau seumpama tiba-tiba kemampuanku mendengar akan hilang begitu saja.
"Miiiii ...." Rengekanku ini makin menjadi-jadi.
"APA?! UMI BILANGIN JUGA!" Kali ini Umi benar-benar sangat kejam. Tahu apa kalian? Wanita setengah baya yang aku sayangi ini memukul-mukul pantàtku dengan gayung bawaannya berkali-kali sampai meninggalkan rasa panas yang nggak berkesudahan.
"Aduh Umi! Aduh! Sakit Miii! Sakittt! Ini namanya penyiksaan Umi! Umi bisa kena pasal berlapis! Habis Umi sama Kak Seto!" Aku mengaduh terus, rasa panas langsung terasa di bokòngku.
"Jadi anak nggak bandel bisa nggak, sih? Kamu umur berapa? Udah tua Kin, udah tua! Kamu bukan anak umur dua tahun yang Umi pasangi popok! Umurmu udah dua-dua, Kin! Udah dewasa! Bisa nggak sih nggak bikin Umi stres karena mikirin tingkah kamu kayak gini!"
Mendengar omelan Umi, aku jadi mengerucutkan bibir. Umi nggak tahu saja, aku juga sudah sangat stres dengan diriku sendiri. Aku bingung harus menyambung hidup bagaimana, ini bukan artian yang sebenarnya ya, cuma konotasi saja. Aku belum punya pekerjaan, tapi kebutuhanku juga banyak, seperti yang kubilang tadi, keuanganku dalam kondisi sekarat. Aku butuh buat kasih makan HP-ku, aku butuh buat beli pembalut, novel-novel terbitan baru, barang-barang lain yang aku pengin, makanan, dan yang lainnya. Nggak mungkin aku minta Bapak sama Umi, meski keduanya masih bekerja dan gajinya lumayan.
Bapak memang bukan CEO-CEO atau bos-bos seperti di novel, Bapak cuma manager personalia di salah satu perusahan tekstil di sini dan Umi adalah seorang guru PNS di salah satu SMA di Jakarta, cuma di sini yang anak Bapak dan Umi bukan aku saja, tapi ada Rajasa juga. Apalagi tahun depan anak curut satu itu lulus SMA dan bakal duduk di bangku kuliah. Biaya kuliah itu nggak semurah batagor yang dijual di samping gerbang SMA-ku dulu. Biaya masuk kuliah itu mahal, mungkin serupa dengan total perawatan kecantikan artis-artis glamour selama sebulan.
"Udah, kamu cepet sana ke kamar mandi, cuci muka, ganti baju, terus turun. Bantu Umi masak, entar malam ada tamu," kata Umi yang sudah nggak pakai nada yang sama seperti tadi. Kali ini lebih manusiawi.
"Iya, Mi," kataku lesu dan sama sekali nggak bersemangat.
Mendadak aku merasa sangat kecewa pada diriku sendiri. Aku merasa bersalah dan nggak berguna sama sekali. Aku tahu niat Umi baik, beliau cuma pengin lihat aku berubah. Iya, aku juga mau berubah, cuma aku kalau dipaksa harus berubah dalam sekejap ya nggak bisa.
***
Sebelumnya aku berpikir kalau tamu yang Umi maksud itu rekan kerjanya Bapak yang memang sengaja datang buat silaturahmi, kayak yang sebelum-sebelumnya karena biasanya Umi memang akan memasak dalam jumlah yang banyak, tapi ternyata pas aku keluar dari kamar dan turun, yang aku dapati malah tetangga sebelah.
"Mbak Kin!" Tsani yang duduk di samping kakaknya melambai-lambai kepadaku yang masih berdiri speechless di ujung tangga. Sebenarnya aku cuma bingung saja, nggak biasa-biasanya tetangga sebelah dengan anggota lengkap datang ke sini, mana pakaiannya rapi-rapi semua, macam ada acara resmi saja. Umi nggak lagi ulang tahun, Bapak juga, anniversary mereka masih minggu depan, dan mereka nggak pernah merayakan hal-hal yang begituan. Lalu apa? Apa silaturhami seperti teman-teman Bapak yang lain? Ya mungkin saja, sih.
Pada akhirnya aku berjalan mendekat, menyalami Pakde Tjokro dan Tante Widya, mencubit pipi tembam Tsani, dan terakhir menangkupkan tangan di depan Mas Javas. Ah, aku jadi ingat kejadian kemarin, Mas Javas yang melihat aku tanpa jilbab. Sontak pipiku langsung memanas, dan kutebak warnanya sudah merona sekarang.
Nggak ingin mengingat hal yang paling ingin kulupakan, aku segera mengambil posisi di samping Rajasa yang memasang tampang bosan. Aku nggak akan menghakimi dia. Wajar, aku pun begitu kalau ada acara-acara yang begini. Obrolan orang tua memang membosankan, kan? Pasti kalau nggak tentang bisnis, ya politik. Apalagi berita pejabat korupsi sedang lagi panas-panasnya.
Lalu sesi makan malam pun dimulai. Aku menatap masakan Umi dengan nggak bersemangat, aku sebelumnya sudah makan, dan niatku memang menghindari bertemu tamu yang ternyata tetangga sebelah ini, tapi selesai salat Magrib tadi, Umi mewanti-wantiku untuk ikut makan malam. Okay, baiklah, mangga kersa.
Dan tebakanku seratus persen benar, di sepanjang makan-makan, Bapak dan Pakde Tjokro benar-benar mengobrolkan masalah politik, sesekali si Ja---Mas Javas maksudku, menimpali ucapan dua lelaki baya itu. Lalu bergeser ke Umi dan Tante Widya, hng---yang mereka bahas itu nggak penting banget sih, biasa, gosip-gosip yang sering muncul di televisi, harusnya aku memang ikut gabung dalam obrolan itu, tapi aku bukan penikmat gosip. Seriusan, secandu apa pun bergosip itu, aku nggak akan pernah suka. Selain dosa, ya nggak penting juga mengobrolkan masalah orang lain, sementara kita sendiri juga punya masalah yang lebih darurat.
Di meja makan ini, yang paling sengsara kayaknya aku dan Rajasa. Sementara Tsani dari tadi senyum-senyum nggak jelas ke arahku. Kesurupan apa anak itu, coba?
Hih, jadi seram kan atmosfirnya kalau begini. Badanku jadi merinding sendiri kalau membayangkan Tsani tiba-tiba berdiri dan naik ke atas meja, lalu dia dengan beringas meloncat ke arahku, mencekik leher sambil mengangkat tubuhku tinggi-tinggi, lalu melemparkanku ke tembok dengan tenaga yang nggak main-main. Aku bergidik ngeri membayangkan hal itu. Pasti badanku yang nggak seberapa besar ini bakalan remuk redam.
"Gimana Kin?"
Tiba-tiba saja Bapak memotong lamunanku dengan pertanyaannya. Apa tadi, 'gimana Kin?' begitu, kan? Apanya yang gimana?
Aku mengedarkan mata ke sekeliling dan semua pasang mata menatapku. Heh, aku nggak ngerti lho topiknya apa tadi, tapi tiba-tiba ditanya, 'gimana Kin'? Aneh!
Tapi baiklah, mungkin Bapak cuma nunggu komentarku tentang ide briliannya yang ingin menumpas para koruptor, jadi daripada disalahkan karena nggak menyimak dengan baik dan benar, aku memilih mengangguk.
"Bagus Pak, bagus. Kinara setuju," kataku sambil mengangguk-anggukan kepala berulang kali.
"Beneran?"
"Iya, beneran!"
"Oke, kalau gitu minggu depan, ya?"
Aku kembali mengangguk-angguk lagi. Sudah persis samoyed belum? Enggak dong, aku lebih imut pastinya.
Lalu, kulihat Bapak dan Om Tjokro bersama istri masing-masing tersenyum semringah, Tsani juga tak kalah bahagianya, kalau Mas Javas sih ekspresinya nggak bisa kudeskripsikan. Lain hal dengan Rajasa yang tampak syok, aku tidak mengerti kenapa.
Tapi masa bodoh juga. Palingan juga hal yang nggak penting.
TBC