TIGA

1312 Words
Coba tebak apa yang sedang aku lakukan sekarang? Catat baik-baik. Di hari Rabu pada pukul dua siang ini aku sedang duduk di sudut paling sepi sebuah butik sambil sibuk mendengarkan Umi dan Tante Widya yang tengah mengobrol asyik perihal gaun pernikahan dan jas untuk acara akad dan resepsiku dua minggu lagi. Tolong catat itu baik-baik, akad dan resepsiku. Tubuhku masih kaku, terlalu syok saat tahu bahwa akulah pengantin yang mereka maksud, juga Mas Javas sebagai pasanganku di atas pelaminan nanti. Aku nggak tahu bagaimana ceritanya hingga aku berakhir sebagai calon istri Mas Javas, tapi yang pasti aku masih nggak percaya. Badanku masih tremor padahal aku sudah mencoba menarik napas dan membuangnya berkali-kali, mencoba menenangkan diri, meski yang ada malah aku yang semakin nggak tenang. Tubuhku memang merespons terlalu berlebihan, mungkin karena fakta itu juga terlalu mendadak kuterima. Aku masih nggak percaya kalau sebentar lagi aku sudah nggak menyandang status jomlo lagi. Baru kemarin aku berbicara tentang aku yang nggak suka menikah muda, tapi sekarang hal itulah yang bakal terjadi padaku. "Kin, ayo dong, dicoba. Jangan diem aja di situ," kata Umi membuyarkan segala hal yang bertubi-tubi menyerang pikiranku. Aku tersadar, lalu mendongak dan menatap ibuku yang tengah menunjukkan gaun putih berlengan panjang dengan kain brukat yang mengelilingi pinggang sementara bawahannya menjuntai lebar hingga menutupi lantai. Gaun itu tampak sederhana dan cantik, tapi aku sama sekali nggak tertarik untuk memakainya. "Ayo, jangan diem aja," tegur Umi sekali lagi sambil menyodorkan gaun itu padaku. Aku lalu bangkit, sedikit membetulkan bajuku yang kusut karena sejak tadi kugunakan untuk duduk, pun untuk mencoba mengulur waktu sebelum menerima apa yang Umi sodorkan. Tepat ketika aku menerima gaun itu, pintu butik yang terbuat dari kaca buram terbuka, menampilkan sosok Mas Javas dengan tubuh jangkungnya yang terlihat gagah. Lelaki itu lantas mengayunkan kakinya mendekat ke arah kami. Meski sudah nggak pakai snelinya lagi, tapi bisa kutebak dia baru pulang dari rumah sakit. Wajahnya terlihat lelah, rambutnya sedikit acak-acakan, dan kemeja slimfit-nya sudah lecek di beberapa bagian. "Nah, kebetulan Nak Javas udah dateng," kata Umi sambil tersenyum lebar seusai membalas tangkupan tangan dan salam dari kelaki itu. "Dah Kin, sana, masuk kamar ganti. Kita-kita mau lihat kamu cocok nggak pakai gaun itu, kalau nggak kita cari gaun lain," lanjut Umi. Meski mendapat intruksi dari Umi, tapi aku malah merasa bingung sendiri. Aku merasa nggak tahu harus berbuat apa selain diam di tempat seperti ini. Dan bahkan aku baru menggerakkan tubuh begitu Mas Javas berdeham dengan suara beratnya. "Hng, k-kalau gitu Kinara coba ganti dulu," kataku dengan suara yang agak tercekat. Aku lantas segera memasuki kamar ganti dan mencoba mengganti bajuku. Setelah gaun itu melekat di tubuhku, kupandang bayanganku dari cermin. Aku menghela napas panjang. "Ya Allah, Kin nggak mau nikah." Kembali, aku menghela napas. Kenapa Bapak dan Umi nggak bilang soal ini sama aku? Kenapa mereka buat keputusan yang tiba-tiba? Apa sebegitu nggak inginnya mereka melihat aku di rumah sampai-sampai aku dinikahkan dengan Mas Javas? Laki-laki yang usianya bahkan jauh di atasku dan lebih para lagi, dia punya orientasi yang menyimpang. Aku tahu Bapak dan Umi nggak tahu-menahu soal itu, hanya saja, mereka harus minta pendapatku karena bagaimanapun, yang menjalaninya nanti aku, bukan mereka. Bisa jadi baik aku dan Mas Javas nggak bahagia menjalani pernikahan kami. Bisa juga di pertengahan jalan, kami memilih pisah. Nauzubillah. Aku benar-benar nggak mau hal itu terjadi karena bagiku menikah itu cukup sekali, nggak ada yang namanya mengulang, tapi protes pun sepertinya percuma. Semua sudah telanjur terjadi, bahkan tanggal akad dan resepsinya sudah ditentukan kata Umi, seperti yang kubilang tadi, dua minggu lagi. Terlalu cepat dan aku sama sekali nggak tahu motifnya apa. Aku tahu Mas Javas tampan, gagah, mapan, dan sudah pasti baik. Tipe-tipe mantu idaman yang Bapak dan Umi harapkan, tapi bagaimana bisa aku menikah dengan lelaki yang mungkin nggak akan pernah mencintaiku nantinya? Terlalu lama di dalam ruang ganti ini, aku memutuskan untuk segera keluar. Kulihat hanya Mas Javas yang ada di situ, duduk di sofa yang aku tempati tadi, sementara Umi dan Tante Widya nggak aku tahu keberadaan mereka. "Mama dan Tante Ambar pulang," kata Mas Javas seolah tahu apa yang aku pikirkan. "Pulang?" tanyaku tanpa sadar. Bisa-bisanya mereka pulang dan meninggalkan aku hanya dengan Mas Javas seorang. Padahal mereka bilang ingin melihatku dengan gaun ini. "Kamu dengar saya?" tanya Mas Javas tiba-tiba sambil memainkan tangannya di depan wajahku. Aku mengerjapkan mata berkali-kali sambil menatap lelaki itu dengan bingung. "Hng, a-apa, Mas?" tanyaku dengan suara agak tersendat, efek masih syok dan juga canggung hanya ditinggal berdua dengan kelaki itu, meski sejujurnya mbak-mbak butik berada di jarak nggak terlalu jauh dari kami. "Kamu kebanyakan ngelamun," komentar Mas Javas tanpa ekspresi berarti, membuatku meringis lebar tanpa sadar. "Saya bilang, Umi dan Mama sedang mencari tempat cathering makanan untuk nanti." Aku lantas membulatkan bibir membentuk huruf O mendengar jawaban Mas Javas, lalu mengangguk beberapa kali tanpa melihat ke arahnya. Sekian detik berlalu, atmosfir kaku dan canggung di antara kami malah semakin menjadi. Aku sudah mati gaya, mau apa jadi serba salah. Kalau saja aku nggak berada dalam posisi ini, sudah kupastikan mulutku nggak berhenti mengoceh sejak tadi. Menghela napas kasar, aku lantas berbalik kembali ke kamar ganti. Umi dan Tante Widya saja nggak ada, jadi nggak perlu kan, aku pakai gaun ini lama-lama? Aku benar-benar nggak nyaman ngomong-ngomong. "Kamu nggak tanya pendapat saya tentang gaun itu?" Suara Mas Javas yang berat menghentikan langkahku yang tinggal selangkah lagi tiba di depan pintu ruang ganti. Dengan kikuk aku memutar tubuh dan menatapnya setengah meringis. "Hng?" Aku menggaruk sela-sela jariku. "M-maksud Mas Javas?" tanyaku ragu-ragu. Mas Javas diam sebentar. Dari posisiku yang berjarak nggak lebih dari lima meter itu aku bisa dengan jelas mendengarnya mendengkus. Maksudnya apa, tuh? Mendadak aku jadi tersinggung. Aku kan cuma bertanya karena aku memang nggak yakin dengan pendengaranku. Malah terkesan aneh dan mustahil kalau Mas Javas mau mengomentari bagaimana aku dengan gaun yang kukenakan ini? Lagi pula Mas Javas mau komentar apa? Aku cantik? Aku manis? Yang ada terkesan mengada-ada. Dia doyannya kan mentimun, bukan donat. "Kamu cocok pakai gaun itu, cantik." Tapi, barusan Mas Javas bilang sesuatu kan, aku cocok dengan gaun ini? Dan apa tadi, cantik? Serius, ya, yang terakhir aku nggak begitu mendengarnya karena suara Mas Javas yang memang mengecil dengan sendirinya. Atau sebenarnya aku cuma salah dengar? Pastilah, mana mungkin Mas Javas memujiku begitu. Kalaupun dia benar-benar bilang cantik, yang dipuji cantik itu jelas gaunnya walaupun sebenarnya wajahku juga luar biasa cantik. "Kita ambil itu aja," kata Mas Javas kemudian, membuyarkanku yang tengah mengelana dalam padang pikiran. Aish, akhir-akhir ini aku memang terlalu banyak disibukkan dengan skema-skema di otakku. Selanjutnya, yang aku lakukan cuma mengangguk kikuk dan segera masuk ke ruang ganti. Serius, aku nggak tahu harus merespons setiap ucapan Mas Javas seperti apa karena rasanya lidahku jadi kelu dan kosakata yang kukuasai berhamburan entah ke mana. Beberapa menit kemudian, aku keluar dengan pakaianku saat ke sini tadi dan menemukan Mas Javas yang tampak melihat-lihat jas dengan warna senada seperti gaunku tadi yang terpasang di manekin dekat dinding kaca. Sejujurnya, dari pilihan-pilihan Umi dan Tante Widya aku bisa menebak konsep pernikahan yang nggak aku inginkan ini bagaimana. Yang jelas bukan adat Jawa meski Pakde Tjokro adalah orang Jawa tulen, tapi setahuku juga Mas Javas sendiri nggak murni orang Jawa karena mendiang ibunya keturunan Indonesia-Korea, itu sih yang aku tahu. Mungkin karena itu juga konsep pernikahan kami yang sekali lagi kutekankan, nggak kuinginkan itu begini, lebih modern. "Mbak, ini bungkus sekalian sama gaun itu," kata Mas Javas sambil menunjuk gaun yang kupegang pada mbak-mbak penjaga butik. "Iya, Mas." Ia lalu melepas jas itu dari manekinnya, setelah itu meminta gaun yang kupegang. "Hng, nggak dicoba dulu, Mas?" tanyaku heran, tentu masih dengan intonasi kaku. "Nggak," sahutnya dengan singkat, aku jadi gemas sendiri. Ya aku tahu kalau dia nggak coba jas itu, tapi kan setiap tindakan ada alasan. Maksudku, kenapa nggak dia coba? Rasanya aku ingin menendang pantatnya sampai Pluto. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD