Sepanjang perjalanan dari butik sampai rumah, aku cuma diam sambil menyenderkan kepala ke jendela mobil dan pura-pura tidur. Sumpah ya, aku sama sekali nggak tahu harus ngobrol apa sama Mas Javas, meski sebenarnya dalam otakku sudah penuh tanda tanya yang menuntut jawab.
Aku masih menerka-nerka sebenarnya, kenapa Bapak dan Umi membuat keputusan tanpa melibatkan diriku? Ini nggak wajar, kan? Dan, kenapa pula Mas Javas mau-mau saja dinikahkan denganku? Apa dia cuma mau menutupi kecacatannya di depan semua orang? Kalau begitu, yang sengsara nanti sudah pasti aku. Aku bakal jadi istri tersakiti macam sinetron yang sering Umi tonton, tapi bedanya suamiku nanti selingkuh dengan sesamanya, bukan sesamaku.
Aku bergidik ngeri membayangkan hal itu. Bagaimana nanti kehidupanku setelah menikah? Apa aku bakal merasakan seperti apa yang Umi rasakan? Dicintai Bapak dan menghasilkan keturunan cantik macam aku dan standar macam Rajasa? Ah, itu nggak mungkin. Aku pasti cuma bakal jadi pajangan doang atau partner buat digandeng ke kondangan. Kalau iya, Mas Javas benar-benar jahat. Dia terlalu memanfaatkan diriku yang nggak berdaya ini.
"Saya tahu kamu nggak benar-benar tidur," kata Mas Javas yang tentu saja nggak kurespons, aku masih mempertahankan lakonku. "Kamu mau turun apa enggak? Kita udah sampai dari tadi."
Mataku otomatis terbuka begitu mendengar kalimat terakhir yang Mas Javas ucapkan. Aku menegakkan badan dan langsung melihat ke sekitar, lupa kalau aku masih dalam mode pura-pura. Benar, mobil tetangga yang sebentar lagi bakal menjabat tangan Bapak dan melafalkan ijab kabul itu sudah terparkir apik di depan pagar rumahku yang cuma setinggi d**a orang dewasa.
Kayaknya aku terlalu mendalami kepura-puraanku sampai-sampai nggak sadar sudah sampai rumah sejak tadi yang mana artinya baik aku dan Mas Javas cuma diam-diaman dari dalam mobil. Mendadak, kedua pipiku memanas. Ini bukan cuma satu persoalan saja yang membuatku tiba-tiba merasa malu setelah memikirkan apa yang kulakukan barusan. Pertama, aku sudah buat Mas Javas menunggu dan nggak menutup kemungkinan dia bakal memperhatikan aku yang katanya cuma pura-pura tidur ini. Kedua, aku nggak punya alasan kalau sewaktu-waktu entah Umi, Bapak, Rajasa, tetanggaku, atau siapa pun itu bertanya kenapa aku nggak keluar-keluar dari mobil Mas Javas. Nggak mungkin kan, aku bilang ketiduran? Mas Javas pasti bakal bangunin aku kalau memang begitu. Meski faktanya malah cuma menonton diriku lengkap dengan kebodohanku ini. Dan terakhir, bisa-bisanya aku langsung bereaksi. Harusnya aku tetap dalam mode pura-pura meski Mas Javas sudah tahu akan hal itu.
Aku jelas nggak berhenti merutuki diriku. Nasibku benar-benar malang. Kenapa, sih, aku terlahir dengan IQ sedengkul? Bikin malu diri sendiri saja.
Dengkusan geli di sampingku membuatku otomatis menoleh. Namun, yang kudapati itu cuma wajah datar Mas Javas yang lagi sibuk main gawai canggihnya. Woah, kutebak dia lagi berbalas pesan dengan lelaki yang sama yang kulihat di mal waktu itu. Hubungan mereka sepertinya bukan hubungan ecek-ecek. Aku benar-benar nggak menyangka sosok Mas Javas bakal jadi lelaki yang seperti itu. Benar kata orang, lelaki ganteng itu kalau nggak beristri ya belok, nauzubillah. Pantas saja di usia Mas Javas yang sudah tua begini dia belum nikah-nikah juga.
"Eng, a-aku turun kalau gitu, Mas. Makasih tumpangannya," kataku.
Mas Javas menatapku sesaat sebelum kembali menfokuskan matanya kembali ke layar ponsel, menjawabku dengan dehaman singkat. Ada raut aneh yang sempat kutangkap dari ekspresinya tadi. Ya ampun, aku nggak salah ngomong atau mempermalukan diriku lagi, kan?
Nggak mau makin berpikir macam-macam, aku segera memutuskan mengambil paper bag berisi gaunku dari dashboard dan segera turun dari sana tanpa mau berbasa-basi lagi. Namun, baru hendak membuka pintu, suara Mas Javas yang berat dan serak membuatku mengurungkan niat.
"Kamu nggak mau tanya sesuatu ke saya?" tanyanya masih tanpa menatapku.
Aku mengangkat alis, ini Mas Javas mau pendekatan denganku sampai-sampai aku harus tanya-tanya sama dia? Memangnya apa yang harus kutanyakan? Siapa namanya? Aku sudah tahu. Berapa umurnya? Dia sudah cukup tua. Siapa nama ibu dan bapaknya? Aku juga sudah tahu. Lalu apa?
"Tentang pernikahan kita mungkin. Kamu nggak ingin bertanya seputar itu sama saya?" lanjut Mas Javas seolah membuka buntu di kepalaku.
"Oh." Aku mengangguk kecil.
Benar juga, kenapa aku nggak kepikiran buat bertanya perihal pernikahan kami yang bakal dua minggu lagi dilaksanakan? Sumpah, aku sampai sekarang masih d***u dan nggak tahu apa-apa. Perihal gimana aku bisa berakhir jadi pengantin lelaki di sampingku ini dan tanggal pernikahan yang kenapa cepat sekali? Apa aku sudah pernah bilang sebelumnya kalau aku belum siap secara mental dan batin?
"Apa alasan Mas terima perjodohan kita?" tanyaku setelah menemukan pertanyaan yang kukira pas untuk mengobrol tentang pernikahan pada jam menjelang empat sore ini.
"Perjodohan?" Kali ini Mas Javas melihat ke arahku dengan ekspresi yang lebih aneh dari tadi, seolah dia nggak suka dengan pertanyaan yang kulayangkan. Dari situ aku bisa menyimpulkan kalau dia terpaksa menikah denganku. Sama kok, Mas, sama. Bedanya di sini aku nggak tahu apa-apa.
"Jujur aku nggak tahu kapan Bapak meminta Mas menikahiku atau obrolan Bapak dan Pakde Tjokro tentang perjodohan kita, intinya tentang itu. Bahkan sampai sekarang aku nggak tahu apa-apa, aku baru tahu tadi pas Umi sama Tante Widya ngomongin seputar gaun pernikahan yang cocok kupakai di pelaminan nanti. Makanya tadi aku masih kayak orang yang baru bangun tidur, clueless banget."
Sekarang, aku sudah bisa berbicara panjang lebar. Kebetulan Mas Javas bertanya dan aku akan menumpahkan unek-unekku padanya, mungkin dengan begitu Mas Javas punya inisiatif menggagalkan pernikahan kami yang sumpah demi apa pun, masih nggak aku mengerti kenapa berakhir begini.
"Mas terpaksa, aku juga. Mungkin Mas sempat menolak, tapi aku sama sekali nggak dikasih waktu buat itu. Tahu-tahu udah ditentuin tanggalnya, tahu-tahu udah persiapan aja. Aku nggak tahu apakah pernikahan kita bakal berjalan lancar kayak pernikahan-pernikahan orang pada umumnya karena kita emang nggak saling mencintai dan juga masalah Mas---" Aku menghentikan ucapanku sebentar. Rasanya nggak etis membahas tentang dia yang lebih suka laki-laki daripada perempuan. "---maksudku, mungkin Mas punya sosok yang Mas sukai. Bagiku, pernikahan itu cuma sekali seumur hidup, Mas. Aku nggak berharap bakal ada pernikahan-pernikahan lain kalau hubungan kita emang nggak berhasil. Jadi, mungkin nggak sih Mas, kita bilang ke mereka kalau sebaiknya pernikahan ini dibatalin aja?" tanyaku mencoba lebih berani, meski aslinya aku ketar-ketir sendiri. Masalah ini nggak segampang aku ketahuan masang jarum pentul di sofa pas masih SD dulu.
"Tapi, tempo hari kamu udah bila---"
Ucapan Mas Javas terpotong saat dari luar kulihat Rajasa mengetuk kaca mobil. Tanpa menunggu ucapannya lebih lanjut, aku segera membuka pintu dan keluar dari sana.
"Lama banget, sih, Mbak Kin di dalam, sampai Bapak curiga tadi kalau kalian ngapa-ngapain. Belum halal, Mbak!" semprot Rajasa begitu aku sudah berdiri di depan cowok yang nggak terlalu tinggi ini.
Mendengar ucapan adikku satu-satunya itu, aku jelas nggak terima. Enak banget dia nuduh aku sembarangan. "Jangan fitnah, ya, Ja, Mbak nggak ngapa-ngapain juga," balasku seraya berkacak pinggang dan menatapnya tajam.
"Idih, bukan Raja, ya, yang bilang gitu, tapi Bapak. Salahin aja kenapa lama banget nggak keluar mobil. Bisa aja kan, Mbak Kin sama Mas Jav lagi iya-iya."
Aku menjewer telinganya. "Iya-iya, iya-iya, punya mulut lemes kayak perempuan."
"Duh, Mbak Kin! Sakit!" Rajasa menahan tanganku, tapi bukannya aku berhenti, aku malah semakin mengencangkan jeweranku.
Aku baru melepaskan tanganku saat Mas Javas yang entah kapan keluar dari mobil, dan berdiri di antara kami. "Udah Kin," katanya. "Saya dan Mbak kamu nggak ngapa-ngapain kok Ja, cuma ngobrol seputar pernikahan kami nanti," lanjut Mas Javas menatap Rajasa.
Sembari meringis kesakitan, cowok itu menyahut, "Ya kan, siapa tahu, Mas. Mas Javasnya udah kebelet dan Mbak Kinan modelannya aja begitu."
Sejujurnya aku sudah berusaha menahan emosiku untuk nggak meledak seledak-ledaknya sejak tahu kalau aku bakal dinikahkan. Dan ucapan Rajasa benar-benar menyulut sumbu amarahku, aku sudah nggak bisa menolerir lagi. Untuk itu, aku melampiaskannya dengan menonjok perut cowok itu sekuat tenaga yang mana malah meleset ke arah Mas Javas, menyisakan erangan tertahan dari mulut lelaki itu sebelum tumbang ke paving block.
"RAJASA!" teriakku saat tahu Rajasa sudah ngibrit duluan ke dalam rumah.
Hari ini benar-benar hari terkacauku.
TBC