LIMA

1491 Words
Sejak insiden aku yang menonjok perut Mas Javas tanpa sengaja kemarin, yang kemudian membuatku berlari tunggang-langgang menyusul Rajasa masuk ke dalam rumah, aku memang nggak ketemu lagi dengan lelaki itu. Pun dia nggak mencoba menghubungiku untuk meminta pertanggungjawaban atas tindakan bar-barku, tapi syukurlah. Itu artinya dia baik-baik saja, meski sejujurnya aku masih penasaran dengan kata-katanya yang sempat terputus gara-gara kedatangan Rajasa yang membuatku berakhir sebagai lakon yang jahat. Sumpah ya, harusnya yang dapat hadiah bogeman dari aku tuh Rajasa karena cowok itu yang memang ingin kujadikan objek, bukan Mas Javas. Aku nggak tahu mau kutaruh di mana mukaku kalau seumpama nanti ketemu sama dia, mana aku pergi begitu saja tanpa mau membantu. Sudah pasti di mata Mas Javas aku adalah wanita paling buruk di dunia. Cuma, hal itu nggak cukup mengganggu pikiranku sekarang. Obrolanku dengan Bapak dan Umi tadi malam masih cukup membekas dan membuatku nggak bisa tidur dengan nyenyak. "Kamu sendiri yang mutusin buat nerima lamaran Nak Javas, Bapak nggak pernah ngejodoh-jodohin kamu, tapi Bapak juga sangat setuju dengan itikad baik Nak Javas yang meminta kamu secara langsung sama Bapak. Bapak kira dia cuma guyon karena kamu lho ini yang dilamar, anak gadis Bapak yang nggak bisa apa-apa, yang punya banyak kekurangan," kata Bapak sedikit mencelaku saat aku menuntut penjelasan tentang rencana pernikahanku yang tiba-tiba ini. "Tapi ternyata, Kin, sorenya dia bilang bakal berkunjung ke rumah sama keluarganya, dan malamnya dia bener-bener datang, itu artinya dia nggak main-main, kan? Coba pikirin deh Kin, siapa sih, yang bakal nggak suka sama lelaki macam Nak Javas? Nggak pengen mantu kayak dia? Pekerjaannya sudah mapan, wajahnya rupawan, baik. Kita pun udah tahu gimana keseharian dia, nggak neko-neko." Penjelasan Bapak sama sekali nggak bisa membuka selubung gelap yang tengah mengelilingi otakku. Ada banyak hal yang kemudian menjadi beban. Dari apa yang Bapak ucapkan, posisiku di sini jelas bukan dijodohkan, melainkan dilamar. Dan aku sudah cukup salah paham. Aku nggak tahu apa motif Mas Javas melamarku. Suka? Itu nggak mungkin. Dia nggak pernah bersikap manis denganku, malah terkesan dingin, mirip bongkahan es di Kutub Utara. Mungkin seperti yang kubilang di awal kalau dia ingin memanfaatkan diriku untuk menutupi kecacatannya. Aku lalu mendesah panjang, belum nikah saja sudah begini, apalagi kalau nanti kami sudah terikat ikatan sakral? Dan, apa tadi Bapak bilang, aku sendiri yang setuju sama lamaran Mas Javas? Kapan aku bilang begitu? Kapan aku bilang iya? Aku sama sekali nggak ingat dan sudah pasti Bapak hanya mengada-ngada. "Mana ada Bapak ngada-ngada, Kin. Pas makan malam tempo hari sama tetangga sebelah, kamu sendiri yang bilang setuju. Masa kamu udah pikun, sih? Bapak yang udah tua aja masih inget," kata Bapak yang nggak terima aku tuduh begitu. Dan aku mencoba mengingat-ingat. Satu-satunya kata setuju yang keluar dari mulutku adalah ketika Bapak meminta pendapatku tentang koruptor yang sudah sepantasnya mendapat sangsi berat. Aku nggak tahu apakah memang begitu pertanyaan Bapak karena aku memang sama sekali nggak menyimak obrolan mereka. Dan mungkin aku salah menyimpulkan sesuatu, bahwa yang mereka obrolkan bukan seputar politik, melainkan hal lain. Itu artinya aku sudah menggali lubang kuburanku sendiri. Namun, masih ada yang menggajal di hatiku malam itu. "Tapi kenapa nggak ada omongan tentang tanggal pernikahan yang ngelibatin Kin? Kenapa udah mutusin kalau kurang dari dua minggu lagi Kin bakal nikah sama Mas Javas? Itu terlalu cepat dan Kin nggak siap." "Lah, gimana sih kamu, Kin? Pikun beneran apa?" sahut Umi cepat. "Kan Nak Javas bilang, kalau kamu setuju dengan lamarannya, berarti dua minggu lagi itu pernikahan kalian. Dan kamu bilang kamu setuju, ide yang bagus, jangan aneh-aneh deh." Dan sisa malam itu aku gunakan untuk merutuki diriku dan menyesal dengan semua yang sudah terjadi sampai-sampai keesokan paginya aku berakhir dengan mata panda. Aku nggak tahu apakah di dunia ini ada sosok yang lebih bodoh dariku atau enggak, yang pasti aku sangat ingin menukar otakku dengan otak Aristoteles, seenggaknya dia nggak bersikap gegabah untuk setiap hal, nggak kayak aku yang main iya-iya saja. "Mbak Kin, tuh, ditunggu Mas Javas di teras," beritahu Rajasa yang tengah sibuk dengan laptop dan tugas PPT-nya saat aku lewat di depan cowok itu, hendak mengambil air ke dapur. "Ngapain?" tanyaku mendadak resah. "Mana aku tahu, aku kan Raja," sahut Rajasa tengil. "Mau minta pertanggungjawaban Mbak paling, kan kemarin Mbak main kabur aja." "Itu kan gara-gara kamu. Kamu harusnya yang Mbak tonjok, bukan Mas Javas," belaku. "Dih, ngeles banget Mbak. Aku atau enggak yang Mbak Kin tonjok, ya, seharusnya Mbak Kin nggak kabur." "Kan Mbak cewek Ja, Mas Javas cowok." "Siapa bilang Mbak sama Mas Javas banci?" decih adikku itu masih dengan wajah tengilnya yang membuatku gemas dan ingin sekali melemparnya ke Antartika. "Masalahnya kan bukan mukhrim, harusnya kamu yang nolongin, tapi kamu malah kabur duluan. Mbak cuma takut aja timbul fitnah, tahu kan, gimana pengen ngejahitnya kita sama mulut mereka kalau udah koar-koar ke orang sekomplek?" "Aku kabur karena aku kebelet boker, Mbak," sahut Rajasa membela diri. "Ngeles teruuuuus." Aku memutar mata dan menatap adikku dengan wajah malas. Rajasa mendesis. Aku tahu cowok itu sudah nggak punya alasan lagi buat ngelak dari aku. "Udah deh kalau gitu, nggak perlu tengkar sama aku," katanya dengan wajah masam. "Mending Mbak temuin calon suami Mbak sana. Kasihan udah nunggu lama." "Mbak nggak mau ketemu, bilang aja lagi molor." "Tadi aku udah bilang mau bangunin Mbak." "Tapi kamu nggak bangunin Mbak tuh." "Lupa, tadi aku dapet telepon dari temenku kalau deadlinenya dimajuin jadi jam lima. Baru inget kalau ada Mas Javas pas Mbak lewat," katanya. "Ck, kamu ini." Aku lalu menimbang, apakah aku harus menemui lelaki itu apa enggak. Jujur aku masih benar-benar malu dan nggak pengin ketemu dia dulu, tapi lebih dari itu aku juga mau menuntut jawaban dari dia. Dan sekarang, berakhirlah aku di ambang pintu. Melihat Mas Javas yang lagi duduk menyender pada senderan kursi dengan mata yang lurus ke depan, sibuk mengamati sayuran-sayuran yang Umi tanam dengan latar belakang matahari senja. "Mas," sebutku kemudian sambil berjalan mendekat. Ia mendongak, menatapku sekilas sebelum kembali menatap ke depan. Dih, tuh kan, mana sikap dia yang menunjukkan ketertarikan padaku? Dia nggak mungkin melamarku dengan alasan itu. Nggak masuk akal. Aku lalu mengambil posisi di kursi depannya dengan kikuk. Jangan pikir tembok tebal di wajahku sudah terbangun. Aku jelas masih malu kalau mengingat-ngingat perbuatanku kemarin dan juga, jangan lupakan kesalahpahamanku yang mengira kami dijodohkan. Aku sudah telanjur menumpahkan unek-unekku. "Hng, maaf Mas, bikin nunggu lama. Anu, maaf juga nggak bawain minuman, aku lupa," kataku saat melihat meja di hadapan kami kosong-mlompong. "Nggak perlu, saya lagi puasa," sahutnya dan aku baru ingat kalau sekarang adalah hari Kamis. "O-oke. Hng, anu, yang kemarin itu aku minta maaf. Aku bener-bener nggak sengaja nonjok perut Mas, harusnya Rajasa yang kena." "Tapi, kalau kaburnya kamu sengaja, kan?" kata Mas Javas tanpa melihat ke arahku, sepertinya dia marah besar karena sikapku kemarin. Aku menggigit bibir. Benar-benar bingung harus menjawab apa, meski pertanyaan dia nggak sesusah persamaan garis singgung lingkaran. Aku harus jawab apa coba? Aku memang sengaja, tapi dengan jawaban seperti itu sama saja membuatku semakin terlihat buruk. Dengkusan geli dari Mas Javas membuatku mengangkat kepala. Aku bisa menangkap sudut bibirnya yang tertarik ke atas, sangat tipis. Apa dia baru saja menertawaiku? Membayangkan hal itu, pipiku sontak memanas. Allah, hamba-Mu ini malu. Mas Javas tanpa melihatku kembali berbicara, "Soal pernikahan kita, saya ingin meluruskan sesuatu," katanya memulai, dan nggak tahu kenapa jantungku mulai bekerja nggak normal. "Mungkin kamu sudah tahu dari Om Pram atau Tante Ambar, saya yang melamar kamu di sini. Nggak ada perjodohan sama sekali di antara kita." "Terus, apa alasan Mas Javas ngelamar aku?" sahutku cepat, aku cuma mau memastikan dugaanku saja. "Jangan sela omongan saya dulu, Kin. Biarkan saya selesaiin ucapan saya dulu," katanya dengan tegas dan aku langsung mengatupkan bibir. Tiba-tiba merasa takut, aku lebih suka dia yang sok dingin jadi aku nggak mati kutu begini. "Saya tertarik sama kamu dan ingin menjalin hubungan yang serius. Untuk itu, daripada menimbulkan dosa karena terlalu lama memendam, saya mengutarakan niat saya secara langsung ke Om Pram. Saya pikir kamu kemarin sudah setuju, tapi ternyata malah nggak tahu apa-apa." Baru kali ini aku berbicara panjang lebar dengan Mas Javas. Dan seharusnya, jantungku nggak berdetak senorak ini. Aku tahu pasti, Mas Javas tidak benar-benar tertarik denganku, orientasinya menyimpang. Lagi pula, dia nggak pernah bersikap baik dan malah terkesan nggak acuh kalau kami dalam tempat dan waktu yang sama. Definisi tertarik itu nggak begitu, kan? "Tapi sekarang keputusan ada di tangan kamu. Kalau kamu memang belum mau menikah dengan saya, ya nggak papa. Kita bisa bilang ke orang tua kita masing-masing kalau kamu belum benar-benar siap. Mereka pasti bisa memakluminya." Tapi, sebodoh-bodohnya aku, nggak mungkin aku bersikap egois. Aku sendiri yang bilang 'iya' pada mereka, lalu aku juga yang mau membatalkan pernikahan ini. Aku nggak bisa berbuat seenak hati. Ada banyak oknum yang pasti kecewa dengan keputusanku nanti, entah Bapak, Umi, ataupun keluarga Mas Javas. Aku akan sangat menyakiti hati mereka, tapi aku pun nggak mungkin mengorbankan diriku, kan? Aku benar-benar bingung dengan pilihan yang akan kupilih. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD