Percakapanku dengan Mas Javas tempo hari berakhir denganku yang tetap mau mempertahankan rencana awal, yaitu menikah dengannya. Bukan tanpa alasan aku memilih begini. Aku sudah bilang kalau aku nggak bisa egois. Aku nggak mau menyakiti banyak pihak karena keputusanku itu. Sejak awal juga mereka sudah kulambungkan tinggi-tinggi, meski aku nggak sadar sudah begitu. Dan menjatuhkan mereka di saat-saat seperti itu pasti akan sangat sakit.
Namun, di sini bukan berarti aku juga mau jadi yang tersakiti, aku nggak akan terima hal itu. Mungkin aku harus bikin beberapa kesepakatan dengan Mas Javas ketika sudah menikah nanti, berharap dengan begitu juga orientasi lelaki itu kembali lurus. Perihal cinta sendiri, aku nggak mau memikirkannya. Mas Javas saja belum sembuh, masa main cinta-cintaan? Akan sangat menyedihkan kalau cuma aku yang jatuh cinta, sementara Mas Javas nggak merasakan apa pun. Pantang buatku punya kisah hidup kayak sinetron.
"Mas, aku udah siap," kataku saat menemui Mas Javas di teras rumah, lelaki itu sudah menungguku sejak kurang dari sepuluh menit yang lalu.
Diam-diam aku mengamati bagaimana penampilannya. Dia memakai kemeja putih berlengan panjang yang digelung sampai bawah siku, juga celana bahan hitam dan sepatu mengkilap. Pakaian yang menurutku sangat nggak cocok kalau dibuat jalan, terlalu kuno dan lawas, mirip bapak-bapak di umur lima puluhan, tapi kuakui dia cukup keren dengan penampilan seperti itu, bahkan dia sama sekali nggak terlihat seperti laki-laki di pertengahan tiga puluh. Mas Javas memang awet muda, meski sudah ada sedikit kerutan di ujung mata.
Sabtu pagi ini ia yang katanya nggak sedang ada jadwal pratik menghubungiku, tentu lewat Umi karena sampai sekarang aku dan dia belum bertukar nomor ponsel. Iya, aku tahu, kami memang terlalu anti-mainstream untuk ukuran calon pengantin, tapi rasanya berbasa-basi meminta kontak satu sama lain itu nggak etis di tengah kondisi yang menurutku nggak cukup memungkinkan. Jangan heran juga kalau selama belasan tahun bertetangga aku nggak punya nomor dia, kami sama sekali nggak dekat meskipun aku sering berkunjung ke rumah Pakde Tjokro. Lagi pula tujuanku ke sana cuma untuk main-main sama Tsani.
Mas Javas nggak merespons ucapanku, tapi begitu aku selesai mengatupkan bibir, ia langsung bangkit dari duduknya. Aroma musk bercampur cengkeh sontak masuk ke pancaindraku, membuatku langsung jatuh hati. Bukan dengan Mas Javas yang kuno, tapi dengan wangi tubuhnya yang seperti aroma terapi, sangat menenangkan.
"Ayo," kata Mas Javas sambil sedikit merapikan pakaiannya.
"Kita cuma berdua aja, Mas?" tanyaku, agak canggung membayangkan bagaimana kami nanti.
"Iya," singkatnya, lalu berjalan mendahuluiku menuju mobil yang terparkir di luar pagar rumah.
Aku mencibir dalam hati. Apa nggak bisa dia berbasa-basi walaupun cuma sebait dua bait kata? Aku yakin dia punya kemampuan berbicara lebih dari sepuluh kata, seperti kemarin ketika dia menjelaskan panjang lebar tentang asal mula kenapa kami berakhir menjadi calon pengantin.
Memang setelah obrolan kemarin pun, Mas Javas tetap mempertahankan sikap kaku dan dinginnya. Aku yakin dia cuma begitu denganku karena ketika aku amati lagi, entah ketika bersama Bapak, Umi, Rajasa, atau keluarganya yang lain pun dia lumayan asik. Aku nggak tahu apa motifnya, tapi seharusnya Mas Javas nggak begitu. Aku memang belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun, tapi berkat novel-novel yang k****a, aku jadi tahu bagaimana seluk beluk sebuah hubungan. Mas Javas nggak seharusnya mempertahankan sikapnya yang demikian kalau dia nggak mau akhir yang buruk, maksudku sih pernikahan kami. Hubungan yang dibangun dengan kaku dan dingin nggak akan bertahan lama, kan? Dan aku juga nggak bisa menjamin terus bertahan dengan Mas Javas kalau peringaiannya saja begitu.
Aku cuma manusia biasa lho ini, hatiku nggak terbuat dari besi ataupun baja, disentil sedikit saja sudah langsung berdarah-darah.
Tapi, yah, dasarnya saja laki-laki. Menyusahkan benak dan pikiran saja bisanya. Kalau begini, yang repot aku, kan? Mentalku saja belum kuasah, sekarang sudah harus memikirkan bagaimana akhir dari pernikahanku.
***
"Kenapa nggak sama-sama pakai cincin emas aja, Mas? Bentukannya juga, kenapa nggak disamain sama pilihanku?" heranku saat Mas Javas lebih memilih cincin perak sederhana dengan telunjuknya. Aku mendadak jadi nggak enak karena pilihanku yang jauh lebih bagus dari miliknya. Mas Javas hanya diam saja tadi ketika aku menunjuk cincin emas bermata berlian mini, nggak mengatakan keberatannya dengan pilihanku itu. Ini bukan maksudku mau memanfaatkan situasi ya, tapi aku memang jatuh hati dengan cincin itu begitu masuk ke gerai perhiasan ini.
"Nggak boleh," sahut Mas Javas pendek, nggak menjelaskan apa pun padaku.
"Aku tanya kenapa lho Mas, jadi udah pasti jawabannya nggak cuma dua kata," sahutku, aku tanya serius tadi, tapi respons Mas Javas malah begitu.
Mas Javas menghela napas. "Cincin itu cuma sebuah tanda, yang nggak diwajibkan untuk punya, emas atau enggak itu pun bukan masalah buat saya. Lagi pula, saya sebagai laki-laki diharamkan memakai itu," terangnya yang tumben-tumbennya lebih dari jumlah standar kata yang dia ucapkan padaku. Ia kemudian menyebutkan satu hadis yang membuatku paham maksudnya, "Seperti yang diriwayatkan dari Ali, bahwa Nabi SAW mengambil sebuah sutera dan menjadikannya di sebelah kanannya dan mengambil sebuah emas dan menjadikannya di sebelah kirinya kemudian beliau SAW bersabda, "Sesungguhnya kedua jenis ini haram bagi kaum laki-laki dari umatku." (HR An Nasai dan Abu Daud).
Aku membulatkan bibir, lalu mengangguk beberapa kali. "Kalau gitu, aku nggak jadi sama ini, Mas," kataku sambil mendorong kotak beludru yang berisi cincin pilihanku ke depan. Aku bakal memilih cincin yang sama saja seperti pilihan Mas Javas. Nggak enak aku memesan cincin mahal sementara dia enggak. Aku yakin Mas Javas memang mampu, tapi bukan itu masalahnya.
Mas Javas menggeleng. "Ambil aja," katanya.
"Nggak Mas, nggak enak sama Mas."
Mas Javas menghela napas. "Terserah kamu."
Pilihan kami berakhir dengan Mas Javas dengan cincinnya tadi, sementara aku dengan cincin dari emas putih, kali ini aku nggak memilih yang ada berlian atau permata yang lain, hanya sulur sederhana di permukaannya. Aku benar-benar nggak enak dengan Mas Javas kalau begini.
Setelah melakukan transaksi, kami berjalan keluar dari gerai itu. Mas Javas menyuruhku untuk masuk ke salah satu restoran cepat saji yang nggak jauh dari posisi kami, sementara dia bilang mau menyelesaikan urusannya dulu. Aku nggak tahu apa, tahu kan, gimana karakter Mas Javas? Ya, itu, dia nggak mau menjelaskan apa pun.
Suasana mal ini cukup ramai. Banyak orang yang berseliweran di sekelilingku, entah anak tanggung yang lagi kencan atau rombongan keluarga yang sedang menghabiskan waktu weekend mereka.
Aku masuk ke dalam restoran cepat saji yang Mas Javas tunjuk tadi dan memesan satu burger big mac, french fries, dan untuk minumannya aku memilih orange drink. Kebetulan aku belum sempat sarapan, perutku sudah meronta-ronta minta diisi sejak tadi.
Setelah mendapatkan pesananku, aku berjalan mencari kursi dan memilih bangku di sudut restoran, tempat yang paling nyaman menurutku. Jauh dari perhatian orang yang memenuhi restoran ini. Namun, rasanya cukup kikuk ternyata saat berjalan melewati meja demi meja sendirian, semua pasang mata seolah sedang mengamatiku, tapi aku berusaha tak acuh. Jangan mudah merasa terintimindasi dengan hal yang sebenarnya nggak maksud mengintimindasimu.
Aku baru mendapat dua gigitan saat Mas Javas dengan paper bag di tangannya datang bersama seseorang yang nggak kukenal. Aku menyipitkan mata yang minus seperempat, melihat sosok yang bersama Mas Javas tadi. Laki-laki itu tampak begitu familier, tapi aku lupa pernah bertemu dengannya di mana.
Saat mereka tiba di depanku, dan lelaki berwajah oriental yang nggak kukenali itu menarik kedua sudut bibirnya, barulah aku sadar siapa dia. Laki-laki yang punya hubungan spesial dengan Mas Javas! Pantas tadi Mas Javas menyuruhku menunggu di sini, rupanya dia ingin menemui pacar gelapnya.
Kalau kuamati, ia memang cukup manis juga tampan dalam sekali waktu. Pantas kalau Mas Javas jatuh hati pada laki-laki yang ia kenalkan sebagai Windranatha Winarya, teman satu profesinya di rumah sakit.
Sepanjang sisa hari itu aku cuma bengong dengan mulut nggak berhenti mengunyah dan telinga yang sibuk mendengarkan obrolan random dua lelaki di depanku yang diiringi tawa renyah mereka, entah dari Mas Javas atau dari Mas Natha. Sumpah, aku nggak bohong saat bilang itu. Mas Javas benar-benar terlihat lepas, berbeda pas ngomong sama aku yang kayak orang kesurupan hantu Antartika.
Sekarang, aku jadi ragu dengan pilihanku, tapi lagi-lagi semua sudah telanjur terjadi. Kayaknya aku memang ditakdirkan jadi orang sial.
TBC