TUJUH

1184 Words
Pada akhirnya, hari yang nggak aku tunggu-tunggu pun tiba, hari pernikahanku dengan Mas Javas setelah rangkaian acara sebelum akad dilaksanakan. Sejak awal aku sudah menebak, konsep pernikahan kami sama sekali nggak memakai adat Jawa, tapi untuk urusan pingit-memingit, aku tetap melakukannya. Aku nggak diperbolehkan pergi ke mana pun. Untung saja aku punya banyak buku, meski sudah k****a berkali-kali, setidaknya aku bisa membacanya ulang untuk mengusir kebosananku selama nggak bisa ke mana-mana. Untuk masalah ketemu atau enggaknya dengan Mas Javas, aku nggak begitu memikirkannya. Aku seratus persen yakin bakal baik-baik saja walaupun nggak melihat dia selama bertahun-tahun. Suasana di rumahku sudah mulai ramai. Aku bisa mendengar suara Umi yang menyambut para tamu, para tetangga yang mengobrol, atau suara Rajasa yang sedang mengetes microphone. Baik Bapak, Pakde Tjokro, Mas Javas maupun keluarga yang lain memang sepakat untuk menggelar acara di rumah. Selain nggak perlu pusing-pusing cari gedung di waktu yang semepet ini, juga lebih praktis dan ekonomis. Aku menatap pantulan diriku pada cermin kamar Umi yang digunakan untuk merias karena posisinya yang berada di lantai satu dan dekat dengan ruang tamu yang menjadi tempat berlangsungnya akad. Wajahku sudah penuh dengan make up, bibirku yang awalnya tipis jadi terlihat tebal begitu lipstik merah bata itu terpoles di sana. Aku rasa ini terlalu berlebihan, tapi Umi bersikeras kalau memang beginilah riasan pengantin perempuan. Aku yang hampir nggak pernah pakai make up, jelas merasa nggak nyaman. Rasanya pengin buru-buru menghapus riasanku ini. "Kin, udah nih. Ini beneran kamu cuma mau gini doang? Nggak mau gitu, Mbak bentuk biar kelihatan kece? Atau Mbak kasih hiasan gitu? Kayaknya terlalu sederhana, deh." Perempuan yang sejak tadi memasangkan kerudung untukku bertanya padaku. Dia adalah tetanggaku yang kebetulan mahir dalam hal dandan-mendadani daripada menyewa tukang salon yang jelas lebih mahal untuk jasanya. Aku lantas kembali melihat pantulan diriku di cermin. Aku memakai jilbab organza yang memang dibentuk cukup sederhana dengan kedua ujung yang diikat ke belakang, sebagai pelengkap, Mbak Nasha memasangkan veil ke kepalaku. Aku rasa riasanku sudah cukup berlebihan, jadi aku nggak mau kalau penampilanku juga begitu. "Udah Mbak Nas, aku rasa udah cukup. Nggak perlu yang berlebihan, entar malah susah aku nyopotnya," kataku. Mbak Nasha malah tersenyum menggoda. "Kan entar ada suami Kin, yang bantu kamu copotin riasan kamu. Masa sih, Mas Javas nggak mau bantu? Kan sekalian bisa langsung manja-manjaan." Mendengar hal itu, bukannya tersipu aku malah mendengkus pelan. Mana bisa aku bermanja-manja dengan lelaki macam Mas Javas yang notabenenya nggak suka sama perempuan? Membayangkannya saja aku nggak bisa, mustahil kalau hal itu benar-benar terjadi. "Mbak, jangan mikir aneh-aneh, deh," kataku dengan cemberut. "Aneh-aneh gimana? Wajar dong, kalau suami-istri manja-manjaan? Gimana, sih? Mbak sama Mas Tian aja juga gitu dulu, malah langsung malam pertama," sahut Mbak Nasha yang sedang membereskan alat riasnya sambil cekikikan. Aku nggak tahu apakah Mbak Nasha punya urat malu atau enggak, yang pasti aku yang mendengarnya langsung sungkan. Kupikir urusan ranjang bukan sesuatu yang bisa dibagi ke orang lain. "Mbak, aku bilang apa? Jangan aneh-aneh. Lagian aku sama Mas Javas aja belum deket, gimana mau begituan?" tanyaku agak melirih di ujung kalimat. "Lah, Mbak pikir kamu mblendung duluan," kata Mbak Nasha yang langsung menggerakkan tanganku untuk menggeplak lengannya. "Ngaco!" sahutku sewot. "Siapa tahu? Kamu nikahnya aja mendadak begini." "Mana ada, Mbak? Aku tahu batasannya laki-laki sama perempuan yang nggak punya ikatan apa-apa. Aku masih takut Allah ya, Mbak." "Dih, Mbak cuma bercanda kali Kin, biar kamu nggak tegang-tegang amat nunggu ijab." Aku berdecih sinis. "Nggak lucu! Kalau ada yang denger bisa dikira aku beneran hamil, perut datar kayak papan penggilasan gini juga," sewotku. "Iya, iya, Mbak minta maaf." Tak lama berselang, Umi datang bersama Tante Widya dan Tsani yang mengekor di belakang kedua wanita paruh baya itu. Wajah mereka terlihat sangat cerah, penuh oleh luapan kebahagiaan, dan mau nggak mau aku turut menyunggingkan senyum. Mbak Nasha kemudian meminta izin untuk keluar kamar lebih dulu, meninggalkanku bersama tiga orang itu. "Mbak Kin cantik banget," komentar Tsani saat sudah berada tepat di depanku dengan matanya yang berbinar-binar. Kalau di lain kesempatan, aku sudah pasti makin narsis mendapat pujian begitu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk semakin memuji diri sendiri. Untuk itu, aku cuma menyunggingkan seulas senyum pada anak yang sebentar lagi jadi adik iparku tanpa mengatakan sepatah atau dua patah kata. Aku lagi mencoba mengembalikan kewarasanku buat nggak memilih kabur di detik-detik terakhir. "Deg-degan ya, Kin?" Lagi-lagi aku hanya menampakkan gigiku. "Tenang, akadnya bentar lagi kok," sahut Umi. Lalu, tak lama setelah itu suara Bapak terdengar, memberi petuah untuk Mas Javas seputar kehidupan pernikahan kami nanti yang intinya harus menjaga, membimbing, menyayangi, dan mencintaiku. Harus lebih sabar ketika menghadapiku yang kata Bapak masih terlalu bocah, mungkin saja aku bakal bersikap di luar batas. Dalam hati aku mencibir Bapak, sudah tahu aku masih bocah, kenapa dibolehin nikah? Ucapan Bapak dilanjutkan oleh suara asing yang sudah pasti milik Pak Penghulu. Meski aku nggak menginginkan pernikahan ini, aku tetap mendengarkan dengan cermat kewajiban-kewajiban suami-istri yang beliau terangkan. Tak lama dari itu, prosesi ijab pun dimulai. Jantungku kali ini berdetak nggak keruan, aku nggak tahu kenapa. Padahal tadi biasa-biasa saja. "Bismillahirrahmanirrahim ... Ananda Raden Mas Javas Tjokro Aminata bin Tjokro Aminata, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Kinara Pradhana Prameswari binti Pramoedya Agung dengan mahar seperangkat alat salat dan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai!" Suara Bapak mengalun dengan tegas, yang langsung dengan suara Mas Javas mengucapkan kabul dengan sekali tarikan napas, "Saya terima nikah dan kawinnya Kinara Pradhana Prameswari binti Pramoedya Agung dengan mahar tersebut, tunai!" Nggak lama kemudian, terdengar kata sah, disusul dengan hamdalah. Dan sekarang, statusku yang awalnya nggak terikat siapa pun sudah resmi jadi istrinya Mas Javas. Umi dan Tante Widya menuntunku keluar dari kamar, diikuti Tsani yang nggak berhenti menyunggingkan senyum, sementara aku? Aku nggak tahu harus berekspresi apa, jadi aku lebih memilih menunduk. Aku kemudian didudukkan di samping Mas Javas. Jarakku dengannya cukup dekat, bahkan tangan kami sudah saling bersinggungan. Dan sumpah demi apa pun, jantungku norak banget cuma karena aku sentuhan dengan Mas Javas. Padahal harusnya aku nggak merasa begini. Kemarin pas secara spontan aku ambil tangan dia buat kusalimi saja, nggak ada yang aneh dengan jantungku, nggak seperti sekarang, tapi ini mungkin karena efek aku sudah berganti status. "Kamu cantik," puji Mas Javas dengan suara yang amat pelan, persis seperti bisikan di dekat telingaku. Aku bahkan sampai nggak yakin apakah suara itu keluar dari mulutnya atau enggak. Ketika kuangkat wajah, ada senyum manis yang terbit di wajah lelaki itu, tapi tunggu, ini aku nggak sedang dalam mimpi, kan? Ini nyata, kan? Mas Javas yang kaku dan sok kesurupan hantu Antartika itu senyum manis ke arahku? Yang kemudian buat aku juga mendadak kesurupan hantu cengo gara-gara melihat dua pipinya yang sama-sama berlubang. Sumpah, aku nggak tahu dia punya lesung pipit, dan itu buat kadar ketampanan dia di mataku naik berkali-kali lipat sekarang. "Udah, nggak usah gitu lihatnya," celetuk Umi. Namun setelahnya, aku masih dibuat cengo, entah saat sedang menandatangani buku nikah, tukar cincin, sampai kami foto bersama. Mukaku pasti nggak banget. Aku masih dibuat terkejut dengan pujian yang terang-terangan dia kasih, juga senyum itu! Siàl, apa maksudnya begitu? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD