Acara pernikahanku dengan Mas Javas lumayan berjalan lancar, meski setelahnya aku luar biasa lelah. Baik aku dan Mas Javas nggak mengundang banyak orang, cuma beberapa yang kami kenal dekat, yang bahkan jumlahnya nggak sampai dua puluh orang, ya niatnya biar acara cepat selesai, tapi yang namanya orang tua mau bagaimana lagi? Baik Umi, Bapak, Pakde Tjokro, Tante Widya, kompak mengundang rekan masing-masing sampai acara berakhir di jam setengah delapan malam.
Saat resepsi tadi, ada satu pemandangan yang menarik yang bikin aku nggak mengalihkan kedua mataku. Ini bukan karena Mas Javas yang kuno yang jadi keren gara-gara beskap putihnya, atau kata-kata pria itu yang bilang aku cantik dengan diiringi senyum tipis, tapi manisnya. Sekarang aku malah sedang memikirkan Mas Natha. Mas Natha yang datang dengan wanita cantik dan juga bayi perempuan yang nggak kalah cantik yang kemudian lelaki itu kenalkan sebagai istri dan anaknya.
Istri dan anak, aku terus saja memainkan dua sebutan itu di kepalaku. Aku benar-benar nggak bisa mengenyahkannya dari sana sekalipun aku sangat mau. Pun sampai resepsiku dan Mas Javas selesai, aku masih saja kepikiran soal itu.
Konspirasi. Itu kesimpulan yang ada di otakku. Mas Javas dan Mas Natha membuat konspirasi dengan melibatkanku dan wanita yang kemudian aku tahu bernama Sedayu itu. Mereka sengaja menikahi manusia dari kaumku untuk menutupi borok mereka dan membuat anggapan di masyarakat kalau keduanya adalah laki-laki normal.
Aku nggak tahu kalau ternyata di dunia ini ada laki-laki selicik mereka, terutama Mas Natha yang memanfaatkan Mbak Dayu sampai keduanya punya anak. Aku nggak tahu bagaimana perasaan wanita itu, tapi yang jelas senyum manis nggak pernah pudar dari wajahnya. Entah memang Mbak Dayu nggak tahu kebobrokan Mas Natha atau karena wanita itu mencoba untuk berdamai dengan nasib. Yang jelas dia adalah wanita hebat, dan aku sangat salut padanya.
"Kamu nggak mandi?" Aku nggak tahu kapan Mas Javas masuk, tapi yang jelas suaranya yang berat itu bikin jantungku rasanya mau jatuh ke lantai.
Saat mendongak, kudapati dia yang tampak baru kembali dari kamar mandi. Rambut hitamnya jelas masih basah, ada beberapa bulir air juga di beberapa titik wajahnya. Aku pun bisa membaui aroma segar yang keluar dari tubuhnya, mint dan lavender. Itu artinya dia memakai sabunku.
Mendadak aku merasa gugup, padahal niat awalku tadi ingin menyemprotnya, tetapi sekarang berakhir aku yang cuma membisu. Masalahnya Mas Javas sedang menatapku dengan sorot dalam, bagaimana ceritanya aku nggak bereaksi di luar batas normal? Ini pertama kalinya juga aku ditatap demikian oleh lelaki yang statusnya sudah sah menjadi suamiku di mata hukum dan agama itu, padahal sebelum-sebelumnya dia enggan dan malah lebih memilih menatap objek lain.
Aku lantas berdeham. "Anu, itu, lagi nunggu Umi buat bantu lepas gaun, tanganku nggak nyampe ke belakang soalnya." Aku memang sudah menghapus riasan wajahku, tinggal menunggu gaunku tanggal dari tubuh, tapi sejak tadi Umi nggak datang-datang, padahal sudah nggak ada tamu lagi yang berkunjung dan para tetangga juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Badanku sudah cukup gerah dan lengket, aku pun nggak leluasa bergerak, bahkan saat salat Zuhur sampai salat Isya, aku cukup kesusahan.
"Kenapa kamu nggak minta bantuan saya?" tanya Mas Javas dengan sebelah alis yang terangkat.
Aku menggaruk pipiku yang sama sekali nggak gatal. Bingung harus bilang apa sementara aku nggak punya jawaban apa pun di otakku. Aku sama sekali nggak punya alasan untuk meminta tolong ke Mas Javas sekalipun lelaki itu sudah sah menjadi suamiku. Menurutku hubungan kami masih terlalu dini, dan tahap membantu melepas baju itu sudah masuk ke bagian yang cukup intim. Aku nggak akan takut Mas Javas bakal meminta jatah malam pertamanya karena aku yakin dia nggak tertarik dengan tubuhku, tapi posisiku di sini adalah wanita normal. Aku jelas bakal ngerasa nggak enak, rasa canggung, malu, dan ingin menenggelamkan diri ke kolam s**u.
"Karena Mas laki-laki," jawabku pada akhirnya.
"Tapi saya suami kamu," sahutnya.
"Y-ya, tapi kita kan nggak terlalu dekat sebelum-sebelumnya. Masa Mas main buka baju aku, nggak etis dong," sahutku.
"Saya nggak bakal ngapa-ngapain," kata Mas Javas.
Aku berdecih. "Iyalah, Mas kan nggak normal," kataku.
"Maksud kamu nggak normal?" sambut Mas Javas, bahkan sebelum aku mengatupkan bibir.
Dan aku baru menyadari kesalahanku saat pertanyaan itu terlontar dari mulutnya, nggak lupa dengan sorot bingung yang mengarah padaku. Aku tahu, pasti dia bertanya-tanya dari mana aku tahu tentang rahasia tergelapnya. Dan kupikir aku memang harus mengobrolkan hal ini supaya jelas nantinya bagaimana. Mas Javas juga bakal tahu kalau aku bukan gadis yang gampang disetir untuk memenuhi segala keinginan dia. Intinya aku nggak mau berakhir seperti Mbak Dayu yang pasrah di bawah kendali Mas Natha.
"Aku tahu Mas Javas punya hubungan spesial sama Mas Natha," kataku setelah mengambil napas dalam-dalam dan berusaha memberanikan diri.
"Hubungan spesial apa maksud kamu?" tanya Mas Javas melangkah mendekat, aku nggak tahu dia lagi emosi atau enggak, wajahnya terlalu sulit k****a. Namun, ekspresinya yang begitulah yang membuatku mendadak gugup.
"Y-ya itu, aku tahu kalau Mas Javas sama Mas Natha punya hubungan spesial, pacaran."
"Kamu nggak lagi sakit, kan?" kata Mas Javas dengan suara padatnya yang mendadak membuatku merinding sendiri.
"Maaf ya, Mas, bukannya aku nggak sopan sama Mas yang jauh lebih tua dari aku. Aku nggak bermaksud mendebat Mas, tapi aku lihat dengan mata kepala aku sendiri kalau Mas Javas jalan sama Mas Natha di mal, cuma berdua, ketawa-ketawa, akrab banget seolah dunia cuma milik kalian berdua. Pokoknya Mas lepas banget kalau sama Mas Natha. Sementara, kalau sama aku aja yang notabene cewek, Mas dingin banget. Itu apa coba namanya kalau Mas nggak normal? Aku tahu, Mbak Dayu dinikahi Mas Natha buat nutupin bobroknya kalian, dan mungkin aku juga begitu. Aku Mas nikahi buat nutupi skandal Mas sama Mas Natha," terangku panjang lebar dan Mas Javas sama sekali nggak mau mengubah ekspresi wajahnya dengan tetap konsisten dengan wajah datar.
"Udah?" komentarnya kemudian tanpa intonasi.
Lagi-lagi aku nggak tahu bagaimana emosinya. Entah dia marah karena aku tahu rahasianya itu atau dia merasa harus waspada karena sewaktu-waktu aku akan membocorkannya ke orang lain.
"Belum, aku belum selesai. Aku masih mau ngomong, Mas," kataku. "Rahasia Mas nggak bakalan bocor, aku nggak akan cerita ke siapa pun karena aib Mas aibku juga. Aku cuma mau Mas Jav--"
Ucapanku terhenti begitu Mas Javas mendorong tubuhku hingga terbaring di atas ranjang. Mendadak jantungku kembali bekerja norak dengan posisi sedekat ini dengan lelaki itu, apalagi dengan mata cokelatnya yang mengarah tepat ke manikku.
"Udah membualnya?"
"M-maksud Mas Javas apa?" tanyaku gugup, bahkan suaraku nyaris hilang.
"Saya normal," katanya.
"H-hah?"
"Kalau kamu nggak percaya, ayo kita buktiin. Saya normal."
"H-hah?" Aku masih mempertahankan responsku. Otakku benar-benar blank, dan aku nggak tahu harus apa dan bagaimana sekarang.
"Kamu tahu kewajiban seorang istri, kan? Jadi jangan nolak saya."
"M-maksud Mas?"
"Kamu tahu maskud saya," katanya. "Ayo salat sunah setelah akad, dan saya akan benar-benar membuktikannya sama kamu."
Dan selanjutnya, cuma aku, Mas Javas, dan Tuhan yang tahu apa yang kami lakukan malam itu. Juga tokek yang kebetulan sedang berbunyi nyaring, mengiringi kegiatan yang sedang kami lakukan.
Ini sesuatu yang benar-benar nggak aku duga. Dan bodohnya aku cuma nurut saja.
Tbc