SEMBILAN

2199 Words
Umi mengomentari cara jalanku yang aneh saat aku turun ke bawah dan menemuinya di dapur pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul setengah lima pagi, dan Umi memang selalu sudah siap dengan alat tempurnya di dapur. Profesi Umi yang seorang gurulah yang memaksanya begitu, siangan dikit Umi sudah harus bersiap ke tempat Umi mengajar yang letaknya nggak bisa dibilang dekat dari rumah. "Kenapa jalan kamu begitu?" Itu pertanyaan Umi yang pasti aku jawab dengan kebohongan demi keselamatan umat, maksudku dari rasa maluku. Aku sudah berusaha untuk berjalan seperti biasa, tapi bagian paling rahasiaku sedang dalam masa sakit-sakitnya. Dan selayaknya manusia biasa lainnya, aku nggak bisa mengatur tubuhku untuk menuruti ego di tengah rasa sakit. "Tadi jatuh di kamar mandi, Mi." Kubilang. Umi nggak berkomentar apa pun kecuali cuma bilang 'oh' dan, lain kali kamu harus hati-hari. Aku jelas malu kalau disuruh menceritakan apa yang tadi malam aku lakukan dengan Mas Javas pada Umi. Duh, mengingatnya saja membuat tubuhku panas dingin. Aku nggak bisa mengenyahkan memori tadi malam begitu saja, yang ada semakin aku mencoba, semakin bayangan nggak senonoh itu berputar di kepalaku. Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Aku terus beristigfar, mencoba mengembalikan kewarasanku yang sudah hilang sejak semalam. "Kok malah duduk? Kirain kamu mau bantuin Umi masak," kata Umi yang sekarang sedang sibuk memotong sayuran. "Kin nggak bilang mau bantuin Umi." Karena alasanku yang sebenarnya menemui Umi di dapur adalah untuk menghindari Mas Javas. Tadi saat aku keluar kamar untuk membersihkan diri setelah 'kalian pasti paham maksudku itu apa', Mas Javas masih tertidur pulas. Aku nggak tahu harus menaruh mukaku di mana ke dia nanti kalau kami sudah bertatap muka. Aku benar-benar nggak bohong begitu bilang aku malu, meski biasanya aku memang nggak tahu malu. "Kin, kamu udah nikah lho. Harusnya kamu bisa ubah sikap kamu, coba dewasa dikit. Jangan bertingkah kayak pas kamu belum jadi siapa-siapanya orang," kata Umi tanpa melihat ke arahku. "Mi, dari tadi aku diem aja lho, nggak neko-neko." "Maka dari itu. Seharusnya kamu bisa bantu-bantu Umi masak, bukannya malah diem aja." Umi menjawab masih tanpa melihat ke arahku, tampak fokus dengan apa yang sedang beliau masak. "Kin kan nggak bisa masak, Mi. Emang Umi mau lihat dapur Umi kebakaran kayak waktu itu?" kataku sambil mengingatkan kejadian beberapa bulan lalu saat aku dipaksa ikut turun ke dapur. Umi berdecak. "Kamu kebanyakan alasan, aslinya malas aja." Selanjutnya aku nggak membalas apa pun perkataan Umi, pun dengan pikiran buruknya tentang aku. Suara minyak yang dikombinasikan dengan bumbu halus buatan Umi itu mulai mengisi sela kosong di tengah obrolan pagi kami yang tentu cukup hening, meski ayam tetanggaku sesekali bersuara dengan berisik. "Kin, suamimu mana? Bapak mau ajak ke masjid sama Rajasa nih," kata Bapak yang tiba-tiba muncul dengan baju koko, sarung yang dililitkan di pinggang, dan peci putih yang terpasang di kepala setengah botaknya. "Hng, anu, mungkin masih tidur, Pak," jawabku. "Waduh, bangunin dong, Kin. Keburu nggak bisa ikut jemaah nanti," kata Bapak. "Bapak aja yang bangunin," kataku. Selain aku masih nggak mau berhadap-hadapan dengan Mas Javas, aku tentu bakal makin kesakitan pas menaiki anak tangga nanti. "Kamu istrinya lho, Kin. Bukan Bapak, bangunin sana." Pada akhirnya dengan enggan aku mengiyakan perintah Bapak. Aku sempat dengar Bapak mengomentari cara jalanku yang aneh pada Umi. Dan bukannya menjawab seperti jawabanku tadi, Umi malah bilang, "Biasa, pengantin baru. Kayak kita nggak pernah aja." Yang bila kuartikan, Umi tahu kalau aku berbohong tadi. Malu, aku sangat malu. Dan sudah bisa kupastikan wajahku merah total sekarang. Rasanya, aku benar-benar ingin menceburkan diriku ke sumur atau mendadak hilang ingatan. Bruk! "Aduh!" aduku saat merasakan keningku yang membentur sesuatu yang keras. "Makanya, lain kali jangan ngelamun, nabrak saya kan kamu." Suara Mas Javas yang berat masuk ke telingaku yang sontak membuat mataku terbuka lebar. Saat aku mendongak, kudapati dia yang berjarak sangat dekat denganku, menatapku dengan kedua alis yang saling terangkat. Buru-buru aku mundur ke belakang. Namun, sepersekian detik kemudian aku kembali mengaduh saat denyut sakit muncul di bagian paling rahasiaku. Mas Javas mendekat. "Kamu kenapa?" tanyanya. Pipiku memanas. Dia pakai nanya lagi. Apa Mas Javas lupa dengan apa yang dia lakukan semalam? Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku terlalu bodoh karena mengiyakannya begitu saja hanya karena embel-embel kewajiban seorang istri. Mas Javas sengaja melakukan itu sebagai perlindungan terakhirnya untuk membuktikan bahwa dia benar-benar lelaki normal, nggak seperti yang aku tuduhkan. Sayangnya aku yang bodoh ini nggak bakalan tertipu. Meski dia memang sudah melakukan 'kalian tahu maksudku' itu, aku tetap yakin Mas Javas punya hubungan spesial dengan Mas Natha. "Kamu mikir apa sih, perasaan sering banget bengong." Perkataan Mas Javas menyadarkanku. Aku kembali mendongak, menatap wajahnya yang menahan geli. Meski bayangan kemarin masih membandel di otakku, aku akan berusaha bersikap biasa saja dan menunjukkan pada Mas Javas kalau aku bukan wanita yang mudah percaya dengan tipu muslihat yang dia buat. "Nggak, aku nggak kenapa-kenapa," kataku. Aku baru sadar kalau dia sudah rapi dengan baju koko lengkap dengan peralatan salat seperti Bapak tadi. Dari balik peci, aku pun juga bisa melihat rambutnya yang masih basah. "Mas udah ditunggu Bapak di bawah, mau diajak salat ke masjid," beritahuku mengingat pesan Bapak tadi. Mas Javas mengangguk. Saat hendak berlalu, entah mendapat dorongan dari mana, aku malah mengungkit perihal semalam dengannya. "Mas Javas, setelah yang Mas Javas lakuin sama aku semalam, jangan pikir aku bakal percaya, ya, kalau Mas laki-laki normal, aku tahu Mas nggak selurus itu dan sengaja ngelakuin hal itu ke aku biar aku nggak mikir begitu lagi, tapi sayangnya aku nggak bakal percaya, Mas." Raut Mas Javas berubah datar. Tuh, kan, apa kubilang? Mas Javas nggak benar-benar melakukannya karena dia lelaki normal, tapi karena dia terpaksa. Seharusnya tadi malam aku nggak terbuai dan menuruti kemauan yang nggak benar-benar dia inginkan. Dan aku benar-benar menyesal sekarang. "Dari mananya kamu nggak bisa mempercayai saya?" "Ya, aku tahu aja, Mas. Mas nggak senormal kelihatannya." Mas Javas terdengar mengembuskan napas panjang. "Kayaknya saya bantah sampai mulut saya berbusa pun, kamu tetep nggak akan percaya," katanya tanpa intonasi. "Jelas aku nggak percaya, Mas Javas juga nggak bisa dipercaya kok," kataku. Mas Javas kembali mengembuskan napasnya. "Kita obrolkan tentang hal ini nanti, tunggu sepulang saya dari masjid," katanya mengakhiri percakapan kami sebelum berlalu meninggalkanku begitu saja. Aku yakin, Mas Javas juga sedang menyusun rencana lain untuk membuatku berpikir bahwa dia laki-laki normal. Seharusnya dia mengaku saja, lagi pula aku juga bukan manusia kejam yang bakal menyebar tentang orientasinya yang menyimpang. Mas Javas, Mas Javas, bikin pusing saja. *** Aku pikir sepulang dari masjid Mas Javas akan menyambung obrolan kami tadi, tapi ternyata dugaanku salah. Laki-laki itu hanya bungkam dan malah sibuk meladeni panggilan yang masuk ke ponselnya, dan hal itu membuatku cukup kesal. Aku sudah menunggu Mas Javas sejak tadi untuk membahas keenggaknormalannya itu, aku mau buat beberapa peraturan supaya pernikahan kami nggak cuma berputar tentang aku yang harus menutupi kecatatannya itu. Bagaimanapun juga aku ini manusia biasa, meski kecantikanku nggak bisa dibilang biasa-biasa saja. Aku punya hati, bisa jadi sikap palsu Mas Javas bikin aku baper. Nggak ada yang tahu, kan, gimana Semesta bekerja? Tadi, aku sempat mencuri dengar, mayoritas panggilan itu adalah ucapan selamat dan semoga cepat diberi momongan, lalu Mas Javas akan membalas dengan ramah, jauh berbeda ketika dia berbicara denganku. Aku baru sadar, ternyata dari semua orang, dia hanya berlaku dingin padaku. Aku nggak tahu maksud dia apa, mungkin biar kelihatan keren, mungkin biar dia kelihatan menarik, atau apa aku juga nggak tahu, tapi untuk alasan dia tertarik dan punya rasa padaku, sifatnya yang demikian malah bikin aku berpikir ribuan kali untuk menerimanya. Ya, walau pada akhirnya aku tetap menikah juga dengan Mas Javas, lelaki yang sifatnya sama sekali nggak bisa kutebak saking abu-abunya dia. "Mbak Kin, rajin banget Mbak, pagi-pagi udah disiramin tanamannya?" Sapaan itu membuatku mengangkat kepala, dan menemukan sesosok wanita berdaster kedodoran dengan wajah penuh bedak dan bibir yang dihiasi gincu merah. "Eh, Bude Jum," kataku sambil memaksakan seulas senyum. Aku nggak tahu kenapa, tapi perasaanku mendadak nggak enak. "Iya, Bude. Bude mau ke mana pagi-pagi kok udah dandan gitu?" tanyaku sekadar basa-basi. "Ini, mau ke minimarket depan. Mau beli bahan masakan, di rumah udah habis nih. Beli di tukang sayur juga nggak bisa diandelin, jelek-jelek kualitasnya," katanya dan aku cuma mengangguk tanpa berniat menyambung obrolan lagi dengan wanita setengah baya itu. "Eh iya, Mbak Kin, Mbak Kin ini, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba nikah aja. Emang udah berapa bulan, Mbak?" Aku melirik pada Bude Jum. "Berapa bulan apanya, Bude?" tanyaku masih fokus dengan pohon cabai Umi. "Masa sih, Mbak Kin nggak ngerti maksud saya? Itu lho Mbak, kandungan Mbak, udah berapa bulan? Kok tiba-tiba udah nikah aja." Feeling-ku nggak meleset ternyata, Bude Jum cuma mau nyinyir saja. Dan aku menyesal meladeni biang gosip seperti dirinya. "Bude Jum, jangan ngomong yang aneh-aneh, entar tetangga lain pada salah paham," kataku masih berusaha sabar. "Lho, aneh-aneh gimana? Bude ini penasaran, kok tiba-tiba nikah. Ya, pasti karena hamil duluan, kan? Biasanya lho juga gitu. Mas Javas pasti juga sering tho ke rumah Mbak Kin, loncat pagar malam-malam. Iya, tho? Duh, pergaulan jaman sekarang gitu banget sih, Mbak. Nggak nyangka juga saya sama Mbak yang pakai jilbab, tapi masih suka zina. Nggak kasihan apa nanti, sama anaknya? Nasabnya nggak jatuh ke bapaknya, lho, Mbak. Anak yang di luar nikah itu juga nggak berhak dapet harta warisan. Duh, kasihan pokoknya," katanya. Aku mendengkus. Dia bukan siapa-siapaku, nggak tahu apa-apa tentangku, tapi di sini dia bersikap seolah tahu semuanya. Jelas apa yang dia bilang salah besar. Boro-boro Mas Javas loncat pagar buat ngapel malam-malam, ngobrol denganku saja dia kelihatan nggak mau. "Bude, kalau ngomong hati-hati, dong. Jatuhnya malah fitnah nanti." "Lah, lah, lah, fitnah dari mana? Kan Bude ngomong faktanya. Mbak Kin hamil duluan, kan?" Rasa-rasanya aku pengin menyemprot wajah menyebalkan di depanku itu dengan selang yang aku pegang. Lama-lama habis kesabaranku meladeni mulut nyinyir Bude Jum yang cuma tong kosong nyaring bunyinya. "Saya nggak lagi hamil, Bude," tekanku dengan hati yang sudah benar-benar dongkol. Aku sudah menduga berita miring seperti ini sebelumnya, dan aku yakin nggak cuma Bude Jum yang berpendapat kalau aku hamil duluan. Aku nggak bisa menahan orang untuk nggak berpendapat karena pernikahanku dengan Mas Javas memang terlalu cepat, dan seharusnya aku biasa-biasa saja sebab berita itu nggak benar adanya, tapi ya namanya aku cuma manusia biasa. Wajar kalau aku kesal, kan? "Tapi, nggak ada maling yang mau ngaku, sih, Mbak." "Jadi Bude nuduh saya bohong?" kejarku dengan nada sedikit meninggi, yang dibalas Bude Jum dengan kedua bahu yang terangkat. Aku menghela napas kasar. Kali ini sudah cukup aku menahan kesabaranku. Bisa jadi kalau aku cuma diam begini, Bude Jum akan menjadi-jadi dan menyebar berita nggak benar itu ke seluruh penghuni komplek, ibaratnya dia tukang provokasinya. Beberapa orang yang awalnya masa bodoh, jadi ikut mengulik-ulik cerita dari bibir tipisnya itu. Bertetangga selama belasan tahun sudah cukup membuatku hafal dengan wataknya. "Saya nggak lagi hamil, Bude! Harus berapa kali saya jawab begitu? Kalau ngomong disaring dulu coba, jangan asal njeplak, padahal nggak tahu apa-apa!" semprotku, nggak sudi harus beramah tamah seperti tadi. Aku nggak peduli Bude Jum menilaiku sebagai orang tanpa adab, yang terang-terangan menatap orang berumur jauh di atasnya dengan nyalang. "Ya kalau Mbak Kin nggak salah, Mbak Kin nggak bakal marah, dong." Aku sudah hendak menyemprotkan selang itu ke wajah Bude Jum kalau saja seseorang nggak menempelkan dua tangannya di masing-masing alat dengarku dan menggagalkan niatku. Aku kaget, jelas. Apalagi saat membaui aroma mint dan cengkehnya. Aku sudah bisa menebak siapa oknum di balik itu, Mas Javas. "Terkadang kamu perlu tutup telinga kamu supaya ucapan sampah kayak gitu nggak kamu dengar," kata Mas Javas dengan nada rendah, tepat di belakangku, yang mana membuat tubuhku mendadak menegang. Aku belum sempat berkomentar apa pun saat Mas Javas melepas tangannya dari telingaku dan sedikit menjauh dariku, lalu mulai membuka suaranya kembali, kali ini lelaki yang berstatus suamiku itu berbicara pada Bude Jum, "Bude, saya pikir hamil atau enggaknya Kinara bukan urusan Bude." "Lah, lah, Mas Javas ini, dateng-dateng malah mesra-mesraan, terus mendadak bilang begitu," sindir Bude Jum lagi. "Mas, sesama umat beragama itu harus saling mengingatkan kalau ada saudaranya yang bikin salah. Wajib itu hukumnya, kalau saya cuma diem aja, yang ada saya ikut-ikutan dosa," katanya. "Iya kalau yang Bude Jum tuduhkan benar, kalau enggak, jatuhnya fitnah. Bude sendiri yang nambahin dosa Bude." Mas Javas membalas telak. "Lagi pula, saya lelaki beragama. Pantang bagi saya melakukan hal yang jelas-jelas nggak diperbolehkan seperti yang Bude tuduhkan." "Halah, Mas Javas juga cuma alasan, tho? Kayak yang saya bilang tadi, nggak ada maling yang mau ngaku," kata Bude Jum masih bersikeras dengan pendapatnya, yang mana bikin aku jengkel setengah mati. "Bude, saya menikahi Kinara bukan karena saya menghamili dia," sahut Mas Javas dengan frontal. Pria itu kemudian menoleh padaku dan menatapku dengan dalam. "Saya menikahi Kinara secepat ini karena saya nggak mau lebih lama lagi memikirkan perempuan yang belum halal untuk saya. Saya nggak mau berzina pikiran." Aku nggak tahu gimana ekspresi Bude Jum setelah Mas Javas mengucapkan hal itu karena aku lebih fokus dengan tatapan Mas Javas, hanyut dalam netra cokelat yang menatapku nggak seperti biasanya. Aku tahu Mas Javas nggak benar-benar mengucapkan hal itu dari hatinya. Baru aku menyinggungnya tadi, dan sialnya, hatiku yang superlemah ini malah baper sendiri. Sepertinya aku harus cepat-cepat menjedotkan kepalaku ke tembok, sebelum kewarasanku benar-benar menghilang. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD