SEPULUH

1132 Words
Aku menatap bingung bangunan minimalis bertingkat dua di depanku. "Ini rumah siapa, Mas?" tanyaku. Menjelang pukul sepuluh tadi, Mas Javas mengajakku keluar rumah. Katanya mumpung dia sedang cuti. Aku sempat menolak karena kondisiku yang nggak cukup baik, jalanku masih tertatih-tatih. Dan membayangkan berjalan mengeliling mal dengan kondisi yang demikian malah akan menyusahkan diriku, tapi Mas Javas bilang dia nggak akan membawaku ke sana, melainkan ke tempat lain. Lalu, tibalah kami di sini. Aku nggak tahu itu rumah siapa. Namun, dilihat dari pelatarannya yang ditumbuhi rumput setinggi mata kaki, dan juga dedaunan kering yang seperti nggak pernah disapu, mustahil ada orang yang mau menghuni rumah itu dengan keadaan seenggak layak ini. "Ayo," ajak Mas Javas, tanpa menjawab pertanyaan yang sempat aku lempar tadi. Aku jelas mendengkus, merasa amat kesal. Namun, nggak urung hal itu membuatku mengayunkan kaki, mengikuti langkah Mas Javas yang sudah berjarak beberapa meter dariku. Aku lantas mengedarkan mataku ke sekeliling, melihat bangunan-bangunan yang berjejer di samping kiri-kanan rumah yang masih nggak kutahu punya siapa itu. Jarak antarbangunan nggak terlalu mepet, mungkin ada sekitar lima meter. Suasana di sini juga cukup asri, ada pohon palem di depan dan pucuk merah di samping. Kalau dibandingkan dengan rumah-rumah di sekelilingnya, rumah yang aku tuju ini jelas sangat berbeda. Aku sudah bilang kalau rumah itu cukup minimalis, sementara rumah-rumah yang lain tampak lebih besar dan megah. Dug! "Aw!" Aku mengaduh saat merasakan dahiku menubruk sesuatu yang keras, punggung Mas Javas. Ini sudah kedua kalinya dalam sehari, keningku mencium sesuatu. Untuk ketiga kalinya bisa jadi aku akan amnesia. "Kebiasaan," komentar Mas Javas yang jelas tertuju padaku. Aku tersinggung? Jelas. "Mas yang salah, kenapa nggak kasih aba-aba kalau mau berhenti?" Mas Javas mengabaikanku, mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, sebuah kunci, lalu memasukkannya ke slot pintu. Ia memutarnya beberapa kali, sebelum menarik kenop, dan mendorong daun pintu, membukanya lebar-lebar. Hal yang pertama kali aku lihat adalah ruangan temaram dengan perabot yang ditutupi kain putih. Sampai di sini aku sudah bisa menebak rumah milik siapa ini. Kemungkinan besar adalah Mas Javas. "Ini rumah saya, saya beli beberapa tahun lalu." Ia memberitahu, seolah mengiyakan pikiranku sembari menyalakan saklar di sisi pintu. Nggak mustahil sih, kalau Mas Javas punya rumah sendiri. Pekerjaannya cukup prestigius, gajinya pun sudah pasti besar. Beda jauh denganku yang memang nggak bergaji. Sampai sekarang aku masih belum mendapat panggilan dari sekolah yang kulamar. "Kalau punya rumah sendiri, kenapa Mas Javas lebih milih tinggal sama bapaknya Mas? Kenapa nggak di sini aja? Kayaknya di sini juga lebih enak, privasi dari satu rumah ke rumah lain juga terjaga, nggak kayak di komplek kita. Gerak dikit aja udah jadi bahan gibah," kataku panjang lebar sambil menghela kaki memasuki rumah itu. Mataku sudah menjelajah ke sekeliling. Aku nggak menemukan pintu lain selain pintu masuk dan dua pintu yang berada masing-masing di sisi kanan-kiri dapur. Tebakanku, yang sebelah kiri adalah kamar mandi dan yang sebelah kanan pintu belakang. Lantai bawah sepertinya dikhususkan untuk ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur dengan mini bar sebagai pelengkapnya. Untuk pemisah antara ruang satu dengan ruang yang lain, ada rak kayu tinggi yang sekarang masih kosong tanpa hiasan apa pun, kecuali debu tebal di permukaannya. "Mungkin karena di sini nggak ada kamu?" jawab Mas Javas yang sudah mirip dengan gombalan para pujangga. Kali ini aku memilih mengabaikannya dan berusaha tetap mempertahankan kewarasanku, jangan sampai aku lemah hanya karena gombalan murahan yang ia lontarkan itu. "Ini rumah nggak pernah apa, dibersihin? Nggak terawat banget," komentarku yang jelas merasa nggak nyaman. Mas Javas cuma mengedikkan bahunya, yang mana kuartikan bahwa dia sama sekali nggak menganggap kebersihan rumah imi penting untuk dia pikirkan. "Saya nggak ada waktu buat ke sini, agak jauh juga dari rumah sakit." Itu kata Mas Javas. Lelaki itu kemudian menyingkap kain putih yang menutupi sofa, lalu mendudukkan dirinya di sana dan mulai memperhatikan sekeliling, mungkin sedang mengabsen barang-barangnya yang bisa jadi sasaran pencuri. "Kan, sekarang jamannya udah modern Mas, ada jasa bersih-bersih, manggilnya juga lebih gampang, cuma pake aplikasi." "Saya nggak ada waktu." Iya, aku tahu dia nggak punya waktu, tapi masa sih, lima menit saja dia nggak bisa? Cuma pesan jasa tukang bersih lho itu. "Lagi pula rumah ini juga nggak saya tempati, dibersihin pun percuma, sayang duitnya," lanjut Mas Javas kemudian. Kalimatnya barusan bikin aku paham satu hal kalau ternyata, Mas Javas itu pelit. Mendadak aku jadi memikirkan nasibku ke depan. Selama ini baik Bapak dan Umi selalu memberiku beberapa peser uang untuk jaga-jaga kalau sewaktu-waktu aku membutuhkannya. Yang menjadi ketakutanku adalah, Mas Javas yang nggak mau melakukan hal yang sama seperti yang Bapak dan Umi lakukan. Aku pun juga nggak bisa lagi kan, minta mereka buat kasih aku uang buat jajan? Posisiku di sini kan sudah jadi istri orang, tanggung jawab kedua orang tuaku pun sudah gugur setelah ijab selesai dilakukan. Namun kemudian aku ingat satu ayat dalam al-Qur'an tentang kewajiban suami untuk menafkahi sang istri. Kalau suami sampai nggak memberi nafkah selama tiga bulan berturut-turut, maka dia yang mendapat dosa besar. "Kamu suka rumah ini, nggak?" tanya Mas Javas tiba-tiba, laki-laki itu kini sudah berdiri menjulang, menghadap diriku. "Lumayan," kataku, meski sejujurnya yang kurasakan adalah kebalikannya. Aku cukup nggak suka dengan tata letaknya, seolah semuanya nggak ada privasi, meski ada rak yang digunakan sebagai sekatnya, tapi berkomentar tentang hal itu kupikir nggak ada gunanya. Aku harus ingat baik-baik kalau Mas Javas adalah laki-laki yang cukup pelit. "Mas Javas mau ajak aku tinggal di sini?" tanyaku kemudian, dan ia mengangguk singkat. Sebelumnya nggak ada obrolan tentang aku dan dia harus tinggal di mana. Ya, aku berpikir, dengan jarak rumahku yang sedekat itu dengan rumahnya, kami akan tinggal selang-seling. Sebulan di rumahku, sebulan di rumahnya, pun seterusnya bakal begitu, tapi Mas Javas punya pilihan lain ternyata. "Mau lihat kamarnya nggak? Semuanya ada di atas." Mendengar kata kamar, aku jadi teringat kejadian semalam. Sejujurnya aku sudah nggak malu lagi karena Mas Javas pun juga biasa-biasa saja dan nggak mengungkit-ungkit hal itu, tapi bukan itu yang menjadi perhatianku, melainkan obrolan pagi tadi yang nggak juga disambung-sambung, padahal aku sudah ingin membahasnya. Baiklah, kondisinya cuma ada aku dan dia, dan mungkin beberapa makhluk lain---entah gaib, atau hewan biasa yang bersarang di sini, aku bisa leluasa membahas tentang hal itu. "Soal Mas yang nggak normal, kita bisa kan, ngelanjutin yang pagi tadi? Ada beberapa hal yang perlu aku omongin," kataku membuka suara, mengabaikan ajakannya tadi. Mumpung ada kesempatan. Mas Javas mengangkat alisnya. "Kamu yakin mau ngebahas itu?" tanyanya. "Apa bukti yang saya tunjukin tadi malam ke kamu kurang? Apa sekarang saya harus mengulangi apa yang kita lakukan tadi malam?" Mendengar hal itu, kedua mataku jelas membelalak lebar. Gila saja Mas Javas, tadi malam saja masih terasa sakit, masa ditambahi lagi sekarang? Mau bikin aku tambah sengsara karena nggak bisa jalan? Ah, dia memang sangat menjengkelkan. Tanpa dibuktikan lagi pun, aku tetap nggak akan percaya dengan dirinya. tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD