Rasanya aku nggak rela meninggalkan rumah yang sudah lebih dari dua puluh dua tahun kutempati ini. Rumahku memang bukan rumah yag megah dan mewah, yang punya fasilitas lengkap, tapi di situlah aku menyambung hidup, sembunyi dari terik matahari, juga badai hujan. Lalu sekarang, aku harus pindah dari sini, ke rumah baru yang sangat asing bagiku. Aku tentu butuh adaptasi, entah dengan tetangga sekitarku nanti atau dengan keseharianku tanpa Bapak, tanpa Umi, dan tanpa Rajasa yang meski sering buat emosi, tapi aku sangat menyayanginya.
"Buku-buku kamu tinggal di sini aja, di rumah kita yang baru belum ada rak buku," kata Mas Javas dan aku cuma mengangguk singkat.
Kabar baiknya, suamiku itu mengubah standar jumlah hurufnya ketika berbicara denganku. Sekarang dia nggak cuma ngomong kurang dari sepuluh kata, tapi syukurlah. Itu artinya nggak bikin aku kayak ngomong sama robot yang di-setting buat jawab pertanyaan secara otomatis.
"Tapi Mas, nggak bisa ya, kita tinggal lebih lama lagi di sini?" tanyaku lesu, sejak tadi aku sudah ogah-ogahan mengemasi pakaianku. Serius demi apa pun, rasanya berat buat meninggalkan apa yang sudah sama kita dari kita lahir, lalu pindah ke tempat lain. Umi dan Bapak pun nggak coba menahanku, dan mengiyakan saja rencana Mas Javas yang mau memboyongku untuk tinggal jauh dari keluarga. Dan itu benar-benar buat aku mau nangis.
"Kamu dari dua minggu yang lalu juga bilang begitu. Masa mau ditunda lagi?" ujar Mas Javas tanpa intonasi sambil meletakkan snelinya ke atas ranjang, lalu duduk di tepinya. Dia memang baru pulang dari rumah sakit.
"Wajar Mas kalau aku nggak mau pergi dari sini, aku lahir di sini, aku besar di sini," kataku.
"Nggak wajar lagi karena sekarang kamu sudah jadi seorang istri. Kamu nggak bisa berpikir kayak ketika kamu masih lajang."
Mas Javas mungkin lupa kalau umurku jauh di bawahnya. Aku jelas bukan seseorang dari generasinya, sudah pasti pola pikirku berbeda darinya. Dia memang sudah siap lepas dari keluarganya karena sebelumnya dia sudah nggak bergantung lagi dengan mereka, sementara aku? Aku masih sangat mengandalkan Bapak dan Umi dalam setiap hal tanpa terkecuali.
Namun, daripada mengomentari omongan Mas Javas, aku lebih memilih diam dan melanjutkan aktivitasku memasukkan beberapa potong baju ke dalam koper, sisanya aku biarkan di rumah Umi kalau-kalau aku nggak betah di sana. Aku nggak mau repot-repot mindahin semua barangku, makanya untuk urusan novelku yang bejibun aku nggak terlalu mempermasalahkannya, mau dibawa ke sana atau enggak sekalipun.
Selesai dengan perlengkapanku, aku dan Mas Javas pindah ke rumah sebelah untuk membereskan baju-baju lelaki itu. Aku sedikit meringis begitu memegang dalaman Mas Javas dan memasukkannya ke dalam koper. Laki-laki itu tadi yang memintaku mengemasi pakaian-pakaiannya, sementara dia sendiri sibuk mengurus action figure koleksinya, dia kolektor dari karakter-karakter itu rupanya. Dari sikapnya yang luar biasa kaku, aku kira Mas Javas lebih suka mengoleksi buku-buku membosankan daripada figur-figur yang memenuhi kamarnya itu.
Satu persamaan di antara kami, baik aku dan Mas Javas sama-sama maniak. Bedanya aku dengan novel dan Mas Javas dengan figur itu. Nggak masalah menurutku, Mas Javas nggak perlu memperdebatkan kegilaanku dan aku nggak perlu juga mengomentari koleksinya yang sejujurnya membuatku mengernyitkan kening.
Selesai dengan pakaiannya, aku berdiri. Menuju sebuah meja dengan tumpukan buku di atasnya. Ada hal yang menarik perhatianku sejak tadi, sebuah action figure berjas dokter dengan wajah yang lumayan mirip wajah Mas Javas. Aku mendengkus, itu benar-benar Mas Javas, laki-laki itu cukup narsis juga ternyata. Sesuka-sukanya aku dengan buku, aku nggak pernah mencoba membuat cerita dengan namaku di dalamnya.
Puas membolak-balikkan action figure itu, aku meletakkannya kembali ke tempat semula. Aku baru hendak berbalik, begitu melihat beberapa tumpukan bingkai berukuran sedang di pojok kamar, aku urung. Yang membuatku heran, kenapa bingkai itu nggak dipajang saja? Dinding kamar Mas Javas juga masih cukup luang.
Merasa penasaran, aku menghela kakiku ke sana. Meraih salah satu bingkai yang berada paling atas. Keningku otomatis berkerut saat melihat dua potret pria dan wanita yang saling merangkul dengan senyum lebar ke arah kamera itu. Yang lelaki kukenal sebagai Mas Javas, dan yang perempuan tidak aku tahu siapa. Keduanya masih mengenakan jas dokter dengan latar belakang langit jingga.
Kurasa hubungan mereka nggak lebih dari rekan seprofesi, tapi rasanya nggak mungkin Mas Javas punya pacar perempuan, orientasi lelaki itu kan nggak senormal kelihatannya. Oh, tapi masuk akal kalau si perempuan ini penyebab orientasi Mas Javas jadi belok. Seenggaknya itu alasan yang paling tepat yang melintas di kepalaku, meski aneh saja, kenapa Mas Javas masih menyimpan foto ini kalau di hatinya sudah ada Mas Natha?
Sibuk menerka-nerka membuatku hampir jantungan saat Mas Javas tiba-tiba merebut benda itu dari tanganku dan mengembalikannya ke tempat semula. "Kamu seharusnya nggak lancang, itu barang pribadi saya," katanya dengan rahang mengetat dan sorot yang berubah tajam.
Aku mengerutkan kening. Bagaimana bisa lelaki ini menyebutku lancang hanya karena sebuah foto sementara dia saja menyuruhku mengurusi celana dalamnya? Lebih pribadi mana coba antara foto dan celana dalam?
"Kenapa Mas Javas marah? Itu cuma foto dan aku cuma lihat-lihat doang. Aku nggak bakal ngerusak kalau itu yang Mas Javas takutin," kataku.
Wajah keras Mas Javas perlahan berubah. Kini dia terlihat terkejut, entah karena ucapanku atau karena apa.
"Udahlah, mendadak aku malas. Silakan Mas Javas pindah sendiri nanti, aku mau tetep tinggal di rumah Umi sama Bapak. Kayaknya apa yang bakal aku lakukan salah di mata Mas Javas."
Aku lalu berlalu pergi dari hadapannya. Namun, saat hendak mencapai pintu, Mas Javas malah menahan pergelangan tanganku. Aku nggak suka dengan adegan yang begini, rasa-rasanya aku hidup di dunia fiktif khas sinetron-sinetron Indonesia. Terlalu didramatisir.
"Apa lagi, Mas?" Kutanya dengan tatapan datar.
Nggak seperti tadi, wajah Mas Javas terlihat menyesal sekarang, tapi aku nggak peduli. Mau dia menyesal, mau dia apa, bagiku dia tetap salah. Kalaupun aku lancang, dia bisa menegurku baik-baik, nggak malah seperti tadi.
"Saya minta maaf." Itu katanya. Dan aku berdecih.
"Umur Mas aja yang dewasa, pikiran tetep aja bocah kayak aku. Cuma perkara foto doang dipermasalahin, sampe bilang aku lancang segala," balasku. Mungkin aku terlalu nggak sopan dan terlalu berani juga, padahal sebagai seorang istri aku harus menjaga sikap, jangan sampai ada kata-kataku yang kurang ajar, tapi apa daya? Aku benar-benar sudah nggak bisa menahan emosiku lagi. Dan keinginanku untuk menangis rasanya semakin menanjak naik.
Mas Javas memang lelaki yang nggak tahu diri. Harusnya dia bersyukur aku mau dinikahi dan menutupi kebobrokannya. Bukannya malah bersikap sesuka hati begini.
Cih, dasar bàjíngan.
***
Setelah insiden sore tadi, aku benar-benar nggak mau ngomong sama Mas Javas, aku cuma diam saja di kamar, pintunya kukunci. Beberapa kali ada ketukan dari luar, entah dari Umi yang cuma aku balas dengan sahutan pelan atau dari Mas Javas yang benar-benar aku abaikan.
Aku baru keluar kamar untuk mengambil wudu. Rupanya Mas Javas sudah nongkrong di sofa depan kamarku dengan tatapan fokus ke al-Qur'an. Aku mengabaikannya walau suara berat lelaki itu ketika melantunkan kalam Allah terdengar cukup indah.
Kembali dari kamar mandi, Mas Javas sudah berdiri menyambutku. Sosoknya yang menjulang cuma aku pandang dengan datar. Jangan pikir aku bakal mudah memaafkannya. Enak saja. Baru beberapa minggu jadi suami saja sudah sok sekali. Tahu begitu aku nggak bakal mau menikah dengan dia.
Aku memutuskan pandangan lebih dulu, lalu kembali masuk kamar. Saat hendak mengunci pintu lagi, Mas Javas malah menahannya. "Biarin saya masuk, ayo kita salat sama-sama," katanya.
Perkara ibadah aku nggak bisa menolak, jadi dengan terpaksa kulebarkan daun pintu kamarku, membiarkan dia masuk ke dalam.
Dia menggelar dua sajadah di lantai dengan posisi bersebelahan, tetapi yang satu lebih ke belakang. Selama itu nggak ada obrolan di antara kami, aku lebih memilih memasang mukena, lalu mulai mengambil posisi di belakangnya. Pun setelah salat selesai, aku tetap menyulam kebisuan dan lebih memilih naik ke atas ranjang, mengambil ponsel beserta earphone, lalu memasangnya di telinga dan melanjutkan menonton funny moments dari salah satu boy group asal Korea.
Tak lama, ujung kasurku terasa bergerak. Saat kulirik, Mas Javas sudah duduk di sana dengan mata yang tak lepas dariku. Lagi-lagi aku nggak mau peduli. Aku lebih memilih menonton kelucuan Renjun dan Haechan yang tengah adu mulut dan sesekali bersikap seolah akan menghajar satu sama lain. Mereka sangat menggemaskan.
"Saya minta maaf."
Aku mengabaikannya. Masih fokus dengan apa yang kutonton.
"Kin, saya minta maaf."
Meski Renjun tubuhnya lebih mungil, cowok itu berhasil mengalahkan Haechan. Aku tertawa, bukan bahagia melihat mereka bertengkar, tetapi reaksi Jeno, kawan mereka yang malah merekam sambil berlarian mengikuti dua anak itu.
"Kin, saya bicara sama kamu," kata Mas Javas tegas, meraih ponsel dan menarik kabel earphone-nya hingga terlepas dari telingaku.
"Mas!" pekikku dengan mata yang melotot. Dia kasar, aku kasih tahu kalian.
"Saya sedang bicara sama kamu, jadi tolong hargai saya," kata Mas Javas lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
Aku memberengut, berbaring, kemudian menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Aku belum mau berbicara, apalagi mau menerima maafnya. Aku benar-benar sakit hati, dan biasanya nggak bertahan cuma satu atau dua jam.
"Saya minta maaf Kin, saya nggak bermaskud bersikap kayak tadi sama kamu, saya nggak bermaksud bikin kamu sakit hati."
Aku masih diam, mendadak mual dengan kalimatnya yang persis seperti sinetron itu. Dipikir kami hidup di dunia fiktif apa? Kalau iya, halu sekali dia. Aku ini nyata, manusia asli yang punya perasaan, bukan lakon yang dimaki-maki dengan kasar pun cuma bakal pura-pura nangis.
"Kin ...." Mas Javas menarik selimutku hingga ujung kaki. Dia menatapku dengan begitu intens, dan aku cuma mendengkus keras. Aku harap dia paham kalau aku masih nggak mau berbicara dengannya.
"Saya minta maaf, saya punya alasan kenapa saya bersikap kayak tadi sama kamu. Saya, saya cuma nggak mau kamu salah paham nantinya."
Aku nggak tahu kenapa mualku makin menjadi-jadi, apalagi saat melihat wajah Mas Javas. Ini pasti efek aku belum makan, dan maagku pasti sedang kambuh sekarang. Semua memang karena Mas Javas. Sudah tua, bisanya cuma jadi pengacau.
"Punya alasan atau enggak, intinya Mas Javas tetep salah. Kalaupun Mas mau negur, ya negur aja. Jangan nyebut aku lancang cuma karena aku lihat foto, Mas." Pada akhirnya aku membuka suara juga.
Mas Javas diam, mungkin nggak tahu harus ngomong apa. Aku tahu dia punya alasan kenapa bersikap menyebalkan kayak tadi, tapi aku nggak peduli tentang alasannya. Kalau itu memang berkaitan dengan wanita yang ada di foto itu, aku pun nggak masalah, aku nggak akan salah paham cuma karena tahu Mas Javas menyimpan foto wanita lain. Aku nggak akan cemburu kalau itu yang ada di pikirannya, pun seumpama dia memasang foto Mas Natha di seluruh dinding kamarnya, aku akan menjadi manusia paling masa bodoh, meski risi juga pastinya. Aku belum punya perasaan spesial yang bikin aku nggak mau kehilangan dia.
"Kin, saya benar-benar minta maaf. Saya, saya nggak tahu harus bagaimana lagi sama kamu." Mas Javas meraih tanganku dan menggenggamnya dengan tangan besarnya itu. Anehnya, aku malah makin mual.
"Lepasin, Mas." Aku bilang sambil berusaha menarik tanganku dari genggamannya, tapi Mas Javas dengan kurang ajarnya malah makin mempererat genggamannya itu.
"Mas, lepasin."
"Saya nggak mau lepasin kamu sebelum kamu maafin saya," katanya keras kepala.
"Aku mau muntah, Mas," balasku.
"Saya serius Kin, maafin saya."
Ck, laki-laki ini nggak peka sekali. Rasanya aku sudah nggak tahan, aku sama sekali nggak bohong ketika aku bilang aku mau muntah, perutku mual dan seperti sedang diaduk-aduk. Ada sesuatu di saya yang mendorong keluar.
"Mas!" Aku menaikkan nada suaraku, rasanya mualku ini makin menjadi-jadi. Aku butuh kamar mandi dan obat maag.
"Enggak, Kin, maafin saya dulu, baru saya lepasin kamu."
Namun terlambat, sebelum kata iya lolos dari mulutku, aku sudah lebih dulu muntah. Cairan kental itu menyembur dari mulutku, sebelum mendarat sempurna ke kemeja bagian depan yang Mas Javas pakai.
"Kin!" Mas Javas terkejut.
Kan, aku bilang apa? Aku mau muntah sungguhan.
Tbc