DUA BELAS

1108 Words
Pada akhirnya aku tetap saja pindah rumah walaupun dalam keadaan ngambek parah. Umi dan Bapak menceramahiku panjang lebar, memberi kelas malam tentang kewajiban seorang istri kepadanya suaminya yang buat aku berkali-kali harus menahan kantuk. Bukan maksud mau meremehkan, tapi aku cukup bosan mendapat kata-kata yang sama yang sudah aku hafal di luar kepala. Aku nggak mau pindah karena Mas Javas sendiri, bisa jadi dia berlaku lebih dari ucapannya itu. Bisa jadi dia lebih kasar, main tangan contohnya. Nggak ada yang tahu. Dokter nggak melulu mengobati, ada kalanya dia juga menyakiti seperti yang Mas Javas lakukan padaku. "Kamu nggak boleh ngebangkang Kin, gimanapun juga Nak Javas suami kamu, surga kamu. Kalau kamu mau masuk surga ya kamu harus taat sama dia." Itu yang Umi katakan tadi malam padaku setelah insiden aku muntah di kemeja Mas Javas. "Tapi tadi dia bilang Kin lancang, Mi, padahal Kin cuma lihat fotonya doang. Emang itu salah? Di mana letak lancangnya aku?" "Kin, kalau kamu lihatnya tanpa izin ke dia, itu artinya kamu memang lancang." Bapak menyahut sambil menyesap kopi hitamnya. "Lagian Umi tahu, kamu begini juga karena nggak mau ninggalin rumah. Kamu cuma cari-cari alasan aja, kan?" Aku diam. Umi benar, tapi salah. Aku memang nggak mau pergi dari sini, tapi ini cuma salah satu alasanku, sementara alasanku yang lain, aku sudah mengatakannya tadi. Intinya, aku nggak mau hidup dengan pria kasar, tapi Baik Umi dan Bapak nggak mau mengerti. Mereka tetap menginginkan aku pindah rumah, mengikuti ke mana pun Mas Javas tinggal. Dan, di sinilah aku berakhir. Rumah yang beberapa minggu lalu kudatangi. Rumah itu sudah cukup rapi dari terakhir yang kuingat. Rumput-rumputnya sudah dipotong, sementara dedauanan kering sudah disapu bersih. Mas Javas pasti menyewa tukang bersih-bersih sebelumnya. Syukurlah, aku nggak perlu repot-repot turun tangan. "Ayo, jangan diam aja di situ." Suaea berat Mas Javas menyadarkanku. Lantas, dengan langkah ogah-ogahan kugeret koperku masuk ke dalam rumah itu. Aku nggak perlu mendeskripsikan apa pun begitu masuk ke dalam karena semua halnya masih sama sepertu waktu itu, bedanya sudah nggak ada debu-debu dan kain penutup perabotan. Juga, rak penyekat antar ruang sudah diisi oleh action figure koleksi Mas Javas yang nggak aku tahu kapan dia bawa ke sini, mungkin kemarin malam saat Mas Javas tiba-tiba menghilang, atau pagi tadi sebelum lelaki itu berangkat ke rumah sakit. Entahlah, aku nggak mau memikirkan dan peduli dengan hal yang begitu. "Mau naik ke atas?" tanya Mas Javas sambil mengambil koper di tanganku. "Kamu belum lihat kamar kita, kan?" Aku cuma menanggapi dengan gumaman yang nggak berarti, dan mungkin Mas Javas menganggap itu sebagai 'ya' karena setelahnya dia mengangkat koperku dan membawanya menaiki satu demi satu anak tangga. Mau nggak mau aku mengekor di belakangnya. Dengan tubuh kurus dan pendekku, aku sudah persis anak ayam sekarang. Tiba di lantai dua, Mas Javas membawaku masuk ke sebuah kamar yang paling dekat dari tangga. Kamar itu lumayan luas, ada satu set meja dan kursi yang sudah tertata beberapa buku membosankan milik Mas Javas dan action figure narsisnya pula di atasnya. Lalu, lemari dua pintu berukuran lumayan besar, lebih dari cukup untuk menampung bajuku dan Mas Javas nanti. Sementara di tengah ruangan, ada ranjang besar berukuran king dengan selimut warna abu-abu dan bantal serta bad cover berwarna putih. Secara keseluruhan aku suka kamar ini, kecuali action figure dengan rupa Mas Javas itu yang tiba-tiba membuatku jijik dan mual. Berusaha mengabaikan hal itu, aku merebut koperku darinya. Aku nggak berbicara apa pun padanya, yang lantas membuat Mas Javas mendecakkan lidah. "Kamu masih marah sama saya." Itu bukan pertanyaan ngomong-ngomong, tapi pernyataan. Lagi pula, memang aku bilang iya kemarin malam saat dia bilang maaf? Perasaan aku cuma muntah dan dia hilang begitu saja. "Saya harus apa lagi, Kin?" Aku nggak membalas dan memilih mencibir. Siyi hiris ipi, Kin? Kalau aku pengin lihat dia kayang atau salto memangnya dia mau? Atau terjun dari lantai dua rumah ini? "Kin, kamu tahu, kan, nggak boleh marahan lebih dari tiga hari?" Aku mengabaikannya dan memilih membuka koper kemudian memasukkan baju-bajuku yang nggak seberapa itu ke dalam lemari. Aku tahu Mas Javas sedang memperhatikanku, tapi aku nggak peduli, bahkan saat aku memindahkan pakaian paling rahasiaku ke dalam sana. Untung Mas Javas bukan pria normal, jadi aku bisa sesantai ini. Ngomong-ngomong, berbicara tentang dia yang nggak normal, obrolan kami selalu nggak berakhir dengan baik. Dia selalu mengajakku melakukan kalian pasti tahu maksudku apa untuk membuktikan kelurusannya padaku. Dalam keadaan normal mungkin aku akan menjulukinya lelaki m***m, tapi keadaannya kan jelas lain. Aku malah jijik padanya. Sebegitunya Mas Javas ingin kuanggap normal, tapi aku nggak akan tertipu dua kali, cukup aku melakukannya satu kali di hari pernikahan kami, setelah itu aku nggak mau. Aku nggak akan membahas perihal orientasinya yang demikian. "Kin?" Aku berdecak. Wajahku pasti nggak nyelo. "Apa?" ketusku. "Maafin saya, saya benar-benar nggak ada maksud buat bilang kamu lancang kemarin." Aku menghela napas. "Besok," singkatku. "Besok saya bakal maafin Mas mumpung belum tiga hari, sekarang saya masih mau ngambek," kataku pada akhirnya. Lelah juga mendengar dia meminta maaf berkali-kali padaku, tapi sejujurnya lucu juga, sih. Apalagi dia yang biasanya sok, jadi begitu. Aku pun nggak nyangka bisa seberani ini dengan dia. Padahal sebelum menikah aku cuma bakal senyum canggung atau nyapa seadanya, yang paling sering sih, pura-pura nggak tahu kalau dia ada di dekatku. "Lebih cepat memaafkan lebih baik, Kin." "Aku tahu, kok, tapi hatiku belum membaik." Mas Javas terdengar menghela napas sebelum keluar dari kamar. Aku cuma mengangkat bahu, berusaha nggak peduli dan meneruskan pekerjaanku. Pada kenyataannya memang begitu, kok, mau bagaimana lagi? Namun malam harinya, aku merasa amat menyesal nggak mengiyakan maafnya Mas Javas. Tepat di jam sepuluh malam, aku merasa sangat lapar, padahal sore tadi aku sudah menghabiskan seporsi sate ayam dan tiga bungkus lontong. Dan itu biasanya sudah cukup, bahkan sampai makan siang besok. Aku sudah mengecek laman delivery order, tapi nggak ada makanan yang sesuai dengan seleraku di sana, kalaupun ada, sudah nggak menerima orderan lagi. Di rumah pun nggak ada bahan makanan yang bisa kumasak untuk mengganjal perut sampai besok. Aku benar-benar gengsi mau membangunkan Mas Javas dan meminta tolong pada laki-laki itu untuk membelikanku sesuatu. "Kenapa?" Mas Javas yang mungkin terusik dengan pergerakanku terdengar bertanya dengan suara seraknya. Aku menoleh, wajah bantal lelaku itulah yang pertama kali menyapa indraku. Aku menggigit bibir. Bingung harus bilang apa, posisiku kan masih ngambek. "Kamu kenapa?" ulang Mas Javas. Aku nggak menjawab apa pun, tapi perutkulah yang bersuara. Dasar perut, pipiku jadi memanas sekarang. "Kamu lapar?" Lagi, perutku yang menjawab. Membuatku semakin malu saja. Samar-samar aku melihat Mas Javas tersenyum. "Harusnya kamu bilang kalau kamu lapar." Itu katanya. Dan rasanya aku benar-benar ingin menceburkan diriku ke laut. Ya ampun, rasa maluku sudah mencapai ubun-ubun. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD