TIGA BELAS

1716 Words
Aku baru keluar dari ruang kepala sekolah setelah interview singkat dengan beliau. Lagi-lagi aku mencoba peruntungan, kali ini dengan melamar pekerjaan di sekolah tempat Umi mengajar. Nggak tahu apakah aku bakal diterima di sini atau enggak karena selain diriku, masih ada beberapa orang yang juga melamar di sini. "Gimana?" Aku sedang duduk di salah satu bangku kantin saat Umi datang dan mengambil posisi di depanku. "Masih dipertimbangin, besok baru keputusannya." Aku menjawab sebelum menyedot jus jeruk yang kupesan tadi. Walaupun Umi mengajar di sini, aku nggak diperlakukan berbeda dengan pelamar yang lain, istilah lainnya orang dalam, aku nggak memanfaatkan posisi Umi yang merupakan wakil kepala sekolah untuk bekerja di sini. Aku juga melewati serangkaian hal yang dilakukan palamar lain, entah dari kecakapan atau kopetensiku. "Kalau nggak masuk juga nggak pa-pa, jadi ibu rumah tangga aja, ya? Nak Javas pasti juga bisa memenuhi kebutuhan kamu," kata Umi yang aku tahu niatnya untuk menghiburku. Ngomong-ngomong soal Mas Javas, aku sama sekali nggak bilang ke dia kalau hari ini aku melakukan interview, meski sejak insiden kelaparan tempo hari, hubunganku dengannya cukup membaik. Walau aku belum memiliki perasaan spesial pada Mas Javas dan Mas Javas masih menjadikan Mas Natha raja yang menduduki singgasana hatinya, tapi harusnya aku bilang tentang hal ini pada Mas Javas. Mau bagaimanapun juga, aku adalah istrinya dan dia adalah suamiku. Segala keputusan yang kubuat benar-benar harus melibatkan dia. Aku tahu aku salah, tapi aku punya alasan lain kenapa begitu. Rasanya malu saja kalau hasilnya nggak sesuai harapan. Mas Javas dengan profesi luar biasanya itu pasti nggak akan berhenti mencibirku habis-habisan. Aku memang payah sekali. Perkara pekerjaan saja aku nggak bisa. Lagi, walaupun Umi bilang Mas Javas bisa memenuhi kebutuhanku, aku nggak bisa seenakku saja. Aku tetap harus bekerja, memenuhi kebutuhanku sendiri yang bukan keharusannya Mas Javas. Aku nggak bisa menggantungkan diriku padanya, belum tentu lelaki itu mau kurepotkan, kan? "Ngomong-ngomong, Umi bentar lagi bakal punya cucu belum?" tanya Umi membelokkan percakapan kami setelah aku nggak memberinya respons yang berarti. Aku meringis. Mana mungkin aku hamil sementara aku melakukannya hanya sekali dengan Mas Javas? Lagi pula ia sudah cukup berumur, lelaki dengan usia di pertengahan kepala tiga sudah nggak menghasilkan kecebong yang tangguh, kan? Tapi, ngomong-ngomong soal itu, aku baru ingat, sudah lebih dua minggu ini aku telat datang bulan. Nggak mungkin kan, yang Umi tanyakan bakal jadi kenyataan? Masa aku hamil? Masa secepat itu, sih? "Malah diem. Iya nggak, nih? Umi bakal punya cucu?" ulang Umi. "Aura kamu beda lho, sebelum dari kamu nikah." Karena nggak tahu benar atau enggaknya, aku cuma meringis untuk menjawab pertanyaan Umi. "Doain aja yang terbaik, Mi." Itu kataku, meski jauh di lubuk hatiku, aku belum siap untuk jadi seorang ibu. Modelan seperti diriku itu masih butuh banyak bimbingan. Setelah jam masuk berbunyi dan Umi kembali mengajar, aku memutuskan untuk pulang ke rumah dengan ojek online. Sepanjang perjalanan nggak ada henti-hentinya aku memikirkan kemungkinan tentang kehamilanku. Maka, saat nggak sengaja melihat plang bertuliskan apotek, aku meminta mbak-mbak ojek yang menyetiriku untuk berbelok ke sana. Aku membeli beberapa alat tes kehamilan dengan jenis dan merek yang berbeda, setelah itu kembali melanjutkan perjalananan. Aku harap aku nggak sedang hamil. Aku punya banyak alasan untuk itu. Pertama, aku benar-benar nggak siap. Aku sudah bilang itu sebelumnya. Kedua, baik aku dan Mas Javas sama-sama nggak menyimpan rasa, bagaimana bisa saling mencintai kalau di hati lelaki itu saja masih diisi sosok lain? Aku nggak mau anakku hidup dengan orang tua yang punya presentase canggung cukup tinggi. Dari buku Psikologi yang pernah k****a, itu juga bisa mempengaruhi mental si anak. Tiba di rumah, aku malah dikejutkan dengan kehadiran Mas Javas dan Mas Natha bersama seorang wanita yang rasa-rasanya sangat familier di ingatanku, tapi aku nggak ingat dia siapa, pernah bertemu dengannya di mana dan kapan juga aku lupa. Yang lebih bikin aku bingung lagi, ini masih jam sebelas siang, biasanya jam lima sore Mas Javas baru pulang. "Mas Natha?" sapaku sambil berjalan mendekat kepada mereka yang tengah duduk di ruang tamu, tentu setelah mengucapkan salam. Aku lihat Mas Javas hanya duduk menyender di sofa dengan tangan yang menutupi wajahnya. Laki-laki itu terlihat sangat loyo. "Waalaikumsalam, Kin." Mas Natha berdiri, sedikit menyunggingkan senyum padaku. "Ini Mas Javas kenapa?" tanyaku heran. "Oh itu, pas operasi tadi dia muntah-muntah terus. Nggak tahu kenapa, mungkin masuk angin," jelas Mas Natha yang kubalas dengan anggukan beberapa kali. "Tapi kenapa dibawa pulang? Kenapa nggak dirawat di rumah sakit aja, Mas?" "Dia sendiri yang mau pulang. Katanya, nggak sakit berat kenapa harus dirawat?" sahut Mas Natha. Aku mengangguk-angguk, paham maksudnya. Memang sih, masuk angin penyakit ringan, tapi tetap nggak bisa disepelekan juga. Ada beberapa kasus kematian karena masuk angin duduk. Aku nggak cukup paham sih, aku cuma dengar-dengar dari tetanggaku yang sedang membicarakan ketua RT di perumahan kami dulu yang meninggal mendadak. Lalu, mataku nggak sengaja jatuh pada satu-satunya wanita yang aku temukan bersama mereka tadi. Wanita itu tengah menatapku dalam dengan sorot yang sama sekali nggak bisa aku baca. Aku nggak tahu apa maksudnya, hanya saja, itu bukan jenis tatapan yang sopan kan, untuk ukuran orang yang baru ketemu? *** Setelah pulangnya Mas Natha dan wanita yang nggak kutahu siapa karena sejak kedatanganku dia cuma bungkam dengan tatapan yang nggak bisa kuartikan itu, aku jadi kerepotan sendiri mengurus Mas Javas. Aku harus memindahkan tubuh bongsornya yang lemas ke lantai atas. Mas Javas benar-benar loyo, sama sekali nggak bertenaga. Jelas sih, aku nggak akan bertanya-tanya karena apa. Kata Mas Natha tadi, lelaki berstatus suamiku itu sudah muntah lebih dari sepuluh kali, dan nggak mungkin makanan yang dia makan masih nongkrong cantik di lambungnya, yang mana artinya perut Mas Javas sedang kosong. "Mas, berat banget sih," celetukku saat kami masih berada di anak tangga ke empat dan berhenti sebentar untuk mengumpulkan tenaga yang cepat sekali menguap. Serius, baru tangga seginu saja aku sudah ngos-ngosan ini, bagaimana kalau lebih dari itu? Bisa jadi aku langsung pingsan. Mas Javas nggak menjawab apa pun. Lelaki itu malah menampilkan ekspresi yang seolah sedang menahan sesuatu dengan wajah yang seluruhnya memerah. Jangan lupakan juga kedua telinganya. Aku menghela napas. Laki-laki itu memang sedang dalam kondisi nggak baik. Jadi, bukan waktunya untukku mengomel-ngomel tentang bentuk tubuhnya yang bongsor dan berat, kemudian aku yang kesusahan memapahnya. Perjalanan menuju lantai dua memakan waktu cukup lama, aku nggak tahu pasti berapa, tapi tubuh dan pelipisku sudah banjir keringat. Untung saja jarak kamar kami dengan tangga nggak cukup jauh, jadi itu cukup memudahkanku setelahnya. Begitu masuk ke dalam kamar, langsung kubaringkan tubuh Mas Javas ke atas ranjang. Melepas sepatu dan juga kaus kaki yang lelaki itu pakai, kemudian mencopot dua kancing teratas kemejanya. Jangan berpikir aneh-aneh, itu kulakukan biar dia nggak gerah saja. "Mas, mau kubuatin makanan nggak?" tanyaku padanya yang dijawab gumaman nggak jelas yang nggak bisa kuartikan apa maknanya. "Mas, gimana?" tanyaku sekali lagi. Aku nggak mau repot-repot membuat makanan sementara nanti dia nggak mau memakannya. Ya, bukan berarti aku mau kejam, tapi untuk ukuran wanita seperti diriku yang cuma bisa masak air, mie instan, nasi, bubur, dan oseng-oseng itu sudah merupakan effort dan perjuangan yang besar. "Saya mual, Kin." Itu jawaban Mas Javas yang sama sekali nggak nyambung dengan pertanyaanku. "Mas masuk angin apa gimana, sih?" tanyaku seraya mendudukkan diri di tepi ranjang dan menatapnya dengan kedua alis yang terangkat. Mas Javas membuka matanya yang cuma ia pejamkan sejak tadi, menatapku dengan sayu sebelum menggeleng. "Saya nggak tahu, tiba-tiba mual aja. Apalagi waktu saya nyium bau anyir," sahutnya dengan suara lemah. Aku menggaruk kepalaku dari balik kerudung yang kukenakan. Sejujurnya bingung juga mau mendiagnosa apa penyakit Mas Javas. Yang dokter itu kan dia. Aku cuma pengangguran yang lagi menunggu panggilan kerja saja. Mana ngerti perihal penyakit-penyakit begini. "Mau aku kerokin apa gimana nih, siapa tahu enakan, daripada nanti kalau parah makin ngerepotin aku," kataku. "Kin, saya suami kamu. Repot nggak repot itu sudah menjadi kewajiban kamu untuk mengurus saya." Mas Javas menyahut dengan suara yang nyaris hilang, sepertinya dia tersinggung dengan ucapanku. Aku mengembungkan pipi. "Maksudku nggak gitu lho, Mas. Kan kalau Mas sembuh artinya bagus. Mas nggak mual-mual terus, dan aku nggak perlu kerepotan." "Terserah kamu." Namun kemudian aku berpikir, pasti lumayan ribet kalau harus ngerok Mas Javas, aku perlu menyopot kemejanya, lalu kaus putih polos yang dia pakai sebagai dalaman. Syukur-syukur kalau ada minyak kayu putih atau minyak sejenisnya di rumah ini, tapi seingatku aku belum sempat membeli barang itu. Aku juga harus menggosok-gosokkan koin ke tubuh Mas Javas yang pasti nggak sebentar. Astagfirullah, membayangkannya saja aku sudah lelah. "Nggak jadi deh, Mas. Aku buatin bubur aja gimana? Biar Mas nggak loyo begitu." Kali ini Mas Javas nggak bersuara. Dia cuma membalasku dengan gumaman lemah. Semoga dia nggak pa-pa. Bagaimanapun juga aku nggak mau jadi janda padahal pernikahanku dengannya belum sampai sebulan. Dan juga, soal kehamilanku yang masih abu-abu. Kalau aku hamil, aku nggak mau anakku lahir tanpa bapak. "Ya udah, aku buatin kalau gitu." Sekalian aku juga mau mengetes bagaimana kondisiku sekarang, apakah sedang berbadan dua seperti yang ditanyakan Umi dan Mas Natha, atau malah aku cuma telat datang bulan saja karena belakangan aku memang lumayan stres. Namun rupanya, setelah melakukan tes itu, yang kudapati dari semua alat yang kupakai adalah, dua garis merah. Yang mana artinya aku benar-benar sedang mengandung, anak Mas Javas, pria tua berusia di pertengahan tiga puluh itu. Fakta yang kemudian bikin aku meneguk ludah berkali-kali. Jujur, aku nggak suka dengan kabar ini. Namun di lain sisi, aku merasa ada sesuatu yang menghangat yang memenuhi rongga dadaku. Ada makhluk lain yang tumbuh di rahimku. Bayangkan, aku, manusia yang masih sangat bocah, yang masih sangat mementingkan dirinya sendiri ini bakal punya anak sebentar lagi. Darah dagingku sendiri. Sungguh demi apa pun aku masih cukup sulit percaya. Lalu, pikiranku melayang pada Mas Javas. Apakah aku harus menceritakannya pada lelaki itu tentang anugerah yang Tuhan titipkan, atau aku hanya diam saja? Aku yakin waktu itu Mas Javas nggak berniat membuatku berbadan dua, bisa jadi pula dia bakal menolak kacang polong ini, kan? Dan sepanjang aku memasak bubur untuk Mas Javas yang kemudian jadi sedikit gosong, aku nggak menemukan jawaban apa pun. Pun saat aku berhadap-hadapan dengan dia yang kupaksa memakan bubur terlalu matang buatanku. Pada akhirnya yang kulakukan adalah bungkam dan memilih menyembunyikan kehamilanku lebih dulu sampai aku benar-benar memastikan Mas Javas mau menerima kehadiran bayi ini. Bagiamanapun juga dia adalah makhluk yang Tuhan titipkan untuk kami. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD