“Tunggu. Mau kalian apakan dia. Lepas!” sergah Erik saat melihat tubuh kaku wanita itu dimasukkan ke dalam kantung jenazah.
“Hei, bagaimana dia bisa masuk?” ucap AKP Edwar Yasir.
Seorang polisi berperawakan tinggi, berdada bidang. Wajahnya terlihat serius, tetapi tidak menghilangkan aura ketampanan yang ia miliki.
Beberapa polisi berusaha menarik Erik yang terus berontak. Ia menyaksikan gadis yang beberapa menit yang lalu terdiam di atas balkon kini dikelilingi banyak orang.
“Muni, bangunlah! Kau tidak boleh begini. Bangun Muni, lihat mereka akan membawamu pergi,” pekik Erik yang kini telah dipegang polisi.
“Lepas, biarkan aku menemui Muni. Tolong, aku ingin bicara dengannya.” Erik memelas, ada buliran bening di sudut matanya.
Edwar melihatnya iba. Kemudian ia mengangguk pada bawahannya yang berusaha menahan Erik. Polisi itu segera melepas pegangannya. Erik langsung berhambur ke samping Muni yang terbujur kaku tak bernyawa.
“Kalung ... Di mana kalungmu, Muni? ” racau Erik di samping mayat Muni.
Edwar mengernyit. Dari awal ia tidak sama sekali melihat adanya kalung di leher wanita itu. Padahal ia sudah memastikan tidak ada barang yang hilang. Awalnya ia pikir ini bukan kasus perampokan.
Dugaannya ternyata salah saat mendengar ucapan Erik mengenai kalung. Ia mendekat ke BRIPTU Riandi dan berkata, “Periksa lemari, cari kalung yang dimaksud oleh pemuda ini.”
BRIPTU Riandi mengangguk dan mengajak rekan yang lain untuk menggeledah lemari. Setelah mencari-cari mereka menemukan sebuah kalung yang mereka pikir milik wanita yang tewas itu.
“Pak, kami menemukan sebuah kalung,” ucap BRIPTU Riandi melapor pada AKP Edwar.
AKP Edwar mengangguk dan meraih kalung tersebut. Ia kemudian mendekat pada Erik yang terus saja meratapi Muni.
“Apa ini kalung yang kau cari?” tanya Edwar sambil menyentuh pundak Erik.
Erik terkejut. Ia langsung menggeser tubuhnya menjauh dari Edwar. Ia menggeleng keras. Bukan. Itu bukan kalung yang ia cari.
“Jadi, bukan ini?” tanya Polisi bersuara serak itu pada Erik.
Erik menggeleng, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya. Matanya terus saja mengalirkan buliran bening di pipi.
“Apa hubungan Anda dengan korban?” tanya AKP Edwar, sambil terus memperhatikan pemuda itu.
Erik menggeleng lagi. Ia masih saja enggan menjawab. Hingga suara gaduh terdengar dari luar. Edwar meminta pada timnya untuk melihat ada apa di luar sana.
Di luar si pemilik rumah datang dengan wajah yang cemas. Sepasang suami istri berumur sekitar 40 tahun. Mereka memaksa untuk masuk ke dalam rumah mereka sendiri.
“Ini rumahku, kenapa aku di larang masuk?” tolak si suami saat BRIPTU Riandi menghentikan.
“Sudah biarkan mereka masuk.” Edwar muncul dan mempersilakan keduanya. Bagaimana pun ini rumah mereka. Edwar perlu informasi dari mereka.
“Muni. apa yang terjadi padamu!?” Sinta si pemilik rumah langsung syok, ia menangis melihat wanita bernama Muni itu sudah terbujur tak bernyawa.
“Pasti kau pelakunya!” Anton si suami langsung menarik Erik yang sedari tadi masih duduk di samping mayat Muni.
“Tunggu, Pak! Jangan main hakim sendiri. Kami ada di sini, kami yang akan mengusut kasus ini,” sanggah AKP Edwar. Ia menarik Erik yang hanya diam diperlakukan kasar oleh Anton.
“Tangkap saja pria ini, Pak. Aku yakin, ia yang telah menghabisi Muni,” tuduh Anton tanpa bukti.
“Sabar, Pak. Kami sedang mengusut kasus ini. Kami juga sedang mengumpulkan semua bukti. Biar pemuda ini akan menjadi saksi atau mungkin ada orang lain yang Anda curigai?” tanya AKP Edwar.
AKP Edwar meminta Tim medis untuk segera membawa jenazah Muni untuk segera diautopsi. Erik beserta pemilik rumah diminta ikut ke kantor polisi untuk di mintai keterangan. Edwar juga meminta Luci, wanita pertama yang menemukan Muni sudah tak bernyawa.
Luci yang langsung berteriak meminta tolong, saat ia datang ke rumah yang pintunya tidak terkunci dan menemukan Muni tidak bernyawa.
“Apa hubungan kalian dengan korban?” tanya Edwar pada Sinta dan Anton si pemilik rumah.
“Dia asisten rumah tangga kami, Pak,” jawab Sinta cepat.
“Sudah berapa lama ia bekerja pada kalian?” tanya Edwar lagi, tangannya mengetik tombol-tombol huruf pada keyboard.
“Baru lima bulan.” Kini Anton yang menjawab.
Beberapa pertanyaan lain diajukan Edwar dan dijawab pasangan suami istri itu dengan lancar. Namun, Anton tetap yakin bahwa Erik yang telah menghabisi Muni si asisten rumah tangga.
Merasa pertanyaan sudah cukup, Edwar mempersilakan keduanya untuk pulang. Kini Edwar memanggil Erik yang sedari tadi duduk di ruangan pribadinya. Erik terus saja menangis sambil menyebut nama Muni.
Edwar memutuskan menghentikan pertanyaan melihat kondisi Erik yang tidak stabil. Ia meminta BRIPTU Riandi untuk menemani Erik dan memberi pemuda itu sedikit makanan juga minuman. Entah mengapa Edwar begitu tertarik pada Erik.
“Lantas untuk apa Anda pagi-pagi datang ke rumah itu?” tanya Edwar pada Luci. Tetangga yang menemukan Muni pertama kali.
“A—aku datang untuk meminjam uang, Pak,” jawab Luci terbata. Wajahnya pucat. Ia terlihat begitu ketakutan.
“Tadi pagi, saat aku lihat pintu rumah terbuka aku langsung masuk. Kami memang akrab, setelah memanggil namamya berulang kali ia tidak juga menyahut,” tutur Luci menjelaskan. Ia menarik napas.
“Kemudian, aku masuk ke dalam kamarnya dan melihat ia sudah tidak bernyawa.”
Edwar terus memberikan pertanyaan berulang. Ada yang janggal dari jawaban Luci. Ia terlihat sangat ketakutan. Bukan sekedar saksi pertama, ia seperti sedang menutupi sesuatu.
Edwar mempersilahkan Luci untuk pulang. Ia juga melarang Luci untuk pergi keluar kota sebelum di pastikan siapa tersangka pembunuhan terhadap Muni.
Edwar menemui Erik lagi. Kini ia sudah sedikit tenang. Riandi sedang mengajaknya berbincang. Pemuda tampan dengan rambut panjang sebahu itu sesekali tersenyum menyembulkan lengsung pipit di pipinya.
“Kenalkan, aku Edwar,” ucap Edwar yang langsung mengambil posisi duduk tepat di samping Erik.
Erik merasa salah tingkah. Ia sedikit menjauh dari Edwar.
“Erik.” Ucapnya sambil tertunduk.
“Jangan takut. Mari kita berteman. Minumlah.” Edwar memberikan segelas teh hangat pada Erik.
Ragu-ragu Erik menerima teh hangat itu. Ia meletakkan gelas yang juga terasa panas itu di atas meja tepat di depannya. Sekilas Erik menatap Edwar kemudian menunduk saat mata mereka saling bertemu.
Sejenak tidak ada percakapan antara mereka. Edwar sengaja menunggu Erik sedikit lebih nyaman lagi. Ia akan bertanya perihal Muni. Sebelumnya tadi ia sudah menyiapkan sebuah alat perekam. Edwar tidak ingin terlewat satu kata pun dari Erik.
Sebenarnya banyak yang ingin Edwar tanyakan pada Erik. Ada hubungan apa pemuda ini dengan si korban? Mengapa ia begitu histeris? Kalung apa yang ia maksud? Banyak lagi.
Akan tetapi, melihat Erik yang tidak stabil memaksa Edwar menahan segala pertanyaannya. Ia memutuskan mendekati Erik dari hati ke hati.