bc

THE SECRET OF DEATH MUNI

book_age18+
135
FOLLOW
1K
READ
family
drama
tragedy
mystery
scary
secrets
supernatural
horror
spiritual
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Muni seorang gadis berusia 18 tahun memutuskan mengadu nasib ke ibu kota--Jakarta. Ia berharap bisa merubah nasib lebih baik lagi.

Saat bekerja di Jakarta Muni berkenalan dengan seorang pemuda tampan bernama Erik. Mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan asmara.

Apa mau dikata. Semuanya harus berakhir saat pagi itu Muni ditemukan sudah tidak bernyawa.

Siapa yang telah tega menghabisi nyawa Muni? Mungkinkah AKP Edwar Yasir dapat menemukan pelakunya?

Ikuti ceritanya, ya!

chap-preview
Free preview
GEMPAR
"Tolonggg!" teriakan seorang wanita pagi ini mengejutkan penghuni Komplek Permata Hijau. Satu persatu warga berlari mendekati sumber dari suara. Mereka berkumpul kemudian kasak kusuk membicarakan hal yang baru terjadi. Sebagian besar para wanita yang menyaksikan ikut menangis. Salah satu warga langsung menghubungi polisi. Kemudian terus berbisik-bisik apa penyebab ini terjadi. Bisikan mereka ternyata mengganggu tidur lelap seorang pemuda. Semalam ia kesulitan untuk tidur. Karena itu, Ia kesal mendengar suara gaduh tepat di depan rumah. Pria berumur 25 tahun itu terpaksa bangkit dan menyibak sedikit tirai jendela kamar. Matanya menyipit terkena sinar mentari pagi. Setelah ia melihat ramai orang di luar, ditutup kembali tirai jendela dengan kasar. Ia berjalan malas menuju kamar mandi. Dibasuhnya mata yang masih sangat mengantuk. Kemudian menatap sebentar pantulan bayangan di cermin. Memastikan tidak ada lagi kotoran di sana. Tangannya meraih handuk yang tergantung di belakang pintu. Mengeringkan wajah dan melempar handuk itu ke dalam tempat sampah. Ia berjalan gontai menuju kerumunan orang di depan rumahnya. "Siapa yang tega melakukan itu?" ucap seorang wanita yang berkerumun. "Entahlah, dia gadis yang baik," sahut wanita yang lain. "Padahal, seminggu yang lalu ia mengatakan ingin pulang," timpal wanita yang lain pula. Mereka terus saja berbisik-bisik membicarakan sesuatu yang membuat gempar Komplek Permata Hijau pagi ini. Erik, pria berwajah dingin itu melewati para wanita menuju kerumunan yang lebih didominansi oleh pria. Namun ia tidak mendekat, hanya memperhatikan dari jarak jauh. Dinyalakannya sebatang rokok sebagai pengusir rasa dingin. Entah mengapa meski matahari telah menampakkan sinarnya, Erik masih merasa hawa yang dingin berembus menerpa tubuh. "Aku sempat melihatnya tadi, tidak ada luka. Juga pakaiannya utuh tidak ada tanda ...." tutur seorang pria berkacamata. Ucapannya terpotong melihat di sekitar ramai anak-anak kecil yang sedang bermain. "Sudahlah, biar nanti polisi yang mencari tahu," jawab seorang pria yang berwenang menjaga keamanan di Komplek Permata Hijau. Erik membuang rokok yang baru beberapa kali ia hisap. Diinjaknya rokok itu hingga asap mengepul di udara. Matanya memperhatikan dua mobil yang baru saja datang. Mobil bertuliskan polisi itu berhenti dan membuat kerumunan sedikit mundur. Mereka memperhatikan polisi yang satu persatu turun. Tak lama kemudian mobil berwarna putih bertuliskan ambulans pun tiba. Seketika suasana semakin ramai. Polisi langsung memasang garis kuning di pintu rumah tersebut, agar tidak ada yang boleh masuk. Anggota yang lain pun menyusuri setiap sudut rumah. Mencari sesuatu yang bisa dijadikan bukti. Tidak ada yang ditemukan. Semua aman dan bersih. Pintu, jendela dan yang lainnya masih sangat utuh. Artinya tidak ada motif pencurian dan pelakunya orang terdekat yang sangat mengetahui suasana rumah. Begitu penuturan salah satu polisi pada atasannya. Erik terus memperhatikan polisi-polisi tersebut sambil menunggu. Diam-diam di dalam hatinya penasaran dengan apa yang sedang terjadi pagi ini di Komplek tempat tinggalnya. Sesekali bola matanya memandang jauh ke dalam rumah itu. Namun, tidak ada sosok yang ia cari. Seseorang yang akhir-akhir ini dekat dengannya. Rasa dingin yang menerpa tubuh Erik membuatnya melipat kedua tangan di d**a. Sementara, ia terus memasang telinga. Mungkin ia bisa menangkap sedikit informasi dari beberapa orang yang berkerumun. Langkahnya semakin dekat dengan rumah yang kini sudah di pasangi garis polisi itu. Namun, ia kembali mundur ketika melihat beberapa orang dengan kamera memfoto bahkan bertanya-tanya pada salah satu warga. Erik sudah berada tepat di depan rumahnya lagi. Namun, ia terus menatap keramaian untuk mencari sosok yang belakangan ini mengganggu tidur nyenyaknya. Sepasang bola mata hitam berbulu lentik menatap Erik dengan sendu. Erik yang menyadari itu langsung tersenyum tipis. Padahal, di dalam hatinya begitu amat girang saat sosok wanita yang ia cari akhirnya terlihat. Wanita itu berdiri di atas balkon rumah yang sedang di kuasai penuh oleh para polisi. Tidak seperti biasanya, ia tak membalas senyum Erik. Hal itu membuat patah hati Erik dan membuatnya malu, meski tidak satu pun orang melihat itu. Erik merasa diabaikan. Seketika tubuhnya panas menahan gelora api di d**a yang kian membara. Dikepalnya jari-jemari lalu ia hantamkan pada dinding rumah. Tanpa basa-basi Erik berjalan mendekati rumah yang jelas di larang siapa pun masuk kecuali tim medis dan anggota polisi. Diterobosnya tali berwarna kuning tersebut meski beberapa polisi sudah menahan ia tetap memaksa untuk masuk. "Kalian kerjakan saja urusan kalian. Aku hanya ingin masuk sebentar untuk menemui seseorang," tutur Erik pada polisi yang bertugas menjaga pintu. "Tidak bisa! Tugas kami, melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk," jelas salah satu polisi sambil terus mendorong tubuh Erik. "Muni, Keluar. Jangan abaikan aku!" teriak Erik memanggil wanita pujaannya itu. Semua mata memandang pada Erik. Pemuda yang terkenal dingin dan sangat tertutup itu tiba-tiba berteriak-teriak di tengah keramaian. "Muni, kenapa kau tidak membalas senyumku, ha?" Lagi, Erik memanggil Muni untuk mendapat penjelasan. Erik yang berhasil menerobos polisi di depan pintu, langsung berlari masuk menuju balkon. Akan tetapi, tidak di temukannya Muni di sana. Ia terus berteriak-teriak memanggil gadis ayu bermata lentik itu. Sehingga, para penghuni Komplek Permata Hijau memandang miris kepadanya. Erik kembali berlari, ia kini menuju kamar pemilik mata lentik itu. Di sana pun terpasang garis tali berwarna kuning. Beberapa polisi berusaha menarik dan memberi pengertian pada Erik. Mereka meminta Erik bersabar dan menunggu di luar. Hal itu membuat Erik makin kesal. Rasa amarah di dadanya semakin menjadi. Wajahnya kini merah, ia tetap memaksa untuk masuk ke dalam kamar. Kali ini Erik yakin, Muni ada di dalam. "Tolong jangan ganggu pekerjaan kami. Sebenarnya siapa yang Anda cari," tanya polisi yang sedari tadi mengikutinya. Erik bungkam. Ia tetap memaksa untuk bisa masuk ke dalam kamar tersebut. Dengan susah payah Erik memberi perlawanan, akhirnya ia dapat terlepas dan berlari menerobos garis polisi. Di Dalam kamar, polisi dan tim media sedang mengidentifikasi seseorang. Benar, tidak ada luka sedikit pun di tubuh wanita tersebut. Belum bisa di pastikan penyebab kematiannya. Tim medis mulai menyiapkan kantung jenazah. Mereka akan membawa mayat yang telah kaku itu ke rumah sakit untuk segera di otopsi. Beberapa sidik jari ditemukan di sekitar mayat. Dua sidik jari yang berbeda. Polisi mengantongi itu sebagai bukti, tetapi belum bisa menyatakan ini pembunuhan sebelum hasil otopsi keluar. Mengingat korban sama sekali tidak ada luka atau pun tindak kekerasan yang lainnya. Ada dugaan korban kehabisan napas. Mungkin juga serangan jantung.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
11.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
5.3K
bc

Dalam Kuasa Kegelapan/Play In Darkness (END)

read
58.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.9K
bc

Ninja Itu Suamiku!!/Play In Deception: Camouflage (END)

read
54.4K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
44.8K
bc

Kali kedua

read
222.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook